ANAK MISKIN INI MENYANYI DEMI MENYELAMATKAN NYAWA IBUNYA, TAPI JURI TERKENAL ITU JUSTRU MENANGIS KARENA MENYIMPAN RAHASIA PALING KEJAM YANG TELAH TERKUBUR BERTAHUN-TAHUN!

“Bagaimana Bapak tahu nama ibu saya?”

Pertanyaan itu membuat ruangan terasa jauh lebih sunyi daripada sebelumnya.

Adrian Mahendra membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar.

Selama bertahun-tahun ia berdiri di atas panggung di hadapan puluhan ribu orang. Ia pernah diwawancarai saat kariernya runtuh, pernah menghadapi skandal, pernah kehilangan kontrak miliaran rupiah, tetapi tak satu pun dari semua itu pernah membuat lututnya selemah saat ini.

Karena anak yang berdiri di hadapannya memiliki mata Kirana.

Dan senyum kecil yang nyaris sama dengan miliknya sendiri saat masih muda.

Ratna buru-buru menyela.

“Pak Adrian, kita sebentar lagi mulai audisi. Anak ini juga belum lolos administrasi.”

Adrian akhirnya menoleh.

“Kenapa belum?”

Ratna tampak tersentak.

“Formulirnya rusak. Selain itu, saya rasa peserta dengan kondisi seperti ini tidak sesuai citra acara.”

Adrian memandang uang receh yang masih berserakan di meja.

Lalu ia melihat formulir Bintang yang basah.

“Dia sudah membayar?”

Ratna terdiam.

Bintang menjawab sendiri.

“Sudah, Pak. Empat juta delapan ratus ribu.”

Adrian mengambil formulir yang basah itu, meratakannya perlahan di atas meja, lalu menyerahkannya kepada salah seorang staf.

“Cetak formulir baru. Masukkan namanya ke daftar peserta.”

Ratna langsung memprotes.

“Tapi, Pak Adrian…”

“Sekarang.”

Nada suaranya tidak keras.

Justru terlalu tenang.

Ratna langsung bungkam.

Bintang memandangi Adrian dengan campuran bingung dan curiga.

“Saya tidak mau dikasihani.”

Kalimat itu membuat Adrian menahan napas.

Persis Kirana.

Dulu, setiap kali Adrian menawarkan sesuatu yang dianggap terlalu berlebihan, Kirana selalu mengatakan kalimat serupa.

Aku tidak butuh dikasihani.

Adrian menundukkan wajah.

“Saya tidak mengasihanimu.”

Ia menatap Bintang lagi.

“Saya cuma ingin mendengar kamu menyanyi.”

Bintang akhirnya menerima nomor peserta.

Nomor 127.

Ia diminta menunggu di belakang panggung.

Namun sebelum anak itu pergi, Adrian berkata pelan, “Bintang.”

Bintang menoleh.

“Setelah audisi, boleh saya bicara denganmu?”

Bintang ragu beberapa detik.

“Kalau tentang ibu saya?”

Adrian mengangguk.

“Iya.”

“Kalau begitu saya mau.”

Beberapa jam kemudian, nama Bintang dipanggil.

“Peserta nomor 127, Bintang Wijaya.”

Anak itu berjalan menuju panggung besar.

Lampu sorot membuat matanya silau.

Ratusan orang memenuhi kursi penonton. Tiga juri duduk di depan panggung. Di tengah adalah Adrian. Di sebelah kanan, penyanyi pop terkenal bernama Melinda Arum. Di sebelah kiri, produser musik Dimas Prasetyo.

Bintang berdiri di atas tanda silang merah.

Tangannya gemetar.

Melinda tersenyum ramah.

“Hai, Bintang. Umur berapa?”

“Sepuluh tahun.”

“Datang sama siapa?”

Bintang terdiam sebentar.

“Sendiri.”

Penonton mulai berbisik.

Melinda mengernyit.

“Orang tuamu?”

“Ibu saya di rumah sakit.”

Wajah Melinda berubah.

Dimas bersandar ke depan.

“Kamu ingin menang untuk ibumu?”

Bintang mengangguk.

“Hadiah utamanya untuk operasi ibu saya.”

Suara penonton kembali bergemuruh pelan.

Namun Adrian sama sekali tidak bergerak.

Ia hanya menatap anak itu.

“Lagu apa yang akan kamu nyanyikan?” tanyanya.

Bintang mengeluarkan secarik kertas lusuh dari saku.

“Lagu berjudul Pulanglah.”

Adrian membeku.

Tidak banyak orang mengenal lagu itu.

Lagu tersebut tidak pernah dirilis.

Adrian menulisnya hampir sebelas tahun lalu.

Untuk Kirana.

Tangannya mulai mengepal di bawah meja juri.

“Dari mana kamu tahu lagu itu?”

Bintang menjawab polos.

“Ibu saya yang ajari.”

Adrian menelan ludah.

“Dia bilang apa tentang lagu itu?”

“Ibu bilang lagu ini pernah ditulis seseorang yang sangat ia cintai.”

Bintang tersenyum tipis.

“Tapi orang itu kemudian menghilang.”

Mata Adrian langsung memerah.

Musik mulai dimainkan.

Namun baru beberapa detik, Adrian mengangkat tangan.

“Stop.”

Semua orang terdiam.

Adrian berdiri.

“Tanpa musik.”

Dimas menoleh heran.

“Adrian?”

“Biarkan dia menyanyi tanpa iringan.”

Bintang menarik napas.

Lalu ia mulai bernyanyi.

Suara pertama keluar begitu kecil.

Namun bersih.

Jernih.

Ada sesuatu dalam suara itu yang tidak bisa dibentuk oleh sekolah vokal mahal.

Rasa kehilangan.

Kerinduan.

Dan ketakutan kehilangan satu-satunya orang yang dicintai.

Ketika sampai pada bagian reff, suara Bintang pecah sedikit.

Ia memejamkan mata.

Adrian mengenali setiap nada.

Karena sebelas tahun lalu, di sebuah apartemen kecil di Kemang, Kirana pernah menyanyikan bagian yang sama sambil duduk di lantai di samping pianonya.

Waktu itu mereka belum terkenal.

Belum kaya.

Belum punya apa-apa.

Kirana tertawa setelah salah menyanyikan satu nada.

Adrian memperbaikinya.

Lalu mereka berciuman.

Kenangan itu menghantam Adrian begitu keras.

Air matanya jatuh.

Penonton mendadak hening.

Kamera langsung menyorot wajahnya.

Namun Adrian tidak peduli.

Bintang terus bernyanyi sampai selesai.

Begitu nada terakhir menghilang, seluruh ruangan berdiri.

Tepuk tangan bergemuruh.

Melinda menangis.

Dimas bahkan menutup wajahnya beberapa detik.

Namun Bintang hanya melihat Adrian.

Karena ia tahu air mata pria itu bukan semata-mata karena lagu.

Adrian memberikan suara “ya”.

Melinda juga.

Dimas menjadi yang ketiga.

Bintang lolos.

Tetapi yang membuat seluruh kru terkejut terjadi beberapa menit setelah kamera berhenti merekam.

Adrian meminta Bintang masuk ke ruang pribadinya.

Di sana, ia mengunci pintu.

Bintang langsung bertanya.

“Bapak kenal ibu saya?”

Adrian tidak lagi punya alasan untuk berbohong.

“Kenal.”

“Seberapa dekat?”

Adrian berjalan ke arah sebuah lemari kecil.

Dari dalam tas kerjanya, ia mengambil dompet kulit.

Di balik beberapa kartu, terselip sebuah foto lama yang warnanya sudah memudar.

Ia menyerahkannya kepada Bintang.

Anak itu membeku.

Dalam foto tersebut, Kirana berdiri di samping Adrian.

Mereka masih sangat muda.

Tangan Adrian melingkar di pinggang Kirana.

Keduanya tersenyum bahagia.

“Ibu…”

Bintang mengangkat kepala.

“Kenapa Bapak punya foto ini?”

Adrian duduk perlahan.

“Kirana dulu tunangan saya.”

Bintang menatapnya tak percaya.

“Kapan?”

“Sebelas tahun lalu.”

Jantung Bintang mulai berdebar.

“Lalu kenapa kalian berpisah?”

Adrian menutup mata sejenak.

“Karena saya kira dia meninggalkan saya.”

Bintang semakin bingung.

Adrian mulai menceritakan semuanya.

Sebelas tahun lalu, Adrian hanyalah musisi muda yang mulai mendapatkan kontrak besar.

Manajernya saat itu adalah ayah kandung Adrian sendiri, Surya Mahendra.

Surya sangat ambisius.

Ia percaya bahwa hubungan Adrian dengan Kirana akan menghancurkan karier anaknya karena Kirana berasal dari keluarga sederhana dan tidak punya jaringan di industri hiburan.

Ketika Kirana hamil, Surya mengetahui lebih dulu.

Kirana datang untuk menemui Adrian.

Namun Surya mencegahnya.

Ia memberi Kirana sejumlah uang.

Kirana menolak.

Surya lalu mengancam akan menghancurkan keluarga Kirana dan membuat Adrian kehilangan kontrak jika hubungan mereka diteruskan.

Namun ternyata bukan itu bagian terburuknya.

“Dia memberi saya surat,” kata Adrian.

“Surat apa?”

“Surat yang katanya ditulis ibumu.”

