“Berikan kata sandi keamanan rekeningmu sekarang juga!”
Suara Ibu Hastuti menggema dari pengeras suara ponsel.
Maya memandang dua petugas polisi di ruang tamunya yang nyaris kosong. Salah satunya segera menyalakan alat perekam resmi, sementara petugas lain memberi isyarat agar Maya tetap tenang.
Maya menarik kursi dapur yang tersisa dan duduk.
“Untuk apa, Bu?”
“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Ibu Hastuti. “Bank bilang transaksi nggak bisa diproses karena ada pengamanan tambahan. Kamu tinggal kasih kata sandinya. Setelah itu Ibu urus sendiri.”
Dari kejauhan terdengar suara Sinta.
“Cepat, Bu! Hotel minta deposit sekarang!”
Maya menahan napas.
“Jadi Ibu memang mencoba mengambil Rp500 juta dari rekeningku?”
Terdengar hening selama beberapa detik.
Lalu ibunya menjawab dengan nada yang jauh lebih rendah.
“Jangan pakai kata mengambil. Itu uang keluarga.”
“Rekeningnya atas namaku.”
“Kamu anak Ibu!”
“Dan itu membuat Ibu boleh memalsukan surat kuasa?”
Suara di seberang mendadak terputus-putus.
“Siapa yang bilang palsu?”
Pertanyaan itu keluar terlalu cepat.
Petugas polisi di depan Maya langsung menulis sesuatu di buku catatannya.
Maya berkata perlahan, “Aku tidak pernah menandatangani surat itu.”
Sinta tiba-tiba mengambil alih telepon.
“Kak, dengar dulu. Kita bisa jelaskan semuanya. Jangan bikin masalah ini besar.”
“Kalian mengosongkan rumahku.”
“Kita cuma ambil barang yang sebenarnya juga berasal dari keluarga.”
“Televisi yang kubeli sendiri?”
Sinta terdiam.
“Laptop?”
Tidak ada jawaban.
“Perhiasanku?”
“Kak…”
“Gelas kristal peninggalan Ayah?”
Suara Sinta mengecil.
“Bu yang suruh.”
Kalimat itu membuat Ibu Hastuti langsung marah.
“Sinta! Jangan ngomong sembarangan!”
Namun semuanya sudah terlambat.
Maya menatap petugas polisi. Wajah pria itu tetap datar, tetapi tangannya terus mencatat.
Maya bertanya, “Siapa yang membuat surat kuasa itu?”
“Sudahlah!” bentak Ibu Hastuti. “Kamu pikir karena punya pekerjaan bagus dan rumah sendiri kamu bisa mempermalukan ibu kandungmu?”
“Aku cuma bertanya siapa yang membuat dokumennya.”
“Kami tidak akan terdampar di Bali kalau kamu tidak sok pintar memasang pengamanan aneh-aneh!”
“Siapa yang membuat surat kuasa itu, Bu?”
Suasana mendadak sunyi.
Kemudian terdengar suara pengumuman bandara.
Penerbangan menuju Jakarta akan segera membuka proses boarding.
Maya memahami sesuatu.
Mereka sedang mencoba pulang.
Ibu Hastuti akhirnya berkata, “Pokoknya jangan libatkan polisi.”
Maya menatap seragam dua petugas di depannya.
“Kenapa?”
“Karena ini urusan keluarga.”
“Kalau memang urusan keluarga, kenapa Ibu takut polisi?”
Telepon langsung ditutup.
Maya menurunkan ponselnya.
Selama beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian petugas bernama AKP Damar berkata, “Bu Maya, sebaiknya mulai sekarang seluruh komunikasi disimpan. Jangan hapus apa pun.”
Maya mengangguk.
Malam itu dia tidak tidur.
Dia menghabiskan waktu bersama penyidik untuk membuat daftar lengkap barang yang hilang. Foto sebelum kejadian dibandingkan dengan kondisi rumah setelah pencurian. Nomor seri perangkat elektronik dicatat satu per satu. Bukti pembelian dikumpulkan.
Menjelang pukul dua pagi, seorang petugas menemukan sesuatu.
Kamera keamanan milik tetangga ternyata merekam sebuah mobil boks berhenti di depan rumah Maya sekitar pukul sembilan pagi.
Empat orang terlihat mengangkut barang.
Salah satunya adalah Sinta.
Yang lain adalah Ibu Hastuti.
Dua pria sisanya mengenakan seragam perusahaan jasa pindahan.
Nomor kendaraan terlihat cukup jelas.
Polisi segera melacak perusahaan tersebut.
Hasilnya mengejutkan.
Pengangkutan itu dipesan menggunakan nama Sinta dengan alamat tujuan sebuah gudang penyimpanan di kawasan Serpong.
Maya menatap layar laptop.

“Mereka belum menjual barang-barangnya?”
“Belum tentu,” jawab Damar. “Tapi kalau alamat tujuan benar, kemungkinan sebagian masih tersimpan.”
Pagi harinya polisi mendapatkan surat yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut di lokasi.
Di dalam gudang itu, hampir seluruh isi rumah Maya ditemukan.
Televisi dibungkus plastik.
Furnitur ditumpuk di sudut.
Kotak-kotak perhiasan ada di dalam koper.
Bahkan gelas kristal peninggalan ayahnya tersimpan dalam kardus bertuliskan PECAH BELAH.
Namun ada sesuatu yang tidak ditemukan.
Sebuah map dokumen milik Maya.
Di dalam map itu seharusnya tersimpan fotokopi sertifikat rumah, beberapa dokumen pajak, dan salinan berkas lama milik ayahnya.
“Kalau tujuan mereka hanya mengambil barang berharga, kenapa membawa dokumen?” tanya Maya.
Damar tidak menjawab langsung.
“Bisa jadi ada rencana lain.”
Kalimat itu membuat Maya merinding.
Siang harinya, Ibu Siska dari bank kembali menghubunginya.
“Kami menemukan sesuatu mengenai dokumen pengalihan dana.”
“Apa?”
“Stempel pengesahannya terdaftar atas nama sebuah kantor notaris di Jakarta Selatan.”
“Notaris siapa?”
“Bapak Harsono Pranata.”
Maya membeku.
Nama itu sangat dikenalnya.
Harsono adalah teman lama almarhum ayahnya.
Bahkan dahulu pria itu beberapa kali datang ke rumah mereka saat Maya masih kuliah.
Maya segera berkata, “Saya kenal orangnya.”
Namun Ibu Siska melanjutkan, “Masalahnya, kantor notaris itu menyatakan mereka tidak pernah menerbitkan dokumen tersebut.”
“Berarti stempelnya dipalsukan?”
“Belum tentu sesederhana itu.”
Maya menunggu.
“Stempel yang digunakan memiliki nomor registrasi asli.”
Dada Maya terasa berat.
“Bagaimana bisa?”
“Menurut kantor notaris, salah satu stempel lama mereka hilang sekitar empat bulan lalu.”
Empat bulan.
Maya langsung teringat.
Sekitar empat bulan sebelumnya, Ibu Hastuti pernah makan malam bersama seseorang bernama Om Arif.
Seorang pria yang dulu bekerja sebagai staf administrasi di kantor notaris Harsono.
Saat itu Maya tidak memikirkan apa pun.
Om Arif sudah mengenal keluarga mereka bertahun-tahun.
Namun kini semuanya terasa berbeda.
Maya segera menyebut nama itu kepada polisi.
Penyelidikan berkembang jauh lebih cepat setelahnya.
Ternyata Arif sudah tidak bekerja di kantor notaris tersebut selama hampir setahun.
Dia diberhentikan karena diduga menyalahgunakan akses terhadap dokumen klien.
Lebih mengejutkan lagi, nomor teleponnya ditemukan berkali-kali berkomunikasi dengan Ibu Hastuti selama tiga bulan terakhir.
Ketika polisi memanggilnya untuk pemeriksaan, Arif awalnya menyangkal.
Namun penyidik menemukan transfer sebesar Rp25 juta dari rekening Sinta kepadanya dua minggu sebelum kejadian.
Setelah diperiksa berjam-jam, Arif akhirnya mengaku.
Ibu Hastuti meminta bantuannya membuat surat kuasa yang terlihat sah.
Sebagai imbalan, Arif dijanjikan Rp50 juta setelah dana Rp500 juta berhasil dipindahkan.
Tetapi pengakuan berikutnya jauh lebih buruk.
Menurut Arif, Rp500 juta bukan tujuan akhirnya.
“Itu hanya tahap pertama,” kata Damar kepada Maya di kantor polisi.
Maya menatapnya.
“Maksudnya?”
“Mereka juga sedang mempersiapkan dokumen untuk menjual rumah Ibu.”
Maya merasa seolah kursinya bergeser.
“Rumah saya?”
Damar membuka beberapa lembar hasil cetakan.
Di antara barang yang ditemukan di tempat tinggal Arif terdapat salinan sertifikat rumah Maya, fotokopi KTP, kartu keluarga lama, dan rancangan surat kuasa untuk penjualan properti.
Di bawahnya ada beberapa percakapan pesan.
Ibu Hastuti menulis,
Kalau uang bank sudah aman, kita lanjut rumahnya. Maya sering dinas keluar kota. Dia baru sadar setelah semuanya selesai.
Maya membaca kalimat itu berulang kali.
Tangannya mulai gemetar.
Untuk pertama kalinya sejak pulang dari perjalanan kerja, air matanya jatuh.
Bukan karena uang.
Bukan karena televisi atau perhiasan.
Tetapi karena akhirnya dia menyadari bahwa ibunya tidak sekadar marah.
Ibunya telah merencanakan untuk mengambil hampir seluruh hasil hidup yang dibangunnya selama bertahun-tahun.
Damar menutup berkas.
“Bu Maya, saya tahu ini berat. Tapi bukti yang kita punya cukup kuat.”
Maya mengusap air matanya.
“Pesawat mereka dari Bali sudah tiba?”
“Sudah.”
Sinta dan Ibu Hastuti baru turun di Bandara Soekarno-Hatta ketika dua petugas mendekati mereka.
Sinta langsung menangis.
Ibu Hastuti justru marah.
Dia berteriak bahwa semua itu adalah kesalahpahaman keluarga.
Dia mengatakan Maya anak durhaka.
Dia bahkan mencoba meyakinkan petugas bahwa barang-barang di rumah Maya sebenarnya miliknya.
Namun ketika penyidik menunjukkan bukti rekaman gudang, percakapan dengan Arif, dan dokumen surat kuasa, wajah Ibu Hastuti berubah pucat.
Dua hari kemudian, Maya datang ke kantor polisi untuk pemeriksaan tambahan.
Di ruang tunggu, dia bertemu Sinta.
Adiknya terlihat jauh berbeda.
Tidak ada pakaian pesta.
Tidak ada kacamata mahal.
Tidak ada senyum mengejek yang selama ini selalu muncul saat mereka bertengkar.
Sinta hanya mengenakan kaus sederhana dan celana panjang.
Matanya bengkak.
“Kak.”
Maya berhenti.
Sinta berdiri.
“Aku minta maaf.”
Maya menatapnya tanpa bicara.
“Aku nggak tahu rencana Bu sampai sejauh itu.”
“Namamu ada di rekening penerima.”
Sinta menunduk.
“Aku tahu soal uang.”
“Dan rumah?”
Sinta menggigit bibir.
“Aku baru tahu setelah kami di Bali.”
Maya menatap adiknya lama.
“Kalau bank tidak membekukan uang itu, kamu akan mengembalikannya?”
Pertanyaan tersebut membuat Sinta tidak mampu menjawab.
Maya sudah mendapatkan jawabannya.
Dia berbalik.
Namun Sinta memanggil lagi.
“Kak.”
Maya berhenti tanpa menoleh.
“Bu bilang selama ini kamu mengambil semua yang seharusnya jadi milik kita.”
Maya perlahan berbalik.
“Apa yang kuambil?”
“Kesempatan.”
Maya hampir tertawa, tetapi yang muncul justru rasa lelah.
Sinta melanjutkan dengan suara bergetar, “Kamu kuliah bagus. Kamu dapat pekerjaan bagus. Ayah selalu bangga sama kamu. Setelah Ayah meninggal, kamu juga yang paling stabil. Bu selalu bilang kalau hidup kita susah karena semua keberuntungan keluarga jatuh ke kamu.”
Maya menggeleng.
“Sin, aku kuliah sambil kerja.”
Sinta diam.
“Aku pernah tidur empat jam sehari selama hampir dua tahun.”
Mata Sinta mulai berkaca-kaca.
“Aku bayar cicilan sendiri. Aku menabung belasan tahun. Aku gagal berkali-kali sebelum punya posisi sekarang.”
Maya melangkah mendekat.
“Kalian tidak melihat bagian itu. Kalian cuma melihat hasil akhirnya.”
Sinta menangis.
Maya tidak memeluknya.
Namun dia juga tidak membentak.
“Aku selalu mau membantu kalian. Tapi membantu berbeda dengan membiarkan hidupku diambil.”
Beberapa minggu kemudian, kasus tersebut memasuki proses hukum.
Arif bekerja sama dengan penyidik dan memberikan bukti tambahan.
Sebagian besar barang Maya berhasil dikembalikan.
Dana Rp500 juta tetap utuh karena transaksi dibatalkan sebelum benar-benar selesai.
Namun konsekuensi terbesar terjadi di dalam keluarga.
Saudara-saudara Ibu Hastuti yang sebelumnya selalu membela dirinya mulai menjauh setelah mengetahui isi percakapan dengan Arif.
Beberapa bahkan menghubungi Maya dan meminta maaf.
Maya tidak merasa menang.
Dia justru merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti.
Keyakinan bahwa seorang ibu, seburuk apa pun pertengkarannya dengan anak, pasti memiliki batas.
Ternyata tidak selalu.
Tiga bulan setelah kejadian, Maya kembali menata rumahnya.
Televisi dipasang lagi.
Furnitur dikembalikan.
Lukisan digantung di tempat semula.
Namun set gelas kristal peninggalan ayahnya tidak lagi dia simpan di lemari ruang makan.
Maya memindahkannya ke lemari kaca kecil di kamar kerjanya.
Suatu sore, ketika sedang menyusun dokumen, dia menemukan satu amplop lama yang terselip di antara bukti kepemilikan barang.
Tulisan di depannya adalah tulisan tangan ayahnya.
Untuk Maya.
Maya membuka amplop itu.
Surat tersebut ditulis dua tahun sebelum ayahnya meninggal.
Ayahnya menulis bahwa dirinya tahu Maya sering merasa bersalah karena hidupnya lebih baik dibanding anggota keluarga lain.
Namun ada satu kalimat yang membuat Maya terdiam lama.
Jangan pernah merasa bersalah karena berhasil menjaga hidupmu sendiri. Keluarga yang mencintaimu akan ikut bahagia ketika kamu tumbuh. Keluarga yang hanya ingin mengambil akan membuatmu merasa berdosa karena memiliki sesuatu.
Maya menutup surat itu.
Air matanya jatuh.
Kali ini bukan karena marah.
Dia akhirnya mengerti sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak berani dia akui.
Batasan bukan bentuk kebencian.
Menjaga diri bukan berarti meninggalkan keluarga.
Dan memaafkan seseorang suatu hari nanti tidak berarti memberinya kembali kunci untuk menghancurkan hidup kita.
Maya mengambil ponselnya.
Ada satu pesan baru dari Sinta.
Kak, aku nggak minta kamu percaya lagi sekarang. Aku cuma mau bilang aku mulai kerja. Aku akan bayar semua kerugian sedikit demi sedikit, berapa pun lamanya.
Maya membaca pesan itu cukup lama.
Dia tidak langsung membalas.
Kemudian dia mengetik satu kalimat.
Mulailah dengan memperbaiki hidupmu sendiri.
Maya meletakkan ponsel di meja.
Di luar jendela, matahari sore menyinari rumah yang beberapa bulan sebelumnya pernah dikosongkan oleh orang-orang yang paling dia percaya.
Kini rumah itu kembali penuh.
Namun Maya tahu, hal paling berharga yang berhasil dia selamatkan bukanlah Rp500 juta.
Bukan pula perhiasan, furnitur, atau rumahnya.
Melainkan hak untuk menentukan siapa yang boleh masuk ke dalam hidupnya.
Dan kali ini, tidak seorang pun akan mendapatkan kuncinya hanya karena mereka menyebut diri mereka keluarga.
