Mira berhenti beberapa langkah dari pintu.
Wajahnya pucat, tapi bukan pucat seseorang yang baru datang untuk berduka. Ada sesuatu pada tatapan matanya yang membuatku merasa dia sedang menghitung jarak, menghitung orang-orang di ruangan, menghitung kemungkinan untuk pergi.
Matanya sempat bertemu denganku.
Lalu turun ke perangkat kecil di tangan Rendra.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
Ketakutan.
Bukan kesedihan.

Aku berdiri perlahan.
“Mira.”
Dia tersenyum tipis. Senyum yang dulu begitu kukenal. Senyum yang sering muncul ketika kami duduk berdua di kantin kampus sambil membicarakan hal-hal bodoh sampai sore.
“Laras.”
Suaranya bergetar.
“Aku turut berduka.”
Aku hampir ingin tertawa.
Turut berduka.
Seolah Bagas hanyalah seseorang yang pernah dia kenal.
Seolah tiga tahun lalu dia bukan perempuan yang menangis sampai pingsan ketika pencarian dihentikan.
Seolah dia bukan orang yang baru saja kudengar diperingatkan oleh kakakku sendiri.
“Gelangmu bagus,” kataku.
Tangannya langsung bergerak menutupi pergelangan.
Gerakan kecil itu cukup untuk membuat jantungku berdetak lebih cepat.
Mira memaksakan senyum.
“Ini?”
“Iya.”
“Sudah lama aku punya.”
Aku menatapnya tanpa berkedip.
“Seberapa lama?”
Dia tidak menjawab.
Alvaro muncul dari arah belakang.
“Ada apa?”
Aku memalingkan wajah.
Tatapannya berpindah dari Mira, kepadaku, lalu ke Rendra.
Rendra menyimpan perangkat itu ke saku.
“Tidak ada apa-apa, Pak Alvaro.”
Aku berkata cepat, “Aku baru mendengar rekaman Bagas.”
Ruangan seolah mendadak lebih dingin.
Alvaro menatapku tajam.
“Rekaman apa?”
“Rekaman sebelum kecelakaan.”
Mira semakin pucat.
Aku sengaja tidak mengatakan isi rekaman itu.
Aku ingin melihat siapa yang paling takut.
Ternyata aku tidak perlu menunggu lama.
Mira tiba-tiba berkata, “Rekaman ponsel setelah tiga tahun belum tentu akurat. Bisa saja rusak.”
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu bahkan belum tahu apa isinya.”
Bibirnya terbuka.
Tidak ada suara keluar.
Alvaro memandang Mira.
Untuk pertama kalinya sejak kami bertemu lagi, ekspresi dinginnya retak.
“Mira?”
Mira menunduk.
“Aku cuma bilang kemungkinan.”
Aku menyimpan kembali kantong barang bukti milik Bagas.
“Begitu.”
Aku berjalan melewatinya.
Saat berpapasan, aku berbisik sangat pelan.
“Bagas menyebut namamu.”
Tubuhnya menegang.
Aku terus berjalan.
Malam itu aku tidak tidur.
Mama sudah tertidur karena obat penenang ringan yang diberikan dokter keluarga. Rumah terasa seperti tiga tahun lalu, hanya lebih sunyi.
Kamar Bagas masih hampir sama.
Mama tidak pernah benar-benar membongkarnya.
Di rak masih ada koleksi kamera analog, beberapa novel, piala futsal, dan jaket denim yang sudah kehilangan aroma pemiliknya.
Aku duduk di lantai, bersandar pada ranjang.
Ponsel lama Bagas tergeletak di depanku.
Rendra mengizinkanku memegang salinan data yang berhasil dipulihkan.
Rekaman pertama hanya berdurasi empat puluh dua detik.
Aku memutarnya lagi.
Suara hujan.
Suara mesin mobil.
Lalu Bagas.
“Laras, kalau sesuatu terjadi pada Kakak, jangan percaya Mira.”
Dia berhenti beberapa detik.
“Ada hal yang selama ini Kakak sembunyikan.”
Suara gesekan keras terdengar.
Lalu rekaman berakhir.
Itu saja.
Aku memutar file berikutnya.
Rusak.
File ketiga hanya suara statis.
File keempat berisi video gelap selama delapan detik.
Aku hampir menyerah ketika menemukan satu folder foto yang belum kubuka.
Sebagian besar rusak.
Namun ada satu gambar yang masih cukup jelas.
Aku menatapnya lama.
Foto itu diambil di sebuah kafe.
Bagas duduk di sudut, seolah memotret diam-diam.
Di meja seberangnya ada Mira.
Dan seorang pria.
Wajah pria itu tidak terlihat penuh karena tertutup pilar.
Tapi jam tangannya terlihat.
Jam tangan dengan tali kulit cokelat dan dial hitam.
Aku mengenal jam itu.
Karena aku sendiri yang membelinya untuk Alvaro saat ulang tahunnya yang ke dua puluh tujuh.
Tanganku membeku.
Tidak.
Aku memperbesar foto.
Tangannya.
Cincin kecil di jari kelingking.
Kemeja putih yang biasa dikenakan Alvaro ke kantor.
Aku merasa isi perutku terbalik.
Bagas memotret Mira dan Alvaro bersama sebelum kecelakaan.
Kapan?
Aku membuka metadata foto.
Dua hari sebelum kecelakaan.
Napasku tercekat.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
Aku menoleh cepat.
Alvaro berdiri di sana.
“Kenapa kamu masuk tanpa mengetuk?”
“Karena kamu tidak menjawab.”
Aku langsung mematikan layar.
Dia melihat gerakanku.
“Apa yang kamu sembunyikan?”
“Bukan urusanmu.”
“Kalau ini soal Bagas, itu juga urusanku.”
Aku berdiri.
“Benarkah?”
Alvaro mengernyit.
Aku berjalan mendekatinya.
“Dua hari sebelum Bagas mengalami kecelakaan, kamu bertemu Mira.”
Wajahnya berubah.
Hanya sedikit.
Tapi cukup.
Jantungku serasa jatuh.
“Jadi benar.”
“Laras, dengarkan aku.”
“Aku sudah terlalu sering mendengarkanmu.”
“Kali ini jawab.”
Aku menahan gemetar di suara.
“Kenapa kamu bertemu pacar kakakku diam-diam?”
Alvaro menutup pintu kamar.
“Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang.”
Aku tertawa pendek.
“Tiga tahun lalu kamu bilang pertunanganmu dengan Mira juga bisa dijelaskan.”
“Kemudian aku pergi.”
“Tiga tahun kemudian aku pulang dan kalian sudah menikah.”
“Sekarang kamu bilang lagi kamu tidak bisa menjelaskan.”
Aku menatap cincin di tangannya.
“Berapa banyak kebohongan yang sebenarnya kamu sembunyikan dariku?”
Alvaro berjalan mendekat.
“Pernikahanku dengan Mira tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Dia diam.
Aku mengangguk pelan.
“Sudah kuduga.”
Aku berbalik.
Tangannya menangkap pergelangan tanganku.
Aku langsung menarik diri.
“Jangan sentuh aku.”
“Laras.”
“Aku serius.”
Dia melepaskan tangannya.
Beberapa detik kami hanya saling menatap.
Lalu Alvaro berkata pelan, “Kalau kamu ingin mencari tahu tentang kecelakaan Bagas, jangan lakukan sendiri.”
Aku tertawa tanpa humor.
“Kenapa?”
“Takut aku menemukan sesuatu?”
“Takut kamu ikut hilang.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Tatapan Alvaro tidak terlihat seperti seseorang yang sedang berbohong.
Justru terlalu serius.
“Tiga tahun lalu kecelakaan Bagas dinyatakan akibat longsor,” katanya.
“Tapi ada satu hal yang tidak pernah diberitahukan kepada Tante Dewi.”
“Apa?”
“Rem mobilnya rusak.”
Darahku seolah berhenti mengalir.
“Apa?”
“Tim awal menganggap kerusakan itu terjadi karena benturan.”
“Tapi mekanik yang dulu memeriksa kendaraan mengatakan ada kemungkinan selang rem sudah dipotong sebelum mobil jatuh.”
Aku mundur satu langkah.
“Kenapa polisi tidak menyelidikinya?”
“Tidak ada kendaraan untuk diperiksa lebih lanjut. Mobil terkubur dan lokasi mustahil dijangkau.”
“Dan kamu tahu selama tiga tahun?”
“Aku curiga.”
“Curiga pada siapa?”
Alvaro tidak menjawab.
Aku menatapnya.
“Pada Mira?”
Dia menutup mata sebentar.
“Ya.”
Aku kehilangan kata-kata.
“Kalau kamu curiga pada Mira, kenapa kamu menikah dengannya?”
Alvaro menatapku lurus.
“Karena aku ingin dia tetap dekat.”
Aku tercekat.
“Apa?”
“Bagas meneleponku satu malam sebelum kecelakaan.”
Alvaro mengeluarkan ponselnya.
“Dia bilang dia menemukan sesuatu tentang Mira.”
“Apa?”
“Dia tidak menjelaskan.”
“Dia hanya bilang, kalau besok dia tidak kembali, aku harus memastikan Mira tidak pergi terlalu jauh.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Jadi kamu bertunangan dengannya?”
“Aku membuatnya percaya aku ada di pihaknya.”
“Pernikahan itu?”
“Secara hukum, iya.”
Wajahku terasa panas.
“Jadi selama tiga tahun kamu hidup bersama perempuan yang kamu curigai terlibat dalam kematian Bagas?”
“Tidak.”
“Aku tidak pernah hidup bersamanya sebagai suami.”
Aku menatap cincin di jarinya.
“Lalu ini?”
“Alat agar dia percaya.”
Aku ingin marah.
Ingin mengatakan semua itu gila.
Tapi sesuatu di wajahnya membuatku tidak bisa.
“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku?”
Alvaro tertawa kecil, pahit.
“Karena hari kamu pergi, seseorang masuk ke apartemenmu.”
Aku membeku.
“Mengacak semua barangmu.”
“Aku baru tahu setelah pesawatmu berangkat.”
Dia menatapku.
“Kalau aku menghubungimu dan mengatakan ada kemungkinan Bagas dibunuh, menurutmu apa yang akan kamu lakukan?”
Aku tidak menjawab.
Aku tahu jawabannya.
Aku akan kembali.
Aku akan mencari tahu.
Aku akan menempatkan diriku tepat di tengah bahaya.
Alvaro berkata, “Jadi aku membiarkanmu membenciku.”
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Fakta bahwa dia membiarkanku pergi.
Atau fakta bahwa mungkin selama tiga tahun dia sengaja menjadi orang yang paling kubenci untuk menjauhkanku dari semuanya.
Sebelum aku bisa bicara, suara benda jatuh terdengar dari lantai bawah.
Kami berdua menoleh.
Lalu terdengar jeritan Mama.
Aku berlari keluar.
“Mama!”
Kami menemukan Mama di ruang kerja Bagas.
Sebuah kotak kayu terbuka di lantai.
Mira berdiri di dekat meja.
Di tangannya ada amplop cokelat.
Begitu melihat kami, dia langsung memasukkannya ke tas.
“Apa yang kamu lakukan?” teriakku.
Mira mundur.
“Aku cuma mencari foto Bagas.”
“Di ruang kerjanya?”
Mama berdiri di dekat lemari dengan wajah pucat.
“Aku melihat dia membuka laci.”
Alvaro berjalan maju.
“Mira, keluarkan amplop itu.”
Mira menatapnya.
Untuk pertama kalinya, wajah lembutnya menghilang.
“Jangan ikut campur.”
Alvaro berhenti.
Mira tertawa kecil.
“Capek juga, ya, pura-pura jadi suami istri selama tiga tahun.”
Aku menahan napas.
Mama menatap mereka kebingungan.
Mira mengeluarkan amplop.
“Aku tahu sejak tahun pertama kamu mencurigaiku.”
Dia menatap Alvaro.
“Kamu pikir aku sebodoh itu?”
“Lalu kenapa kamu bertahan?” tanya Alvaro.
“Karena aku juga butuh mengawasimu.”
Aku berkata, “Apa isi amplop itu?”
Mira menatapku.
“Hal yang seharusnya sudah hilang bersama kakakmu.”
Dia berbalik hendak pergi.
Aku berdiri menghalangi pintu.
“Minggir, Laras.”
“Tidak.”
Tatapannya berubah dingin.
“Kamu selalu sama.”
“Apa maksudmu?”
“Selalu merasa dunia ini akan baik hanya karena kamu tulus.”
Dia tersenyum tipis.
“Bagas juga begitu.”
Aku mengepalkan tangan.
“Kamu melakukan sesuatu pada mobilnya?”
Mira tertawa.
“Kamu pikir aku memotong rem?”
Dia menggeleng.
“Bukan aku.”
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, suara Rendra terdengar dari belakang.
“Kalau bukan Anda, siapa?”
Kami semua menoleh.
Rendra berdiri di pintu bersama dua polisi.
Wajah Mira berubah.
“Apa yang Anda lakukan di sini?”
Rendra mengangkat ponsel.
“Pak Alvaro menghubungi saya.”
Mira menatap Alvaro tajam.
Alvaro tidak bereaksi.
Rendra berjalan maju.
“Bu Mira, kami perlu meminta Anda ikut ke kantor untuk memberikan keterangan.”
Mira tertawa pendek.
“Kalian tidak punya bukti.”
“Sekarang kami punya mobilnya.”
Rendra menatapnya.
“Dan selang remnya memang dipotong.”
Mira diam.
“Selain itu,” lanjut Rendra, “kami menemukan sidik jari pada komponen bagian bawah kendaraan.”
Mira tertawa lagi.
“Sidik jari setelah tiga tahun?”
“Bukan sidik jari Anda.”
Senyumnya menghilang.
Rendra menatap lurus kepadanya.
“Tapi orang itu sudah kami identifikasi.”
Mira tiba-tiba mundur.
Aku melihat tangannya masuk ke tas.
Alvaro bergerak lebih cepat.
Dia menangkap pergelangan Mira sebelum perempuan itu sempat mengeluarkan sesuatu.
Sebuah pisau kecil jatuh ke lantai.
Mama menjerit.
Polisi langsung memborgolnya.
Mira melawan.
“Lepaskan aku!”
Ketika dia ditarik melewatiku, aku berkata, “Siapa yang membunuh Bagas?”
Mira berhenti.
Beberapa detik dia hanya menatapku.
Lalu tersenyum.
“Kalau aku menjawab, kamu akan menyesal.”
“Jawab.”
“Bagas tidak mati karena aku.”
“Siapa?”
Dia mendekat sebisanya.
“Orang yang paling dipercaya keluargamu.”
Tubuhku membeku.
Mira dibawa pergi.
Malam itu amplop yang dia ambil dibuka di depan polisi.
Isinya bukan surat cinta.
Bukan dokumen bisnis.
Melainkan hasil pemeriksaan rekening.
Bagas ternyata sedang menyelidiki penggelapan dana perusahaan keluarga kami.
Selama dua tahun, puluhan miliar rupiah dipindahkan melalui perusahaan fiktif.
Orang yang pertama kali menemukan kejanggalan itu adalah Mira, yang saat itu bekerja di bagian audit.
Dia memberitahu Bagas.
Bagas mulai menyelidiki diam-diam.
Namun beberapa bulan kemudian, Mira justru mulai menerima uang.
Itulah sebabnya Bagas mencurigainya.
Dia mengira Mira telah dibeli.
Ternyata kenyataannya lebih rumit.
Rendra meneleponku menjelang subuh.
“Kami sudah menangkap orang yang sidik jarinya ditemukan pada mobil.”
Aku berdiri di balkon rumah.
“Siapa?”
“Seorang mantan teknisi bernama Seno.”
“Dia mengaku memotong selang rem.”
Tanganku menggenggam pagar.
“Siapa yang menyuruhnya?”
Rendra diam sebentar.
Kemudian berkata,
“Ayah Anda.”
Aku merasa dunia berhenti.
“Apa?”
“Ayah Anda, Surya Wibisana.”
Aku tidak bisa bernapas.
Ayah meninggal dua tahun sebelum Bagas kecelakaan.
“Itu tidak mungkin.”
“Bukan ayah kandung Anda.”
Aku menutup mata.
Rendra melanjutkan.
“Yang dimaksud Seno adalah Pak Hendra Wibisana.”
Adik ayahku.
Pamanku.
Orang yang setelah ayah meninggal mengambil alih sebagian besar urusan perusahaan.
Orang yang setiap Lebaran datang membawa hadiah.
Orang yang memeluk Mama ketika Bagas hilang.
Aku hampir menjatuhkan ponsel.
Ternyata Bagas menemukan bahwa Paman Hendra telah menggelapkan dana perusahaan selama bertahun-tahun.
Mira awalnya membantu Bagas.
Namun Hendra mengetahui penyelidikan mereka.
Dia mengancam keluarga Mira.
Mira akhirnya berpura-pura bekerja sama dengannya.
Bagas tidak tahu.
Dia mengira Mira mengkhianatinya.
Malam sebelum kecelakaan, Bagas bertemu Alvaro untuk mengatakan kecurigaannya.
Dua hari sebelumnya, Mira bertemu Alvaro untuk meminta perlindungan.
Itulah foto yang ditemukan di ponsel Bagas.
Bagas memotret mereka dari jauh.
Dia salah memahami semuanya.
Begitu juga aku.
Paman Hendra ditangkap pagi itu di rumahnya di Menteng.
Ketika polisi membawanya pergi, dia tidak menyangkal.
Dia hanya berkata,
“Bagas terlalu mirip ayahnya.”
Aku tidak pernah melupakan kalimat itu.
Tiga hari setelah pemakaman Bagas, aku pergi menemui Mira di ruang pemeriksaan.
Dia tidak diborgol lagi.
Polisi menetapkannya sebagai saksi sekaligus tersangka untuk beberapa pelanggaran terkait penyembunyian bukti dan penerimaan dana ilegal, tapi bukan pembunuhan.
Aku duduk di depannya.
“Kamu bisa memberitahu kami sejak awal.”
Mira tertawa lelah.
“Lalu membiarkan Hendra membunuh ibuku juga?”
Aku terdiam.
“Kenapa gelang Bagas ada padamu?”
Matanya turun ke pergelangan.
Untuk pertama kalinya, air mata memenuhi matanya.
“Bagas memberikannya satu minggu sebelum kecelakaan.”
“Dia melamarmu?”
Mira mengangguk.
“Aku bilang iya.”
Air matanya jatuh.
“Lalu beberapa hari kemudian dia mulai mencurigaiku.”
“Aku tidak sempat menjelaskan semuanya.”
Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan.
Selama tiga tahun aku membencinya.
Ternyata dia juga hidup dalam penjara yang berbeda.
Sebelum aku pergi, Mira memanggilku.
“Laras.”
Aku menoleh.
“Alvaro tidak pernah mencintaiku.”
Aku diam.
“Dia bahkan tidur di kamar berbeda sejak hari pertama kami menikah.”
Mira tersenyum pahit.
“Yang dia simpan selama tiga tahun bukan aku.”
“Lalu apa?”
“Formulir magister milikmu yang kamu robek.”
Jantungku berhenti sesaat.
“Apa?”
“Dia mengambil potongannya dari tempat sampah.”
Mira menatapku.
“Dia menyimpannya di laci mejanya.”
Aku pulang tanpa tahu bagaimana perasaanku.
Sore itu Alvaro berdiri di taman belakang.
Aku menghampirinya.
“Kamu menyimpan formulirku?”
Dia menoleh.
Wajahnya langsung terlihat seperti seseorang yang tertangkap melakukan sesuatu yang memalukan.
“Siapa yang bilang?”
“Mira.”
Dia menghela napas.
Aku hampir tersenyum.
“Kenapa?”
Alvaro menatap langit.
“Karena itu satu-satunya benda yang kamu tinggalkan.”
“Padahal kamu bisa menghubungiku.”
“Aku tahu.”
“Kenapa tidak?”
Dia menatapku lagi.
“Karena dulu aku benar-benar menganggapmu adik.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
“Lalu suatu hari aku sadar aku sudah tidak bisa lagi.”
Dadaku terasa sesak.
“Kapan?”
“Ketika kamu pergi.”
Aku tertawa kecil.
“Timing kamu buruk sekali.”
“Selalu.”
Untuk beberapa saat kami diam.
Lalu aku melihat cincin di tangannya.
“Kamu masih memakainya.”
Alvaro melepas cincin itu.
Dia menatapnya sebentar.
Kemudian meletakkannya di atas meja taman.
“Sudah selesai.”
Aku menatapnya.
“Tidak berarti semuanya langsung kembali seperti dulu.”
“Aku tahu.”
“Aku juga tidak berjanji akan menunggumu.”
“Aku tahu.”
“Aku mungkin kembali ke Seattle.”
Kali ini dia diam cukup lama.
Kemudian mengangguk.
“Kalau itu yang kamu mau, pergilah.”
Aku menatapnya, sedikit terkejut.
Dia tersenyum tipis.
“Tapi kali ini jangan pergi karena ingin melarikan diri dariku.”
“Pergilah karena itu hidup yang kamu pilih.”
Aku merasakan sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah kurasakan ketika mencintainya.
Bukan sakit.
Bukan berharap.
Melainkan tenang.
Enam bulan kemudian, aku kembali ke Seattle untuk menyelesaikan program magister yang dulu kubuang.
Satu tahun setelahnya, Mama mengirim foto makam Bagas yang dipenuhi bunga.
Di samping foto itu ada pesan pendek.
Pulang kalau kamu sudah siap.
Aku pulang dua minggu kemudian.
Alvaro menungguku di bandara.
Di tempat yang sama.
Tapi kali ini dia tidak menyentuh koperku.
Tidak memintaku ikut mobilnya.
Tidak mengatakan apa pun tentang tujuh tahun yang sudah kami sia-siakan.
Dia hanya berdiri beberapa langkah dariku dan berkata,
“Selamat datang pulang, Laras.”
Aku tersenyum.
Untuk pertama kalinya, aku berjalan ke arahnya bukan sebagai gadis tujuh belas tahun yang memohon untuk dicintai.
Bukan sebagai adik yang harus dijaga.
Bukan sebagai seseorang yang takut ditinggalkan.
Aku berjalan sebagai diriku sendiri.
Dan mungkin, akhirnya, itulah satu-satunya cara cinta bisa benar-benar dimulai.