Dalam surat itu, Kirana menyatakan bahwa dirinya jatuh cinta kepada pria lain dan tidak ingin melihat Adrian lagi.

Beberapa hari kemudian, Surya mengatakan Kirana sudah pindah ke luar kota.

Adrian mencoba mencari.

Namun nomor Kirana tidak aktif.

Kontrakannya kosong.

Teman-temannya tidak tahu ke mana dia pergi.

Adrian akhirnya percaya.

Ia patah hati.

Dan selama bertahun-tahun ia membenci Kirana.

Sementara Kirana ternyata menerima kebohongan yang berbeda.

Surya mengatakan Adrian mengetahui kehamilannya dan menolak mengakui anak tersebut.

Bahkan ada sebuah rekaman suara.

Rekaman Adrian yang mengatakan, “Aku tidak ingin hidupku dihancurkan olehnya.”

Kalimat itu memang suara Adrian.

Namun diambil dari percakapan lain.

Dipotong.

Dimanipulasi.

Bintang berdiri dari kursinya.

Wajahnya pucat.

“Jadi…”

Ia hampir tidak mampu menyelesaikan kalimatnya.

“Bapak…”

Adrian menatapnya.

Air mata kembali memenuhi matanya.

“Saya belum berani memastikan.”

Namun sebenarnya, keduanya tahu.

Mereka hanya takut mengucapkannya.

Adrian segera meminta tes DNA.

Bintang awalnya menolak.

Ia takut.

Takut berharap.

Takut menemukan bahwa semuanya cuma kebetulan.

Namun malam itu, kondisi Kirana tiba-tiba memburuk.

Rumah sakit menghubungi nomor yang diberikan Bintang kepada panitia.

Bintang langsung berlari keluar gedung.

Adrian mengejarnya.

Mereka tiba di RSCM kurang dari empat puluh menit kemudian.

Bintang masuk ke ruang rawat sambil menangis.

“Ibu!”

Kirana membuka mata perlahan.

Namun begitu melihat Adrian berdiri di belakang Bintang, wajahnya langsung berubah.

Seolah seluruh darah menghilang dari tubuhnya.

“Adrian?”

Adrian berhenti di ambang pintu.

“Kirana.”

Air mata Kirana langsung mengalir.

“Kenapa kamu datang?”

Adrian mendekat.

“Karena anakmu datang kepadaku.”

Kirana langsung memeluk Bintang.

“Jangan ganggu anak saya.”

“Saya tidak mau mengganggunya.”

Adrian menatap Bintang.

“Saya cuma ingin tahu kebenaran.”

Kirana menggeleng.

“Kebenaran datang terlambat.”

“Tidak.”

Adrian berdiri di sisi ranjang.

“Sepuluh tahun terlambat tetap lebih baik daripada tidak pernah.”

Kirana tertawa pahit.

“Kamu bahkan tidak datang ketika saya memohon untuk bertemu.”

“Saya tidak pernah tahu.”

Kirana menatapnya.

Adrian mengeluarkan surat lama dari tasnya.

Ia selalu menyimpannya.

Begitu melihat tulisan itu, Kirana langsung berkata, “Itu bukan tulisan saya.”

Ruangan mendadak sunyi.

Kemudian Kirana menceritakan versinya.

Surya datang ketika ia sedang hamil tiga bulan.

Ia memperlihatkan kontrak Adrian.

Mengatakan karier Adrian akan hancur jika publik tahu ia menghamili perempuan sebelum menikah.

Kirana tetap bersikeras menemui Adrian.

Lalu Surya memutar rekaman suara palsu itu.

Kirana menyerah.

Ia pindah.

Melahirkan Bintang seorang diri.

Namun beberapa bulan kemudian, Surya datang lagi.

Ia menawarkan uang agar Kirana menandatangani pernyataan bahwa Adrian bukan ayah Bintang.

Kirana menolak.

Sejak saat itu ia tidak pernah melihat Surya lagi.

Adrian langsung memerintahkan pengacaranya mencari dokumen lama.

Dua hari kemudian, sesuatu yang lebih mengejutkan ditemukan.

Surya meninggal tiga tahun sebelumnya.

Tetapi di antara berkas warisannya terdapat sebuah safe deposit box.

Isinya bukan uang.

Melainkan puluhan dokumen.

Termasuk surat asli Kirana kepada Adrian.

Surat yang tidak pernah sampai.

Di dalamnya Kirana menulis bahwa ia hamil.

Bahwa ia takut.

Bahwa ia tetap ingin membesarkan anak itu bersama Adrian.

Ada juga kuitansi pembayaran kepada seorang teknisi audio.

Tanggalnya sama dengan hari rekaman palsu dibuat.

Tak ada lagi keraguan.

Tes DNA keluar tiga hari kemudian.

Probabilitas hubungan biologis 99,9999 persen.

Adrian adalah ayah Bintang.

Bintang membaca hasil itu berkali-kali.

Lalu ia menatap Adrian.

Namun bukannya langsung memeluk, Bintang malah bertanya, “Kalau Kakek tidak bohong dulu, Bapak akan tinggal bersama kami?”

Adrian tidak sanggup menjawab cepat.

Akhirnya ia berkata, “Saya tidak tahu akan jadi orang seperti apa saat itu.”

Ia berjongkok di depan Bintang.

“Tapi saya tahu satu hal.”

“Apa?”

“Saya seharusnya mencari lebih keras.”

Untuk pertama kalinya, Adrian tidak menyalahkan ayahnya sepenuhnya.

Ia mengakui kesalahannya sendiri.

Ia pernah menerima kebohongan karena kebohongan itu lebih mudah daripada mencari kebenaran.

Beberapa minggu berikutnya, kompetisi terus berjalan.

Bintang bertahan.

Babak demi babak.

Adrian menjaga jarak selama penjurian agar tidak terjadi konflik kepentingan. Bahkan ketika hubungan biologis mereka akhirnya bocor ke media, Adrian meminta dirinya sendiri tidak memberikan nilai kepada Bintang.

Ratna sempat mencoba membocorkan cerita bahwa Bintang menggunakan kisah ibunya demi simpati.

Namun ternyata kamera keamanan telah merekam perlakuannya di meja pendaftaran.

Video saat Ratna menjatuhkan formulir ke genangan air tersebar lebih dulu.

Ratna dipecat oleh pihak produksi.

Bintang terus menyanyi.

Tetapi pada malam final, sesuatu terjadi.

Kirana dijadwalkan menjalani operasi keesokan paginya.

Adrian diam-diam telah membayar seluruh biaya rumah sakit.

Bintang baru mengetahuinya beberapa jam sebelum tampil.

Ia langsung mendatangi Adrian.

“Kenapa Bapak bayar?”

“Karena saya ayahmu.”

“Saya ikut kompetisi supaya saya sendiri yang menyelamatkan ibu.”

Adrian tersenyum sedih.

“Kamu sudah menyelamatkannya jauh sebelum saya datang.”

Bintang tidak mengerti.

Adrian menunjuk dadanya.

“Kamu membuat ibumu bertahan sepuluh tahun sendirian.”

Malam itu Bintang naik ke panggung final.

Namun ia tidak memenangkan juara pertama.

Ia menjadi juara kedua.

Selisih suara publiknya sangat tipis.

Anehnya, Bintang tidak menangis.

Ketika pembawa acara menyerahkan hadiah Rp350 juta, ia hanya tersenyum.

Karena hadiah utama yang sebenarnya sudah ia dapatkan.

Operasi Kirana berhasil.

Beberapa bulan kemudian, kehidupan mereka berubah.

Bukan menjadi keluarga sempurna seperti dalam sinetron.

Kirana tidak langsung kembali mencintai Adrian.

Ia bahkan menolak ketika Adrian mengajak mereka pindah ke rumah mewahnya.

“Aku sudah terlalu lama belajar berdiri sendiri,” katanya.

Adrian menghormati itu.

Ia menyewa rumah sederhana tak jauh dari sekolah Bintang.

Setiap pagi, ia datang menjemput anaknya.

Kadang mereka makan bubur ayam bersama.

Kadang berdebat soal PR matematika.

Kadang hanya duduk tanpa bicara.

Sampai suatu hari, satu tahun setelah kompetisi, Bintang tampil di konser kecil sekolahnya.

Di barisan depan duduk Kirana dan Adrian.

Tidak bergandengan tangan.

Tidak berpura-pura menjadi keluarga sempurna.

Namun hadir.

Itu cukup.

Sebelum mulai bernyanyi, Bintang berkata di depan mikrofon.

“Dulu saya pikir uang hadiah bisa menyelamatkan hidup ibu saya.”

Ia menoleh ke arah Kirana.

“Sekarang saya tahu, yang menyelamatkan seseorang tidak selalu uang.”

Penonton terdiam.

“Kadang yang menyelamatkan kita adalah keberanian untuk mencari kebenaran sebelum terlambat.”

Adrian menunduk.

Kirana menggenggam ujung bajunya sendiri sambil menahan tangis.

Bintang tersenyum.

Kemudian ia menyanyikan Pulanglah.

Lagu yang dahulu menjadi bukti perpisahan.

Kini menjadi lagu kepulangan.

Dan untuk pertama kalinya setelah lebih dari sebelas tahun, Kirana tidak mendengarnya sebagai lagu tentang seseorang yang pergi.

Ia mendengarnya sebagai lagu tentang seorang anak kecil yang, tanpa sengaja, menemukan jalan pulang bagi dua orang dewasa yang pernah kehilangan satu sama lain.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang