SUAMI PULANG SETELAH 3 TAHUN MEMBAWA SELINGKUHAN, SEORANG BAYI, DAN 5 KOPER MEWAH… TAPI DIA TAK TAHU SIAPA YANG SUDAH MENUNGGUNYA SELAMA 100 HARI DI RUMAH!

Rendy masih terduduk di lantai ketika suara jam dinding terdengar berdetak dari ruang tengah.

Tik.

Tik.

Tik.

Suara itu terasa jauh lebih keras daripada biasanya.

Siska berdiri beberapa langkah di belakangnya. Bayi yang semula tertidur mulai menggeliat dalam pelukannya, tetapi perempuan itu tidak berani mengatakan apa-apa.

Rendy menatap foto ibunya dengan napas tersengal.

“Kapan?” tanyanya akhirnya.

“Seratus hari lalu,” jawab Maya.

“Kenapa kamu nggak bilang?”

Maya menoleh perlahan.

“Aku bilang.”

Rendy mengangkat wajah.

“Apa?”

“Aku meneleponmu dua puluh tiga kali dalam tiga hari. Aku kirim pesan. Aku kirim surel. Aku bahkan menghubungi kantor tempat kamu bilang kamu bekerja di Singapura.”

Rendy terdiam.

Maya mengambil ponselnya, membuka sebuah folder, lalu meletakkannya di meja.

Di layar tampak puluhan pesan yang belum pernah dibaca.

Rendy, Mama masuk ICU.

Dokter bilang kondisinya kritis.

Tolong telepon.

Mama terus menyebut namamu.

Rendy, tolong.

Mama mungkin tidak punya banyak waktu.

Pesan terakhir dikirim pukul 02.17 dini hari.

Mama meninggal pukul 01.42. Aku tetap menelepon karena aku tidak tahu bagaimana caranya mengatakan bahwa beliau sudah pergi.

Rendy menatap layar itu tanpa berkedip.

“Aku… ganti nomor.”

“Kamu mengganti nomor tanpa memberitahu istrimu?”

Rendy tidak menjawab.

Maya tersenyum pahit.

“Aku akhirnya tahu nomor barumu dari kantor Singapura. Tapi mereka bilang kamu sudah mengundurkan diri sebelas bulan sebelumnya.”

Siska langsung menoleh kepada Rendy.

“Apa maksudnya?”

Rendy berdiri tergesa-gesa.

“Bukan waktunya membahas itu.”

“Justru sekarang waktunya,” kata Maya.

Nada suaranya tetap datar, tetapi ada ketegasan yang membuat Rendy berhenti.

“Selama tiga tahun kamu mengatakan sedang membangun karier di Singapura. Padahal setelah satu tahun, kamu sudah keluar dari perusahaan. Setelah itu kamu tinggal bersama Siska.”

Siska mengerutkan kening.

“Kamu bilang kalian sudah berpisah sejak sebelum kamu pindah.”

Maya memandangnya.

“Kami tidak pernah berpisah.”

Wajah Siska berubah.

“Kamu bilang dia nggak mau ikut ke Singapura. Kamu bilang pernikahan kalian cuma tinggal di atas kertas.”

Rendy mendesis.

“Siska, cukup.”

Namun Siska tidak berhenti.

“Kamu bilang dia bahkan punya laki-laki lain.”

Ruangan itu mendadak hening.

Maya tidak terlihat terkejut. Justru Rendy yang kini tampak pucat.

Maya mengambil sebuah amplop besar dari laci meja.

“Aku sudah menduga akan ada banyak kebohongan yang terbuka malam ini.”

Dia menyerahkan amplop itu kepada Rendy.

“Apa ini?”

“Buka.”

Rendy merobek ujung amplop.

Di dalamnya ada salinan rekam medis Bu Farida, bukti pembayaran rumah sakit, kuitansi cuci darah, tagihan obat, surat pinjaman bank, serta bukti penjualan mobil milik Maya.

Tangan Rendy bergetar ketika membalik halaman demi halaman.

Angka-angka di sana sangat besar.

Lebih dari enam ratus juta rupiah.

“Semua ini… kamu bayar?”

“Sebagian dari tabunganku. Sebagian dari hasil kerjaku. Sebagian pinjaman.”

Rendy menatapnya tidak percaya.

“Mama punya asuransi.”

“Asuransinya dihentikan karena kamu tidak membayar premi selama sembilan bulan.”

Rendy terdiam.

“Dan uang yang kamu kirim?”

Maya tertawa pendek.

“Uang apa?”

“Aku transfer setiap bulan.”

“Tidak.”

“Aku punya bukti.”

“Bagus. Tunjukkan.”

Rendy buru-buru mengeluarkan ponselnya.

Jarinya bergerak membuka aplikasi perbankan.

Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.

Dia menggulir layar berulang kali.

“Ini nggak mungkin.”

Siska mulai gelisah.

“Ada apa?”

Rendy tidak menjawab.

Maya memandang Siska.

“Mungkin kamu yang bisa menjelaskan.”

Siska mengerutkan kening.

“Menjelaskan apa?”

“Rekening tujuan transfernya.”

Rendy menoleh tajam kepada Siska.

Selama hampir dua tahun, setiap bulan Rendy memang melakukan transfer dengan catatan kebutuhan rumah.

Namun rekening tujuan yang tersimpan di aplikasi perbankannya bukanlah milik Maya.

Nama pemilik rekening itu adalah Siska Amelia.

Wajah Siska langsung pucat.

“Kamu bilang uang itu untuk tabungan kita.”

Rendy membentak.

“Aku bilang teruskan sebagian ke Maya!”

“Tidak pernah!”

“Kamu bohong!”

“Kamu sendiri yang bilang jangan kirim uang ke dia karena kamu sedang menyiapkan perceraian!”

Suara mereka mulai meninggi.

Bayi dalam pelukan Siska menangis.

Maya berdiri tanpa bergerak.

Aneh sekali.

Dulu dia membayangkan hari ketika kebohongan Rendy terbongkar akan membuatnya merasa puas.

Ternyata tidak.

Yang dia rasakan hanya lelah.

Sangat lelah.

“Sudah,” katanya.

Rendy dan Siska berhenti bertengkar.

“Bu Farida sudah meninggal. Tidak ada gunanya mencari siapa yang paling banyak berbohong.”

Rendy menatap foto ibunya.

Matanya memerah.

“Mama… sempat bilang sesuatu tentang aku?”

Pertanyaan itu terdengar seperti suara seorang anak kecil.

Maya menarik napas.

“Ya.”

Rendy langsung menoleh.

“Apa?”

Maya berjalan ke lemari kayu di samping ruang makan dan mengambil sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lama.

“Dua hari sebelum meninggal, beliau meminta aku merekam sesuatu.”

Maya menyalakan ponsel itu.

Sebuah video muncul.

Bu Farida terbaring di ranjang rumah sakit. Tubuhnya tampak kurus, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang di hidungnya.

Rendy membeku.

Suara Bu Farida terdengar lemah.

“Rendy, kalau kamu melihat video ini, mungkin Mama sudah tidak ada.”

Rendy menutup mulutnya.

“Mama marah sama kamu. Sangat marah. Tapi Mama tetap ibu kamu. Jadi sebelum pergi, Mama cuma mau bilang satu hal.”

Bu Farida terbatuk cukup lama.

Maya dalam video terlihat membantu membetulkan selimutnya.

Kemudian perempuan tua itu melanjutkan.

“Jangan pulang hanya ketika kamu membutuhkan rumah. Jangan mencari keluarga hanya ketika dunia di luar tidak lagi menerima kamu.”

Rendy perlahan menangis.

“Maya sudah menjaga Mama lebih dari anak kandung Mama sendiri. Kalau nanti kamu menyakitinya, jangan pernah gunakan nama Mama untuk meminta dia memaafkanmu.”

Video berhenti.

Rendy menunduk.

Air matanya jatuh ke lantai.

Siska berdiri kaku dengan bayi dalam pelukan.

Namun Maya belum selesai.

“Ada satu hal lagi.”

Rendy mengangkat kepala.

“Tiga bulan sebelum meninggal, Mama mengubah surat wasiat.”

Rendy seketika membeku.

Siska pun menatap Maya.

Rumah di Tebet itu merupakan aset keluarga yang nilainya telah melonjak berkali-kali lipat. Tanahnya luas, berada di kawasan strategis, dan selama bertahun-tahun Rendy selalu menganggap rumah tersebut kelak otomatis menjadi miliknya.

“Apa maksudmu?” tanyanya.

Maya mengambil map lain.

“Bu Farida memanggil notaris sendiri.”

Rendy merampas dokumen itu.

Matanya bergerak cepat membaca halaman pertama.

Kemudian kedua.

Ketiga.

Wajahnya semakin pucat.

“Aku… tidak dapat rumah ini?”

“Tidak.”

“Ini rumah keluarga.”

“Betul.”

“Aku anak tunggal Mama!”

“Betul.”

“Jadi siapa yang dapat?”

Maya tidak menjawab.

Rendy membalik ke halaman terakhir.

Di sana tertulis jelas bahwa rumah beserta sebagian besar aset keuangan Bu Farida diwariskan kepada sebuah yayasan baru bernama Yayasan Farida Harapan.

Yayasan tersebut didirikan untuk membantu biaya perawatan pasien lanjut usia yang hidup tanpa dukungan keluarga.

Rendy menatap dokumen itu seperti orang yang baru saja kehilangan pijakan.

“Ini gila.”

“Mama yang memilih.”

“Siapa pengurus yayasannya?”

Maya menunjuk bagian bawah halaman.

Rendy membacanya.

Nama Maya tercantum sebagai ketua yayasan selama lima tahun pertama.

Rendy tertawa tanpa humor.

“Hebat. Jadi akhirnya semuanya jatuh ke tanganmu juga.”

Maya tidak tersinggung.

“Rumah ini bukan milikku.”

“Kamu mengontrol yayasannya.”

“Aku tidak bisa menjualnya untuk kepentingan pribadi. Tidak bisa menggadaikannya. Tidak bisa mengambil satu rupiah pun dari aset yayasan.”

Rendy meremas dokumen itu.

“Pasti kamu mempengaruhi Mama.”

Maya menatapnya lama.

Kemudian dia mengambil tablet dari meja dan membuka satu rekaman lagi.

Kali ini terlihat Bu Farida duduk di hadapan notaris.

Suara notaris terdengar jelas menanyakan apakah keputusan tersebut dibuat tanpa tekanan.

Bu Farida menjawab tegas.

“Saya sadar. Saya tahu apa yang saya lakukan.”

Kemudian beliau berkata sesuatu yang membuat Rendy benar-benar terdiam.

“Anak saya selalu yakin rumah ini akan menunggu dia. Karena itulah dia merasa bebas meninggalkan semuanya. Saya ingin rumah ini berhenti menjadi hadiah untuk orang yang tidak pernah pulang.”

Rendy jatuh terduduk lagi.

Siska tampak semakin gelisah.

“Rendy,” katanya perlahan, “jadi kita akan tinggal di mana?”

Pertanyaan itu membuat Maya menatapnya.

Rendy juga menoleh.

Siska tampak menyadari kesalahannya, tetapi sudah terlambat.

“Kamu bilang rumah ini nanti dijual,” lanjut Siska. “Kamu bilang uangnya cukup untuk melunasi utang kita.”

Maya mengernyit.

“Utang?”

Rendy langsung berdiri.

“Tidak ada apa-apa.”

Namun Siska sudah terlanjur panik.

“Bagaimana tidak ada? Apartemen di Singapura belum lunas. Kartu kredit kamu juga…”

“Diam!”

Tangisan bayi semakin keras.

Siska membalas dengan suara bergetar.

“Jangan bentak aku! Semua tabunganku juga sudah habis!”

Maya akhirnya memahami sesuatu.

Lima koper mewah.

Tas desainer.

Pakaian mahal.

Semua yang terlihat seperti simbol kesuksesan ternyata hanyalah lapisan tipis yang menutupi kehancuran.

Rendy bukan pulang karena berhasil.

Dia pulang karena tidak punya pilihan.

“Apa yang terjadi di Singapura?” tanya Maya.

Rendy terdiam.

Siska menjawab.

“Bisnisnya gagal.”

Rendy memejamkan mata.

“Dia investasi di sebuah perusahaan perdagangan,” lanjut Siska. “Awalnya untung besar. Lalu dia pinjam uang untuk menambah modal. Semuanya hilang enam bulan lalu.”

“Cukup, Siska.”

“Kenapa cukup? Kamu bilang kita pulang ke Jakarta karena kamu punya rumah dan warisan!”

Maya menatap Rendy.

Kini semuanya jelas.

Rendy pulang bukan untuk memperkenalkan keluarga barunya.

Dia pulang untuk mendapatkan aset.

Surat cerai yang dibawanya bukan sekadar penutup pernikahan.

Itu bagian dari rencana agar Maya keluar dari rumah tanpa menuntut apa pun.

Maya mengambil cek Rp200 juta yang tadi disodorkan Rendy di bandara.

Dia meletakkannya di meja.

“Cek ini bisa dicairkan?”

Rendy diam.

Siska tertawa getir.

“Rekeningnya bahkan hampir kosong.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Maya benar-benar tersenyum.

Bukan karena senang melihat kehancuran Rendy.

Melainkan karena akhirnya dia memahami bahwa selama tiga tahun dia telah menyiksa dirinya sendiri dengan pertanyaan yang salah.

Mengapa aku tidak cukup baginya?

Ternyata persoalannya tidak pernah tentang dirinya.

Rendy hanya selalu mencari tempat yang bisa memberinya keuntungan paling besar.

Ketika Maya memberinya kenyamanan, dia tinggal.

Ketika Singapura menawarkan kesempatan, dia pergi.

Ketika Siska menawarkan kehidupan baru, dia memilih Siska.

Dan ketika semuanya runtuh, dia kembali ke rumah ibunya.

Rendy mendekati Maya.

“Maya.”

“Jangan.”

“Aku tahu aku salah.”

“Kamu bahkan belum selesai mengetahui semua akibat dari kesalahanmu.”

“Aku bisa memperbaikinya.”

“Tidak.”

“Maya, tiga tahun memang lama. Tapi kita pernah punya kehidupan bersama.”

“Kita pernah punya pernikahan,” jawab Maya. “Yang menjaga kehidupan itu hanya aku.”

Rendy terdiam.

Maya mengambil surat cerai dari tasnya.

“Kamu tadi ingin aku menandatangani tanpa drama.”

Dia meletakkan pulpen di atas meja.

“Aku sudah tanda tangan. Sekarang giliranmu.”

Rendy menatap surat itu.

Lalu memandang foto ibunya.

Kemudian memandang Maya.

“Mama pasti nggak mau kita bercerai.”

Maya menggeleng.

“Kamu dengar sendiri pesan beliau. Jangan gunakan nama Mama untuk meminta aku memaafkanmu.”

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada bentakan.

Rendy akhirnya mengambil pulpen.

Tangannya gemetar.

Dia menandatangani halaman terakhir.

Saat tinta menyentuh kertas, sesuatu dalam diri Maya terasa berakhir.

Bukan pernikahannya.

Pernikahan itu sebenarnya sudah berakhir jauh sebelum malam tersebut.

Yang berakhir adalah penantiannya.

Seratus hari setelah kematian Bu Farida, dan tiga tahun setelah kepergian Rendy, Maya akhirnya berhenti menunggu.

Siska menarik salah satu koper menuju pintu.

“Ayo,” katanya dingin kepada Rendy.

Rendy tidak bergerak.

“Kita pergi ke mana?”

Siska tertawa getir.

“Jangan tanya aku. Aku juga baru tahu setengah hidupmu ternyata bohong.”

Dia keluar membawa bayi dan satu koper.

Empat koper lain tetap berjajar di ruang tamu.

Rendy berdiri sendirian.

“Maya… boleh aku tinggal satu malam?”

Maya memandangnya.

Dulu, mendengar permintaan seperti itu mungkin akan menghancurkan hatinya.

Sekarang tidak.

“Tidak.”

“Ini rumah Mama.”

“Sekarang rumah ini milik yayasan.”

“Aku anaknya.”

“Dan beliau sudah menentukan keputusan terakhirnya.”

Rendy menelan ludah.

Maya membuka pintu.

“Hotel masih banyak.”

Beberapa detik kemudian, Rendy berjalan keluar dengan langkah berat, menarik dua koper sekaligus.

Saat hendak melewati pintu, dia berhenti.

“Maya.”

Maya menatapnya.

“Apakah Mama… pergi dengan marah kepadaku?”

Pertanyaan itu membuat Maya terdiam cukup lama.

Akhirnya dia menjawab.

“Tidak.”

Rendy terlihat terkejut.

“Di malam terakhirnya, beliau melihat pintu kamar berkali-kali.”

Mata Rendy kembali memerah.

“Beliau masih berharap kamu datang.”

Rendy menutup mata.

“Tapi beberapa menit sebelum meninggal, beliau berhenti melihat pintu.”

“Kenapa?”

Maya menatap foto Bu Farida.

“Karena beliau akhirnya sadar ada orang yang sudah berada di sampingnya sejak awal.”

Rendy tidak mampu menjawab.

Dia keluar.

Pintu perlahan tertutup.

Enam bulan kemudian, rumah di Tebet berubah.

Kamar Bu Farida tidak pernah menjadi kamar bayi berwarna krem.

Ruangan itu diubah menjadi ruang konsultasi gratis bagi keluarga pasien lanjut usia.

Ruang tamu yang dulu menjadi tempat peringatan seratus hari kini dipenuhi meja kerja, rak obat, dan relawan.

Yayasan Farida Harapan membantu puluhan keluarga membayar transportasi ke rumah sakit, biaya pemeriksaan, serta pendampingan pasien yang tinggal sendirian.

Maya kembali bekerja sebagai desainer.

Namun kali ini dia membuka studio kecil miliknya sendiri.

Pinjaman bank perlahan lunas.

Hidupnya tidak tiba-tiba sempurna, tetapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, hidup itu benar-benar miliknya.

Tentang Rendy, Maya hanya mendengar kabar sekali.

Siska meninggalkannya setelah mengetahui sebagian besar utangnya jauh lebih besar daripada yang dia akui.

Belakangan tes DNA yang dilakukan atas desakan keluarga Siska juga mengungkap kenyataan lain.

Bayi laki-laki yang selama ini dibanggakan Rendy bukan anak biologisnya.

Ketika kabar itu sampai kepada Maya melalui seorang kenalan lama, Maya tidak tertawa.

Tidak pula merasa puas.

Dia hanya menutup pesan tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.

Karena pada akhirnya, hukuman terbesar Rendy bukan kehilangan warisan, bukan kehilangan Siska, dan bukan mengetahui bahwa bayi itu bukan darah dagingnya.

Hukuman terbesarnya adalah menyadari bahwa ketika dia sibuk mengejar kehidupan yang tampak lebih mewah, dua perempuan yang benar-benar menganggapnya keluarga perlahan belajar hidup tanpa dirinya.

Salah satunya meninggal sambil menunggu.

Yang satunya akhirnya berhenti menunggu.

Dan ketika Rendy akhirnya pulang, rumah yang selama ini dia anggap akan selalu terbuka untuknya ternyata masih berdiri di tempat yang sama.

Hanya saja, kali ini tidak ada lagi seorang pun di dalamnya yang menantikan kepulangannya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang