Saya menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantung saya yang berpacu. Saya menatap Lia, memberikan senyum yang paling tenang yang bisa saya buat.
“Sayang, masuk ke kamar ya. Mainkan tabletmu atau dengarkan musik, jangan keluar sebelum Mommy panggil, oke?”
Lia menatap pintu dengan cemas, tapi dia mengangguk patuh dan masuk ke kamarnya. Setelah pintu tertutup, saya berjalan ke arah pintu depan. Saya tidak membuka kuncinya, melainkan hanya menempelkan telinga saya ke kayu yang dingin itu.

“Rissa! Jangan pura-pura tidak ada di dalam!” suara Bianca melengking, penuh dengan kepanikan yang diselimuti amarah. “Kamu mempermalukan kami! Mereka mengancam akan menyita paspor kami jika tagihan chalet tidak segera dilunasi!”
Saya perlahan membuka kunci pintu, tetapi tetap mempertahankan rantai pengaman sehingga pintu hanya terbuka celah sempit.
Wajah mereka tampak berantakan. Bianca yang biasanya tampil sempurna terlihat kuyu, maskaranya sedikit luntur. Mama tampak panik, dan Marco berdiri di belakang dengan rahang mengeras.
“Oh,” kataku dingin. “Kalian sudah kembali?”
“Rissa, hentikan ini sekarang!” teriak Papa. “Berikan kartu atau akses perbankanmu agar pembayaran itu bisa diselesaikan. Mereka tidak mau menerima kartu Bianca lagi!”
Saya tertawa kecil, suara yang terdengar asing bahkan di telinga saya sendiri. “Kalian pikir saya bodoh? Saya sudah mencabut semua akses. Uang yang saya ambil dari dana darurat adalah milik saya sendiri, hasil kerja keras saya yang selama ini kalian sedot kering.”
“Itu uang keluarga!” teriak Mama.
“Bukan,” sela saya tegas. “Itu uang saya untuk masa depan Lia. Kalian menganggap saya ‘beban’ saat kalian berangkat, bukan? Jadi saya hanya menyesuaikan diri dengan posisi tersebut. Saya bukan lagi ATM kalian.”
“Rissa, ini darurat!” Marco maju selangkah, mencoba mendesak, tapi saya langsung menutup celah pintu dengan rantai yang terpasang kuat.
“Darurat bagi kalian, bukan bagi saya. Kalian memilih untuk meninggalkan saya dan anak saya di bandara tanpa penjelasan, membiarkan putri saya menangis karena keluarganya sendiri mengabaikannya. Kalian pikir itu ‘drama’? Itu adalah pengkhianatan.”
“Kami akan menuntutmu!” ancam Bianca. “Aku akan memastikan kamu tidak bisa lagi memegang jabatan apa pun di perusahaan!”
Saya tersenyum lebar, senyum yang membuat mereka terdiam.
“Silakan, Bianca. Tapi sebelum kalian melangkah lebih jauh, mungkin kalian harus memeriksa sisa saldo di rekening pribadi kalian sendiri. Kalian lupa satu hal: saya adalah finance supervisor yang mengatur sistem logistik perusahaan kalian selama ini. Saya tahu persis berapa banyak uang yang kalian ‘pinjam’ dari kas perusahaan untuk gaya hidup kalian, dan saya sudah menyimpannya dalam folder cadangan yang siap dikirimkan ke auditor eksternal jika saya merasa terancam.”
Keheningan yang mencekam menyelimuti lorong kondominium. Wajah Marco memucat seketika. Bianca ternganga.
“Tahun Baru ini,” lanjut saya, “kalian tidak merayakannya dengan kemewahan. Kalian merayakannya dengan menyadari bahwa kalian tidak punya apa-apa tanpa saya. Sekarang, pergi dari depan pintu saya, atau saya akan menelepon polisi karena kalian mengganggu ketenangan dan mengancam keamanan saya.”
Bianca mencoba membuka mulutnya untuk memaki, namun Anton menarik lengannya. Mereka tahu saya tidak sedang menggertak. Saya telah memegang kendali sepenuhnya.
Mereka berbalik dengan langkah gontai, meninggalkan lorong yang sunyi.
Saya menutup pintu, menguncinya rapat, dan menyandarkan tubuh di daun pintu. Saya merasa ringan. Saya berjalan ke kamar Lia, membukakan pintu, dan melihat putri saya sedang duduk di tempat tidur dengan buku mewarnainya.
“Mommy?” tanya Lia pelan.
“Semuanya sudah selesai, Sayang,” kata saya, memeluknya erat. “Sekarang, bagaimana kalau kita memesan tiket liburan yang baru? Hanya untuk kita berdua. Ke tempat yang benar-benar kita inginkan.”
Lia tersenyum lebar, senyum tulus yang sudah lama tidak kulihat. Malam itu, di apartemen yang tenang, saya menyadari satu hal: saya tidak kehilangan keluarga. Saya baru saja menyingkirkan orang-orang yang selama ini menghalangi saya untuk benar-benar bahagia bersama putri saya.
Tahun baru ini adalah awal yang baru. Dan kali ini, tidak ada lagi beban di pundak saya.
