Aku tidak tidur sampai matahari terbit.
Kalimat di atas kotak kayu hitam itu terus berputar di kepalaku.
Untuk Raka, semua yang tidak sempat kukatakan kepadamu.
Selama sepuluh tahun, aku percaya Arga membenciku. Bahkan setelah menjadi istrinya, aku tidak pernah melihat sedikit pun tanda bahwa laki-laki dingin itu pernah menyimpan perasaan sedalam ini kepada seseorang.
Terlebih kepada Raka.

Kepada diriku sendiri.
Keesokan paginya, Arga sudah pergi sebelum aku turun untuk sarapan. Seolah kejadian semalam tidak pernah terjadi.
Namun saat melewati lantai tiga, aku melihat pintu ruangan itu telah dikunci.
Malam berikutnya juga begitu.
Hari ketiga, rasa penasaranku akhirnya mengalahkan akal sehat.
Aku menelepon Dimas.
“Aku ingin tahu tentang Raka.”
Di ujung telepon terdengar keheningan.
“Bu Keira, sebaiknya jangan.”
“Kenapa?”
“Karena kalau Pak Arga tahu saya menceritakannya, saya mungkin harus mencari pekerjaan baru.”
Aku tersenyum hambar.
“Kalau begitu aku akan menggajimu dua kali lipat.”
Dimas menghela napas panjang.
“Pak Arga tidak membenci Raka.”
Jawaban itu membuat jemariku mencengkeram ponsel.
“Lalu?”
“Pak Arga membenci dirinya sendiri karena tidak sempat mengatakan sesuatu sebelum Raka meninggal.”
Dadaku berdebar.
Dimas kemudian menceritakan sesuatu yang tidak pernah kuketahui.
Sepuluh tahun lalu, setelah berita kematian Raka tersebar, Arga tidak masuk sekolah selama hampir dua minggu.
Dia pergi sendiri ke rumah sakit tempat Raka dikabarkan meninggal. Dia mendatangi polisi, mencari sopir yang menangani kecelakaan, bahkan berkali-kali meminta alamat makam.
Namun keluarga Raka palsu yang sengaja dibentuk keluargaku menolak memberikan informasi apa pun.
Arga tidak percaya begitu saja.
“Dia mencari Raka hampir setahun,” kata Dimas.
Aku menutup mata.
“Tapi kenapa?”
“Saya tidak tahu. Yang saya tahu, setelah itu Pak Arga berubah.”
Dimas berhenti sejenak.
“Dan setiap tanggal 17 Oktober, dia pergi ke Bandung sendirian.”
Aku langsung membeku.
Tanggal kecelakaanku.
Malam itu aku menunggu Arga pulang.
Pukul sebelas lewat dua puluh, suara mobil akhirnya terdengar di halaman.
Aku berdiri di ruang keluarga ketika dia masuk.
Arga berhenti setelah melihatku.
“Kamu belum tidur?”
“Aku menunggumu.”
Alisnya sedikit terangkat.
Itu mungkin pertama kalinya selama pernikahan kami aku mengucapkan kalimat seperti itu.
“Ada apa?”
Aku menatapnya beberapa detik.
“Kalau Raka masih hidup, apa yang akan kamu lakukan?”
Wajah Arga berubah.
Hanya sepersekian detik, tetapi aku melihatnya.
“Kenapa tiba-tiba menanyakan itu?”
“Jawab saja.”
Dia meletakkan kunci mobil di meja.
“Tidak ada gunanya membicarakan orang mati.”
“Bagaimana kalau dia tidak mati?”
Arga menatapku tajam.
“Keira.”
Aku hampir mengatakan semuanya malam itu.
Hampir.
Namun sesuatu menahanku.
“Tidak apa-apa.”
Aku berbalik.
Tangan Arga tiba-tiba menangkap pergelangan tanganku.
“Kenapa kamu begitu tertarik pada Raka?”
Aku menoleh.
Untuk sesaat kami berdiri sangat dekat.
“Karena aku cemburu.”
Arga terdiam.
Aku tertawa kecil, meski dadaku terasa sakit.
“Lucu, kan? Aku istrimu, tapi aku cemburu kepada laki-laki yang sudah mati sepuluh tahun.”
Rahang Arga menegang.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Karena hubungan kita tidak ada hubungannya dengan dia.”
Aku menarik tanganku.
“Benar. Pernikahan kita memang tidak pernah memiliki hubungan dengan perasaan apa pun.”
Aku meninggalkannya.
Namun sebelum mencapai tangga, kudengar suaranya.
“Keira.”
Aku berhenti.
“Maaf soal malam itu.”
Aku menoleh.
Arga tidak menatapku.
“Seharusnya aku tidak menyentuhmu seperti itu.”
Itulah permintaan maaf pertama yang pernah kudengar darinya.
Tiga hari kemudian, semuanya berubah.
Ratna Mahendra datang ke vila tanpa memberi tahu.
Aku sedang berada di ruang kerja ketika mendengar suara perdebatan dari lantai bawah.
“Kamu harus menceraikannya.”
Aku mengenali suara Ratna.
“Pernikahan ini sudah tidak berguna.”
Arga menjawab datar.
“Itu urusanku.”
“Tidak. Keira menikah denganmu karena keluarganya membutuhkan Mahendra Group. Sekarang kerja sama itu sudah selesai.”
Aku berdiri di balik pintu.
Kemudian Ratna mengucapkan sesuatu yang membuat darahku membeku.
“Lagi pula, bukankah kamu menikahinya hanya karena wajahnya mengingatkanmu pada Raka?”
Aku berhenti bernapas.
Arga tidak menjawab.
Dan diamnya jauh lebih menyakitkan daripada jawaban apa pun.
Aku kembali ke kamar sebelum mereka menyadari keberadaanku.
Malam itu, aku memandangi wajahku di cermin.
Tentu saja.
Raka adalah aku.
Meski dulu rambutku pendek dan penampilanku seperti laki-laki, beberapa garis wajah kami pasti sama.
Jadi selama ini Arga menerima pernikahan ini bukan karena bisnis?
Melainkan karena aku menyerupai orang mati yang tidak bisa dia lupakan?
Aku tertawa pahit.
Ironis sekali.
Dia menikahi Raka tanpa mengetahui bahwa istrinya memang Raka.
Keesokan harinya aku memutuskan membuka kotak itu.
Aku tahu kombinasi angka yang mungkin digunakan Arga.
Tanggal kecelakaanku.
Klik.
Kotak itu terbuka.
Di dalamnya terdapat puluhan surat.
Semua ditujukan kepada Raka.
Tanganku gemetar ketika mengambil surat paling tua.
Raka,
Hari ini aku mendapat nilai 98. Kamu pasti akan menertawakanku kalau masih ada.
Surat berikutnya ditulis beberapa bulan kemudian.
Aku diterima di universitas yang dulu ingin kita masuki. Aku seharusnya senang karena akhirnya tidak perlu bersaing denganmu. Ternyata menang tanpa kamu menyebalkan.
Aku terus membaca.
Tahun demi tahun.
Raka, hari ini Ayah meninggal.
Raka, aku mengambil alih perusahaan.
Raka, aku menemukan tiket bus yang dulu kamu buang.
Raka, aku bermimpi kamu masih hidup.
Air mataku jatuh tanpa kusadari.
Kemudian aku menemukan surat yang tidak pernah dimasukkan ke amplop.
Tulisan tangannya jauh lebih berantakan.
Aku membacanya.
Raka,
Aku berbohong waktu kamu bertanya apakah aku akan sedih kalau kamu mati.
Aku ingin bilang jangan pergi.
Aku ingin bilang aku sengaja ikut semua kompetisi karena hanya dengan begitu aku bisa terus berada di dekatmu.
Aku ingin bilang setiap kali kamu tersenyum setelah mengalahkanku, aku sebenarnya ingin melihatnya lebih lama.
Aku tidak tahu perasaan apa ini.
Aku hanya tahu sejak kamu mati, aku tidak pernah benar-benar merasa hidup.
Tanganku menutup mulut.
Air mata jatuh semakin deras.
Lalu pintu terbuka.
Aku menoleh.
Arga berdiri di sana.
Wajahnya seketika kehilangan warna.
“Apa yang kamu lakukan?”
Aku berdiri sambil memegang surat itu.
“Arga…”
“Letakkan.”
Dia berjalan mendekat.
“Sekarang.”
Namun kali ini aku tidak takut.
Aku justru bertanya,
“Kamu mencintai Raka?”
Langkahnya berhenti.
“Jawab aku.”
“Tidak ada hubungannya denganmu.”
“Ada.”
“Keira.”
“Ada hubungannya denganku!”
Suaraku pecah.
Arga menatapku.
Aku tidak sanggup lagi.
Sepuluh tahun kesalahpahaman.
Setahun pernikahan tanpa cinta.
Semua rasa sakit yang sebenarnya lahir karena satu kebohongan.
Aku mengusap air mata.
“Kamu masih ingat final Olimpiade Matematika di Surabaya?”
Ekspresinya berubah.
Aku melanjutkan.
“Kamu salah menjawab soal nomor tujuh karena lupa tanda negatif. Setelah pengumuman, Raka mengejekmu tiga hari.”
Arga membeku.
“Dari mana kamu tahu?”
“Dan malam sebelum kompetisi Bandung, kamu demam. Raka diam-diam memasukkan obat ke tasmu, tapi kamu mengira Dimas yang memberikannya.”
Wajah Arga semakin pucat.
“Keira…”
“Ada satu hal lagi.”
Aku menatap tepat ke matanya.
“Di belakang gedung olahraga, kamu pernah mencium seseorang.”
Napasnya berhenti.
Itu rahasia yang hanya diketahui dua orang.
Aku dan dia.
Sepuluh tahun lalu, setelah kami bertengkar hebat, Arga mendorongku ke dinding. Entah karena marah atau sesuatu yang bahkan tidak kami pahami saat itu, bibirnya tiba-tiba menyentuh bibirku.
Hanya satu detik.
Setelah itu dia memukul tembok dan pergi.
Kami tidak pernah membicarakannya lagi.
“Tidak mungkin…”
Suara Arga hampir tidak terdengar.
Aku tersenyum dalam tangis.
“Kenapa tidak?”
Aku mengambil napas panjang.
“Karena Raka Adhitya tidak pernah mati.”
Aku menunjuk diriku sendiri.
“Dia berdiri di depanmu.”
Arga tidak bergerak.
Aku kemudian menceritakan semuanya.
Tentang konflik keluargaku.
Identitas palsu.
Kecelakaan.
Singapore.
Dan keputusan keluarga mengumumkan kematian Raka.
Ketika selesai, ruangan itu sunyi.
Arga masih menatapku seolah takut berkedip.
Kemudian dia mendekat.
Tangannya terangkat ke wajahku, tetapi berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh.
“Buktikan.”
Aku tertawa getir.
“Kamu masih tidak percaya?”
“Buktikan.”
Aku menatapnya.
Lalu berkata pelan,
“Waktu kamu berumur tujuh belas tahun, kamu menangis di belakang laboratorium karena ibumu mengatakan kamu tidak akan pernah sebaik kakakmu.”
Tubuh Arga menegang.
“Hanya Raka yang melihatmu.”
Aku tersenyum.
“Dan Raka berjanji tidak akan pernah menceritakannya kepada siapa pun.”
Mata Arga memerah.
Detik berikutnya tubuhku ditarik ke dalam pelukannya.
Begitu keras sampai aku hampir kehilangan napas.
Aku tidak pernah membayangkan Arga Mahendra bisa gemetar.
Namun malam itu, laki-laki yang selama ini terlihat tidak memiliki kelemahan itu memelukku seperti seseorang yang baru mendapatkan kembali separuh hidupnya.
“Kamu hidup…”
Suaranya pecah.
“Kamu benar-benar hidup.”
Aku memejamkan mata.
“Tapi kamu hampir mencekikku gara-gara cangkirku sendiri.”
Arga tertawa.
Di tengah air matanya.
Kemudian dia melepaskanku dan menatapku.
“Kenapa tidak pernah memberitahuku?”
“Aku pikir kamu membenciku.”
“Aku juga berpikir begitu.”
Aku terdiam.
Arga mengusap wajahnya.
“Aku baru sadar setelah kamu mati.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun aku tahu ada sepuluh tahun penyesalan di dalamnya.
Aku menatap surat-surat di lantai.
“Lalu kenapa kamu dingin kepadaku setelah menikah?”
Arga diam cukup lama.
“Aku takut.”
“Kamu?”
Dia mengangguk.
“Semakin lama melihatmu, semakin banyak hal tentangmu yang mengingatkanku pada Raka. Cara kamu mengernyit saat membaca, kebiasaan menggigit sedotan, bahkan cara kamu mengumpat kalau kalah main gim.”
Aku hampir tertawa.
“Aku merasa bersalah karena mulai tertarik kepada istriku sendiri hanya karena dia mengingatkanku pada orang yang sudah mati.”
Jadi dia menjauh.
Bukan karena tidak peduli.
Melainkan karena merasa perasaannya sendiri adalah pengkhianatan.
Aku memukul dadanya.
“Bodoh.”
Dia menangkap tanganku.
“Ya.”
“Sepuluh tahun tetap bodoh.”
“Ya.”
“Dan cangkir itu jelek.”
Kali ini Arga benar-benar tertawa.
Untuk pertama kalinya aku melihatnya tertawa tanpa beban.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Keesokan paginya Ratna datang membawa seseorang.
Seorang pria tua yang langsung kukenali.
Dokter keluarga kami dulu.
Wajah Ratna dingin.
“Jadi akhirnya kamu memberitahunya.”
Aku menegang.
Arga berdiri di depanku.
“Ibu sudah tahu?”
Ratna tersenyum tipis.
“Sejak sebelum kalian menikah.”
Ruangan mendadak membeku.
Aku menatapnya tidak percaya.
“Apa?”
Ratna membuka tasnya dan meletakkan sebuah dokumen lama di meja.
Catatan medis kecelakaanku.
“Aku tahu Keira adalah Raka sejak keluarganya mengajukan kerja sama.”
Arga mengepalkan tangan.
“Kenapa Ibu tidak memberitahuku?”
“Karena aku ingin tahu.”
Ratna menatap putranya.
“Apakah setelah sepuluh tahun kamu masih akan memilih orang yang sama jika kamu tidak mengetahui identitasnya.”
Aku tercekat.
Ratna kemudian menatapku.
“Dan ternyata kalian berdua sama-sama bodoh.”
Untuk pertama kalinya aku melihat Arga kehilangan kata-kata di depan ibunya.
Ratna berdiri.
“Satu tahun kalian tinggal serumah, tidur di bawah atap yang sama, dan tidak ada satu pun yang mengenali hati masing-masing.”
Sebelum pergi, dia berhenti di pintu.
“Oh, satu lagi.”
Dia menatap Arga.
“Pernikahan bisnis itu hanya alasan. Keluarga Keira tidak membutuhkan uang kita sebanyak yang kalian pikirkan.”
Aku mengernyit.
“Lalu?”
Ratna tersenyum.
“Yang meminta pernikahan ini pertama kali adalah Arga.”
Aku menoleh cepat.
Arga terlihat seperti ingin menghilang.
“Arga?”
Dia berdeham.
“Aku bisa menjelaskan.”
Ratna sudah berjalan pergi sambil berkata santai,
“Dia melihat fotomu tiga tahun lalu dan menyimpannya di ponselnya.”
Aku menatap suamiku.
Arga menutup mata.
“Jangan dengarkan Ibu.”
Aku tertawa.
“Katanya tidak tertarik.”
“Keira.”
“Katanya cuma pernikahan bisnis.”
“Keira.”
“Katanya Raka orang yang paling dibenci.”
Arga tiba-tiba menarik pinggangku.
Aku terdiam.
Wajahnya begitu dekat.
“Yang terakhir memang benar.”
Aku mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Karena dia membuatku menunggu sepuluh tahun.”
Kemudian Arga menciumku.
Kali ini bukan karena marah.
Bukan satu detik.
Dan tidak ada seorang pun yang pergi setelahnya.
Beberapa bulan kemudian, ruangan di lantai tiga akhirnya dibuka.
Aku tidak meminta Arga membuang barang-barang Raka.
Kami hanya mengubahnya.
Surat-surat disimpan.
Medali tetap tergantung.
Jaket sekolah masih ada.
Namun di antara semua peninggalan itu kini terdapat foto pernikahan kami.
Cangkir yang pecah juga berhasil direkatkan kembali.
Retaknya tetap terlihat.
Aku pernah bertanya kenapa Arga tidak membeli cangkir baru saja.
Dia menjawab sambil menatap garis retak itu,
“Karena tidak semua yang pernah pecah harus dibuang.”
Aku tersenyum.
Mungkin dia benar.
Ada hubungan yang terlambat dipahami.
Ada perasaan yang baru memiliki nama setelah kehilangan.
Ada orang-orang yang menghabiskan bertahun-tahun mencari seseorang yang sebenarnya sedang berjalan kembali menuju mereka.
Dan terkadang hidup memiliki cara yang sangat aneh untuk mempertemukan dua orang.
Aku pernah menjadi musuh Arga.
Kemudian menjadi orang mati yang dia rindukan.
Lalu tanpa kami sadari, aku kembali sebagai istrinya.
Sepuluh tahun lalu, Raka Adhitya menghilang dari kehidupan Arga.
Namun ternyata Raka tidak pernah benar-benar mati.
Dia hanya membutuhkan waktu sepuluh tahun untuk pulang.
Dan kali ini, Arga tidak membiarkannya pergi lagi.
