IBU DAN BAYINYA DIUSIR DARI BUS DI TENGAH HUJAN DERAS KARENA TANGISAN SANG BAYI—NAMUN TAK ADA YANG MENYANGKA BAHWA TANGISAN ITU AKAN MENJADI ALASAN MEREKA SELAMAT DARI KEMATIAN!

Hujan malam itu turun seperti langit sedang menumpahkan seluruh isinya.

Bus antarkota yang membawa Rosa dan bayinya melaju perlahan melewati jalan pegunungan Jawa Barat. Lampu depan hanya mampu menembus beberapa meter ke depan. Selebihnya hanyalah kabut, pepohonan gelap, dan tirai hujan yang seakan tidak memiliki ujung.

Rosa memeluk Mateo, putranya yang baru berusia tujuh bulan.

Sejak bus memasuki kawasan pegunungan, Mateo tidak berhenti menangis.

Awalnya Rosa mengira anaknya lapar. Ia menyusuinya, tetapi Mateo hanya minum sebentar sebelum kembali menangis. Rosa kemudian menggendongnya sambil berdiri, mengusap punggungnya, bahkan menyanyikan lagu yang biasanya membuat bayi itu tertidur.

Tidak berhasil.

Tangisan Mateo justru semakin keras.

“Sayang, kenapa?” bisik Rosa.

Bayi itu menggeliat dalam pelukannya. Anehnya, setiap kali bus berbelok dan bergerak semakin jauh memasuki pegunungan, Mateo menoleh ke arah depan seolah ada sesuatu di sana yang membuatnya ketakutan.

Penumpang mulai kehilangan kesabaran.

Seorang pria di belakang Rosa akhirnya membentak.

“Bu, tolong diamkan anaknya. Dari tadi kami tidak bisa tidur.”

“Maaf, Pak. Saya sudah mencoba.”

“Kalau punya bayi jangan naik bus malam,” sahut seorang perempuan dari seberang lorong.

Ucapan itu membuat dada Rosa sesak.

Ia sebenarnya tidak ingin melakukan perjalanan malam. Namun ibunya di Bandung mendadak dirawat di rumah sakit karena serangan jantung ringan. Rosa yang tinggal di kota lain tidak mempunyai cukup uang untuk membeli tiket kereta pada hari itu. Bus malam menjadi satu-satunya pilihan yang masih bisa ia jangkau.

Ia menunduk sambil terus mengusap kepala Mateo.

“Maafkan Mama.”

Kondektur datang setelah menerima semakin banyak keluhan.

“Bu, bisa dibawa ke belakang dulu?”

“Saya sudah mencoba, Pak.”

Mateo tiba-tiba menjerit lebih keras.

Sopir menoleh melalui kaca spion.

“Pak, saya susah konsentrasi!”

Beberapa penumpang langsung menyahut.

“Turunkan saja!”

“Daripada satu bus kecelakaan!”

Rosa menatap mereka tidak percaya.

Namun bus benar-benar berhenti.

Ketika pintu terbuka, angin dingin bercampur hujan menerjang masuk.

Kondektur berdiri di samping Rosa.

“Bu, turun dulu. Tunggu bus berikutnya.”

Rosa memandang keluar. Tidak ada halte. Tidak ada warung. Tidak ada rumah. Hanya jalan sempit, tebing, dan pepohonan.

“Pak, saya membawa bayi.”

“Bus berikutnya mungkin lewat.”

“Mungkin?”

Kondektur terdiam.

Rosa memandang satu per satu wajah para penumpang.

“Tolong. Anak saya baru tujuh bulan.”

Tidak ada yang bergerak.

Beberapa menghindari tatapannya.

Seorang perempuan malah berkata, “Kami juga punya hak untuk istirahat.”

Dengan tangan gemetar, Rosa mengambil tasnya.

Begitu kakinya menyentuh aspal, air langsung membasahi sepatu dan celananya. Ia membuka jaket, membungkus tubuh Mateo, lalu berlari menuju sebuah pohon besar di sisi jalan.

Pintu bus menutup.

Rosa sempat melihat wajah-wajah di balik jendela.

Kemudian kendaraan itu pergi.

Lampu merah di belakangnya semakin kecil sebelum menghilang di tikungan.

Rosa berdiri membeku.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia menangis.

“Kita cuma punya Mama sekarang, Nak.”

Anehnya, Mateo mendadak diam.

Rosa menatapnya.

Bayi itu terengah-engah setelah menangis begitu lama.

“Kamu sudah tenang?”

Belum selesai Rosa berbicara, Mateo kembali menangis.

Namun kali ini berbeda.

Ia memutar tubuh kecilnya dan terus menatap ke arah bus tadi pergi.

Rosa mencoba membalikkan badannya.

Mateo justru menjerit.

Lalu terdengar suara rendah dari kejauhan.

Gemuruh.

Rosa berhenti bergerak.

Tanah di bawah sepatunya terasa bergetar.

Gemuruh itu semakin keras.

Bukan petir.

Suara itu berasal dari perut gunung.

Rosa melihat ke arah tikungan.

Tiba-tiba terdengar dentuman dahsyat.

Pepohonan bergoyang.

Burung-burung beterbangan dari hutan.

Beberapa detik kemudian suara rem panjang terdengar dari kejauhan, disusul klakson yang meraung tanpa henti.

Rosa memucat.

“Ya Tuhan…”

Longsor.

Tebing di depan runtuh.

Tanah, batu, dan pepohonan menghantam jalan tepat di jalur yang baru saja dilalui bus.

Tanpa berpikir panjang, Rosa berlari.

Ia tidak tahu seberapa jauh bus itu pergi. Ia hanya mengikuti suara klakson yang kini terputus-putus.

Setelah sekitar sepuluh menit berlari di tengah hujan sambil menggendong Mateo, Rosa akhirnya melihat sesuatu.

Bus itu berhenti miring beberapa meter sebelum timbunan longsor besar.

Bagian depannya menghantam pembatas jalan.

Beberapa penumpang sudah keluar sambil berteriak panik.

Sopir terduduk di aspal.

Rosa mendekat.

Kondektur yang tadi mengusirnya langsung membeku ketika melihatnya.

“Ibu?”

Rosa tidak menjawab.

Matanya tertuju pada jalan.

Jika bus tadi terus melaju dengan kecepatan normal, kendaraan itu pasti berada tepat di bawah longsoran ketika tebing runtuh.

Namun bus kehilangan beberapa menit karena berhenti untuk menurunkan Rosa.

Beberapa menit itulah yang menyelamatkan mereka.

Pria yang sebelumnya membentaknya menatap Rosa dengan wajah pucat.

Seorang perempuan tua mulai menangis.

“Kalau kita tidak berhenti tadi…”

Tidak ada yang berani menyelesaikan kalimat itu.

Kondektur mendekati Rosa.

“Bu…”

Rosa mundur satu langkah.

“Saya benar-benar minta maaf.”

Rosa memandang Mateo yang mulai tenang.

“Saya tidak menyelamatkan kalian,” katanya pelan. “Kalian sendiri yang memilih berhenti.”

Kalimat itu membuat kondektur menunduk.

Tetapi masalah belum selesai.

Dari arah belakang terdengar gemuruh lain.

Sopir langsung berdiri.

“Menjauh dari bus! Sekarang!”

Air bercampur lumpur mulai mengalir deras dari lereng.

Semua orang panik.

Rosa melihat sebuah bangunan kecil di atas tanah yang sedikit lebih tinggi, sekitar seratus meter dari jalan.

“Ke sana!” teriaknya.

Para penumpang berlari.

Seorang kakek terjatuh. Pria yang sebelumnya memarahi Rosa kembali untuk mengangkatnya. Perempuan tua membantu membawa tas Rosa sementara Rosa melindungi Mateo.

Mereka akhirnya mencapai bangunan itu beberapa saat sebelum aliran lumpur melintasi jalan.

Bangunan tersebut ternyata sebuah pos pemantauan lama.

Mereka berdesakan di dalam.

Tidak ada listrik.

Sinyal telepon hampir tidak tersedia.

Malam itu, orang-orang yang beberapa menit sebelumnya saling tidak peduli terpaksa duduk berdampingan.

Pria yang membentak Rosa memperkenalkan dirinya sebagai Dimas.

Ia membuka tas dan memberikan handuk kecil.

“Untuk bayinya.”

Rosa menerimanya.

“Terima kasih.”

Dimas terdiam cukup lama.

“Saya punya anak perempuan umur tiga tahun.”

Rosa menatapnya.

“Saya tadi marah karena capek. Tapi kalau istri saya diperlakukan seperti yang kami lakukan kepada Ibu…”

Suaranya terhenti.

“Saya malu.”

Rosa tidak langsung menjawab.

Ia hanya mengeringkan kepala Mateo.

Menjelang pukul dua dini hari, Mateo mulai demam.

Tubuhnya panas.

Rosa panik.

“Mateo?”

Bayi itu lemas.

Seorang penumpang bernama Nita ternyata seorang perawat.

Ia segera memeriksa Mateo menggunakan perlengkapan sederhana dari tasnya.

“Dia kedinginan terlalu lama. Kita harus menghangatkan tubuhnya.”

Para penumpang bergerak tanpa diminta.

Seseorang memberikan selimut.

Yang lain melepas jaket.

Dimas mencari kayu kering di bagian belakang pos dan membuat api kecil menggunakan kertas dari tasnya.

Kondektur memberikan termos berisi air hangat.

Orang-orang yang sebelumnya ingin menyingkirkan Mateo kini mengelilinginya dengan wajah cemas.

Rosa memperhatikan semuanya dalam diam.

Sekitar satu jam kemudian suhu tubuh Mateo perlahan turun.

Rosa mencium keningnya.

“Terima kasih.”

Nita tersenyum.

“Dia anak yang kuat.”

Menjelang subuh, hujan mulai melemah.

Tim penyelamat akhirnya datang setelah menerima laporan mengenai longsor.

Para penumpang dievakuasi satu per satu.

Ketika petugas melihat posisi bus, salah satu dari mereka menggeleng.

“Beruntung sekali bus kalian berhenti sebelum tikungan.”

Sopir menjawab pelan, “Kami berhenti karena menurunkan seorang ibu dan bayinya.”

Petugas itu menatapnya.

“Berapa lama?”

“Mungkin lima menit.”

Petugas melihat jam tangannya lalu memandang longsoran.

“Perkiraan longsor utama terjadi sekitar lima menit setelah kalian berhenti.”

Semua orang terdiam.

Dimas menatap Mateo.

Bayi itu sedang tidur dalam pelukan Rosa.

Kondektur menutup wajahnya.

Namun kejutan terbesar datang ketika seorang petugas lain selesai memeriksa bagian depan bus.

Ia memanggil sopir.

“Pak, sini sebentar.”

Sopir mendekat.

Petugas menunjuk bagian bawah kendaraan.

“Selang rem depan kanan Anda bocor.”

Wajah sopir berubah.

“Mustahil.”

“Kemungkinan terkena batu atau sudah retak sebelumnya. Tekanannya tinggal sedikit.”

“Lalu?”

Petugas menatap jalan menurun setelah lokasi longsor.

“Kalau bus tadi berhasil melewati titik ini dan terus turun, rem Anda kemungkinan besar gagal total.”

Semua orang saling berpandangan.

Di balik longsoran terdapat turunan panjang dengan jurang di salah satu sisinya.

Bahkan jika tidak ada longsor, mereka tetap berada dalam bahaya.

Tangisan Mateo telah membuat bus berhenti.

Penghentian itu membuat sopir mengurangi kecepatan.

Longsor kemudian memaksa kendaraan berhenti sepenuhnya sebelum memasuki turunan.

Sebuah rangkaian kejadian yang awalnya dianggap sebagai gangguan ternyata menjadi alasan puluhan orang masih hidup.

Beberapa jam kemudian mereka dibawa ke tempat aman.

Sebelum berpisah, kondektur mendatangi Rosa.

Ia menyerahkan uang tiket.

Rosa menggeleng.

“Simpan saja.”

“Bu, tolong.”

Rosa akhirnya menerima uang itu.

Kondektur menatap Mateo.

“Saya tidak akan melupakan malam ini.”

Rosa tersenyum tipis.

“Jangan ingat karena anak saya menyelamatkan kalian.”

Kondektur terlihat bingung.

“Ingatlah karena malam ini kita belajar sesuatu.”

“Apa?”

Rosa memandang para penumpang.

“Bahwa orang yang kita anggap sebagai beban bisa jadi sedang menghadapi perjuangan yang tidak kita mengerti.”

Tidak seorang pun berbicara.

Rosa kemudian menaiki kendaraan evakuasi.

Dua hari kemudian, ia akhirnya tiba di rumah sakit tempat ibunya dirawat. Kondisi sang ibu sudah stabil.

Rosa tidak pernah menceritakan kejadian itu kepada media.

Namun salah seorang penumpang menuliskannya di media sosial.

Cerita itu menyebar.

Banyak orang menyebut Mateo bayi pembawa keberuntungan.

Ada yang mengatakan bayi memiliki firasat terhadap bencana.

Ada pula yang menganggap semuanya sekadar kebetulan.

Rosa tidak pernah memperdebatkannya.

Baginya, kebenaran paling penting bukanlah apakah Mateo mengetahui longsor akan terjadi.

Beberapa bulan kemudian, sebuah paket tiba di rumahnya.

Tidak ada nama pengirim.

Di dalamnya terdapat jaket bayi, sebuah mainan kecil berbentuk bus, dan sebuah amplop.

Rosa membuka surat di dalamnya.

Tulisan itu berasal dari Dimas.

Ia bercerita bahwa sejak malam tersebut, ia berhenti menjadi orang yang mudah marah kepada orang asing. Beberapa minggu sebelumnya, ia melihat seorang ibu dengan anak autisme mengalami tantrum di sebuah pusat perbelanjaan. Orang-orang mulai mengeluh.

Dimas memilih mendekati ibu itu dan bertanya apakah ia membutuhkan bantuan.

Di bagian terakhir surat tertulis bahwa malam di pegunungan tersebut tidak hanya menyelamatkan hidupnya, tetapi juga mengubah cara ia melihat manusia.

Rosa membaca surat itu dua kali.

Kemudian ia menatap Mateo yang sedang merangkak di lantai.

Anak itu mengambil mainan bus dari dalam paket dan tertawa.

Suara tawanya memenuhi rumah.

Rosa tersenyum sambil menghapus air mata.

Malam itu, puluhan orang mengira tangisan seorang bayi adalah gangguan yang harus disingkirkan.

Mereka baru memahami kemudian bahwa hidup terkadang mengirimkan pertolongan dalam bentuk yang tidak menyenangkan, melalui keterlambatan yang membuat marah, rencana yang gagal, atau seseorang yang kita anggap merepotkan.

Dan terkadang, beberapa menit yang paling kita sesali justru merupakan beberapa menit yang membuat kita tetap hidup.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang