SUAMIKU MEMAKSA JENAZAH ISTRINYA SEGERA DIKUBUR TANPA AUTOPSI, TAPI SAAT AKU MEMBUKA KAIN KAFAN, PERUTNYA BERGERAK DAN PONSELNYA TIBA-TIBA BERBUNYI.

Kalimat dari rekaman itu membuat seluruh ruangan terasa membeku.

“Kalau kamu tetap menolak menandatangani surat itu, kami akan memastikan Raka tidak pernah tahu siapa ayah sebenarnya dari bayi ini.”

Aku menatap layar laptop tanpa berkedip.

Di rekaman, Nadine berdiri di dekat meja kerjanya. Wajahnya tegang, tetapi suaranya masih terdengar jelas.

“Jangan bawa Raka ke dalam masalah ini, Dok.”

Dokter yang semalam menyatakan istriku meninggal adalah dr. Adrian Wibowo, dokter keluarga Nadine selama bertahun-tahun.

Ia menutup pintu.

“Kamu hanya perlu tanda tangan. Setelah itu semuanya selesai.”

“Tidak.”

“Nadine, jangan keras kepala.”

“Bukan cuma butik ini yang kalian inginkan, kan?”

Adrian terdiam.

Nadine mundur satu langkah.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Rekaman tiba-tiba berhenti.

Layar menjadi hitam.

Pak Fajar mencoba memutar bagian berikutnya, tetapi file setelah pukul 20.51 rusak.

Aku merasa tenggorokanku kering.

“Apa maksudnya siapa ayah sebenarnya dari bayi ini?”

Pak Fajar menatapku, tetapi tidak langsung menjawab.

Aku tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Dan pikiran yang sama mulai menghancurkan kepalaku.

Tujuh bulan terakhir, aku percaya anak yang dikandung Nadine adalah anak kami.

Apakah selama ini dia menyembunyikan sesuatu?

Pintu ruang tindakan terbuka.

Seorang dokter keluar dengan wajah serius.

“Pak Raka?”

Aku langsung berdiri.

“Istri saya bagaimana?”

“Kami menemukan aktivitas jantung yang sangat lemah.”

Aku seperti lupa bernapas.

“Maksud Dokter?”

“Nyonya Nadine belum meninggal.”

Dunia seakan berhenti.

Dokter menjelaskan bahwa kondisi Nadine menyerupai kematian karena detak jantung dan pernapasannya turun ke tingkat yang sangat sulit terdeteksi. Suhu tubuhnya juga menurun drastis.

“Tapi rumah sakit sebelumnya menyatakan dia meninggal.”

“Itulah yang sedang kami pertanyakan.”

Aku menatap Pak Fajar.

Ia langsung memahami maksudku.

Jika Adrian sengaja membuat kondisi Nadine tampak seperti kematian, maka pemakaman cepat bukan kebetulan.

Mereka ingin menguburnya hidup-hidup.

“Bayinya?”

“Kami masih mempertahankan denyut janin. Kondisinya kritis, tapi untuk sekarang operasi sesar justru memiliki risiko sangat tinggi bagi keduanya. Kami harus menstabilkan ibunya terlebih dahulu.”

Aku duduk.

Tanganku gemetar.

Beberapa jam lalu aku hampir membiarkan peti itu ditutup.

Kalau perut Nadine tidak bergerak, mungkin sekarang tanah sudah menimbun tubuhnya.

Pak Fajar menerima telepon.

Ekspresinya berubah.

“Dokter Adrian menghilang.”

Aku mengangkat kepala.

“Bagaimana dengan Dimas?”

“Dia juga tidak ada di rumah duka.”

Saat itulah aku sadar.

Mereka sedang melarikan diri.

Polisi bergerak cepat. Rekaman CCTV diamankan dan sampel darah Nadine dikirim untuk pemeriksaan toksikologi.

Sementara itu aku mencoba membuka isi ponselnya.

Sebagian besar percakapan biasa.

Pesanan butik.

Pesan pelanggan.

Percakapan dengan pegawai.

Sampai aku menemukan satu folder tersembunyi bernama Untuk Raka.

Folder itu dilindungi kata sandi.

Aku mencoba tanggal pernikahan kami.

Salah.

Tanggal lahirku.

Salah.

Kemudian aku memasukkan tanggal ketika kami pertama kali bertemu.

Folder terbuka.

Ada tujuh rekaman suara.

Tanganku gemetar ketika memutar yang pertama.

Suara Nadine terdengar.

“Raka, kalau kamu mendengar ini, mungkin aku gagal mengatakan semuanya langsung kepadamu.”

Aku menutup mulut.

“Maaf karena selama beberapa minggu terakhir aku menjauh. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Justru karena aku takut sesuatu terjadi kepadamu.”

Rekaman berikutnya dibuat empat hari lalu.

“Aku menemukan bukti bahwa Dimas sudah mengambil uang perusahaan keluarga selama bertahun-tahun. Setelah Papa meninggal, dia memalsukan beberapa dokumen kepemilikan. Butikku adalah aset terakhir yang tidak bisa dia kuasai.”

Aku mengepalkan tangan.

Lalu rekaman ketiga.

“Ada satu hal yang lebih buruk. Dokter Adrian membantunya.”

Nadine terdengar menangis.

“Adrian punya akses ke catatan kesehatan keluarga kami. Dia memalsukan beberapa dokumen untuk menutupi transaksi Dimas. Ketika aku mengetahui itu, mereka mulai mengancamku.”

Rekaman keempat membuat dadaku sesak.

“Mereka tahu kamu sangat mencintai bayi ini. Jadi mereka memakai bayi kita untuk menghancurkan pikiranku.”

Bayi kita.

Aku mengulang dua kata itu dalam hati.

Rekaman berikutnya menjelaskan semuanya.

“Mereka mengatakan hasil tes menunjukkan bayi ini bukan anakmu. Tapi aku tidak percaya. Aku melakukan pemeriksaan DNA prenatal secara diam-diam di laboratorium lain.”

Nadine berhenti sebentar.

“Raka, bayi ini anakmu.”

Air mataku jatuh.

Ancaman dalam CCTV ternyata bukan pengakuan perselingkuhan.

Itu manipulasi.

Dimas dan Adrian mencoba membuat Nadine percaya bahwa mereka bisa memalsukan bukti tentang ayah kandung bayinya.

Rekaman terakhir dibuat kemarin sore.

“Aku akan menemui Adrian malam ini. Aku sudah menyembunyikan kartu memori CCTV di tempat yang tidak akan mereka cari. Kalau sesuatu terjadi kepadaku, cari Bu Ratih.”

Aku langsung menghentikan rekaman.

“Pak Fajar.”

Ia menoleh.

“Siapa Bu Ratih?”

Polisi mencari nama itu dari kontak Nadine.

Ratih Kusuma.

Akuntan lama perusahaan keluarga Nadine.

Alamatnya berada di Sidoarjo.

Dua petugas langsung berangkat.

Sementara itu kondisi Nadine perlahan membaik. Detak jantungnya mulai terdeteksi lebih stabil, tetapi ia belum sadar.

Menjelang tengah malam, hasil laboratorium keluar.

Dokter memanggilku dan Pak Fajar.

“Kami menemukan senyawa sedatif dalam kadar tinggi serta obat yang dapat menekan aktivitas jantung.”

“Bisa membuat orang terlihat meninggal?”

“Dalam kombinasi tertentu dan tanpa pemeriksaan yang memadai, kondisinya bisa disalahartikan. Tapi saya tidak mau menyimpulkan sebelum pemeriksaan lengkap.”

Pak Fajar mencatat semuanya.

Bagiku satu hal sudah cukup jelas.

Seseorang menyuntik Nadine.

Dan orang yang menyatakan kematiannya adalah orang yang berada bersamanya beberapa menit sebelum ia ditemukan.

Pukul dua pagi, polisi membawa Bu Ratih ke rumah sakit.

Wanita berusia sekitar lima puluh tahun itu tampak ketakutan.

Begitu melihatku, ia menangis.

“Maaf, Pak Raka.”

“Kenapa?”

“Saya seharusnya bicara lebih cepat.”

Ratih membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah flashdisk.

Di dalamnya terdapat laporan keuangan perusahaan keluarga Nadine selama enam tahun.

Transfer palsu.

Perusahaan fiktif.

Tagihan yang dimanipulasi.

Nilainya lebih dari dua belas miliar rupiah.

Semua mengarah kepada Dimas.

“Tapi kenapa butik Nadine?”

Ratih menjawab pelan.

“Karena tanah tempat butik itu berdiri akan dibeli pengembang.”

Aku terdiam.

“Nilainya bukan empat koma enam miliar lagi.”

“Berapa?”

“Hampir dua puluh tiga miliar.”

Sekarang aku memahami semuanya.

Dimas terlilit utang akibat investasi yang gagal. Ia membutuhkan aset Nadine.

Tetapi selama Nadine hidup, butik itu tidak bisa berpindah tangan tanpa persetujuannya.

Maka mereka membuat dokumen palsu.

Ketika Nadine menolak, mereka memilih cara yang lebih kejam.

Membuatnya tampak meninggal.

Menguburnya secepat mungkin.

Pagi berikutnya polisi menemukan mobil Adrian di sebuah hotel dekat Bandara Juanda.

Ia ditangkap saat hendak pergi.

Dimas belum ditemukan.

Namun sekitar pukul sembilan pagi, ponselku berbunyi.

Nomor tidak dikenal.

Aku menjawab.

“Raka.”

Suara Dimas.

Aku langsung memberi isyarat kepada Pak Fajar.

Polisi mulai melacak panggilan.

“Kamu sudah puas?” tanyanya.

“Apa yang kamu lakukan kepada adikmu?”

“Aku tidak pernah berniat membunuh Nadine.”

“Kamu hampir menguburnya hidup-hidup.”

Dimas diam.

“Itu kesalahan Adrian.”

Aku hampir tidak percaya.

“Sekarang kamu menyalahkan dia?”

“Aku cuma butuh tanda tangannya.”

“Untuk dua puluh tiga miliar?”

Keheningan panjang.

Lalu Dimas tertawa kecil.

“Jadi Ratih sudah bicara.”

“Menyerahlah.”

“Aku tidak bisa.”

“Dia adikmu, Mas.”

Suaraku pecah.

“Kalian tumbuh bersama. Dia percaya kepadamu.”

Untuk pertama kalinya suara Dimas terdengar goyah.

“Kamu tidak mengerti. Setelah Papa meninggal, semua utangnya jatuh kepadaku. Semua orang melihat Nadine sebagai anak baik, sementara aku yang harus membereskan semuanya.”

“Jadi itu alasanmu?”

“Aku cuma ingin keluar dari masalah.”

“Dengan mengorbankan adikmu dan anaknya?”

Dimas tidak menjawab.

Polisi memberi isyarat.

Lokasinya ditemukan.

Sebuah apartemen di Surabaya Barat.

Sebelum sambungan terputus, aku berkata satu kalimat.

“Nadine masih hidup.”

Dimas langsung terdiam.

“Apa?”

“Nadine hidup.”

Telepon terputus.

Polisi menangkapnya kurang dari empat puluh menit kemudian.

Namun aku tidak merasa menang.

Aku kembali ke ICU.

Aku hanya ingin istriku membuka mata.

Dua hari berlalu.

Kemudian tiga.

Pada hari keempat, dokter memanggilku.

“Pak Raka, sebaiknya masuk.”

Aku berlari.

Nadine terbaring dengan selang dan monitor di sekelilingnya.

Matanya terbuka sedikit.

Aku mendekat.

“Nadine?”

Bibirnya bergerak.

Aku menggenggam tangannya.

“Aku di sini.”

Air mata mengalir dari sudut matanya.

Tangannya perlahan menyentuh perut.

“Bayi…”

“Masih hidup.”

Ia menangis.

Aku menempelkan dahiku ke tangannya.

“Anak kita masih hidup.”

Nadine memejamkan mata, seperti baru berani bernapas setelah mendengar kalimat itu.

Beberapa minggu kemudian kondisinya cukup stabil. Dokter berhasil mempertahankan kehamilan hingga mendekati minggu ketiga puluh empat sebelum akhirnya melakukan operasi sesar karena kondisi janin menurun.

Aku berdiri di luar ruang operasi dengan jantung berdebar.

Kemudian terdengar suara tangisan.

Kecil.

Serak.

Tapi nyata.

Seorang perawat keluar sambil tersenyum.

“Anak perempuan, Pak.”

Aku menangis tanpa malu.

Kami memberinya nama Aruna.

Cahaya pagi.

Karena ia datang setelah malam paling gelap dalam hidup kami.

Dimas dan Adrian akhirnya diproses atas dugaan pemalsuan dokumen, penggelapan, pemberian obat tanpa indikasi medis, serta tindakan lain yang berkaitan dengan upaya menyingkirkan Nadine. Penyidikan juga menemukan bahwa Adrian sengaja membuat catatan medis yang menyesatkan agar kematian Nadine tidak dipertanyakan.

Tetapi kejutan terakhir datang beberapa bulan kemudian.

Ketika butik Nadine dibuka kembali, Bu Ratih menyerahkan sebuah amplop yang sebelumnya dititipkan Nadine.

Di dalamnya ada dokumen kepemilikan.

Ternyata seminggu sebelum kejadian, Nadine sudah memindahkan hak atas tanah butik itu.

Bukan kepadaku.

Bukan kepada dirinya sendiri.

Dan tentu saja bukan kepada Dimas.

Tanah senilai puluhan miliar itu telah dimasukkan ke sebuah yayasan yang Nadine dirikan diam-diam untuk membantu perempuan korban kekerasan dan ibu yang membutuhkan bantuan hukum.

Aku menatapnya.

“Kamu sudah merencanakan ini?”

Nadine tersenyum sambil menggendong Aruna.

“Aku tahu Dimas mengejar tanah itu. Aku cuma tidak menyangka dia akan sejauh itu.”

“Kalau dia tahu sejak awal tanahnya sudah bukan milikmu…”

“Mungkin semua ini tidak terjadi.”

Aku duduk di sampingnya.

“Kenapa tidak bilang kepadaku?”

Nadine menatap Aruna cukup lama.

“Karena aku pikir melindungimu berarti menyimpan semuanya sendiri.”

Ia kemudian menatapku.

“Ternyata aku salah.”

Aku menggenggam tangannya.

Hari itu aku akhirnya memahami sesuatu.

Rahasia tidak selalu lahir dari kebohongan. Kadang rahasia lahir dari cinta yang terlalu takut kehilangan.

Tetapi cinta yang sehat tidak meminta seseorang menghadapi ketakutan sendirian.

Beberapa bulan setelah Aruna pulang dari rumah sakit, kami kembali melewati rumah duka tempat semuanya hampir berakhir.

Nadine terdiam di kursi penumpang.

Aku menggenggam tangannya.

“Takut?”

Ia menggeleng.

Kemudian melihat bayi kecil yang tertidur di kursi belakang.

“Tidak.”

“Kenapa?”

Nadine tersenyum tipis.

“Karena hari itu mereka pikir sedang mengubur hidupku.”

Ia menoleh kepadaku.

“Padahal hari itu justru hidup kita dimulai lagi.”

Lampu lalu lintas berubah hijau.

Aku menjalankan mobil.

Di belakang kami, rumah duka perlahan menghilang dari kaca spion.

Dan untuk pertama kalinya sejak malam mengerikan itu, Nadine tidak menoleh ke belakang.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang