Sepanjang perjalanan tadi, aku hanya takut tidak sampai ke ruang ujian.
Sekarang aku sudah selesai mengerjakan semuanya.
Tapi dari cara Bu Ratna bicara, aku merasa ada sesuatu yang bahkan belum kuketahui.
Dan ternyata, aku benar.

Setelah mahasiswa terakhir menyerahkan lembar jawaban, Bu Ratna memasukkan semua berkas ke dalam map cokelat.
“Nisa, yang lain boleh pulang. Dimas ikut saya.”
Beberapa teman menoleh kepadaku. Nisa bahkan sempat mengangkat alis, seolah bertanya apakah aku membuat masalah.
Aku hanya menggeleng.
Aku mengikuti Bu Ratna menuju ruang dosen dengan sandal yang masih mengeluarkan bunyi berdecit setiap kali menginjak lantai.
Di depan ruang ketua program studi, Bu Ratna berhenti.
“Masuk.”
Aku mengetuk pintu.
“Silakan.”
Pak Arief, ketua program studi kami, duduk di belakang meja. Di sampingnya ada seorang pria berkemeja abu-abu yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Begitu aku masuk, pria itu berdiri.
“Dimas Pratama?”
“Iya, Pak.”
Dia mengulurkan tangan.
“Saya Budi dari bagian kemahasiswaan.”
Aku menjabat tangannya.
Pak Arief menunjuk kursi.
“Duduk dulu.”
Aku duduk perlahan.
Jantungku semakin tidak tenang.
Pak Arief membuka sebuah map.
“Kamu penerima beasiswa UKT semester ini, benar?”
“Iya, Pak.”
“Dan kamu mengajukan bantuan biaya wisuda bulan lalu?”
“Iya.”
Aku menelan ludah.
Pengajuan itu belum mendapat jawaban. Kalau ditolak, aku harus mencari hampir tiga juta rupiah untuk biaya wisuda dan beberapa administrasi lain.
Jumlah yang mungkin terdengar biasa bagi sebagian mahasiswa.
Tapi bagi keluargaku, itu hampir sama dengan pendapatan ayah selama sebulan.
Pak Arief menutup map.
“Kenapa kamu tidak menulis kondisi keluargamu secara lengkap?”
Aku terdiam.
“Maksud Bapak?”
“Di formulir hanya tertulis ayah pekerja harian dan ibu tidak bekerja.”
“Itu memang benar, Pak.”
“Tidak ada keterangan bahwa ayahmu beberapa bulan terakhir hanya bekerja dua atau tiga hari seminggu.”
Aku menunduk.
“Tidak ada juga keterangan bahwa kamu bekerja malam di tempat fotokopi.”
Aku langsung mengangkat kepala.
Bagaimana mereka tahu?
Pak Budi menjawab seolah membaca pikiranku.
“Kami melakukan verifikasi.”
Aku menggenggam kedua tangan.
“Saya tidak bermaksud menyembunyikan, Pak.”
“Lalu?”
“Aku cuma mengajukan sesuai yang ditanya di formulir.”
Pak Arief menatapku cukup lama.
“Kamu juga tidak pernah mengajukan bantuan transportasi.”
“Aku masih bisa berangkat sendiri.”
“Dengan apa?”
Aku tidak menjawab.
Motor ayah sudah tua. Kalau ayah bekerja, aku naik angkot. Kalau uang sedang tipis, aku berjalan beberapa kilometer lalu mencari angkot yang tarifnya lebih murah.
Pak Arief menarik napas.
“Dimas, bantuan itu bukan hadiah untuk orang yang pandai mengeluh.”
Aku menatapnya.
“Itu hak mahasiswa yang memang membutuhkan.”
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Budi kemudian mendorong selembar kertas ke arahku.
“Pengajuan biaya wisudamu disetujui penuh.”
Aku membaca kalimat di atas kertas itu dua kali.
“Penuh, Pak?”
“Iya.”
Aku masih belum bergerak.
“Jadi saya tidak perlu bayar?”
“Tidak.”
Entah kenapa justru saat itu tenggorokanku terasa sakit.
Aku membayangkan ibu yang sejak minggu lalu diam-diam menghitung uang di kaleng biskuit.
Aku tahu uang itu sebenarnya disiapkan untuk membayar listrik dan memperbaiki motor.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Arief tersenyum tipis.
“Belum selesai.”
Aku menatapnya lagi.
“Kampus juga memutuskan memberikan bantuan transportasi sampai seluruh proses akademikmu selesai.”
Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa.
Bu Ratna yang sejak tadi berdiri dekat pintu akhirnya bicara.
“Supaya lain kali kamu tidak perlu berjalan sepuluh kilometer menerobos hujan.”
Aku tertawa kecil.
Tapi mataku panas.
Hari itu aku pulang menggunakan mobil salah satu staf kampus yang kebetulan menuju daerah rumahku.
Ketika sampai, ibu berdiri di depan pintu.
Begitu melihatku turun dari mobil, wajahnya langsung pucat.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Terus itu mobil siapa?”
Aku masuk sambil tertawa.
“Bu, biaya wisudaku ditanggung kampus.”
Ibu tidak langsung memahami.
“Ditanggung bagaimana?”
“Gratis.”
Dia menatapku.
“Semua?”
Aku mengangguk.
Ibu menutup mulutnya dengan tangan.
Ayah yang sedang memperbaiki kipas angin di ruang tengah berhenti bekerja.
“Serius?”
“Iya, Yah.”
Ayah hanya mengangguk beberapa kali.
Lalu dia menunduk kembali pada kipas angin.
Aku tahu dia sedang menyembunyikan matanya.
Tiga minggu kemudian nilai ujian keluar.
Aku mendapat A.
Lebih penting lagi, semua persyaratan kelulusanku selesai.
Namaku masuk daftar wisuda periode Oktober.
Sejak saat itu, hidup kembali berjalan seperti biasa.
Aku tetap bekerja malam di tempat fotokopi.
Ayah tetap mengambil pekerjaan apa pun yang tersedia.
Ibu mulai menerima pesanan gorengan dari warung dekat rumah.
Kami tidak tiba-tiba menjadi keluarga yang berkecukupan hanya karena biaya wisudaku dibebaskan.
Tetapi untuk pertama kalinya, garis akhir terasa benar-benar terlihat.
Sampai dua minggu sebelum wisuda, sebuah nomor tidak dikenal meneleponku.
“Dengan Dimas Pratama?”
“Iya.”
“Saya dari sekretariat rektor.”
Aku langsung berdiri dari kursi.
“Ada apa, Pak?”
“Kamu diminta hadir besok pukul sepuluh.”
“Untuk apa?”
“Datang saja dulu.”
Malam itu aku hampir tidak tidur.
Besoknya aku datang mengenakan kemeja terbaik yang kupunya.
Di ruang sekretariat, ada Bu Ratna, Pak Arief, dan seorang perempuan dari bagian humas.
Perempuan itu membuka laptop.
“Kami ingin meminta izin menggunakan kisahmu untuk sambutan wisuda.”
Aku mengernyit.
“Kisah saya?”
“Tentang perjalanan saat ujian terakhir.”
Aku langsung tidak nyaman.
“Harus, Bu?”
“Tidak. Kalau kamu keberatan, kami tidak akan menggunakan nama.”
Aku berpikir sebentar.
Aku tidak ingin orang melihatku sebagai mahasiswa miskin yang perlu dikasihani.
“Aku tidak mau kalau ceritanya tentang kemiskinan keluarga saya.”
Perempuan itu tersenyum.
“Justru bukan itu.”
“Lalu?”
“Tentang komitmen.”
Aku akhirnya mengizinkan dengan satu syarat.
Tidak ada foto rumah.
Tidak ada wawancara dengan orang tuaku.
Tidak ada dramatisasi tentang kondisi ekonomi kami.
Mereka setuju.
Hari wisuda tiba pada Sabtu pagi.
Ibu bangun pukul tiga.
Ketika aku keluar kamar, dia sudah memakai baju biru tua yang dipinjam dari tante.
Ayah mengenakan kemeja putih yang biasanya hanya dipakai saat Lebaran.
“Bagaimana?” tanyanya sambil merapikan kerah.
“Ganteng.”
Ayah tertawa.
“Saingan sama wisudawan.”
Kami berangkat pukul enam menggunakan mobil sewaan bersama keluarga Nisa.
Aula kampus sudah penuh ketika kami tiba.
Ratusan wisudawan mengenakan toga.
Orang tua memenuhi kursi tamu.
Lampu panggung menyala terang.
Aku menemukan ibu dan ayah di barisan belakang.
Ibu melambaikan tangan berkali-kali.
Aku membalasnya.
Acara berlangsung hampir dua jam sebelum pemanggilan lulusan dimulai.
Satu per satu nama dibacakan.
Aku menunggu.
Ketika giliranku mendekat, telapak tanganku mulai berkeringat.
“Dimas Pratama.”
Aku berdiri.
“Tunggu sebentar.”
Suara pembawa acara membuat langkahku berhenti.
Aula mendadak sunyi.
Aku melihat ke panggung.
Rektor berdiri dari kursinya.
Beliau mengambil mikrofon.
“Saudara Dimas, tetaplah di tempat sebentar.”
Ratusan kepala menoleh ke arahku.
Aku merasa darahku turun ke kaki.
Rektor membuka sebuah kertas.
“Beberapa bulan lalu, pada pagi ketika sebagian wilayah kota mengalami banjir dan hujan deras, seorang mahasiswa berjalan hampir sepuluh kilometer agar tidak kehilangan kesempatan mengikuti ujian terakhirnya.”
Aula benar-benar hening.
Aku melihat Nisa beberapa kursi di depanku menoleh sambil tersenyum.
“Dia tiba empat menit sebelum ujian dimulai. Pakaiannya basah. Sandalnya hampir putus. Dua pulpennya tidak bisa digunakan.”
Beberapa orang tertawa kecil.
Aku menunduk karena malu.
“Tapi ada bagian dari cerita itu yang baru kami ketahui kemudian.”
Aku mengangkat kepala.
Rektor tidak lagi melihat kertas.
“Di tengah perjalanan menuju ujian yang menentukan kelulusannya, mahasiswa ini berhenti untuk membantu seorang pengendara yang mobilnya mogok.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Pria tua itu.
Aku hampir melupakannya.
“Mahasiswa tersebut menolak uang dan menolak menunggu kendaraan yang bisa membawanya ke kampus karena dia takut terlambat.”
Rektor berhenti.
“Kebetulan, orang yang ia bantu pagi itu adalah seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari kampus ini.”
Layar besar di belakang panggung menyala.
Sebuah foto muncul.
Aku langsung mengenalinya.
Pria berkemeja abu-abu.
Pria yang mobilnya kudorong di tengah hujan.
Namanya tertulis di layar.
Prof. Dr. Hendra Wijaya.
Ketua Yayasan Pendidikan Nusantara.
Aku membeku.
Suara bisik-bisik memenuhi aula.
Rektor tersenyum.
“Pak Hendra meminta kepada kami satu hal. Jangan beri tahu Dimas siapa dirinya sampai hari ini.”
Dari barisan tamu kehormatan, seseorang berdiri.
Pria itu.
Dia berjalan menuju panggung.
Aku hanya bisa menatap.
Setelah sampai, dia mengambil mikrofon.
“Dimas.”
Suaranya sama seperti pagi itu.
“Aku pernah menawarkanmu ongkos.”
Beberapa orang tertawa.
Aku ikut tersenyum gugup.
“Kamu menolak.”
Dia memandang ke arahku.
“Awalnya saya mengira anak ini terlalu keras kepala.”
Aula kembali tertawa.
“Tapi setelah saya mengetahui siapa dia, saya meminta bagian kemahasiswaan memeriksa satu hal.”
Dia berhenti.
“Bukan kondisi ekonominya.”
Tatapannya berubah serius.
“Saya ingin tahu bagaimana dia menjalani empat tahun di kampus ini.”
Layar berganti.
Data akademikku muncul.
IPK 3,87.
Tidak pernah mengulang mata kuliah.
Asisten praktikum selama tiga semester.
Relawan pengajar program literasi.
Bekerja malam.
Tidak pernah memiliki tunggakan akademik.
Aku bahkan tidak tahu mereka mengumpulkan semua itu.
“Dimas bukan mahasiswa dengan nilai tertinggi di angkatannya,” lanjut Pak Hendra.
Aku menahan napas.
“Dan itu justru alasan saya berdiri di sini.”
Aula sunyi lagi.
“Karena pendidikan bukan hanya tentang siapa yang memperoleh angka paling tinggi.”
Dia menatap ratusan wisudawan.
“Pendidikan adalah tentang siapa kita ketika tidak ada yang melihat.”
Aku merasakan sesuatu menyumbat tenggorokanku.
“Pagi itu tidak ada kamera. Tidak ada dosen. Tidak ada penghargaan. Dia sedang mengejar masa depannya sendiri, tetapi masih berhenti membantu orang lain.”
Pak Hendra kemudian membuka sebuah map.
“Yayasan memutuskan memberikan Beasiswa Nusantara untuk pendidikan magister kepada satu lulusan tahun ini.”
Aku berhenti bernapas.
“Dan penerimanya adalah Dimas Pratama.”
Seluruh aula meledak oleh tepuk tangan.
Aku tidak bergerak.
Nisa memukul pelan lenganku.
“Dim! Maju!”
Aku masih menatap panggung.
Magister?
Aku bahkan belum pernah berani membayangkannya.
Aku hanya ingin lulus.
Mendapat pekerjaan tetap.
Membantu ayah memperbaiki rumah.
Membelikan ibu kulkas yang tidak harus dipukul dulu supaya menyala.
“Maju, Mas!”
Suara itu datang dari belakang.
Aku mengenalinya.
Ayah.
Aku menoleh.
Ayah berdiri.
Wajahnya penuh senyum.
Di sebelahnya, ibu menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Aku akhirnya berjalan menuju panggung.
Setiap langkah terasa aneh.
Saat naik, Pak Hendra menyambutku.
“Sekarang kamu boleh menerima sesuatu dari saya?”
Aula tertawa.
Aku juga.
“Kalau yang ini, saya terima, Pak.”
Dia menyerahkan map itu.
Namun sebelum aku turun, rektor kembali mengambil mikrofon.
“Masih ada satu nama yang harus disebut.”
Aku mengira penerima penghargaan berikutnya akan dipanggil.
Ternyata Pak Hendra menatap ke arah kursi orang tua.
“Pak Surya Pratama.”
Aku membeku.
Itu nama ayahku.
Ayah juga terlihat bingung.
“Mohon berdiri, Pak.”
Perlahan ayah berdiri.
Pak Hendra melanjutkan.
“Kami mengetahui bahwa selama empat tahun, Bapak beberapa kali menolak pekerjaan di luar kota karena tidak ingin Dimas berhenti kuliah untuk menggantikan tanggung jawab keluarga.”
Aku menatap ayah.
Aku tidak pernah tahu itu.
Ayah selalu mengatakan pekerjaan luar kota tidak cocok dengannya.
“Dan kami mengetahui bahwa motor yang rusak pada hari ujian itu sebenarnya belum diperbaiki karena uang bengkel digunakan untuk membayar biaya cetak skripsi putra Bapak.”
Tanganku yang memegang map mulai gemetar.
Aku menatap ayah dari atas panggung.
Dia menunduk.
Tiba-tiba semua hal kecil yang selama ini tidak kupahami terasa masuk akal.
Mengapa ayah berjalan ke tempat kerja selama beberapa minggu.
Mengapa dia selalu bilang motor bisa diperbaiki nanti.
Mengapa malam sebelum aku mencetak skripsi, uang yang kukira tidak kami punya tiba-tiba tersedia.
Pak Hendra berkata pelan,
“Kadang kita merayakan seseorang yang berhasil mencapai garis akhir, tetapi lupa bahwa di belakangnya ada orang-orang yang diam-diam memastikan dia tetap bisa berjalan.”
Aula hening.
“Jadi sebelum kita memberikan tepuk tangan kepada lulusan hari ini, saya ingin kita memberikan tepuk tangan kepada orang tua yang mungkin tidak pernah memakai toga, tetapi ikut menyelesaikan setiap semester bersama anak-anak mereka.”
Aku tidak tahu siapa yang mulai berdiri lebih dulu.
Dalam beberapa detik, seluruh aula berdiri.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Ayah masih menunduk.
Ibu memegang lengannya sambil menangis.
Dan di atas panggung, untuk pertama kalinya sejak kecil, aku melihat ayah mengusap air mata di depan banyak orang.
Saat itulah aku memahami sesuatu.
Selama ini semua orang mengira cerita terbesar hari itu adalah tentang seorang mahasiswa yang berjalan sepuluh kilometer menerobos badai demi ujian akhir.
Mereka salah.
Aku memang berjalan sepuluh kilometer pagi itu.
Tetapi ayah dan ibu telah berjalan bersamaku selama empat tahun tanpa pernah meminta nama mereka disebut.
Hari wisudaku seharusnya menjadi hari ketika namaku dipanggil di depan ratusan orang.
Namun nama yang paling kuingat justru bukan namaku.
“Pak Surya Pratama.”
Nama ayahku.
Nama sederhana yang membuat seluruh aula berdiri.
Dan ketika turun dari panggung, aku tidak langsung kembali ke tempat duduk.
Aku berjalan ke barisan belakang.
Aku memeluk ayah.
“Kenapa Ayah enggak pernah cerita?”
Ayah menepuk punggungku.
“Kalau Ayah cerita, memangnya skripsimu jadi lebih cepat selesai?”
Aku tertawa sambil menangis.
Ibu memeluk kami berdua.
Di sekeliling kami, acara wisuda terus berlangsung.
Nama-nama kembali dipanggil.
Kamera kembali menyala.
Orang-orang kembali bertepuk tangan.
Tapi bagiku, wisuda itu sudah selesai.
Aku datang ke kampus empat tahun sebelumnya untuk mendapatkan gelar.
Aku pulang pada hari itu membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Kesadaran bahwa tidak semua perjuangan terdengar keras.
Ada perjuangan yang tidak pernah masuk berita.
Tidak pernah difoto.
Tidak pernah mendapat medali.
Kadang perjuangan itu hanya berbentuk seorang ayah yang berjalan kaki karena uang bengkel dipakai mencetak skripsi anaknya.
Seorang ibu yang menyimpan uang sedikit demi sedikit di dalam kaleng biskuit.
Seorang teman yang menggeser bolpoin saat tanganmu terlalu dingin untuk menulis.
Seorang dosen yang memilih melihat manusia di balik nomor mahasiswa.
Dan mungkin, keberhasilan bukan tentang seberapa jauh seseorang mampu berjalan sendirian.
Melainkan tentang apakah setelah sampai di tujuan, dia masih ingat siapa saja yang membuatnya mampu terus melangkah.
