Dokter itu tidak tersenyum. Wajahnya datar, memancarkan aura profesionalisme yang dingin dan menuntut perhatian penuh dari Rommel.
“Apakah dia baik-baik saja? Bagaimana dengan putraku?” tanya Rommel dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi dahinya. Dia bahkan tidak bertanya bagaimana kondisi Cindy, hanya fokus pada janin yang ia agungkan sebagai simbol kejayaannya.
Dokter itu menghela napas panjang, lalu membuka map medis di tangannya. “Tuan Rommel, saya harus menyampaikan kenyataan medis yang tidak bisa dihindari. Setelah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan pemindaian ultrasonografi darurat, kami menemukan komplikasi serius pada kehamilan Nona Cindy.”

Rommel mencengkeram kerah kemeja dokter itu dengan panik. “Apa maksudmu? Katakan padaku!”
“Pertama,” dokter itu melanjutkan dengan nada tegas, “berdasarkan hasil pemeriksaan kromosom dan pemindaian anatomi, janin yang dikandung Nona Cindy bukanlah laki-laki. Itu adalah perempuan.”
Rommel terhuyung mundur, wajahnya memucat. “Tidak… itu tidak mungkin. Hasil USG di tempat lain bilang itu laki-laki! Kalian pasti salah!”
“Mesin USG bisa salah jika dilakukan oleh teknisi yang kurang teliti atau jika ada posisi janin yang menutupi bagian vital,” jawab dokter itu dingin. “Tapi itu bukan masalah utamanya. Masalah yang lebih besar adalah kondisi kesehatan Nona Cindy. Dia mengalami kehamilan ektopik tersembunyi yang sudah sangat kritis. Rahimnya tidak mampu mendukung kehamilan ini. Jika kita tidak melakukan tindakan operasi darurat sekarang, nyawa Nona Cindy dalam bahaya besar.”
Dunia Rommel seolah runtuh. Bukan hanya impian tentang “ahli waris laki-laki” yang hancur berkeping-keping, tetapi dia juga harus menghadapi kenyataan bahwa Cindy tidak bisa memberikan apa yang selama ini dia tuntut dengan arogan.
Namun, kejutan sebenarnya datang ketika dokter itu menambahkan satu kalimat lagi yang menghancurkan ego Rommel sepenuhnya.
“Dan ada satu hal lagi, Tuan. Berdasarkan riwayat medis yang kami temukan saat pemeriksaan tadi, Nona Cindy memiliki kondisi reproduksi yang membuatnya hampir mustahil untuk hamil kembali setelah prosedur operasi malam ini. Ini adalah satu-satunya kesempatan yang dia miliki, dan sayangnya, janin tersebut tidak dapat diselamatkan.”
Rommel terduduk lemas di lantai rumah sakit yang dingin. Dia memikirkan Diana. Diana, yang dia anggap “gagal” karena memberikan dua anak perempuan yang cerdas dan sehat, sekarang sedang terbang menuju masa depan yang gemilang. Sementara dia? Dia ditinggalkan di lorong rumah sakit yang sepi, menanggung beban biaya medis yang luar biasa mahal, dengan seorang wanita yang kini tidak bisa memberinya apa yang ia inginkan, dan reputasinya yang hancur di mata keluarga besarnya.
Di saat yang sama, ribuan kilometer di atas samudera, saya menatap ke arah luar jendela pesawat. Lily dan Rosie tertidur dengan tenang di pangkuan saya. Saya tidak perlu tahu apa yang terjadi pada Rommel. Bagi saya, “hukuman” terbesarnya bukanlah apa yang dikatakan dokter, melainkan kenyataan bahwa dia telah membuang permata demi segenggam debu.
Saya tersenyum tipis. Saya tidak lagi memikirkan masa lalunya. Karena mulai detik ini, hidup saya dan anak-anak saya baru saja dimulai. Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, saya merasa benar-benar bernapas.
