PULANG DARI LUAR KOTA UNTUK MEMBERI KEJUTAN KEPADA ISTRINYA, PRIA INI MALAH MENEMUKAN SANG ISTRI MENCUCI KUALI KOTOR, SEMENTARA KELUARGANYA BERPESTA MENGHAMBURKAN UANGNYA!

Rendra tidak langsung mengejar jawaban.

Ia hanya memandangi Maya yang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan masih basah, sementara suara musik dari ruang utama berdenyut samar di balik dinding.

“Baik,” katanya akhirnya. “Aku tidak akan memaksamu bicara sekarang.”

Maya mengangkat wajah. Ada kelegaan singkat di matanya, tetapi juga ketakutan yang belum pergi.

Rendra mengambil handuk kecil dari dekat bak cuci lalu mengeringkan tangan istrinya perlahan.

“Mulai malam ini, kamu tidak mencuci apa pun lagi.”

“Rendra…”

“Tidak ada perdebatan.”

Maya terdiam.

Rendra lalu membuka jasnya dan menyampirkannya ke bahu Maya.

“Ayo.”

“Mau ke mana?”

“Ke depan.”

Maya langsung menahan lengannya.

“Jangan.”

Suara itu terlalu cepat, terlalu panik.

Rendra menoleh.

“Kenapa?”

Maya menggigit bibir.

“Karena kalau kamu marah di depan mereka, semuanya akan jadi lebih buruk.”

“Lebih buruk untuk siapa?”

Pertanyaan itu membuat Maya membeku.

Rendra mulai memahami bahwa istrinya tidak takut dipermalukan.

Maya takut terhadap sesuatu yang mungkin dilakukan keluarganya.

Ia menatap pintu dapur beberapa detik, lalu mengubah keputusan.

“Baik. Kita tidak akan membuat keributan sekarang.”

Maya menatapnya tidak percaya.

Rendra mendekat dan berbisik, “Tapi malam ini juga kamu ikut aku keluar dari rumah ini.”

“Rendra…”

“Percayalah padaku sekali ini.”

Mata Maya kembali berkaca-kaca.

Ironisnya, kalimat itu adalah kalimat yang dahulu berkali-kali Maya ucapkan ketika Rendra hampir menyerah membangun usaha.

Kini Rendra mengembalikannya.

Beberapa menit kemudian, mereka keluar melalui garasi belakang.

Tidak ada seorang pun di ruang pesta yang menyadari bahwa pemilik rumah sudah pulang.

Siska sempat melihat dari ujung koridor, tetapi Rendra hanya memberinya satu tatapan dingin sebelum menutup pintu.

Di dalam mobil, Maya duduk tanpa bicara.

Rendra meminta sopir menuju apartemen pribadi miliknya di Kuningan yang jarang digunakan keluarga.

Sepanjang perjalanan, Rendra tidak menginterogasi Maya.

Ia membiarkan istrinya diam.

Namun di kepalanya, semuanya berputar.

Mengapa Maya menurut?

Mengapa ia tidak menelepon?

Mengapa ia takut Rendra mengetahui sesuatu?

Dan yang paling mengganggunya, sejak kapan semua ini berlangsung?

Setibanya di apartemen, Maya mandi dan berganti pakaian yang dibelikan staf pribadi Rendra dari toko terdekat.

Ketika keluar, ia menemukan Rendra duduk di meja makan dengan dua cangkir teh hangat.

Kotak beludru itu masih berada di samping tangannya.

Rendra mendorong salah satu cangkir ke arah Maya.

“Sekarang ceritakan.”

Maya tidak duduk.

Ia berdiri beberapa langkah dari meja.

“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”

“Mulai dari pertama kali mereka memperlakukanmu seperti pembantu.”

Maya menunduk.

“Sekitar delapan bulan lalu.”

Rendra terdiam.

Delapan bulan.

Hampir sama dengan lamanya ia terus-menerus berada di luar kota.

“Kenapa?”

“Awalnya tidak separah itu.”

Maya duduk perlahan.

“Ibu sering datang karena bilang kesepian. Lalu Siska mulai menginap. Fikri juga sering membawa teman-temannya. Aku tidak keberatan. Mereka keluargamu.”

“Lanjut.”

“Setelah beberapa minggu, Ibu mulai mengatur rumah. Katanya aku terlalu boros membayar pekerja rumah tangga.”

Rendra mengernyit.

“Boros?”

Maya tersenyum pahit.

“Lucu, ya?”

Rendra tidak tersenyum.

“Mereka memecat pegawai?”

“Sebagian.”

“Tanpa izinku?”

Maya mengangguk.

“Lalu pekerjaan rumah dibebankan kepadamu?”

“Awalnya aku bantu sedikit. Kemudian semuanya jadi kebiasaan.”

Rendra mengepalkan tangan di bawah meja.

“Kenapa kamu tidak melawan?”

Maya tidak menjawab.

Rendra menarik napas.

“Ini bukan cuma soal mereka menyuruhmu kerja, kan?”

Maya memejamkan mata.

Beberapa detik kemudian ia berkata, “Tiga bulan lalu, aku menemukan sesuatu.”

Rendra menatapnya tajam.

“Apa?”

Maya mengambil ponselnya.

Tangannya sedikit gemetar ketika membuka sebuah folder tersembunyi.

Di sana terdapat puluhan foto dokumen.

Rekening bank.

Bukti transfer.

Surat pinjaman.

Salinan tanda tangan.

Rendra mengambil ponsel itu.

Semakin lama ia melihat, wajahnya semakin dingin.

Ada transfer ratusan juta rupiah dari rekening perusahaan ke rekening pribadi Ibu Ratih.

Ada pembayaran mobil atas nama Siska.

Ada pelunasan utang perjudian daring milik Fikri.

Namun satu dokumen membuat Rendra berhenti bernapas sesaat.

Surat kuasa.

Atas namanya.

Dengan tanda tangannya.

Palsu.

“Dari mana kamu mendapatkan ini?”

“Dari meja kerja Ibu.”

“Kenapa ada surat kuasa palsu?”

Maya menatapnya.

“Mereka sedang mencoba menjaminkan salah satu restoranmu.”

Rendra berdiri.

“Apa?”

“Mereka butuh uang lebih banyak.”

“Untuk apa?”

Maya menggeleng.

“Aku tidak tahu semuanya. Tapi Fikri punya utang besar. Siska juga memakai kartu perusahaan untuk belanja. Ibu menutupinya.”

Rendra berjalan menjauh dari meja, lalu kembali.

“Dan mereka tahu kamu menemukan dokumen ini?”

Maya mengangguk.

“Inilah alasannya,” gumam Rendra.

Maya menahan air mata.

“Waktu mereka tahu aku memotret dokumen-dokumen itu, Ibu mengatakan kalau aku menceritakan semuanya kepadamu, mereka akan menghancurkan rumah tangga kita.”

Rendra tertawa pendek tanpa humor.

“Dengan cara apa?”

Maya tidak menjawab.

Rendra berhenti.

“Maya.”

“Ada rekaman.”

Rendra merasakan sesuatu jatuh di perutnya.

“Rekaman apa?”

Maya menutup wajah dengan kedua tangan.

“Mereka memasang kamera di kamar tamu.”

Rendra membeku.

Maya melanjutkan dengan suara pecah.

“Beberapa bulan lalu, waktu kamu di Makassar, mereka membuatku minum obat tidur karena katanya aku terlihat kelelahan. Ketika aku bangun, aku berada di kamar tamu dan ada seorang pria di sana.”

Rendra menatapnya.

Dunia seperti berhenti bergerak.

Maya buru-buru berkata, “Tidak terjadi apa-apa. Setidaknya aku yakin tidak terjadi apa-apa. Tapi mereka punya video yang sudah diedit seolah-olah aku tidur bersama pria itu.”

Rendra tidak bisa berkata-kata.

“Mereka mengancam akan mengirimkannya kepadamu,” lanjut Maya. “Ke media juga. Mereka bilang kamu akan menceraikanku sebelum mau mendengar penjelasan.”

Air mata Maya akhirnya jatuh deras.

“Aku takut.”

Rendra berdiri kaku cukup lama.

Kemudian ia bertanya satu hal.

“Siapa pria itu?”

Maya menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

Rendra mengambil ponselnya.

Ia menelepon seseorang.

“Arman.”

Suara di ujung sana menjawab cepat. Arman adalah kepala audit internal perusahaan, satu dari sedikit orang yang dipercaya Rendra sepenuhnya.

“Pak?”

“Bekukan semua akses finansial keluarga saya sekarang.”

Maya langsung menatapnya.

Rendra melanjutkan, “Semua kartu tambahan, akses rekening, otorisasi pembayaran, dan hak tanda tangan. Jangan beri tahu siapa pun dulu.”

“Baik, Pak.”

“Dan kirim tim audit ke kantor pusat malam ini.”

Rendra menutup telepon.

Kemudian ia menelepon pengacaranya.

Malam itu, sementara pesta di Pondok Indah masih berlangsung, semua sumber uang keluarga Salgado perlahan ditutup satu per satu.

Sekitar pukul sebelas, ponsel Rendra mulai bergetar tanpa henti.

Siska.

Fikri.

Ibunya.

Puluhan panggilan.

Rendra tidak menjawab satu pun.

Baru pada pukul dua belas lewat sedikit ia menerima panggilan dari Ibu Ratih.

“Akhirnya kamu angkat!” suara perempuan itu meledak. “Kenapa semua kartu kami tidak bisa dipakai?”

Rendra berkata datar, “Besok pagi datang ke rumah.”

“Kamu di mana?”

“Besok. Jam sembilan.”

“Rendra, kamu tidak bisa—”

Rendra menutup telepon.

Keesokan paginya, rumah di Pondok Indah terasa seperti tempat berbeda.

Tidak ada musik.

Tidak ada katering.

Tidak ada tamu.

Hanya Ibu Ratih, Siska, dan Fikri duduk di ruang keluarga dengan wajah tegang.

Ketika Rendra masuk bersama Maya, ketiganya langsung berdiri.

Ibu Ratih menunjuk Maya.

“Kamu yang menghasut dia, ya?”

“Duduk.”

Suara Rendra begitu tenang sehingga justru terasa lebih menakutkan.

“Rendra—”

“Duduk, Bu.”

Ratih akhirnya duduk.

Rendra meletakkan beberapa dokumen di meja.

“Aku ingin kalian menjelaskan semuanya.”

Fikri tertawa kecil.

“Menjelaskan apa?”

Rendra mendorong bukti transfer ke arahnya.

Fikri langsung diam.

Siska mencoba membela diri.

“Kak, kita kan keluarga. Selama ini Kakak juga tidak pernah bilang kami tidak boleh—”

“Aku memberi uang bulanan.”

Rendra memotong.

“Bukan izin mencuri.”

Ibu Ratih menatapnya marah.

“Jangan pakai kata mencuri kepada ibumu sendiri.”

Rendra mengeluarkan salinan surat kuasa palsu.

“Kalau begitu, kita sebut ini apa?”

Wajah Ratih berubah.

Siska menunduk.

Fikri mulai berkeringat.

Rendra lalu mengeluarkan satu berkas lain.

“Dan siapa yang membuat video palsu tentang Maya?”

Ruangan langsung hening.

Tidak ada yang menjawab.

Rendra menatap mereka satu per satu.

“Siapa?”

Fikri akhirnya berkata, “Kita cuma mau bikin dia takut.”

Maya menatapnya tidak percaya.

Rendra perlahan berdiri.

“Jadi kamu mengaku?”

Fikri baru sadar telah terjebak.

“Bukan begitu maksudku.”

Namun sudah terlambat.

Dari ruang kerja di sebelah, dua orang pengacara Rendra keluar bersama seorang penyidik kepolisian yang sejak tadi mendengarkan.

Siska langsung pucat.

Ibu Ratih berdiri.

“Kamu membawa polisi ke rumah keluarga sendiri?”

Rendra menatap ibunya.

“Rumah keluarga?”

Ia tertawa getir.

“Rumah ini dibeli dari hasil kerja saya dan pengorbanan Maya.”

Ratih menunjuk Maya dengan tangan gemetar.

“Sejak perempuan itu masuk, kamu berubah.”

Kalimat itu membuat Rendra berhenti.

“Perempuan itu?”

Rendra menoleh pada Maya, lalu kembali memandang ibunya.

“Ketika aku tidak punya uang makan, perempuan itu yang bekerja tambahan.”

Ratih diam.

“Ketika bank menolak pinjamanku, perempuan itu menjual gelang peninggalan ibunya.”

Rendra melangkah mendekat.

“Ketika kalian bilang usahaku akan gagal, perempuan itu yang tetap percaya.”

Suara Rendra semakin rendah.

“Dan ketika akhirnya aku berhasil, kalian menikmati semuanya sambil menjadikannya pembantu di rumahnya sendiri.”

Tidak ada seorang pun mampu menatapnya.

Namun tiba-tiba Siska berkata, “Kak, kami memang salah. Tapi Maya juga tidak sepenuhnya jujur.”

Maya memucat.

Rendra menoleh.

“Apa maksudmu?”

Siska menatap Maya.

“Kamu belum kasih tahu soal uang itu, kan?”

Rendra mengernyit.

“Uang apa?”

Maya berdiri.

“Siska, jangan.”

Siska tertawa gugup.

“Kenapa? Bukankah sekarang semuanya harus jujur?”

Ia menatap Rendra.

“Tiga tahun lalu, ketika restoran Kakak hampir bangkrut karena proyek cabang baru gagal, ada seseorang yang memasukkan dua miliar rupiah ke perusahaan.”

Rendra terdiam.

Ia mengenal cerita itu.

Tiga tahun lalu, bisnisnya memang nyaris runtuh karena pembangunan lima cabang serentak.

Seorang investor anonim memberikan pinjaman tanpa bunga.

Rendra berusaha mencari identitasnya, tetapi tak pernah berhasil.

“Apa hubungannya dengan Maya?”

Siska tersenyum tipis.

“Uang itu milik Maya.”

Rendra menoleh begitu cepat hingga Maya menundukkan kepala.

“Apa?”

Maya terlihat hampir menangis lagi.

Rendra menghampirinya.

“Dari mana kamu punya dua miliar?”

Maya menghela napas.

“Aku menjual tanah peninggalan ayahku di Malang.”

Rendra merasa tenggorokannya tercekat.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena kalau kamu tahu, kamu tidak akan menerimanya.”

“Itu seluruh warisanmu.”

Maya mengangguk.

“Kamu mempertaruhkan semuanya.”

“Kita yang mempertaruhkan semuanya.”

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Rendra menatap istrinya lama.

Semua kekayaan yang selama ini ia banggakan tiba-tiba terasa berbeda.

Ia selama ini mengira Maya hanya menemani perjalanan bisnisnya.

Ternyata dalam salah satu masa tergelap hidupnya, perempuan itu diam-diam menjadi alasan usahanya tetap berdiri.

Siska berkata pelan, “Jadi jangan anggap Maya korban sepenuhnya. Dia juga menyembunyikan sesuatu.”

Rendra menatapnya dingin.

“Dia menyembunyikan pengorbanan.”

Kemudian ia menunjuk dokumen di meja.

“Kalian menyembunyikan kejahatan.”

Tak ada lagi yang bisa dibantah.

Penyidikan berjalan cepat setelah itu.

Rekaman asli ditemukan di laptop Fikri.

Polisi memastikan Maya memang tidak pernah melakukan hubungan apa pun dengan pria dalam video tersebut. Pria itu ternyata kenalan Fikri yang dibayar untuk berbaring di kamar beberapa menit setelah Maya diberi obat penenang.

Surat kuasa palsu juga terbukti dibuat menggunakan hasil pemindaian tanda tangan Rendra dari dokumen perusahaan.

Fikri akhirnya menghadapi proses pidana atas pemalsuan, pemerasan, dan penyalahgunaan data pribadi.

Siska ikut diperiksa atas transaksi perusahaan yang dilakukannya tanpa izin.

Ibu Ratih tidak dipenjara, tetapi Rendra mencabut seluruh akses finansialnya dan memindahkannya ke rumah yang jauh lebih sederhana.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, mereka harus hidup dari uang mereka sendiri.

Namun keputusan paling mengejutkan justru dibuat Rendra beberapa minggu kemudian.

Ia menjual rumah mewah di Pondok Indah.

Maya terkejut ketika mendengarnya.

“Kenapa?”

Rendra memandang rumah besar itu untuk terakhir kali.

“Karena aku tidak mau kamu tinggal di tempat yang mengingatkanmu bahwa kamu pernah diperlakukan seperti orang asing.”

Mereka pindah ke rumah yang lebih kecil di pinggiran Jakarta Selatan.

Masih nyaman, tetapi jauh dari kemewahan berlebihan.

Rendra juga mengurangi perjalanan bisnis.

Ia menunjuk direktur operasional baru dan mulai pulang makan malam hampir setiap hari.

Suatu malam, mereka duduk di dapur sambil makan nasi goreng buatan Maya.

Tidak ada staf.

Tidak ada meja marmer besar.

Hanya mereka berdua.

Rendra tiba-tiba mengeluarkan kotak beludru yang selama ini ia simpan.

Maya tertawa kecil.

“Masih ada?”

“Masih.”

Rendra membuka kotak itu.

Kalung berlian berkilau di bawah lampu dapur.

Namun Maya hanya memandangnya beberapa detik.

Kemudian ia menutup kotak tersebut.

“Aku tidak butuh ini.”

Rendra tersenyum.

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa masih mau kasih?”

Rendra berpikir sejenak.

“Karena dulu aku kira kalau aku punya banyak uang, aku bisa memberikanmu hidup yang lebih baik.”

Maya menatapnya.

Rendra menggenggam tangannya.

“Ternyata aku terlalu sibuk membangun rumah besar sampai lupa memastikan orang paling penting di dalamnya merasa aman.”

Maya tidak berkata apa-apa.

Ia hanya menggenggam tangan Rendra lebih erat.

Beberapa bulan kemudian, Rendra membuat satu perubahan terakhir dalam struktur perusahaannya.

Ia memanggil Maya ke kantor notaris.

Di atas meja terdapat dokumen kepemilikan grup restoran.

Maya membaca beberapa baris, lalu mengangkat wajah.

“Ini apa?”

“Empat puluh persen saham perusahaan.”

Mata Maya membesar.

“Rendra, jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Aku tidak mau.”

“Ini bukan hadiah.”

Rendra mendorong sebuah dokumen lama ke arahnya.

Dokumen tentang suntikan dana dua miliar tiga tahun sebelumnya.

“Ini pengakuan terhadap sesuatu yang seharusnya sudah aku akui sejak dulu.”

Maya terdiam.

Rendra tersenyum.

“Perusahaan itu tidak pernah sepenuhnya milikku.”

Ia menunjuk Maya.

“Sebagian dari semuanya selalu milikmu.”

Maya akhirnya menangis.

Bukan karena nilai saham itu.

Bukan pula karena rumah atau berlian.

Tetapi karena setelah bertahun-tahun, seseorang akhirnya memahami bahwa kesetiaan bukan berarti diam menerima perlakuan buruk, dan cinta bukan sekadar tinggal bersama ketika keadaan sulit.

Cinta juga berarti berdiri di samping seseorang ketika keadaan sudah menjadi mudah, ketika uang sudah banyak, ketika pilihan semakin luas, dan tetap mengingat siapa yang pernah menggenggam tangan kita saat dunia belum memberikan apa-apa.

Rendra membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memahami itu.

Dan anehnya, semua bermula dari satu kepulangan tanpa pemberitahuan.

Satu pesta mewah.

Satu dapur pengap.

Dan sebuah kuali kotor yang akhirnya membuka rahasia seluruh keluarganya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang