Wajah Reno berubah seketika ketika aku menyebut nama-nama tamu yang melakukan transfer tetapi dicatat sebagai pemberi uang tunai.
Untuk beberapa detik, lorong belakang gedung itu terasa terlalu sunyi.
Reno menatap buku tamu di tanganku, lalu menatap wajahku.
“Kamu nggak ngerti apa-apa, Nad.”

“Kalau begitu jelaskan.”
“Kasih bukunya.”
“Tidak.”
Rahangnya mengeras. Tangannya kembali bergerak hendak merebut buku itu, tetapi aku mundur sambil mengangkat ponsel.
“Aku masih merekam.”
Reno berhenti.
Aku menatapnya lurus.
“Kalau memang cuma salah catat, kenapa kamu panik?”
“Aku nggak panik.”
“Wajahmu bilang sebaliknya.”
Sebelum ia sempat menjawab, suara Selvi terdengar dari belakang.
“Reno.”
Kami berdua menoleh.
Selvi berdiri beberapa meter dari kami. Gaun pengantinnya masih sempurna, tetapi wajahnya pucat. Arga berada di sampingnya.
“Ada apa lagi?” tanya Arga lelah.
Aku membuka buku tamu.
“Mas, Om Bambang transfer lima juta ke rekeningmu, kan?”
Arga mengerutkan kening.
“Iya, kayaknya.”
“Bu Ratna?”
“Transfer.”
“Pak Dedi?”
“Iya.”
Aku menunjukkan halaman itu.
“Tapi semuanya dicatat sebagai uang tunai.”
Arga mengambil buku tersebut.
Matanya bergerak cepat membaca satu demi satu nama.
“Siapa yang mengisi nominal ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Selvi akhirnya berkata, “Panitia.”
“Panitia siapa?”
“Ya panitia penerima tamu.”
Aku menggeleng.
“Nominal tidak ditulis sejak pagi. Aku ingat betul. Tamu hanya menulis nama dan alamat. Kolom nominal baru diisi setelah acara.”
Arga menoleh kepada Selvi.
“Kamu yang isi?”
Selvi langsung tersinggung.
“Kok kamu malah tanya aku?”
“Karena tadi kamu yang membawa buku ini.”
“Aku cuma menghitung!”
Reno menyela.
“Sudahlah, Ga. Mungkin panitianya salah.”
Aku tersenyum tipis.
“Aneh sekali. Kesalahannya kebetulan berjumlah dua puluh lima juta. Persis jumlah uang yang katanya hilang.”
Reno menatapku tajam.
Aku mengambil kembali buku itu.
“Besok aku akan menyerahkan foto halaman ini ke polisi.”
Selvi mendadak berteriak.
“Cukup!”
Beberapa anggota keluarga kembali mendekat.
Selvi mulai menangis.
“Hari pernikahanku sudah hancur gara-gara kamu. Sekarang kamu mau menuduh keluargaku?”
“Aku belum menuduh siapa pun.”
“Kamu jelas-jelas menuduh Reno!”
“Aku hanya bertanya siapa yang mengubah catatan.”
Selvi menatap Arga.
“Mas, kamu diam saja?”
Arga terlihat kebingungan. Lagi-lagi ia memilih jalan termudah.
“Nad, pulang saja dulu. Besok kita bicarakan.”
Aku mengangguk.
“Baik.”
Aku memotret seluruh halaman buku tamu sekali lagi sebelum menyerahkannya kepada Arga.
Malam itu aku pulang ke rumah orang tua di Jatiasih.
Aku tidak bisa tidur.
Sekitar pukul dua dini hari, aku membuka kembali foto-foto buku tamu.
Aku membuat daftar nama yang kuingat melakukan transfer.
Bambang Suryono lima juta.
Ratna Kusuma tiga juta.
Dedi Hartono dua setengah juta.
Yuni Pratiwi satu setengah juta.
Beberapa nama lain.
Totalnya mendekati dua puluh lima juta.
Semakin jelas bahwa uang itu mungkin tidak pernah hilang.
Namun ada satu hal yang menggangguku.
Kalau tujuannya hanya membuat kekurangan palsu, mengapa harus menuduhku?
Mengapa Selvi begitu yakin meminta tubuhku diperiksa?
Seolah-olah ia berharap sesuatu ditemukan.
Pukul tujuh pagi, aku terbangun oleh suara gaduh dari lantai bawah.
Ibu mengetuk pintuku.
“Nadira, buka!”
Aku membuka pintu.
Di belakang Ibu berdiri Arga, Selvi, Reno, dan dua petugas polisi.
Selvi langsung menunjuk ke arah kamarku.
“Kami mendapat informasi uangnya ada di sini.”
Aku membeku.
“Informasi dari siapa?”
“Buka kamar.”
“Ini kamar saya. Jangan ada yang masuk sebelum polisi.”
Petugas perempuan yang semalam memeriksaku meminta izin melakukan pemeriksaan.
Aku mempersilakan.
Mereka memeriksa lemari, meja kerja, laci, dan bagian bawah tempat tidur.
Tidak ada apa-apa.
Kemudian salah satu petugas membuka koper kecil di atas lemari.
Di bawah tumpukan jaket terdapat sebuah tas kertas cokelat.
Aku belum pernah melihatnya.
Petugas membukanya.
Di dalamnya ada lima amplop putih.
Masing-masing berisi uang pecahan seratus ribu.
Setelah dihitung, jumlahnya tepat dua puluh lima juta rupiah.
Ibu terduduk di tepi tempat tidur.
Arga menatapku seperti melihat orang asing.
Selvi menutup mulutnya.
“Ya Allah…”
Lalu ia mulai menangis.
“Aku sudah bilang…”
Aku justru merasa sangat tenang.
Terlalu tenang.
Aku menatap amplop-amplop itu.
“Jangan disentuh lagi.”
Selvi menatapku.
“Masih mau mengelak?”
Aku mengabaikannya dan bertanya kepada petugas.
“Pak, boleh saya tanya sesuatu?”
“Silakan.”
“Kalau saya mencuri uang itu, lalu semalam saya sendiri yang menelepon polisi, membiarkan badan dan tas saya diperiksa, meminta CCTV diperiksa, dan menemukan kejanggalan buku tamu, masuk akal nggak kalau setelah itu saya menyimpan uang curian di kamar sendiri?”
Petugas tidak menjawab langsung.
Aku melanjutkan.
“Dan siapa yang memberi informasi bahwa uangnya ada di kamar saya?”
Semua mata beralih kepada Selvi.
Selvi menunjuk Reno.
“Reno dapat pesan anonim.”
“Pesannya mana?”
Reno mengeluarkan ponsel.
Sebuah nomor tidak dikenal mengirim pesan pukul 05.43.
Cari di koper atas lemari kamar Nadira.
Aku hampir tertawa.
Bukan hanya tahu uang ada di kamarku.
Pengirimnya tahu persis lokasi koper.
Petugas bertanya kepadaku, “Siapa saja yang tahu isi dan posisi kamar ini?”
“Keluarga.”
Aku menatap Reno.
“Dan kemarin sore, sebelum berangkat ke gedung, Reno sempat ke rumah ini.”
Reno langsung membentak.
“Gue nganter bunga!”
“Benar. Kamu masuk sampai ruang tengah.”
“Gue nggak masuk kamar lo!”
“Bagus. Berarti CCTV rumah akan membantu.”
Wajahnya berubah.
Ayah memasang dua kamera keamanan setelah rumah kami pernah kemalingan tiga tahun lalu.
Satu menghadap halaman.
Satu menghadap koridor lantai dua.
Aku mengambil ponsel Ayah dan membuka aplikasi CCTV.
Namun rekaman antara pukul 16.10 sampai 16.40 sehari sebelumnya hilang.
Aku menatap layar.
“Kebetulan lagi?”
Petugas meminta perangkat penyimpanan CCTV diamankan.
Selvi mulai gelisah.
“Ini sudah jelas uangnya ditemukan di kamar dia. Kenapa malah semuanya dibuat rumit?”
Petugas menjawab tenang.
“Justru karena ditemukan di kamar Saudari Nadira, kami harus memastikan siapa yang meletakkannya.”
Hari itu aku diminta datang ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tambahan.
Pemeriksaan berlangsung hampir tiga jam.
Rekaman kamera gedung dari area lain akhirnya berhasil dikumpulkan.
Kamera di pintu masuk tidak menunjukkan aku pernah membawa tas besar atau meninggalkan meja dengan amplop.
Kamera lorong belakang justru menunjukkan Reno beberapa kali masuk ke ruang panitia.
Yang lebih menarik, sekitar pukul 19.17, Reno terlihat berbicara dengan manajer gedung yang mengatakan kamera meja penerima tamu rusak.
Percakapan mereka berlangsung hampir tujuh menit.
Sore harinya, polisi memanggil manajer gedung.
Awalnya ia menyangkal.
Namun setelah diberi tahu bahwa teknisi gedung menyatakan kamera tersebut sebenarnya berfungsi normal sampai pukul 14.30 pada hari pernikahan, ceritanya berubah.
Ia mengaku menerima dua juta rupiah dari seseorang untuk mematikan satu kamera.
“Siapa?”
Ia menunduk.
“Mas Reno.”
Reno dipanggil malam itu.
Selvi datang bersama Arga.
Aku juga diminta hadir.
Reno masih membantah.
“Saya cuma minta kamera dimatikan karena ada urusan keluarga.”
“Urusan apa?”
Ia diam.
Polisi kemudian menunjukkan bukti transfer dua juta kepada manajer gedung.
Reno akhirnya berkata, “Itu bukan soal uang amplop.”
“Lalu soal apa?”
Tidak ada jawaban.
Aku teringat buku tamu.
“Pak, saya boleh lihat salinan daftar tamunya?”
Petugas menyerahkan beberapa lembar fotokopi.
Aku memeriksanya lagi.
Nama demi nama.
Sampai mataku berhenti pada sebuah nama yang sebelumnya kulewatkan.
Raka Adinata.
Alamat tertulis Bandung.
Nominal lima juta rupiah.
Aku tidak mengenal nama itu.
Aku bertanya kepada Arga.
“Mas kenal Raka Adinata?”
Arga menggeleng.
Selvi tiba-tiba menjatuhkan botol air mineral dari tangannya.
Semua orang menoleh.
Aku menatapnya.
“Mbak kenal?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
Aku membuka foto dokumentasi meja tamu yang dikirim fotografer.
Nama Raka Adinata tercatat pukul 12.47.
Polisi kemudian memeriksa kamera pintu masuk pada waktu tersebut.
Tidak ada seorang pun yang mengisi buku tamu pada pukul 12.47.
Nama itu ditambahkan belakangan.
Petugas bertanya kepada Selvi.
“Siapa Raka Adinata?”
Selvi mulai menangis.
“Aku nggak tahu.”
Namun polisi sudah mendapatkan sesuatu dari pemeriksaan ponsel Reno.
Nama Raka muncul dalam percakapan yang telah dihapus tetapi berhasil dipulihkan.
Salah satu pesannya berbunyi singkat.
Kalau Arga tahu uang itu buat bayar Raka, pernikahan Selvi selesai.
Ruangan menjadi sunyi.
Arga menatap istrinya.
“Apa maksudnya?”
Selvi menutup wajah.
Reno akhirnya kehilangan keberanian.
“Gue cuma bantu Kak Selvi.”
“Bantu apa?” suara Arga bergetar.
Reno menghela napas.
“Raka itu mantannya.”
Selvi menangis semakin keras.
Ternyata beberapa minggu sebelum pernikahan, Raka menghubungi Selvi dan mengancam menyebarkan foto serta percakapan lama mereka kepada Arga.
Ia meminta dua puluh lima juta agar diam.
Selvi takut pernikahannya batal.
Ia tidak punya uang sebanyak itu.
Reno kemudian membuat rencana.
Mereka akan mengambil sebagian uang amplop setelah resepsi, lalu membuat kekurangan palsu dalam buku tamu.
Tetapi ketika mengetahui aku yang menjaga kotak hampir sepanjang hari, rencana berubah.
Aku menjadi kambing hitam yang sempurna.
Masalahnya, mereka tidak berhasil mengambil uang dari kotak karena aku hampir tidak pernah meninggalkan meja.
Maka Reno mematikan CCTV dan menambahkan nominal transfer sebagai uang tunai agar tercipta kekurangan di atas kertas.
Ketika aku memanggil polisi, mereka panik.
Mereka kemudian mengambil uang pribadi Selvi sebesar dua puluh lima juta yang sebenarnya disiapkan untuk membayar Raka, lalu menanamkannya di kamarku agar tuduhan pencurian terlihat nyata.
“Bagaimana uang itu bisa masuk kamar saya?” tanyaku.
Reno menunduk.
“Semalam.”
Aku mengernyit.
Polisi menjelaskan bahwa kamera halaman rumah merekam mobil Reno datang sekitar pukul 03.11.
Ia masuk menggunakan kunci cadangan yang ternyata diberikan Arga beberapa minggu sebelumnya ketika Reno membantu membawa perlengkapan pernikahan.
Rekaman koridor hilang karena Reno mencabut perangkat penyimpanan sementara.
Namun ia tidak tahu kamera halaman menyimpan salinan otomatis ke cloud.
Aku menatap kakakku.
Arga tidak sanggup menatapku.
Selvi memegang lengannya.
“Mas, aku takut kehilangan kamu.”
Arga melepaskan tangan itu perlahan.
“Kamu takut kehilangan aku, jadi kamu menghancurkan adikku?”
“Aku nggak bermaksud sampai sejauh ini.”
Aku akhirnya bicara.
“Tidak bermaksud?”
Selvi menatapku dengan mata bengkak.
“Mbak menuduhku mencuri di depan ratusan orang. Meminta tubuhku diperiksa. Menaruh uang di kamarku. Kalau polisi percaya, aku bisa jadi tersangka.”
Ia terdiam.
“Aku sedang menunggu hasil seleksi ASN. Satu kasus pidana bisa menghancurkan seluruh masa depanku.”
Selvi menunduk.
Untuk pertama kalinya, tidak ada air mata yang mampu membuatku iba.
Beberapa hari kemudian, keluarga besar mengetahui kebenarannya.
Orang-orang yang sebelumnya berbisik bahwa aku pencuri mulai mengirim pesan.
Maaf ya, Nad.
Kami cuma terbawa suasana.
Tante sebenarnya dari awal percaya.
Om tahu kamu anak baik.
Aku tidak membalas sebagian besar pesan itu.
Karena aku belajar sesuatu.
Ketika seseorang dituduh, banyak orang menganggap keraguan mereka sebagai sesuatu yang netral.
Padahal diam ketika seseorang dipermalukan juga bisa menjadi bentuk keberpihakan.
Seminggu kemudian Arga datang menemuiku.
Ia duduk di teras rumah tanpa berani masuk.
“Nad.”
Aku menatapnya.
“Maafin Mas.”
Aku tidak menjawab.
“Waktu itu Mas panik.”
“Mas tidak panik.”
Ia menatapku.
“Mas memilih percaya kepada orang yang baru beberapa jam jadi istri Mas daripada adik yang Mas kenal dua puluh enam tahun.”
Matanya berkaca-kaca.
“Aku tahu.”
Aku menghela napas.
“Aku bisa memaafkan. Tapi percaya lagi itu urusan lain.”
Arga mengangguk pelan.
Sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu yang tidak kuduga.
Ia memutuskan mengajukan pembatalan perkawinan dan menyerahkan seluruh proses hukum kepada polisi tanpa meminta keluarga menutupinya.
Namun kejutan terakhir datang dua minggu kemudian.
Polisi memanggilku lagi.
Bukan tentang Reno.
Bukan tentang Selvi.
Tentang Raka Adinata.
Nama itu ternyata palsu.
Pria yang menghubungi Selvi memang mantannya, tetapi namanya bukan Raka.
Nama Raka sengaja dibuat Reno untuk dimasukkan ke buku tamu sebagai pemberi lima juta rupiah.
Polisi menemukan nomor telepon yang digunakan untuk mengirim ancaman kepada Selvi.
Nomor itu terhubung dengan kartu SIM yang dibeli menggunakan identitas palsu.
Tetapi jejak transaksi digital menunjukkan pengisian saldonya berasal dari rekening seseorang.
Reno.
Selvi tidak pernah benar-benar diperas oleh mantannya.
Reno sendiri yang membuat pesan ancaman itu.
Ia tahu kakaknya masih menyimpan ketakutan bahwa masa lalunya diketahui Arga.
Ia memanfaatkan ketakutan itu untuk meminta Selvi menyiapkan dua puluh lima juta.
Ketika rencananya berantakan karena aku memanggil polisi, uang itu kemudian dipakai untuk menjebakku.
Saat fakta itu terungkap, Selvi terduduk lemas.
Orang yang selama ini ia bela ternyata orang yang sejak awal memanipulasinya.
Dan nama palsu di buku tamu yang membuatku curiga akhirnya menjadi benang pertama yang membongkar semuanya.
Beberapa bulan kemudian aku menerima pengumuman yang sudah lama kutunggu.
Aku lolos seleksi ASN.
Ibu menangis ketika membacanya.
Ayah memelukku.
Arga hanya mengirim satu pesan.
Mas bangga sama kamu.
Kali ini aku membalas.
Terima kasih.
Bukan karena semua luka sudah hilang.
Tetapi karena aku tidak ingin hidupku selamanya ditentukan oleh satu malam ketika semua orang memilih meragukanku.
Aku akhirnya mengerti bahwa nama baik bukan sesuatu yang harus dipertahankan dengan diam.
Kadang-kadang, satu-satunya cara menjaganya adalah berani membuat keributan ketika semua orang meminta kita mengalah.
Karena seandainya malam itu aku menyerahkan dua puluh lima juta hanya demi menjaga keharmonisan keluarga, mungkin tidak akan pernah ada polisi, tidak ada pemeriksaan CCTV, tidak ada nama palsu yang terbongkar.
Dan sampai hari ini, di mata semua orang, aku mungkin tetap menjadi pencuri yang kebetulan dimaafkan keluarganya.
Padahal aku tidak membutuhkan pengampunan mereka.
Aku membutuhkan kebenaran.
Dan ternyata, kebenaran memang membuat satu keluarga berantakan.
Namun setidaknya kali ini, yang hancur bukan masa depanku.
