“Halo, Bu Janda,” sapanya pelan dengan nada mengejek.
Maya tidak menjawab.
Tubuhnya masih setengah meringkuk di bawah ranjang, tetapi tangannya menggenggam ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Di layar, panggilan darurat sudah tersambung.
Ia hanya berharap petugas di ujung sana cukup mendengar apa yang sedang terjadi.
Siska menyipitkan mata.
“Kamu dari tadi di sini?”
Maya tetap diam.
Siska mengulurkan tangan hendak merebut ponselnya, tetapi Maya tiba-tiba menendang tulang kering perempuan itu sekuat tenaga.
Siska menjerit dan kehilangan keseimbangan.
Maya langsung merangkak keluar dari bawah ranjang.
“Apa yang kalian lakukan kepadaku?”
Suaranya pecah.
Siska mundur sambil memegangi kakinya.
Dari ponsel milik Siska, suara Danu terdengar panik.
“Siska? Ada apa?”
Maya membeku sesaat.
Kemudian ia menatap ponsel itu.
“Danu.”
Tidak ada jawaban.
“Danu!”
Maya berteriak begitu keras hingga tenggorokannya terasa sakit.
“Aku tahu kamu hidup!”
Siska buru-buru meraih ponselnya, tetapi Maya lebih cepat.
Ia menyambar perangkat itu dari atas meja.
Wajah Danu tidak muncul karena panggilan hanya berupa suara, tetapi napas laki-laki itu terdengar jelas.
Maya menempelkan ponsel ke telinganya.
“Delapan belas bulan.”
Suara Maya bergetar.
“Delapan belas bulan aku menangisi kamu. Aku tidur dengan bajumu. Aku meminta maaf pada abu orang lain setiap malam karena merasa menjadi istri yang gagal.”
Danu akhirnya bicara.
“Maya, dengarkan aku dulu.”
Kalimat itu membuat Maya tertawa.
Bukan karena lucu.
Tawa itu terdengar seperti seseorang yang sudah terlalu sakit hingga tidak mampu menangis lagi.
“Kamu masih berani menyuruhku mendengarkan?”
Dari depan rumah terdengar suara Bu Salma kembali berteriak.
“Maya! Kamu di dalam?”
Siska mendadak bergerak menuju pintu kamar.
Maya menghalanginya.
“Jangan pergi.”
“Minggir.”
“Polisi sedang datang.”
Wajah Siska berubah.
Untuk pertama kalinya, kesombongannya menghilang.
Ia melirik jendela, lalu pintu, menghitung jalan keluar.
Danu terdengar mengumpat dari telepon.
“Siska, keluar sekarang.”
“Bagaimana caranya? Perempuan tua itu ada di depan!”
“Lewat belakang.”
Maya menatap Siska.
“Coba saja.”
Siska tiba-tiba mendorong Maya dengan keras.
Tubuh Maya menghantam lemari.
Siska berlari menuju lorong.
Namun saat tiba di dapur, suara pintu servis yang dibanting terdengar.
Beberapa detik kemudian muncul jeritan.
“Lepaskan saya!”
Maya berlari keluar kamar.
Di halaman belakang, dua petugas keamanan kompleks sudah menahan Siska.
Ternyata Bu Salma, setelah melihat seorang perempuan asing masuk beberapa hari berturut-turut, diam-diam meminta satpam berjaga di jalan belakang.
“Saya sudah bilang orang ini mencurigakan,” kata Bu Salma yang muncul dari sisi rumah sambil terengah-engah.
Tak lama kemudian, suara sirene polisi terdengar memasuki kompleks.
Maya berdiri di ruang keluarga, masih menggenggam ponsel Siska.
Danu sudah memutuskan sambungan.
Tetapi terlambat.
Panggilan darurat Maya telah merekam sebagian percakapan.
Polisi membawa Siska ke kantor kepolisian.
Maya diminta ikut untuk memberikan keterangan.
Di dalam tas Siska ditemukan sertifikat asli rumah, polis asuransi jiwa atas nama Danu, beberapa dokumen perbankan, salinan kartu identitas Maya, serta sebuah flashdisk.
Saat petugas bertanya siapa Danu, Maya hanya mampu menjawab dengan suara lirih.
“Suami saya.”
Petugas membuka salah satu dokumen.
“Bukankah di sini tertulis beliau meninggal satu setengah tahun lalu?”
Maya menatapnya.
“Itulah masalahnya, Pak.”
Malam itu berubah menjadi malam terpanjang dalam hidup Maya.
Pemeriksaan berlangsung berjam-jam.
Siska awalnya menyangkal semuanya.

Ia mengaku hanya diminta mengambil dokumen oleh seseorang bernama Dani, bukan Danu.
Namun ketika polisi memeriksa ponselnya, ditemukan puluhan percakapan dengan nomor asing.
Foto.
Pesan suara.
Bukti transfer.
Bahkan foto Danu yang diambil hanya tiga minggu sebelumnya.
Dalam gambar tersebut, Danu tampak duduk di sebuah kafe di Batam.
Rambutnya sedikit lebih panjang.
Ia memelihara janggut tipis.
Namun wajah itu tidak mungkin salah.
Maya menatap foto tersebut lama.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini dia.”
Seorang penyidik bernama Pak Arief duduk di seberangnya.
“Ibu yakin?”
Maya mengangguk.
“Itu suami saya.”
Penyelidikan bergerak cepat.
Semakin banyak dokumen diperiksa, semakin jelas bahwa kematian Danu kemungkinan besar telah direkayasa.
Hal yang paling mengejutkan datang dari arsip rumah sakit.
Jenazah yang disebut sebagai Danu ternyata diidentifikasi hanya berdasarkan barang-barang pribadi dan kesaksian Rian.
Tes DNA tidak pernah dilakukan.
Tubuh korban kecelakaan memang terbakar parah.
Pada waktu hampir bersamaan, ada seorang laki-laki tanpa keluarga yang meninggal dalam kecelakaan tersebut.
Identitas korban itu tidak pernah benar-benar dipastikan.
Danu dan Rian memanfaatkan kekacauan administrasi.
Maya merasa seolah lantai di bawah kakinya runtuh.
“Rian juga tahu?”
Pak Arief menghela napas.
“Kami belum bisa menyimpulkan sebelum memeriksanya.”
Namun jawabannya datang lebih cepat dari dugaan.
Keesokan paginya, Rian menghilang dari rumahnya.
Nomornya tidak aktif.
Kantornya mengatakan ia mengambil cuti mendadak.
Maya mulai menyadari bahwa pengkhianatan itu jauh lebih besar daripada perselingkuhan biasa.
Polisi kemudian memeriksa flashdisk yang ditemukan di tas Siska.
Isinya membuat Maya hampir muntah.
Ada puluhan file suara miliknya.
Rekaman saat ia menangis.
Saat berdebat dengan Danu.
Saat meminta maaf.
Saat marah.
Termasuk rekaman lama saat ia berteriak, “Jangan kurung aku lagi!”
Lebih buruk lagi, terdapat beberapa file audio yang sudah diedit.
Suara Maya disusun menjadi kalimat-kalimat aneh.
“Aku melihat Danu.”
“Dia belum mati.”
“Ada orang di rumah.”
“Aku mendengar suara.”
Semuanya dibuat seolah Maya berbicara sendirian.
Pak Arief menatapnya serius.
“Mereka sepertinya sedang menyiapkan bukti bahwa Ibu mengalami gangguan psikologis.”
Maya menunduk.
Baru sekarang seluruh potongan teka-teki tersambung.
Siska masuk ke rumah ketika Maya bekerja.
Memutar rekaman cukup keras agar Bu Salma mendengarnya.
Jika Maya mulai mengadu tentang kejadian aneh, mereka akan menggunakan rekaman lain untuk membuat dirinya terlihat tidak stabil.
Lalu apa?
Pertanyaan itu terjawab lewat dokumen hukum lain.
Danu pernah membuat rancangan permohonan pengampuan terhadap Maya.
Dalam dokumen tersebut, ia menulis bahwa istrinya mengalami gangguan psikologis berat setelah kematian suaminya dan tidak lagi mampu mengelola aset.
Jika pengadilan menerima narasi itu, pengelolaan rumah dan beberapa aset investasi bisa dialihkan kepada anggota keluarga terdekat.
Nama yang dicantumkan sebagai pihak pengampu adalah Rian.
Maya menatap lembaran itu hingga matanya panas.
“Mereka mau mengambil semuanya.”
Pak Arief mengangguk.
“Sepertinya begitu.”
“Tapi kenapa Danu harus pura-pura mati?”
Penyidik menggeser sebuah dokumen asuransi.
Nominal yang tercantum membuat Maya terdiam.
Delapan miliar rupiah.
Danu memiliki polis asuransi jiwa dalam jumlah sangat besar.
Penerima manfaatnya adalah Maya.
Namun setelah kematiannya, pembayaran klaim tidak pernah benar-benar masuk ke rekening Maya karena prosesnya disebut masih bermasalah.
Ternyata dana tersebut telah dialihkan melalui serangkaian rekening menggunakan dokumen palsu.
Polisi menduga Danu merencanakan kematiannya sendiri untuk mendapatkan uang asuransi, menghapus jejak sejumlah utang bisnis, lalu menguasai kembali aset rumah tangga melalui Rian.
Siska bukan sekadar selingkuhan.
Ia mantan staf perusahaan asuransi yang membantu memanipulasi dokumen.
Maya merasa dirinya tidak pernah benar-benar mengenal laki-laki yang tinggal bersamanya selama enam tahun.
Tiga hari kemudian, polisi menemukan Rian di sebuah apartemen sewaan di Bekasi.
Ia menyerah tanpa perlawanan.
Dalam pemeriksaan, Rian akhirnya bicara.
“Mas Danu bilang semuanya cuma sementara.”
Maya yang diperbolehkan menyaksikan sebagian pemeriksaan dari ruang lain mengepalkan tangan.
“Dia bilang setelah urusan asuransi selesai, kami semua akan dapat bagian.”
Rian menangis.
“Aku cuma membantu identifikasi. Aku tidak tahu sampai sejauh ini.”
Namun bukti transfer mengatakan sebaliknya.
Rian menerima ratusan juta rupiah setelah kematian Danu.
Polisi lalu mengejar satu orang terakhir.
Danu.
Data perjalanan menunjukkan seseorang dengan identitas palsu beberapa kali berpindah antara Batam, Johor Bahru, dan Jakarta.
Dua minggu kemudian, kabar datang.
Danu ditangkap ketika berusaha naik kapal menuju Malaysia menggunakan paspor atas nama orang lain.
Saat polisi memberitahu Maya, ia tidak menangis.
Anehnya, yang ia rasakan justru hampa.
Pak Arief bertanya apakah Maya ingin bertemu Danu saat pemeriksaan.
Awalnya Maya ingin menolak.
Namun pada akhirnya ia datang.
Danu duduk di balik meja dengan tangan diborgol.
Wajahnya terlihat lebih tua dari yang Maya ingat.
Ketika Maya masuk, laki-laki itu menunduk.
“Maya.”
Maya duduk.
Tidak ada tangisan.
Tidak ada teriakan.
Hanya keheningan.
Danu mencoba tersenyum kecil.
“Aku tahu kamu marah.”
Maya menatapnya.
“Marah?”
Danu terdiam.
“Aku mengubur kamu.”
Suara Maya tenang.
“Aku berdiri di depan semua orang sambil memegang guci dan meminta maaf karena selama menikah aku sering membuat kamu kecewa.”
Danu menunduk.
“Aku tidak punya pilihan.”
Maya hampir tertawa.
“Selalu itu alasanmu.”
“Mereka mengejarku karena utang.”
“Lalu kamu menghancurkan hidupku supaya kamu bisa kabur?”
“Aku berniat kembali.”
“Sebagai apa?”
Danu tidak mampu menjawab.
Maya mendekat sedikit.
“Suami? Orang mati? Atau orang yang membuat istrinya dianggap gila supaya bisa mengambil rumahnya?”
Danu menghela napas panjang.
“Siska yang punya ide soal rekaman.”
Maya menggeleng perlahan.
“Bahkan sekarang kamu masih menyalahkan orang lain.”
Danu menatapnya.
Untuk pertama kalinya, matanya terlihat benar-benar takut.
“Maya, tolong jangan biarkan mereka menghukumku terlalu berat.”
Maya terdiam beberapa detik.
Kemudian ia berkata pelan.
“Ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”
Danu menelan ludah.
“Abu yang ada di rumahku milik siapa?”
Wajah Danu langsung berubah.
Itu pertanyaan yang belum pernah dibahas.
Danu menatap meja.
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tahu.”
“Maya…”
“Siapa orang yang aku doakan setiap malam selama delapan belas bulan?”
Danu akhirnya menjawab.
“Namanya Bagas.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
“Dia sopir truk.”
Maya tidak bergerak.
“Dia meninggal dalam kecelakaan yang sama. Tidak ada keluarga yang datang mencarinya. Aku dan Rian…”
Danu berhenti.
Maya menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, air mata jatuh di pipinya.
Bukan untuk Danu.
Untuk laki-laki asing bernama Bagas yang kematiannya bahkan dicuri untuk menutupi kejahatan orang lain.
Maya berdiri.
“Mulai hari ini, aku tidak akan pernah menangisi kamu lagi.”
Ia berjalan keluar tanpa menoleh.
Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.
Kasus Danu, Rian, dan Siska menjadi panjang karena melibatkan penipuan asuransi, pemalsuan identitas, pencurian dokumen, serta dugaan manipulasi administrasi kematian.
Maya menjual rumah itu.
Bukan karena takut.
Ia hanya tidak ingin tinggal di tempat yang setiap sudutnya dipenuhi kebohongan.
Sebelum pindah, Maya melakukan satu hal terakhir.
Dengan bantuan polisi, ia mencari informasi tentang Bagas.
Ternyata laki-laki itu berasal dari sebuah desa kecil di Cianjur.
Ia memiliki seorang kakak perempuan bernama Yuni yang selama hampir dua tahun percaya adiknya hilang setelah tidak pernah pulang dari pekerjaannya.
Maya mendatangi perempuan itu.
Ia membawa guci yang selama delapan belas bulan berada di ruang keluarganya.
Yuni menangis begitu melihatnya.
“Jadi selama ini dia sudah meninggal?”
Maya mengangguk.
“Maaf saya baru bisa mengembalikannya sekarang.”
Yuni memeluk guci itu erat-erat.
Maya menunduk.
“Saya juga minta maaf karena tanpa tahu apa-apa, saya memperlakukannya seperti suami saya sendiri.”
Yuni menghapus air mata.
“Tidak perlu minta maaf.”
Ia menatap Maya.
“Mungkin selama ini adik saya tidak sendirian karena ada seseorang yang selalu mendoakannya.”
Kalimat itu membuat Maya akhirnya menangis.
Bukan dengan rasa hancur seperti dulu.
Tetapi dengan perasaan bahwa sebuah kesalahan besar akhirnya mendapat sedikit keadilan.
Pada hari Maya meninggalkan rumah lamanya, Bu Salma berdiri di depan pagar.
Perempuan tua itu membawa kantong plastik berisi roti, persis seperti sore ketika semuanya dimulai.
“Mau ke mana setelah ini?”
“Ke apartemen kecil dekat tempat kerja, Bu.”
Bu Salma mengangguk.
“Bagus.”
Maya tersenyum.
“Kalau waktu itu Bu Salma tidak mendengar suara itu, mungkin saya masih hidup dalam kebohongan.”
Bu Salma tertawa kecil.
“Bukan telinga saya yang menyelamatkan kamu.”
Maya mengernyit.
“Lalu?”
Bu Salma menunjuk dada Maya.
“Kamu akhirnya memilih percaya pada keganjilan yang selama ini kamu coba abaikan.”
Maya menatap rumah itu untuk terakhir kalinya.
Rumah yang pernah ia pikir sebagai tempat paling aman.
Rumah yang pernah menyimpan pernikahan, pertengkaran, kesedihan, kematian palsu, dan rencana untuk menghancurkan kewarasannya.
Kemudian Maya menyerahkan kunci rumah kepada agen properti.
Saat berjalan menuju mobil, ponselnya berbunyi.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Maya membukanya.
Hanya ada satu kalimat.
Terima kasih karena sudah mengembalikan Bagas kepada keluarganya.
Maya berhenti.
Tidak ada nama pengirim.
Ia mencoba menelepon nomor tersebut.
Tidak aktif.
Ia mengira mungkin pesan itu dikirim oleh keluarga Bagas.
Namun malam harinya, Yuni menelepon.
Mereka berbicara beberapa menit.
Sebelum menutup telepon, Maya bertanya santai.
“Mbak Yuni tadi kirim pesan dari nomor lain?”
“Pesan apa?”
Maya terdiam.
“Tidak apa-apa.”
Setelah telepon berakhir, Maya membuka pesan itu sekali lagi.
Kemudian ia melihat detail waktunya.
Pesan dikirim pukul 10.17 pagi.
Pada jam yang sama, Maya masih berada di pemakaman Bagas bersama seluruh keluarganya.
Tidak seorang pun terlihat memegang ponsel.
Maya menatap layar cukup lama.
Lalu, untuk pertama kalinya, ia tidak merasa takut.
Ia hanya tersenyum tipis dan berbisik ke ruangan apartemennya yang sunyi.
“Semoga sekarang kamu benar-benar sudah pulang.”
Di luar jendela, hujan mulai turun perlahan di atas Bogor.
Dan sejak hari itu, tidak pernah ada lagi suara perempuan meminta tolong dari rumah lama Maya.
