Saat Dania membuka mata, hal pertama yang ia dengar adalah bunyi monitor yang teratur.
Bip.
Bip.
Bip.
Kelopak matanya terasa berat. Tenggorokannya kering, sementara bagian bawah perutnya seperti ditarik dari dalam.
Ia mencoba bergerak, tetapi rasa nyeri segera membuat dahinya berkerut.
“Jangan dipaksa.”
Suara itu membuat Dania menoleh perlahan.
Arka duduk di kursi dekat jendela.
Pria itu sudah berganti pakaian. Kemeja putih sederhana menutupi perban kecil di dekat tulang selangkanya. Wajahnya masih sedikit pucat, tetapi tatapannya jauh lebih segar dibanding pagi tadi.
Dania mengerjapkan mata beberapa kali.
“Kamu… sudah operasi?”
“Sudah.”
“Kenapa malah ada di sini?”
Arka mengangkat bahu.
“Karena ada seseorang yang sebelum dibius mengajakku menikah.”
Ingatan Dania kembali seketika.
Wajahnya langsung memanas.
“Ya Tuhan.”
Arka menahan senyum.
“Sepertinya ingatanmu baik. Berarti efek anestesinya tidak terlalu buruk.”
Dania menutup wajah dengan telapak tangan.
“Anggap saja aku sedang mengigau.”
“Sayangnya kamu mengatakannya sebelum dibius.”
“Aku baru dicampakkan suami. Kondisi mentalku tidak bisa dijadikan dasar hukum.”
Kali ini Arka benar-benar tertawa kecil.
Dania hendak mengatakan sesuatu lagi ketika pintu kamar terbuka.
Seorang dokter masuk bersama dua perawat. Di belakang mereka terdapat seorang pria berjas gelap dan seorang perempuan membawa tablet.
Dania menatap bingung.
Dokter lebih dulu menghampirinya.
“Operasinya berjalan baik, Bu Dania. Tumornya berhasil diangkat seluruhnya dan, kabar paling penting, rahim Ibu bisa dipertahankan.”
Mata Dania langsung berkaca-kaca.
“Benarkah, Dok?”
Dokter mengangguk.
“Tidak ada kerusakan yang berarti. Setelah masa pemulihan, secara medis peluang Ibu untuk memiliki anak masih ada.”
Dania menggigit bibir.
Selama berminggu-minggu ia membayangkan kemungkinan terburuk. Bahkan ketika Rendra pergi pagi tadi, bagian terdalam dirinya masih lebih takut kehilangan kesempatan menjadi ibu daripada kehilangan pernikahan.
Air matanya akhirnya jatuh.
“Terima kasih.”
Dokter tersenyum sebelum meninggalkan ruangan.
Namun pria berjas yang berdiri di belakangnya tidak ikut pergi.
Ia justru membungkuk sedikit kepada Arka.
“Pak Arka, rapat dengan direksi Dirgantara Group sudah kami pindahkan ke sore hari. Tim Singapura juga menunggu keputusan Bapak mengenai akuisisi rumah sakit di Surabaya.”
Dania yang sedang minum air langsung berhenti.
Dirgantara Group.
Ia pernah mendengar nama itu.
Siapa yang tidak?
Perusahaan itu memiliki jaringan properti, rumah sakit, logistik, pusat perbelanjaan, hingga perusahaan teknologi di berbagai kota besar Indonesia.
Dania perlahan memandang Arka.
Pria berjas tadi melanjutkan, “Dan media sudah mengetahui Bapak menjalani operasi di sini. Kami sudah menahan mereka di lobi.”
“Media?” suara Dania nyaris berbisik.
Arka memejamkan mata sebentar.
Sepertinya ia tahu rahasianya tidak mungkin lagi disembunyikan.
“Bisa beri kami waktu?”
“Baik, Pak.”
Setelah orang-orang itu keluar, Dania menatap Arka tanpa berkedip.
“Arka Dirgantara?”
“Ya.”
“Dirgantara Group?”
“Ya.”
“Miliarder Arka Dirgantara yang pernah masuk majalah bisnis dengan judul Pengusaha Paling Tertutup di Indonesia?”
Arka tampak berpikir.
“Judul itu agak berlebihan.”
Dania menatapnya tak percaya.
“Kamu duduk di sebelahku semalaman memakai kaus rumah sakit dan sandal plastik!”
“Memangnya miliarder harus sakit memakai sepatu kulit?”
Dalam keadaan lain Dania mungkin tertawa.
Namun kini ia justru menarik selimut sampai ke dada.
“Aku mengajak seorang miliarder menikah.”
“Benar.”
“Aku mau pindah kamar.”
“Kenapa?”
“Karena malu.”
Arka tersenyum tipis.
“Sayangnya kamarmu masih yang ini.”
Dania menatapnya tajam.
“Dan tentang perkataanmu tadi pagi… lupakan.”
Senyum Arka perlahan menghilang.
“Aku tidak ingin melupakannya.”
Dania terdiam.
Arka berdiri, berjalan mendekati ranjang, lalu berhenti pada jarak yang sopan.
“Aku tahu kedengarannya gila. Kita bahkan belum saling mengenal dua puluh empat jam.”
“Nah. Itu bagian paling masuk akal dari percakapan ini.”

“Tapi aku serius ketika menjawabmu.”
“Kenapa?”
Pertanyaan Dania keluar lebih pelan.
Untuk pertama kalinya, ketenangan di wajah Arka retak.
“Istriku meninggal enam tahun lalu.”
Dania tidak menyangka jawaban itu.
Arka menatap keluar jendela.
“Dia sakit cukup lama. Aku menghabiskan banyak waktu membangun perusahaan, terbang ke berbagai kota, mengejar target. Aku selalu berpikir masih ada besok untuk duduk lebih lama bersamanya.”
Suara Arka merendah.
“Ternyata tidak.”
Dania tidak berkata apa-apa.
“Sejak itu aku tidak pernah berniat menikah lagi. Sampai pagi tadi aku melihat seseorang sedang menuju operasi setelah menerima pesan paling kejam dari orang yang seharusnya melindunginya.”
Arka menoleh kepadanya.
“Dan kamu masih bisa bercanda.”
Dania tertawa getir.
“Itu bukan keberanian. Itu kepanikan.”
“Mungkin. Tapi orang menunjukkan siapa dirinya ketika sedang ketakutan.”
Arka mengambil ponselnya.
“Aku tidak meminta jawaban sekarang. Pulihkan dirimu dulu.”
Dania mengira percakapan aneh itu akan berakhir di sana.
Ternyata masalah sebenarnya baru dimulai.
Dua hari kemudian Rendra datang.
Ia tidak datang membawa bunga.
Ia tidak pula meminta maaf.
Ia datang membawa map.
Dania sedang belajar berjalan perlahan ketika Rendra memasuki kamar.
“Kita perlu tanda tangan surat.”
Dania berhenti.
Delapan tahun.
Setelah delapan tahun hidup bersama, lelaki itu bahkan tidak menanyakan keadaan operasinya.
Rendra meletakkan map di meja.
“Aku sudah menghubungi pengacara. Kita bisa selesaikan cepat kalau kamu tidak mempersulit.”
Dania menatap wajah yang dulu ia cintai.
“Kenapa buru-buru?”
Rendra menghela napas kesal.
“Aku sudah punya orang lain.”
Dania sudah menduganya, tetapi tetap saja kalimat itu menghantam.
“Sejak kapan?”
“Dua tahun.”
Dunia Dania seolah berhenti.
Dua tahun.
Selama dua tahun terakhir ia bolak-balik ke dokter, menjalani pemeriksaan, menyalahkan dirinya karena belum hamil, sementara Rendra hidup dengan perempuan lain.
“Siapa?”
“Tidak penting.”
“Siapa, Rendra?”
Rendra akhirnya menjawab.
“Nadine.”
Dania merasa dadanya semakin sesak.
Nadine adalah sepupu jauhnya sendiri.
Perempuan yang beberapa kali datang ke rumah mereka.
Perempuan yang bahkan pernah memeluk Dania sambil berkata, “Kamu pasti segera diberi momongan.”
Dania tertawa kecil.
Tawa yang sangat dingin.
“Keluar.”
“Dania, tanda tangan dulu.”
“Keluar.”
Rendra meraih pergelangan tangannya.
“Jangan bikin semuanya sulit!”
“Lepaskan.”
Suara lain terdengar dari pintu.
Arka berdiri di sana.
Di belakangnya ada pria berjas yang kemarin Dania lihat.
Rendra menoleh kesal.
“Siapa kamu?”
Arka memandang tangan Rendra yang masih menggenggam Dania.
“Orang yang menyarankanmu melepaskan tangan itu sebelum petugas keamanan datang.”
Entah karena tatapan Arka atau karena dua satpam benar-benar muncul di lorong, Rendra akhirnya mundur.
Namun ketika mengenali wajah Arka, ekspresinya berubah.
“Pak… Arka Dirgantara?”
Arka tidak menjawab.
Rendra menatap Dania, lalu Arka, kemudian kembali kepada Dania.
Wajahnya dipenuhi kecurigaan.
“Jadi ini alasannya?”
Dania mengerutkan dahi.
“Alasan apa?”
“Kamu ternyata sudah punya laki-laki kaya.”
Tamparan Dania mendarat begitu cepat hingga semua orang terdiam.
Rasa nyeri dari luka operasinya membuat tubuhnya gemetar, tetapi ia tetap berdiri.
“Jangan pernah memakai kebusukanmu untuk menuduhku.”
Rendra memegang pipinya.
“Delapan tahun aku mengira tidak punya anak karena tubuhku bermasalah,” lanjut Dania dengan suara bergetar. “Delapan tahun aku merasa gagal sebagai istri. Dan ternyata selama dua tahun terakhir kamu tidur dengan perempuan lain.”
Rendra hendak membalas, tetapi Arka memberi isyarat kepada satpam.
“Antar dia keluar.”
“Ini urusan rumah tangga saya!”
“Benar,” jawab Arka. “Dan rumah sakit bukan tempat untuk meneror pasien yang baru selesai operasi.”
Rendra akhirnya diseret keluar sambil terus memaki.
Dania baru menangis setelah pintu tertutup.
Bukan karena ingin Rendra kembali.
Ia menangisi delapan tahun hidupnya.
Arka tidak menyentuhnya.
Ia hanya berdiri di samping sampai tangis itu selesai.
Sebulan berikutnya, hidup Dania berubah dengan cara yang sama sekali tidak ia bayangkan.
Bukan karena Arka memberinya mobil mewah.
Bukan pula karena ia dipindahkan ke rumah besar.
Justru Arka hampir tidak pernah menawarkan uang.
Ketika biaya rumah sakit Dania ternyata sudah dibayar, ia marah.
“Aku bisa mencicil sendiri.”
“Bukan aku.”
“Lalu siapa?”
“Yayasan rumah sakit.”
Dania menyipitkan mata.
“Yayasan milik siapa?”
Arka diam.
“Arka.”
“Secara teknis perusahaan.”
Dania melempar bantal kepadanya.
Namun di balik semua itu, Arka melakukan sesuatu yang jauh lebih penting.
Ia hadir.
Saat Dania kontrol, Arka terkadang menemaninya.
Ketika Dania kembali mengajar, sebuah mobil memang ditawarkan, tetapi setelah ia menolak, Arka tidak memaksa.
Ia bahkan pernah datang ke sekolah Dania mengendarai mobil biasa dan duduk di kantin sambil makan mi rebus bersama guru-guru lain.
Anak-anak menyukainya.
Terutama ketika seorang murid bertanya, “Om Arka kaya, ya?”
Arka menjawab datar, “Lumayan.”
Dania hampir tersedak teh.
Perlahan, sesuatu tumbuh di antara mereka.
Bukan utang budi.
Bukan rasa kasihan.
Melainkan rasa nyaman yang selama bertahun-tahun tidak pernah Dania rasakan bersama Rendra.
Enam bulan kemudian, perceraian Dania resmi selesai.
Di hari ia keluar dari pengadilan agama, Rendra menunggunya di parkiran.
Penampilannya berbeda.
Kusam.
“Dania.”
Dania berhenti.
“Apa lagi?”
“Nadine pergi.”
Dania tidak bereaksi.
“Dia ternyata cuma mau uangku. Aku juga dikeluarkan dari perusahaan.”
Dania tahu soal itu. Rendra bekerja di salah satu perusahaan pemasok yang kehilangan kontrak besar setelah audit menemukan manipulasi invoice.
Namun Dania juga tahu Arka tidak terlibat.
Justru Arka pernah menegaskan bahwa ia tidak akan menggunakan kekuasaan perusahaan untuk membalas dendam pribadi.
Rendra menatapnya dengan mata merah.
“Aku salah.”
“Ya.”
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Dania tersenyum tipis.
“Yang kamu rindukan bukan aku, Rendra.”
Rendra terdiam.
“Kamu hanya merindukan hidupmu sebelum semua pilihanmu punya konsekuensi.”
Dania berbalik.
Rendra memanggil lagi.
“Dia tidak akan benar-benar menikahimu. Orang seperti Arka Dirgantara tidak menikahi guru SD biasa.”
Dania berhenti beberapa detik.
Kemudian menoleh.
“Mungkin.”
Rendra tampak sedikit puas.
“Tapi ada satu perbedaan antara kamu dan dia.”
“Apa?”
“Dia menghormatiku bahkan ketika belum tahu apa pun tentangku. Kamu berhenti menghormatiku setelah merasa aku tidak lagi berguna.”
Dania meninggalkan Rendra di sana.
Sore itu, Arka menunggunya di sebuah warung kopi kecil di Menteng.
Bukan restoran mahal.
Bukan hotel bintang lima.
Tempat yang sama tempat mereka beberapa kali bertemu diam-diam agar Dania tidak merasa sedang berkencan dengan seorang konglomerat.
Arka melihat map keputusan cerai di tangan Dania.
“Sudah selesai?”
“Sudah.”
Arka mengangguk.
Lalu dengan sangat tenang ia mengeluarkan sesuatu dari saku.
Sebuah cincin.
Dania melotot.
“Kamu serius?”
“Aku sudah pernah bilang.”
“Enam bulan lalu!”
“Aku orang yang cukup konsisten.”
Dania menahan tawa.
“Arka, kita berbeda sekali.”
“Aku tahu.”
“Dunia kita berbeda.”
“Aku tahu.”
“Aku guru SD dengan saldo rekening yang kalau dibandingkan dengan rekeningmu mungkin cuma seperti uang parkir.”
“Aku tidak pernah menanyakan saldo rekeningmu.”
“Aku bahkan tidak tahu bagaimana bersikap di acara perusahaanmu.”
“Kamu bisa berdiri di sebelahku dan bilang makanannya terlalu asin.”
Dania tertawa.
Kemudian ekspresinya berubah serius.
“Aku tidak mau dinikahi karena kamu merasa gagal menyelamatkan istrimu dulu.”
Kalimat itu membuat Arka terdiam lama.
“Aku juga pernah memikirkan itu,” katanya akhirnya.
Dania menatapnya.
“Karena itu aku menunggu enam bulan.”
Arka meletakkan cincin di atas meja, bukan memasangkannya.
“Aku tidak ingin menyelamatkanmu, Dania. Kamu sudah menyelamatkan dirimu sendiri.”
Matanya menatap Dania dengan penuh keyakinan.
“Aku ingin hidup bersamamu.”
Dania tidak langsung menjawab.
Ia mengambil cincin tersebut.
Memutarnya perlahan di antara jari.
Kemudian bertanya, “Kalau aku bilang tidak?”
“Aku tetap akan mengantarmu pulang.”
“Kalau aku bilang kita harus tetap hidup sederhana?”
“Aku akan berusaha. Tapi jangan paksa aku naik bus saat rapat direksi jam tujuh.”
Dania tertawa.
“Kalau aku tetap mengajar?”
“Aku akan mengeluh karena kamu lebih sering membalas pesan orang tua murid daripada pesanku.”
“Quý…” no. Need Indonesian. “Orang tua murid.” good. Need continue.
Dania akhirnya mengulurkan tangan.
“Kalau begitu, Pak Arka Dirgantara, kali ini aku tidak sedang bercanda.”
Mereka menikah tiga bulan kemudian.
Pernikahan itu jauh lebih sederhana daripada yang dibayangkan media.
Tidak ada pesta untuk ribuan tamu.
Dania hanya mengundang keluarga dekat, beberapa sahabat, rekan guru, dan murid-murid yang memberinya kartu ucapan buatan tangan.
Namun kejutan terbesar datang setahun setelah hari pernikahan.
Suatu pagi, Dania keluar dari kamar mandi sambil membawa sebuah alat tes kehamilan.
Tangannya gemetar hebat.
Arka yang sedang membaca laporan keuangan langsung berdiri.
“Ada apa?”
Dania tidak mampu bicara.
Ia hanya menyodorkan benda kecil itu.
Dua garis.
Arka membeku.
Pria yang biasanya tenang saat menghadapi rapat dengan puluhan direksi tiba-tiba harus duduk.
“Ini… benar?”
Dania mengangguk sambil menangis.
Arka menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya Dania melihat lelaki itu menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Delapan bulan kemudian, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Mereka memberinya nama Kirana.
Tetapi beberapa hari setelah kelahiran Kirana, Dania menerima sebuah amplop dari Rumah Sakit Permata.
Di dalamnya ada salinan dokumen lama.
Ternyata sebelum operasinya dua tahun lalu, dokter sempat memperkirakan Dania memiliki peluang sangat kecil mempertahankan rahim karena posisi tumornya.
Namun pagi itu, seorang dokter spesialis bedah reproduksi terbaik yang seharusnya berada di luar negeri mendadak datang dan ikut dalam operasi Dania.
Dania membaca nama dokter itu berulang kali.
Kemudian membaca catatan administrasi di bawahnya.
Permintaan konsultasi khusus atas nama Arka Dirgantara.
Malam itu Dania membawa dokumen tersebut kepada suaminya.
“Kamu yang memanggil dokter ini?”
Arka yang sedang menggendong Kirana berhenti berjalan.
“Ya.”
“Kapan?”
“Pagi sebelum operasimu.”
Dania menatapnya tak percaya.
“Waktu kita bahkan belum saling kenal?”
Arka mengangguk.
“Kenapa tidak pernah bilang?”
Arka memandang bayi kecil di lengannya.
“Karena kalau operasi itu berhasil, yang pantas kamu syukuri adalah dokter dan dirimu sendiri. Bukan aku.”
Dania merasakan matanya panas.
Tiba-tiba ia memahami sesuatu.
Sebelum ia mengajak Arka menikah.
Sebelum ia mengetahui pria itu miliarder.
Bahkan sebelum Arka berjanji apa pun kepadanya.
Pria itu sudah diam-diam melakukan segala yang bisa ia lakukan untuk memberi seorang perempuan asing kesempatan mempertahankan masa depannya.
Dania mendekat lalu menyandarkan kepala pada bahu suaminya.
“Aku pernah berpikir pagi itu adalah hari terburuk dalam hidupku.”
Arka tersenyum.
“Karena Rendra meninggalkanmu?”
Dania menggeleng.
“Karena aku hampir masuk ruang operasi dengan keyakinan bahwa kehilangan seseorang berarti hidupku juga selesai.”
Ia memandang Kirana yang tertidur dalam pelukan ayahnya.
“Ternyata beberapa pintu memang harus ditutup keras-keras supaya kita akhirnya melihat pintu lain yang sejak awal sudah terbuka.”
Arka mencium keningnya.
Dania tersenyum sambil mengingat perempuan ketakutan di ranjang rumah sakit yang dua tahun lalu melemparkan sebuah lelucon kepada pasien asing hanya agar dirinya tidak menangis.
Saat itu ia merasa hidup sedang mengambil semuanya darinya.
Ia tidak tahu bahwa kadang-kadang, sesuatu yang pergi bukanlah kehilangan.
Kadang-kadang itu adalah ruang yang sedang dikosongkan.
Agar sesuatu yang lebih baik memiliki tempat untuk datang.
