Tiga Tahun Setelah Perceraian Ibu, Seorang Pria Datang Membawa Sarapan dan Janji Pernikahan—Namun Pagi Saat Akad Akan Dilaksanakan, Aku Menemukan Rekaman Suara di Ponselnya yang Membuat Tanganku Dingin, Lalu Ibu Malah Berkata: “Jangan Rusak Kesempatan Terakhir Ibu untuk Bahagia”

Arman menerjang meja begitu cepat hingga gelas teh di atasnya jatuh dan pecah di lantai.

“Jangan buka itu!”

Suara kerasnya membuat semua orang terdiam.

Aku refleks berdiri di depan Ibu, sementara Rina menarik anak laki-laki di sampingnya mundur. Wajah bocah itu pucat. Usianya mungkin sebelas atau dua belas tahun.

Untuk pertama kalinya, aku melihat Arman yang sebenarnya.

Bukan laki-laki yang setiap pagi mengirim bubur ayam.

Bukan pria sabar yang menunggu Ibu pulang lembur.

Bukan orang yang pernah datang tengah malam ketika motorku mogok.

Di hadapanku berdiri seorang lelaki dengan rahang mengeras, napas berat, dan mata penuh kemarahan.

“Mas Arman.”

Suara Ibu terdengar kecil.

Arman langsung menoleh.

Anehnya, hanya dalam hitungan detik ekspresinya berubah lagi.

“Dewi, aku bisa menjelaskan.”

“Kenapa kamu takut map itu dibuka?”

“Karena perempuan itu sengaja datang untuk menghancurkan pernikahan kita.”

Rina tertawa pendek. Bukan karena lucu, melainkan seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk marah.

“Selama bertahun-tahun kamu masih pakai kalimat yang sama.”

Arman menunjuknya.

“Kamu diam.”

Anak laki-laki di sebelah Rina langsung memegang tangan ibunya semakin erat.

Aku melihat itu.

Dan tiba-tiba aku mengerti sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada foto lebam atau laporan polisi.

Anak itu takut kepada ayahnya sendiri.

Aku mengambil map tersebut sebelum Arman sempat mendekat.

“Nadira, jangan.”

Aku mengabaikannya.

Di dalamnya terdapat beberapa salinan dokumen, foto, tangkapan layar percakapan, dan satu surat keputusan pengadilan.

Aku membaca halaman pertama.

Nama Rina tercantum sebagai pemohon.

Nama Arman sebagai pihak yang dilaporkan.

Ada catatan mengenai kekerasan dalam rumah tangga, ancaman, serta permohonan perlindungan.

Namun dokumen berikutnya membuat dadaku terasa sesak.

Itu bukan laporan lama.

Tanggalnya hanya delapan bulan lalu.

Aku menatap Rina.

“Ini delapan bulan lalu?”

Rina mengangguk.

“Dia bilang kepada kalian kami sudah tidak berhubungan, kan?”

Aku menoleh kepada Arman.

Dia diam.

Rina melanjutkan.

“Setelah perceraian, saya pindah bersama anak saya. Nomor telepon saya ganti. Tempat kerja juga saya pindahkan. Tapi tiga tahun kemudian dia menemukan kami.”

“Tiga tahun lalu?” tanyaku.

“Iya.”

Aku menghitung cepat.

Tiga tahun lalu adalah waktu yang hampir sama ketika Arman mulai mendekati Ibu.

Rina mengeluarkan ponselnya.

“Awalnya dia cuma mengirim pesan. Katanya mau minta maaf. Lalu mulai datang ke sekolah Dimas.”

Anak laki-laki itu menunduk ketika namanya disebut.

“Setelah saya melarang, dia datang ke kantor. Kadang menunggu di parkiran. Kadang mengikuti mobil saya.”

“Bohong!” bentak Arman.

Dimas tersentak.

Ibu langsung memandang Arman.

Tatapan beliau berubah.

Arman menyadarinya dan menurunkan suara.

“Dewi, dia memprovokasi saya.”

Rina menatapnya dengan tenang.

“Dimas, tunggu di luar sama Tante.”

Salah satu tanteku segera membawa anak itu keluar.

Setelah pintu tertutup, Rina membuka sebuah video.

Rekaman CCTV.

Di layar terlihat area parkir sebuah gedung.

Seorang perempuan berjalan menuju mobil.

Kemudian seorang laki-laki muncul.

Arman.

Dia menarik lengan perempuan itu.

Rina mencoba melepaskan diri.

Arman mendorongnya hingga tubuhnya membentur mobil.

Tidak ada suara dalam video itu.

Justru karena itulah pemandangannya terasa lebih mengerikan.

Ibu duduk perlahan.

Tangannya gemetar.

Arman maju.

“Itu tidak seperti yang terlihat.”

Aku hampir tertawa karena tidak percaya.

“Om mendorong dia sampai jatuh.”

“Saya cuma menahan dia karena kami sedang bicara.”

Rina membuka lengan bajunya.

Ada bekas luka tipis dekat siku.

“Ini akibat hari itu.”

Ruangan menjadi hening.

Dari luar rumah terdengar suara orang-orang yang sedang menyiapkan mobil pengantin.

Dunia di luar tetap berjalan seolah tidak ada apa-apa.

Kemudian Ibu berkata,

“Kenapa kamu menyimpan semua rekaman itu di ponselmu?”

Pertanyaan itu membuatku ikut terdiam.

Benar.

Kenapa Arman menyimpan bukti yang justru bisa menghancurkannya?

Rina memandangku.

“Karena sebagian rekaman itu bukan miliknya.”

Aku mengernyit.

“Maksudnya?”

“Ponsel itu punya saya.”

Aku langsung menatap benda di tanganku.

Rina mengangguk.

“Delapan bulan lalu ponsel saya hilang dari meja kantor setelah Arman datang. Saya melapor ke keamanan, tapi tidak pernah ketemu.”

Arman mendadak pucat.

Aku membuka galeri lebih jauh.

Sekarang semuanya masuk akal.

Foto lebam.

Surat rumah sakit.

Rekaman percakapan.

Semua itu adalah bukti yang dikumpulkan Rina.

Arman tidak menyimpannya sebagai kenangan.

Dia mengambil ponsel itu agar Rina kehilangan bukti.

“Kenapa belum dihapus?” tanyaku.

Rina menjawab pelan.

“Karena ponsel itu tersinkronisasi dengan penyimpanan awan. Mungkin dia tidak tahu.”

Aku merasa mual.

Selama ini benda itu berada di tas Arman, mungkin menunggu waktu untuk dibuang.

Aku menatap Ibu.

“Ibu masih mau pergi ke gedung?”

Beliau tidak menjawab.

Air matanya turun.

Arman berlutut di depannya.

“Dewi, lihat aku.”

Ibu tidak mau.

“Lihat aku.”

Nada suara Arman berubah sedikit.

Lebih keras.

Tanganku langsung mengepal.

“Jangan bicara begitu kepada Ibu saya.”

Arman berdiri.

“Kamu jangan ikut campur!”

Dia menunjuk wajahku.

“Aku sudah sabar dari tadi karena kamu anak Dewi. Tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang hubungan orang dewasa.”

“Mas!”

Ibu akhirnya berteriak.

Arman membeku.

Itu pertama kalinya aku mendengar Ibu membentaknya.

Beliau berdiri, melepas tangan Arman dari lengannya.

“Jangan bentak anak saya.”

“Dewi, dia yang menghancurkan semuanya.”

“Tidak.”

Suara Ibu gemetar.

Tapi tegas.

“Kamu yang melakukannya.”

Arman menatap beliau lama.

Kemudian sesuatu berubah pada wajahnya.

Semua kelembutan menghilang.

“Jadi kamu membatalkan?”

Ibu tidak menjawab.

“Aku tanya, kamu membatalkan pernikahan ini?”

Ibu menarik napas.

“Iya.”

Arman tertawa kecil.

“Setelah semua yang saya lakukan untuk kamu?”

Tidak ada seorang pun bergerak.

“Saya antar kamu kerja. Saya urus kebutuhan kamu. Saya bantu anak kamu. Saya bayar uang muka gedung.”

Ibu menatapnya.

“Jadi semua itu utang?”

Arman terdiam.

Ibu melanjutkan.

“Kalau kebaikanmu harus dibayar dengan pernikahan, berarti sejak awal itu bukan kebaikan.”

Aku tidak pernah melihat Ibu setegas itu.

Arman meraih tasnya.

Aku mengira dia akan pergi.

Namun sebelum keluar, dia menoleh kepadaku.

Tatapannya dingin.

“Kamu akan menyesal.”

Aku langsung mengangkat ponsel.

“Ancaman itu juga saya rekam.”

Dia menatap ponselku beberapa detik.

Kemudian pergi.

Kami mendengar pintu mobil dibanting.

Mesin menyala.

Lalu suara kendaraan menjauh.

Ibu terduduk.

Dan menangis.

Bukan tangisan pelan.

Beliau menangis seperti seseorang yang baru menyadari bahwa masa depan yang dibangunnya selama bertahun-tahun ternyata hanya sebuah panggung.

Aku memeluknya.

“Maaf, Bu.”

Beliau justru menggenggam bajuku.

“Jangan minta maaf.”

“Tadi Ibu bilang aku merusak kesempatan terakhir Ibu untuk bahagia.”

Ibu menangis semakin keras.

“Ibu salah.”

Rina berdiri beberapa langkah dari kami.

Wajahnya juga basah oleh air mata.

Setelah keadaan sedikit tenang, Ibu memintanya duduk.

“Apa yang membuat Mbak datang hari ini?”

Rina mengeluarkan ponselnya.

“Ini.”

Dia menunjukkan pesan dari nomor tidak dikenal yang diterimanya pukul sebelas malam.

Arman menikah besok dengan Dewi Rahmawati. Kalau kamu masih punya hati nurani, datang sebelum perempuan itu mengalami hal yang sama.

Di bawahnya terdapat alamat rumah kami.

Aku membaca pesan itu dua kali.

“Siapa yang mengirim?”

Rina menggeleng.

“Tidak tahu.”

Nomornya sudah tidak aktif.

Saat itulah terdengar suara seseorang dari pintu.

“Saya.”

Kami semua menoleh.

Seorang perempuan tua berdiri di sana.

Aku mengenalnya.

Bu Ratih.

Ibu kandung Arman.

Perempuan yang menurut Arman sedang terbaring di rumah sakit menunggu video akad.

Beliau sehat.

Memakai blus sederhana dan membawa tas belanja.

Arman ternyata berbohong bahkan tentang ibunya sendiri.

Bu Ratih masuk dengan mata berkaca-kaca.

“Saya yang mengirim pesan itu.”

Rina berdiri.

“Bu?”

Bu Ratih menunduk.

“Saya minta maaf.”

Beliau memandang Rina lama.

“Dulu ketika kamu datang meminta pertolongan, saya menyuruh kamu bersabar. Saya bilang semua suami pasti marah kalau istrinya keras kepala.”

Rina menangis.

“Saya salah.”

Bu Ratih kemudian menatap Ibu.

“Dan ketika Arman bilang akan menikahi Ibu, saya takut semuanya terulang.”

“Kenapa tidak bilang langsung kepada saya?” tanya Ibu.

“Saya pernah mencoba.”

Beliau membuka tas dan mengeluarkan ponsel.

Ada beberapa pesan kepada Ibu.

Namun tidak pernah terkirim.

Nomor Bu Ratih diblokir.

Ibu mengambil ponselnya sendiri.

Mencari kontak tersebut.

Benar.

Nomor Bu Ratih ada di daftar blokir.

“Aku tidak pernah memblokir nomor ini.”

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

Rina bertanya,

“Arman pernah memegang ponsel Ibu?”

Ibu mengangguk perlahan.

“Sering.”

Semuanya menjadi jelas.

Sarapan setiap pagi.

Jemputan setiap malam.

Perhatian tanpa henti.

Arman bukan hanya sedang mencintai Ibu.

Dia sedang membangun dunia kecil tempat dirinya selalu hadir dan perlahan mengendalikan akses Ibu kepada orang lain.

Dan kami hampir menganggapnya romantis.

Siang itu tidak ada akad.

Kami menelepon gedung dan membatalkan acara.

Keluarga yang sudah datang diberi penjelasan singkat.

Ada yang bergosip.

Ada yang kecewa.

Ada yang mengatakan seharusnya masalah seperti itu diselesaikan setelah menikah.

Untuk pertama kalinya, Ibu tidak peduli.

Kebaya kremnya dilepas.

Riasannya dibersihkan.

Kami makan nasi kotak katering pernikahan di ruang tamu bersama Rina, Dimas, Bu Ratih, dan keluarga.

Aneh sekali.

Seharusnya hari itu Ibu mendapatkan suami.

Sebaliknya, beliau mendapatkan tiga orang asing yang menyelamatkan hidupnya.

Malamnya, ketika rumah sudah sepi, aku duduk bersama Ibu di teras.

“Ibu sedih?”

Beliau tersenyum tipis.

“Banget.”

Aku menggenggam tangannya.

“Tapi Ibu juga lega.”

Kami terdiam.

Kemudian Ibu berkata,

“Nadira.”

“Hm?”

“Tadi pagi Ibu benar-benar hampir memilih dia daripada kamu.”

Dadaku terasa sesak.

“Ibu takut malu. Takut sendirian lagi. Takut orang bilang dua kali gagal.”

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

“Tidak menikah bukan berarti gagal.”

Ibu tersenyum.

“Sekarang Ibu tahu.”

Tiga bulan kemudian, laporan terhadap Arman diproses kembali setelah Rina menyerahkan bukti tambahan. Aku dan Ibu juga memberikan keterangan mengenai ancamannya pagi itu.

Namun kejutan terakhir datang dari Bu Ratih.

Beliau memberikan sebuah kotak berisi dokumen lama kepada penyidik.

Di dalamnya terdapat catatan medis dan laporan dari seorang perempuan lain.

Bukan Rina.

Mantan tunangan Arman sebelum menikahi Rina.

Pola yang sama.

Perhatian berlebihan.

Kontrol.

Ancaman.

Kekerasan.

Lalu permintaan maaf.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Bahaya tidak selalu datang dengan wajah menyeramkan.

Kadang ia datang membawa sarapan.

Menunggu kita pulang kerja.

Membantu saat motor mogok.

Menghafal makanan kesukaan keluarga.

Dan membuat kita merasa berutang karena telah diperlakukan dengan baik.

Setahun setelah hari pernikahan yang gagal itu, aku menemani Ibu melewati gedung tempat akad seharusnya berlangsung.

Sekarang bangunannya sudah berubah menjadi restoran.

Ibu menunjuknya sambil tertawa.

“Kalau dipikir-pikir, katering hari itu enak juga.”

Aku ikut tertawa.

Kemudian beliau menggenggam tanganku.

“Nadira.”

“Ya?”

“Dulu Ibu bilang kamu merusak kesempatan terakhir Ibu untuk bahagia.”

Aku menatapnya.

Beliau tersenyum.

“Ternyata kamu bukan merusaknya.”

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Kamu menyelamatkan kesempatan Ibu untuk tetap hidup sebagai diri sendiri.”

Aku memeluknya di trotoar.

Di tengah suara motor, klakson, dan orang-orang yang berlalu-lalang, akhirnya aku memahami bahwa hari ketika sebuah pernikahan dibatalkan tidak selalu menjadi hari sebuah keluarga hancur.

Kadang-kadang, justru itulah hari sebuah keluarga diselamatkan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang