“Mereka sudah menyiapkan semuanya supaya saat aku mati, semua bukti mengarah kepadamu.”
Niken menatap Bram tanpa berkedip. Suara mesin pemantau di samping ranjang terdengar jauh lebih keras daripada sebelumnya, seolah setiap bunyinya menghantam dada Niken.
“Apa maksudmu?” bisiknya.
Bram tidak langsung menjawab. Ia menatap kamera di sudut langit-langit.
“Jangan lihat aku terlalu lama. Bersikap seperti tadi.”
Niken memaksa dirinya kembali duduk tegak. Tangannya tetap menggenggam tangan Bram, tetapi kepalanya ditundukkan seolah sedang berdoa.
“Aku sadar sejak tiga hari lalu,” ujar Bram sangat pelan. “Tidak sepenuhnya. Kadang aku bisa mendengar, kadang semuanya gelap. Tapi aku mendengar mereka bicara.”
Niken merasakan ujung jarinya bergetar.
“Siapa?”
“Bapak, Mas Rendra, Diki, dan dokter yang mereka bawa.”
Bram berhenti, menarik napas perlahan.
“Mereka punya utang jauh lebih besar dari yang pernah mereka akui. Bukan cuma empat puluh miliar. Perusahaan keluarga hampir runtuh.”
Niken mengernyit.
“Kenapa mereka harus membunuhmu?”
“Karena mereka memakai namaku.”
Niken menoleh spontan, lalu segera menahan dirinya.
Bram melanjutkan.
“Diki memalsukan tanda tanganku untuk menjaminkan beberapa aset. Mereka juga mengambil pinjaman melalui perusahaan cangkang yang dicatat seolah-olah aku salah satu penanggung jawabnya.”
“Astaga…”
“Aku tahu soal itu seminggu sebelum kecelakaan. Aku sudah menghubungi pengacara dan mengumpulkan bukti.”
Niken teringat pertengkaran di meja makan.
Jadi permintaan Rp40 miliar bukan sekadar masalah pinjaman.
Bram sudah mengetahui sesuatu yang jauh lebih besar.
“Jus alpukat itu…” bisik Niken.
Bram mengangguk lemah.
“Aku merasa pusing beberapa menit setelah meminumnya. Pandanganku kabur saat naik ke platform.”
“Jadi mereka memang meracunimu?”
“Aku tidak tahu zatnya. Tapi aku dengar dokter mengatakan dosis pertama gagal.”
Darah Niken terasa surut dari wajahnya.
“Dosis pertama?”
Bram menatap botol kapsul putih di meja.
“Itu bukan untukmu supaya tidur.”
Niken mengikuti arah pandang Bram.
“Itu untuk membuatmu tidak sadar ketika mereka kembali.”
Niken menelan ludah.
“Lalu?”
“Obat yang seharusnya diberikan kepadaku malam ini akan membuat jantungku berhenti perlahan. Mereka sudah menyiapkan catatan bahwa kamu yang memberikan obat.”
Mata Niken langsung tertuju pada buku laporan Siska.
Catatan pukul delapan malam.
Catatan yang sudah ditulis sebelum waktunya.
Semuanya mulai tersambung.
“Mereka pergi ke Singapura supaya punya alibi,” katanya.
Bram mengangguk.
“Dan setelah aku mati, mereka akan bilang kamu kelelahan, minum kapsul penenang, lalu salah memberikan obat kepadaku.”
Niken menutup mulutnya dengan tangan.
“Tapi kenapa Siska masih di sini?”
Bram menatap pintu.
“Karena dia bukan cuma perawat.”
Belum sempat Niken bertanya, terdengar langkah kaki di lorong.
Bram langsung memejamkan mata.
Tubuhnya kembali diam.
Pintu terbuka.
Siska masuk membawa nampan kecil.
“Bu Niken belum tidur?”
Niken memaksa tersenyum.
“Belum.”
Siska melirik botol kapsul.
“Ibu Widya bilang Ibu sebaiknya minum satu.”
“Aku belum mengantuk.”
Wajah Siska tetap ramah, tetapi tatapannya berubah.
