Begitu pintu pesawat terbuka dan kami melangkah keluar menuju tangga VIP yang sudah menunggu, Alexander masih terus melontarkan sindiran tajam. “Ingat, Sophia, setelah ini realita akan menghantammu. Kembali ke rumah kontrakan kecilmu dan berhentilah berlagak seolah kau masih bagian dari duniaku.”
Aku hanya tersenyum tipis, menyimpan kemarahanku rapat-rapat. Saat kami menuruni tangga terakhir, udara Jakarta yang panas menyambut kami, namun pemandangan di landasan pacu jauh lebih “panas”.
Sebuah Bentley Flying Spur hitam mengkilap berhenti tepat di depan tangga pesawat. Tiga orang pria berjas hitam dengan kacamata gelap turun dari mobil itu dan membukakan pintu belakang dengan sangat hormat.

Tepat saat itu, tiga sosok anak laki-laki berusia sekitar empat tahun, berpakaian rapi dengan setelan jas mini yang serasi, berlari kecil ke arahku.
“Mommy!” teriak mereka serempak.
Alexander membeku di tempatnya. Ia menatap ketiga anak itu, lalu menatapku dengan mata yang hampir keluar dari rongganya. “Anak… anak siapa mereka?” suaranya bergetar, kehilangan semua arogansi yang ia banggakan tadi.
Aku berlutut, merentangkan tangan, dan memeluk ketiga putraku—Leo, Liam, dan Lucas—yang kini tumbuh dengan ketampanan yang mewarisi fitur wajah kami berdua, namun dengan kecerdasan yang terpancar dari mata mereka.
“Mommy, kami sudah menunggu di kantor sejak tadi! Proyek di Eropa selesai lebih cepat, dan tim menyambut kami dengan meriah!” seru Liam, si sulung yang paling vokal.
Seorang asisten pribadiku, yang memegang tablet, menghampiriku dan membungkuk hormat. “Nyonya Sophia, Direktur Utama dari perusahaan mitra sudah menunggu di dalam Bentley. Mereka ingin segera menandatangani kontrak akuisisi properti yang Anda rencanakan. Apakah kita harus segera berangkat?”
Alexander ternganga. Ia menoleh ke arah Bentley itu, lalu melihat logo perusahaan yang tertempel di bodi mobil—logo perusahaan teknologi raksasa yang belakangan ini mendominasi berita utama di seluruh dunia, perusahaan yang ia tahu merupakan kompetitor berat bagi banyak bisnis properti kelas atas.
“Kau… kau pemilik Alpha Tech Global?” tanya Alexander dengan suara tercekat. Wajahnya yang tadi angkuh kini sepucat kertas.
Aku berdiri perlahan, merapikan sweter kasmirku, dan menatapnya dengan tatapan yang dingin dan tak tersentuh. “Alexander, saat kau membuangku, kau membuang satu-satunya orang yang tahu cara membangun segalanya dari nol. Kau bilang aku tidak berguna tanpamu?”
Aku memberi isyarat kepada anak-anakku untuk masuk ke dalam mobil. Sebelum aku berbalik, aku menatapnya sekali lagi.
“Lihat mereka baik-baik, Alexander. Ini adalah bagian dari diriku yang tidak akan pernah bisa kau miliki. Dan perusahaan yang kau remehkan tadi? Mereka baru saja menyelesaikan proses akuisisi seluruh aset properti yang pernah kau banggakan.”
Aku melangkah masuk ke dalam Bentley. Saat mobil mewah itu melaju pergi, meninggalkan Alexander yang mematung di landasan pacu, aku melihat melalui kaca spion. Ia berdiri di sana, dikelilingi oleh kesepian yang ia ciptakan sendiri, saat tiga putraku yang cerdas dan sukses tertawa riang di sampingku, memulai hidup baru kami yang sesungguhnya.
Dunia Alexander mungkin tidak runtuh dalam satu detik, tapi hari ini, dia tahu bahwa kekuasaannya sudah tamat. Dan aku? Aku baru saja memulai babak baru.
