Gembok itu menyerah setelah hantaman ketiga. Dengan napas terengah-engah dan tangan yang gemetar karena sisa kelemahan pasca-sakit, saya menarik laci itu hingga terbuka. Di dalamnya, tidak hanya ada dokumen properti saya yang asli, tetapi sebuah folder biru tua yang disembunyikan di balik tumpukan desain arsitektur saya.
Saya menarik keluar isi folder tersebut. Mata saya membelalak. Itu bukan sekadar surat jual beli palsu; itu adalah laporan medis pribadi saya, catatan transfer bank dalam jumlah besar dari rekening bersama kami ke rekening pribadi Doña Carmela, dan sebuah surat perjanjian rahasia antara Martin dan dokter pribadi saya—dokter yang merawat saya selama dua bulan terakhir.

“Apa ini, Ma?” suara saya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Saya melemparkan dokumen itu ke depan wajahnya. “Racun itu… penyakit misterius itu… kalian yang merencanakan semuanya?”
Wajah Doña Carmela yang tadinya sombong seketika memucat. Dia mencoba meraih dokumen itu, tetapi saya lebih cepat.
Tepat saat itu, pintu ruang kerja terbuka lebar. Mr. Torres dan dua orang petugas keamanan muncul, diikuti oleh Martin yang baru saja tiba di penthouse dengan wajah panik.
“Valerie? Sayang, apa yang terjadi?” Martin mencoba mendekat dengan wajah pura-pura khawatir yang sangat saya kenali sekarang. Namun, melihat laci yang hancur dan dokumen di tangan saya, langkahnya terhenti.
“Jangan mendekat, Martin,” bentak saya. Suara saya dingin, tajam seperti silet. “Mr. Torres, saya harap Anda merekam semua ini. Saya memiliki bukti bahwa suami saya dan ibunya telah melakukan percobaan pembunuhan terhadap saya dengan meracuni makanan saya selama berbulan-bulan, serta melakukan pemalsuan dokumen properti untuk mencuri aset saya selagi saya tidak berdaya di rumah sakit.”
Martin tampak kehilangan kata-kata. Doña Carmela mencoba memotong, “Jangan dengarkan dia! Dia gila! Dia baru saja keluar dari rumah sakit jiwa!”
“Sakit jiwa atau tidak, Mr. Torres,” saya memotong dengan tenang, “Tolong panggil polisi. Saya punya rekaman transaksi bank yang membuktikan bahwa uang saya digunakan untuk membiayai gaya hidup mewah mereka sementara saya dibiarkan membusuk di tempat tidur rumah sakit.”
Saya menatap Martin tepat di matanya. “Kamu menjual rumah ini, Martin? Kamu menjual istri yang kamu janjikan untuk dicintai dalam sakit dan sehat, demi uang? Kamu pikir kamu bisa memalsukan tanda tangan saya? Kamu lupa bahwa sebagai arsitek, saya selalu menanamkan sistem keamanan biometrik di unit saya sendiri.”
Saya mengeluarkan ponsel saya dan menunjukkan layar pada Mr. Torres. “Sistem keamanan ini merekam setiap upaya akses ilegal ke laci dan brankas unit ini. Rekaman wajah Martin dan ibunya yang mencoba membobol brankas saya bulan lalu ada di sini. Beserta bukti bahwa mereka mengubah kode akses keamanan saya tanpa izin.”
Wajah Martin seketika berubah pucat pasi, peluh dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Keangkuhan mereka runtuh dalam hitungan detik. Doña Carmela, yang tadinya berteriak, kini gemetar ketakutan di sudut ruangan.
“Bawa mereka keluar dari sini,” perintah saya kepada petugas keamanan. “Dan kunci unit ini. Saya tidak ingin melihat wajah mereka lagi sampai pihak kepolisian datang.”
Saat petugas keamanan menyeret Martin dan ibunya keluar, Martin sempat menoleh ke belakang, matanya penuh dengan keputusasaan dan kemarahan. Namun, bagi saya, dia hanyalah orang asing. Saya berdiri di tengah penthouse saya, dikelilingi oleh harta benda yang hampir dirampas, namun saya merasa lebih kuat dari sebelumnya.
Penyakit itu mungkin melemahkan tubuh saya, tetapi pengkhianatan ini telah membangkitkan singa di dalam diri saya. Pertempuran baru saja dimulai, dan saya tidak akan membiarkan satu orang pun yang mencoba menyakiti saya lolos begitu saja. Sekarang, saatnya saya yang memegang kendali.