“Justru karena Ibu kelihatan sangat lelah.”
“Aku mau menemani Bram dulu.”
Siska meletakkan nampan di meja. Di atasnya terdapat sebuah gelas air dan dua tablet berwarna biru.
“Kalau begitu, obat Pak Bram dulu.”
Jantung Niken berdegup keras.
“Obat apa?”
“Obat malam.”
“Namanya?”
Siska terdiam sepersekian detik.
“Dokter sudah mengatur.”
“Aku tanya namanya.”
Siska tersenyum tipis.
“Bu Niken, selama ini Ibu tidak pernah mempermasalahkan obat Pak Bram.”
“Mulai malam ini aku ingin tahu.”
Udara di kamar terasa menegang.
Siska kemudian mengambil sebuah ampul kecil dari sakunya.
“Ini obat injeksi yang harus diberikan sebelum tablet.”

Niken berdiri.
“Jangan.”
Siska menatapnya.
“Apa?”
“Jangan berikan apa pun sebelum aku bicara dengan dokter rumah sakit yang pertama kali menangani Bram.”
Senyum Siska menghilang.
“Ini instruksi keluarga.”
“Bram suamiku.”
“Dan keluarga beliau yang membayar seluruh perawatan.”
“Keluar.”
Siska membeku.
Niken menunjuk pintu.
“Aku bilang keluar.”
Tatapan Siska berubah dingin.
Untuk pertama kalinya, wajah profesionalnya lenyap.
“Bu Niken sebaiknya tidak membuat keadaan menjadi lebih sulit.”
“Apa maksudmu?”
Siska tidak menjawab.
Ia mengambil ponsel dari sakunya.
Niken segera meraih botol kapsul dan buku laporan.
“Aku akan membawa semua ini ke polisi.”
Siska langsung bergerak.
Ia mencoba merebut buku itu.
Niken mundur.
Dalam tarik-menarik singkat, nampan terjatuh. Gelas pecah di lantai.
Suara keras itu menggema ke seluruh rumah.
“Serahkan!”
Siska menarik tangan Niken.
Niken berteriak.
Namun pada saat yang sama, suara Bram terdengar dari ranjang.
“Jangan sentuh istriku.”
Siska membeku.
Wajahnya pucat.
Bram membuka mata.
Meski tubuhnya lemah, tatapannya tajam.
“Kamu…”
Siska mundur satu langkah.
“Kamu sadar?”
Bram tersenyum tipis.
“Cukup lama untuk mendengar semuanya.”
Siska langsung berbalik hendak keluar.
Niken lebih cepat mengunci pintu.
“Kamu tidak pergi ke mana-mana.”
Siska menekan nomor di ponselnya.
Bram berkata keras, “Dia akan menghubungi Diki.”
Niken merebut ponsel itu.
Siska mendorongnya.
Keduanya hampir terjatuh.
Tiba-tiba terdengar suara alarm dari lorong.
Lampu rumah berkedip.
Kemudian seluruh listrik padam.
Kamar tenggelam dalam gelap.
Niken membeku.
“Apa yang terjadi?”
Bram langsung berkata, “Mereka tahu.”
“Apa?”
“Kamera.”
Niken menatap ke arah kamera yang kini mati.
“Mereka pasti melihat aku sadar.”
Dari luar rumah terdengar suara kendaraan masuk ke halaman.
Padahal keluarga Adiningrat seharusnya sudah berada dalam pesawat menuju Singapura.
Siska justru tersenyum.
“Mereka tidak pernah pergi.”
Niken menatapnya.
“Apa?”
“Mobil membawa mereka ke hotel dekat bandara.”
Terdengar pintu depan dibuka.
Suara langkah beberapa orang mendekat.
Bram berusaha bangun.
“Di bawah kasur.”
Niken meraba bagian bawah ranjang.
“Ada apa?”
“Ponsel.”
Tangannya menemukan sebuah benda kecil yang dilakban di rangka ranjang.
Ponsel lama.
“Masukkan sandi 1705.”
Niken menyalakannya.
Puluhan rekaman suara terlihat di layar.
“Aku menyembunyikannya sebelum kecelakaan,” kata Bram. “Ada rekaman percakapan Diki dan Rendra soal pinjaman palsu. Kirim ke pengacaraku. Kontak bernama Pak Surya.”
Tangan Niken bergerak cepat.
File mulai terkirim.
Di luar, seseorang mengetuk keras.
“Niken, buka pintunya!”
Suara Gunawan.
Niken dan Bram saling berpandangan.
Pengiriman baru mencapai empat puluh persen.
“Niken!” seru Widya. “Bram sedang sakit. Jangan melakukan tindakan bodoh!”
Siska hendak berteriak, tetapi Niken menutup mulutnya.
Bram menunjuk lemari.
“Masukkan dia ke kamar mandi.”
Dengan tenaga penuh, Niken mendorong Siska ke kamar mandi dalam dan mengunci pintunya dari luar.
Lima puluh delapan persen.
Pintu kamar mulai dipukul.
“Buka!”
Tujuh puluh tiga persen.
Bram mencoba bangun, tetapi tubuhnya terlalu lemah.
Niken memegang bahunya.
“Jangan paksa.”
“Kalau mereka masuk, bilang aku tetap koma.”
“Tidak.”
“Nik.”
“Tidak. Lima tahun aku menikah denganmu. Aku tidak akan duduk diam saat keluargamu mencoba membunuhmu.”
Pintu bergetar keras.
Delapan puluh sembilan persen.
Gunawan berteriak, “Diki, dobrak!”
Sembilan puluh enam persen.
Pintu jebol.
Gunawan, Widya, Rendra, dan Diki masuk.
Mereka berhenti saat melihat Bram duduk setengah tegak di ranjang.
Tak seorang pun berbicara.
Wajah Widya menjadi putih.
Bram menatap ibunya.
“Kecewa aku belum mati?”
Widya menutup mulut.
“Bram…”
Gunawan maju.
“Kamu tidak mengerti apa yang sedang terjadi.”
“Aku mengerti cukup banyak.”
Diki melihat ponsel di tangan Niken.
Ia langsung menerjang.
Niken mundur.
Pengiriman selesai.
Diki berhasil merampas ponsel itu dan membantingnya ke lantai.
Layar pecah.
Namun Bram tertawa kecil.
“Terlambat.”
Rendra menatap Diki.
“Kamu bilang dia tidak mungkin sadar!”
“Dokter bilang dosisnya…”
Ia tiba-tiba berhenti.
Keheningan jatuh.
Niken menatapnya.
“Dosis?”
Diki menyadari kesalahannya.
Wajahnya berubah.
Gunawan justru berusaha mengambil alih keadaan.
“Niken, dengarkan saya. Kamu tidak tahu masalah keluarga ini.”
“Aku tahu kalian mencoba membunuh suamiku.”
“Jaga bicaramu!”
“Kenapa? Takut terekam?”
Semua orang terdiam.
Niken mengangkat ponselnya sendiri.
Layar menunjukkan aplikasi perekam suara masih berjalan.
Diki langsung maju, tetapi Bram berteriak.
“Jangan!”
Tiba-tiba terdengar suara sirene dari luar rumah.
Rendra berlari menuju jendela.
Dua mobil polisi memasuki halaman.
Semua orang panik.
Gunawan menatap Niken.
“Kamu menghubungi polisi?”
Niken menggeleng.
“Aku bahkan belum sempat.”
Bram tersenyum lemah.
“Pak Surya.”
Beberapa menit kemudian, polisi masuk bersama seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berkacamata.
Pak Surya.
Pengacara Bram.
Ternyata ponsel yang disembunyikan Bram sudah diatur mengirim lokasi otomatis setiap kali diaktifkan setelah lebih dari tujuh hari mati.
Pak Surya juga telah menerima sebagian file sebelum mereka berhasil masuk ke kamar.
Tetapi kejutan terbesar belum berakhir.
Saat polisi memeriksa kamar, Siska akhirnya dikeluarkan dari kamar mandi.
Begitu melihat petugas, ia langsung menangis.
“Saya mau bicara.”
Widya menatapnya tajam.
“Jangan macam-macam.”
Siska gemetar.
“Saya tidak mau masuk penjara sendirian.”
Ia mengaku bukan perawat resmi.
Ia pernah bekerja sebagai asisten klinik dokter pribadi keluarga Adiningrat.
Semua catatan mengenai Niken telah dibuat berdasarkan instruksi Diki.
Bahkan kamera di kamar sengaja dipasang untuk mengumpulkan rekaman yang nantinya bisa dipotong sehingga terlihat seolah Niken berkali-kali memberikan obat tanpa pengawasan.
Yang paling mengejutkan adalah pengakuan Siska mengenai Widya.
Jus alpukat yang diminum Bram memang telah dicampur obat penenang dosis tinggi.
Tetapi Widya bukan orang yang mencampurnya.
Rendra yang melakukannya.
Widya mengetahuinya setelah kejadian.
Namun ia memilih diam.
“Kenapa?” Bram bertanya kepada ibunya beberapa hari kemudian saat pemeriksaan resmi dilakukan.
Widya hanya menangis.
“Karena kalau perusahaan hancur, semuanya akan hilang.”
Bram menatap ibunya lama.
“Jadi Ibu rela kehilangan anak?”
Widya tidak mampu menjawab.
Penyelidikan polisi kemudian menemukan bahwa Rendra dan Diki telah menggelapkan dana perusahaan selama bertahun-tahun.
Gunawan mengetahui sebagian tindakan mereka dan berusaha menutupinya dengan memakai aset serta identitas Bram.
Ketika Bram menolak memberikan dana dan mulai mengumpulkan bukti, mereka memutuskan menyingkirkannya.
Namun ada satu kenyataan yang bahkan tidak diketahui Bram.
Perusahaan keluarga Adiningrat sebenarnya tidak hancur karena utang.
Perusahaan itu hancur karena Rendra diam-diam memindahkan ratusan miliar rupiah ke rekening luar negeri.
Ia sudah menyiapkan jalan keluar untuk dirinya sendiri.
Gunawan, Widya, dan bahkan Diki ternyata hanya bagian dari rencana Rendra.
Saat ditangkap, Rendra membawa paspor, uang tunai, dan tiket penerbangan satu arah menuju negara yang tidak pernah dibicarakannya kepada keluarga.
Ia memang berniat meninggalkan mereka semua setelah kematian Bram.
Berbulan-bulan kemudian, Bram akhirnya mampu berjalan lagi meski masih menggunakan tongkat.
Ia menjual seluruh saham yang masih dimilikinya dalam bisnis keluarga dan menggunakan sebagian uangnya untuk memperbesar bengkel di Sidoarjo.
Suatu sore, ia berdiri bersama Niken di depan bangunan bengkel baru.
Puluhan karyawan bekerja di dalamnya.
Bram menatap papan nama perusahaan.
“Dulu aku pikir keluar dari bisnis keluarga berarti aku mengkhianati mereka.”
Niken menggenggam tangannya.
“Sekarang?”
Bram tersenyum.
“Sekarang aku tahu keluarga bukan soal siapa yang memiliki darah yang sama.”
Ia menoleh kepada Niken.
“Keluarga adalah orang yang tetap berdiri di sampingmu ketika semua orang lain sedang mencari keuntungan dari kejatuhanmu.”
Niken tersenyum kecil.
Bram lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Botol kapsul putih tanpa label.
Niken terkejut.
“Kamu masih menyimpannya?”
“Polisi mengembalikannya setelah selesai diperiksa.”
“Untuk apa?”
Bram berjalan menuju tong sampah di depan bengkel.
Ia menjatuhkan botol itu ke dalamnya.
“Supaya aku bisa membuangnya sendiri.”
Botol itu jatuh dengan bunyi kecil.
Bram menatapnya beberapa detik.
Kemudian ia menggenggam tangan Niken lebih erat dan berjalan pergi.
Bukan dari keluarganya.
Melainkan menuju kehidupan yang akhirnya benar-benar menjadi miliknya sendiri.
