15 MENIT SEBELUM PERNIKAHAN SAYA, SAYA MELIHAT ORANG TUA SAYA BERSEMBUNYI DI

Darah saya mendidih. Rasa sakit di dada saya berubah menjadi amarah yang dingin dan tajam. Saya menatap koordinator itu, lalu menatap gaun pengantin yang saya kenakan—gaun yang dibeli dengan hasil keringat, air mata, dan pengorbanan orang tua saya, bukan dengan uang Arthur.

Tanpa berkata sepatah kata pun, saya membalikkan tubuh, menyambar mikrofon cadangan yang ada di atas meja rias, dan berjalan keluar dari ruang tunggu menuju altar.

Langkah saya tegas, bergema di lantai marmer gereja. Seluruh tamu menoleh. Musik organ yang tadinya lembut perlahan mereda hingga suasana menjadi sunyi senyap. Doña Beatriz menatap saya dengan senyum angkuh, mengira saya sedang berjalan menuju Arthur.

Saya tidak berhenti di altar. Saya berjalan melewati Arthur yang tampak bingung, lalu terus berjalan hingga ke barisan paling belakang, ke sudut gelap di balik pilar besar itu.

Di sana, Ayah dan Ibu tersentak kaget melihat saya datang. Ayah berusaha berdiri, tapi saya langsung memegang tangannya. “Ayah, Ibu… berdiri,” bisik saya dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di barisan depan.

Saya mengambil dua kursi plastik itu dan menyeretnya ke tengah lorong utama gereja. Suara decitan kursi plastik di lantai marmer terdengar sangat nyaring, memecah keheningan yang mencekam. Saya menempatkan kedua kursi itu tepat di barisan depan, di samping kursi mewah Doña Beatriz.

“Duduklah di sini,” perintah saya dengan lembut namun penuh otoritas. Ayah dan Ibu, yang gemetaran, duduk dengan ragu.

Setelah mereka duduk dengan nyaman, saya berbalik menghadap seluruh tamu, termasuk Doña Beatriz yang wajahnya sudah memerah padam karena marah. Saya mengangkat mikrofon.

“Pernikahan ini dibatalkan,” suara saya bergema, jernih dan tak tergoyahkan.

Seluruh gereja meledak dalam bisikan kaget. Arthur bangkit berdiri. “Maya! Apa yang kamu lakukan?! Kamu gila?!” teriaknya.

Saya menatapnya, lalu menatap orang tua saya yang bangga di kursi plastik mereka. “Arthur, kamu malu dengan orang tua saya? Kamu malu dengan orang yang membiayai pendidikanku agar aku bisa menjadi wanita yang kamu nikahi hari ini? Kamu bilang mereka tidak cocok dengan estetika kalian? Ketahuilah, ‘estetika’ kalian hanyalah cangkang kosong yang menutupi kebusukan hati kalian.”

Saya melepas cincin berlian besar yang melingkar di jari saya dan melemparkannya ke lantai tepat di depan kaki Arthur. “Kalian tidak menghormati orang tua saya, maka kalian tidak pantas mendapatkan saya.”

Saya menggandeng tangan Ibu dan Ayah. “Ayo, Ayah, Ibu. Kita pulang. Kita sudah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada pernikahan mewah ini hari ini: harga diri kita.”

Dengan kepala tegak, saya berjalan meninggalkan gereja. Di belakang saya, keributan pecah, tapi saya tidak menoleh lagi. Saya tidak lagi peduli pada gaun mahal, tamu kaya, atau reputasi. Yang saya tahu, di luar sana, di bawah sinar matahari, saya akhirnya bisa bernapas dengan lega karena saya tidak harus mengorbankan orang tua saya demi pria yang tidak tahu cara menghargai arti sebuah keluarga.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang