“Berapa banyak uang yang dijanjikan paman saya kepada Anda untuk berpura-pura menjadi cucunya?”
Suara tajam itu terdengar jelas di tengah sebuah kantor cabang bank di Surabaya.
Suasana yang beberapa detik sebelumnya dipenuhi percakapan nasabah dan bunyi mesin antrean mendadak senyap.
Bahkan petugas keamanan yang sedang memeriksa ponselnya langsung mengangkat kepala.
Pak Hendra Wijaya, pria berusia 81 tahun, berdiri kaku sambil memeluk buku tabungan lamanya erat-erat di dada.
Di sampingnya berdiri Maya, perempuan berusia 26 tahun yang bekerja di sebuah toko buku kecil tak jauh dari sana.
Padahal, lima belas menit sebelumnya, Maya bahkan belum tahu siapa nama pria tua itu.
Semuanya bermula ketika petugas layanan nasabah bertanya kepada Hendra.
“Bapak datang sendiri? Tidak ada keluarga yang mendampingi?”
Hendra menoleh ke arah pintu masuk bank.
Kosong.
Tak ada seorang pun yang datang mencarinya.
Ia kemudian tersenyum tipis. Namun entah mengapa, senyum itu justru membuat wajahnya terlihat semakin kesepian.
“Tidak ada. Hari ini saya sendiri.”
Maya yang kebetulan berdiri tepat di belakang Hendra dalam antrean mendengar jawaban tersebut.
Entah kenapa, saat melihat bahu pria tua itu sedikit merosot, hatinya ikut terasa sesak.
Beberapa menit kemudian, Hendra tiba-tiba berbalik dan menghampirinya dengan raut canggung.
“Mbak… boleh saya minta bantuan?”
Maya sedikit terkejut.
“Bantuan apa, Pak?”
Hendra terdiam sesaat. Wajahnya menunjukkan keraguan, seolah ia malu mengucapkan permintaannya sendiri.
“Bisa tidak… Mbak berpura-pura menjadi cucu saya selama lima menit saja?”
Maya menatapnya bingung.
Hendra buru-buru menjelaskan.
“Saya tidak akan meminta apa-apa dari Mbak. Saya cuma… ingin ada seseorang yang berdiri di samping saya.”
Maya sempat ragu.
Namun tatapan Hendra sama sekali tidak menunjukkan niat buruk. Yang terlihat hanyalah kelelahan dan kesepian yang sepertinya sudah lama ia pendam.
Akhirnya Maya mengangguk.
“Baik, Pak.”
Hendra tidak menawarkan uang.
Ia juga tidak menanyakan nomor rekening, alamat, ataupun kehidupan pribadi Maya.
Maya hanya berdiri di sampingnya ketika Hendra meminta petugas bank memperbarui kartu ATM sekaligus memeriksa beberapa transaksi mencurigakan yang muncul di rekeningnya.
Maya mengira semuanya akan selesai begitu mereka meninggalkan bank.
Ternyata ia salah.
Baru saja mereka melewati pintu kaca, sebuah minibus hitam berhenti mendadak di tepi trotoar.

Pintunya terbuka.
Seorang perempuan paruh baya bernama Rina turun dengan langkah cepat.
Tak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar 30 tahun ikut turun. Namanya Rendy, putra Rina.
Begitu melihat Maya berdiri di samping Hendra, wajah Rina langsung berubah.
“Pantas saja Paman tidak menjawab telepon saya,” katanya sinis.
Tatapannya berpindah dari Hendra ke Maya.
“Rupanya sekarang Paman sudah menemukan orang asing untuk membantu menghabiskan harta Paman.”
Maya mengernyit.
“Maaf, Bu. Sepertinya Ibu salah paham. Saya tidak menginginkan apa pun dari Pak Hendra.”
Rina tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih seperti ejekan.
“Semua penipu juga bilang begitu pada awalnya.”
Maya hampir membalas, tetapi kemudian ia melihat perubahan pada Hendra.
Pria tua yang beberapa menit sebelumnya tampak sedikit lebih tenang kini kembali menundukkan kepala.
Kepercayaan diri yang baru saja muncul seolah menghilang dalam sekejap.
Rina lalu membuka map tebal yang dibawanya.
“Besok Paman harus menandatangani surat kuasa ini.”
Nada bicaranya bukan lagi seperti seseorang yang sedang meminta persetujuan.
Lebih terdengar seperti perintah.
“Mulai sekarang, biar kami yang mengurus semua rekening Paman. Rumah tua itu juga akan kami jual. Setelah semuanya selesai, kami akan mencarikan tempat perawatan yang lebih cocok.”
Hendra langsung mengangkat kepala.
Untuk pertama kalinya, suaranya terdengar tegas.
“Rumah saya tidak akan dijual.”
Rendy, yang sejak tadi hanya berdiri dengan tangan bersilang di dada, tertawa kecil.
“Paman, rumah sebesar itu mau dipakai buat apa?”
Ia memandang Hendra dari atas ke bawah.
“Paman tinggal sendirian. Mengurus diri sendiri saja sudah susah.”
Beberapa orang yang sedang berjalan di trotoar mulai memperlambat langkah. Perdebatan itu semakin menarik perhatian.
Saat itulah Hendra melakukan sesuatu yang tidak diduga siapa pun.
Tangannya tiba-tiba meraih tangan Maya.
Ia menggenggamnya erat.
“Dia cucu saya.”
Rina langsung terdiam.
Wajahnya menegang.
“Apa?”
Hendra menatapnya dan mengulang dengan suara lebih mantap.
“Dia cucu saya.”
Maya sendiri terkejut mendengarnya.
Namun ketika merasakan tangan Hendra gemetar dalam genggamannya, ia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa.
Ekspresi Rina berubah seketika.
Sikap seolah-olah peduli yang sejak tadi berusaha ia pertahankan lenyap.
Yang tersisa hanya kemarahan.
Ia melangkah mendekati Hendra.
“Silakan nikmati permainan kecil Paman hari ini.”
Suaranya rendah, tetapi terdengar jelas seperti ancaman.
“Besok saya akan datang ke rumah bersama dokter pribadi dan notaris.”
Wajah Hendra perlahan memucat.
Rina melanjutkan tanpa sedikit pun rasa iba.
“Kalau Paman tidak mau menandatangani surat ini baik-baik, kami akan membuktikan bahwa Paman sudah tidak mampu mengambil keputusan sendiri.”
Hendra menatapnya tak percaya.
“Kamu tidak mungkin melakukan itu, Rina.”
Rina justru tersenyum dingin.
“Kenapa tidak?”
Ia maju selangkah lagi.
“Begitu dokter menyatakan Paman sudah tidak kompeten mengurus diri sendiri, Paman tidak akan punya kendali lagi. Rumah, rekening bank, aset, bahkan tempat tinggal Paman nantinya bukan lagi keputusan Paman.”
Maya merasakan genggaman Hendra semakin erat.
Tangan pria tua itu gemetar hebat.
Namun kejutan sebenarnya baru muncul beberapa detik kemudian.
Saat Rina membuka mapnya lebih lebar, selembar dokumen terlihat di antara tumpukan surat.
Di bagian bawah dokumen itu terdapat tanda tangan.
Atas nama Hendra Wijaya.
Mata Hendra langsung membesar.
Ia menatap tanda tangan tersebut selama beberapa detik.
Kemudian wajahnya berubah pucat.
“Saya tidak pernah menandatangani surat itu!”
Ucapan Hendra membuat Rendy langsung bergerak.
Dengan cepat ia merebut dokumen tersebut dari tangan ibunya, memasukkannya kembali ke dalam map, lalu menutup tas dengan tergesa-gesa.
Gerakannya terlalu cepat.
Terlalu panik.
Dan Maya melihat semuanya.
Saat itulah ia sadar.
Ini bukan sekadar pertengkaran keluarga mengenai siapa yang harus merawat seorang pria tua.
Bukan pula perselisihan biasa tentang rumah atau warisan.
Ada sesuatu yang jauh lebih serius sedang terjadi.
Seseorang tampaknya sedang menyusun rencana untuk mengambil alih seluruh harta Hendra.
Dan yang lebih mengerikan, mereka mungkin sudah menyiapkan dokumen dengan tanda tangan yang tidak pernah dibuat oleh Hendra sendiri.
Maya menoleh ke arah pria tua yang masih berdiri gemetar di sampingnya.
Beberapa menit sebelumnya, pria itu hanya meminta satu pertolongan sederhana.
“Bisakah kamu berpura-pura menjadi cucuku selama lima menit?”
Maya mengira pertolongan itu akan berakhir begitu mereka keluar dari bank.
Namun ternyata, lima menit tersebut justru menyeretnya ke dalam sebuah rahasia keluarga yang jauh lebih kelam.
Dan beberapa jam kemudian, sebuah fakta mengejutkan tentang keluarga kandung Hendra akhirnya terbongkar.
Fakta yang membuat Maya mengerti mengapa pria tua itu lebih memilih menggenggam tangan seorang perempuan asing yang baru dikenalnya selama lima belas menit…
daripada mempercayai keluarganya sendiri.
