IBU MERTUA MENGANIAYA MENANTUNYA DI MALAM PERTAMA DEMI MENGUASAI APARTEMEN! MEREKA TAK PERNAH MENYANGKA SIAPA AYAH KANDUNG SANG PENGANTIN YANG SELAMA INI MENGHILANG!

Pintu lift terbuka tepat ketika Dimas kembali menghantam pintu apartemen dengan telapak tangannya.

“Nabila! Jangan bikin masalah ini semakin besar!”

Suara itu menggema di lorong.

Pak Arman berhenti beberapa meter dari sana.

Matanya langsung tertuju pada Dimas yang masih mengenakan kemeja putih pesta pernikahan dengan dasi yang sudah longgar. Di sampingnya berdiri Bu Maya bersama dua perempuan kerabatnya. Wajah mereka terlihat kesal, bukan cemas.

Dimas menoleh ketika mendengar langkah kaki mendekat.

“Bapak siapa?”

Pak Arman tidak langsung menjawab.

Ia memandang Dimas dari kepala sampai kaki, lalu beralih kepada Bu Maya.

“Yang mana ibunya?”

Bu Maya mengernyit.

“Maksud Bapak?”

Pak Arman berhenti tepat di depan mereka.

“Saya tanya, yang mana perempuan yang memukuli anak saya?”

Wajah Dimas seketika berubah.

Bu Maya terdiam beberapa detik.

“Anak Bapak?”

Pak Arman mengangguk pelan.

“Nabila.”

Lorong apartemen mendadak sunyi.

Dimas jelas pernah mendengar nama Pak Arman, tetapi selama ini ia membayangkan ayah Nabila hanyalah seorang pria tua yang sudah tidak peduli kepada keluarganya.

Bu Maya bahkan pernah berkata bahwa ketidakhadiran ayah Nabila adalah keuntungan besar.

Tidak ada mertua laki-laki yang akan ikut campur.

Tidak ada keluarga kuat yang akan membela Nabila.

Mereka salah.

Bu Maya segera mengubah ekspresinya.

“Oh, jadi Bapak ayahnya Nabila. Saya rasa ada salah paham. Ini masalah rumah tangga anak-anak.”

Pak Arman menatapnya tanpa berkedip.

“Memukuli seseorang tujuh orang sekaligus bukan masalah rumah tangga.”

Dimas maju selangkah.

“Pak, sebaiknya kita bicara baik-baik.”

Pak Arman menoleh kepadanya.

“Kalau kamu ingin bicara baik-baik, kenapa tadi kamu mengancam anak saya dari balik pintu?”

Dimas membeku.

Ia baru sadar lorong apartemen itu dipasangi kamera CCTV.

Pak Arman mengangkat ponselnya.

“Dan sebelum naik, saya sudah meminta petugas keamanan gedung menyimpan rekamannya.”

Bu Maya terlihat semakin gelisah.

“Bapak jangan menuduh sembarangan.”

Pak Arman tidak menjawab.

Ia mengetuk pintu.

“Nabila.”

Di dalam apartemen, tubuh Nabila menegang.

Suara itu sudah begitu lama hanya menjadi kenangan.

Bu Heni membuka pintu sedikit setelah memastikan siapa yang berada di luar.

Begitu Pak Arman melihat wajah putrinya, seluruh ketenangan yang sejak tadi ia pertahankan seolah retak.

Mata kirinya bengkak.

Bibirnya terluka.

Gaun pengantinnya robek.

Pak Arman tidak bergerak selama beberapa detik.

Nabila berdiri di hadapannya sambil menahan tangis.

“Ayah…”

Itulah pertama kalinya dalam hampir sepuluh tahun Nabila memanggilnya secara langsung.

Pak Arman masuk ke apartemen.

Tangannya terangkat seolah ingin menyentuh wajah putrinya, tetapi berhenti di udara.

Ia takut menyentuh luka itu.

“Siapa saja yang melakukan ini?”

Nabila memandang ke arah lorong.

“Ibu Maya dan enam perempuan keluarganya.”

“Dimas?”

Nabila menunduk.

“Dia tahu.”

Pak Arman menarik napas perlahan.

“Dia ikut memukulmu?”

“Tidak.”

Nabila terdiam.

“Tapi dia membiarkan.”

Pak Arman menoleh kepada Dimas.

Tatapannya membuat Dimas mundur tanpa sadar.

Pak Arman kemudian mengambil ponsel.

“Saya sudah menghubungi polisi dalam perjalanan ke sini.”

Bu Maya langsung berseru.

“Polisi?”

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah panik.

“Pak, jangan berlebihan. Ini cuma persoalan keluarga. Nabila itu sekarang istri Dimas.”

Pak Arman berjalan mendekatinya.

“Menjadi istri seseorang tidak membuat tubuhnya menjadi milik keluarga suaminya.”

Bu Maya kehilangan kata-kata.

Tidak lama kemudian, dua petugas keamanan apartemen naik ke lantai tersebut. Mereka meminta Dimas dan keluarganya menunggu di area lobi karena kepolisian sedang menuju lokasi.

Bu Maya terus mencoba menelepon seseorang.

Dimas berkali-kali mengirim pesan.

Namun Pak Arman tidak lagi memperhatikan mereka.

Ia membawa Nabila ke rumah sakit.

Pukul empat lewat dua puluh menit, dokter memeriksa luka Nabila dan membuat laporan medis.

Ada memar di wajah.

Luka pada bibir.

Bekas cengkeraman di lengan.

Beberapa lebam di punggung dan bahu.

Tidak ada tulang yang patah, tetapi dokter menyarankan observasi selama beberapa jam karena Nabila sempat mengalami pusing berat.

Pak Arman duduk di luar ruang pemeriksaan.

Bu Heni berada di sampingnya.

Selama bertahun-tahun mereka hampir tidak pernah berbicara lebih dari beberapa menit.

Malam itu, tidak ada energi tersisa untuk mempertahankan permusuhan lama.

Bu Heni memandang mantan suaminya.

“Kenapa kamu tidak pernah datang?”

Pak Arman tidak segera menjawab.

Matanya tetap tertuju pada pintu ruang pemeriksaan.

“Aku datang.”

Bu Heni mengernyit.

“Apa?”

“Aku datang beberapa kali.”

Pak Arman menghela napas.

“Waktu Nabila lulus SMA, aku berdiri di belakang gedung aula. Waktu dia wisuda kuliah, aku juga datang. Aku melihat dari jauh.”

Bu Heni terdiam.

“Kenapa tidak menemui dia?”

Pak Arman menundukkan kepala.

“Karena dia terlihat bahagia tanpaku.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada rasa bersalah yang berat di dalamnya.

“Perceraian kita dulu buruk. Aku terlalu keras kepala. Aku mengira kalau aku menjauh, kehidupan kalian akan lebih tenang.”

Bu Heni tertawa pendek, getir.

“Dia mengira kamu tidak peduli.”

“Aku tahu.”

“Itu menyakitinya.”

“Aku tahu.”

Pak Arman menggenggam kedua tangannya.

“Itu kesalahan terbesar dalam hidupku.”

Pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Nabila keluar dengan pakaian rumah sakit dan plester kecil di sudut bibirnya.

Ketika melihat ayahnya, ia berjalan perlahan mendekat.

“Ayah benar-benar datang waktu wisudaku?”

Pak Arman terdiam.

Rupanya Nabila mendengar sebagian percakapan mereka.

“Iya.”

“Kenapa Ayah tidak menyapaku?”

Pak Arman menatap putrinya.

“Ayah pikir kamu akan lebih tenang kalau Ayah tidak mengganggu.”

Air mata Nabila jatuh.

“Aku tidak butuh Ayah menghilang. Aku cuma butuh Ayah minta maaf.”

Pak Arman menutup mata sebentar.

Kemudian untuk pertama kalinya, pria yang selama hidupnya dikenal tegas itu menangis di depan putrinya.

“Maaf.”

Nabila tidak langsung memeluknya.

Butuh beberapa detik.

Kemudian ia maju dan menyandarkan kepala ke dada ayahnya.

Pak Arman memeluknya hati-hati, menghindari bagian tubuh yang memar.

Pagi harinya, pemeriksaan polisi dimulai.

Bu Maya awalnya membantah semuanya.

Menurutnya, Nabila terjatuh sendiri setelah terjadi pertengkaran.

Enam kerabatnya memberikan cerita yang hampir sama.

Namun, hotel memiliki kamera di koridor.

Rekaman menunjukkan tujuh perempuan masuk ke kamar suite.

Kemudian Dimas muncul beberapa menit setelahnya.

Ia membuka pintu.

Berdiri di sana selama beberapa waktu.

Lalu menutup pintu kembali.

Masalah semakin berat ketika petugas hotel menyerahkan rekaman suara dari sistem keamanan di dekat pintu suite.

Mikrofon koridor memang tidak menangkap seluruh percakapan.

Tetapi satu kalimat terdengar cukup jelas.

“Jangan pukul wajahnya terlalu keras.”

Suara itu milik Dimas.

Polisi juga menemukan dokumen pengalihan hak apartemen di kamar hotel.

Dokumen tersebut sudah disiapkan sebelum pernikahan berlangsung.

Ada ruang tanda tangan untuk Nabila.

Ada fotokopi identitas Dimas.

Bahkan ada surat kuasa yang belum ditandatangani.

Semua itu membuat alasan Bu Maya tentang pertengkaran spontan menjadi sulit dipercaya.

Namun kejutan terbesar baru muncul ketika penyidik memeriksa dokumen tersebut lebih dalam.

Notaris yang namanya tercantum di bagian bawah dokumen ternyata tidak pernah membuat surat itu.

Tanda tangannya dipalsukan.

Bu Maya mulai panik.

Ia menyalahkan seorang kenalan yang membantu menyiapkan berkas.

Kemudian kenalan tersebut diperiksa.

Dari sana, polisi menemukan bahwa keluarga Dimas bukan hanya mencoba mendapatkan apartemen Nabila.

Mereka sedang terlilit utang.

Dimas memiliki bisnis distribusi bahan bangunan yang hampir bangkrut.

Ia menunggak pembayaran kepada pemasok hampir dua miliar rupiah.

Bu Maya bahkan telah menjaminkan rumah keluarganya sendiri untuk mempertahankan bisnis tersebut.

Apartemen Nabila diperkirakan bernilai lebih dari tiga miliar rupiah.

Jika setengah kepemilikannya berhasil dialihkan, mereka berencana menggunakan hak tersebut sebagai bagian dari jaminan untuk mendapatkan pinjaman baru.

Nabila merasa mual ketika mendengar penjelasan polisi.

Jadi seluruh pernikahan itu memang telah dipersiapkan sebagai jalan untuk mengambil hartanya.

Namun Dimas terus membantah.

“Saya menikah karena mencintai Nabila.”

Saat pemeriksaan kedua, Nabila duduk di seberangnya.

Dimas terlihat lebih kurus hanya dalam dua hari.

“Nabila, aku salah karena tidak menghentikan Ibu.”

Nabila tidak menjawab.

“Aku panik. Aku terjebak di antara kamu dan keluargaku.”

Nabila menatapnya.

“Waktu aku berteriak minta tolong, kamu berdiri di pintu.”

Dimas menundukkan kepala.

“Aku takut.”

“Kepada siapa?”

Dimas tidak mampu menjawab.

Nabila mengangguk kecil.

“Justru itu jawabannya.”

Dimas mencoba memegang tangannya, tetapi Nabila menariknya.

“Jangan sentuh aku.”

Dimas menahan napas.

“Aku bisa berubah.”

Nabila memandang pria yang kurang dari tiga hari sebelumnya ia panggil suami.

“Aku mungkin suatu hari bisa memaafkanmu.”

Dimas mengangkat kepala penuh harapan.

Namun Nabila melanjutkan.

“Tapi memaafkan bukan berarti kembali.”

Harapan itu menghilang.

Nabila mengajukan pembatalan perkawinan melalui jalur hukum yang disarankan pengacaranya dan meneruskan proses pidana terhadap Bu Maya serta pihak-pihak yang terlibat.

Beberapa keluarga mencoba membujuknya.

Ada yang mengatakan perkara itu akan mempermalukan dua keluarga.

Ada yang meminta Nabila mempertimbangkan masa depan Dimas.

Ada pula yang membawa alasan bahwa seorang menantu seharusnya lebih sabar menghadapi mertua.

Nabila hanya menjawab satu kalimat.

“Kesabaran bukan izin untuk menyiksa orang.”

Dua minggu kemudian, Pak Arman mengajak Nabila bertemu di sebuah rumah sederhana di kawasan Cibubur.

Nabila sempat terkejut.

Ia membayangkan ayahnya hidup sendirian setelah pensiun.

Namun ketika memasuki rumah itu, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.

Di salah satu dinding ruang kerja terdapat puluhan foto.

Foto Nabila ketika masih SD.

Foto kelulusannya.

Foto wisuda.

Potongan berita ketika ia memenangkan lomba semasa kuliah.

Bahkan ada foto dari akun media sosial tempat kerjanya.

Semua tersusun rapi.

“Ayah simpan semua ini?”

Pak Arman tersenyum pahit.

“Kalau Ayah benar-benar pergi, mungkin hidup Ayah akan lebih mudah.”

Nabila menyentuh salah satu foto.

“Tapi Ayah tetap pergi.”

Pak Arman mengangguk.

“Secara fisik, iya.”

Ia membuka laci meja.

Dari sana, ia mengeluarkan sebuah map cokelat.

“Ayah ingin menunjukkan sesuatu.”

Di dalamnya terdapat dokumen lama kepemilikan apartemen.

Namun ada lembar lain yang tidak pernah Nabila lihat.

Sebuah surat pernyataan yang dibuat Pak Arman sepuluh tahun sebelumnya.

Surat itu menegaskan bahwa apartemen merupakan pemberian pribadi kepada Nabila dan tidak boleh dijadikan jaminan atau dialihkan kepada pihak lain tanpa pemeriksaan tambahan dari kuasa hukum yang telah ditunjuk.

Nabila mengernyit.

“Kenapa sampai seperti ini?”

Pak Arman tersenyum tipis.

“Karena Ayah tahu manusia bisa berubah ketika melihat harta.”

“Jadi kalau kemarin aku dipaksa tanda tangan…”

“Mereka tetap tidak akan bisa mengambil apartemen itu semudah yang mereka bayangkan.”

Nabila terdiam.

Pak Arman melanjutkan.

“Ayah memang tidak hadir dalam banyak bagian hidupmu. Tapi Ayah memastikan satu hal.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari seseorang mencoba mengusirmu dari rumahmu sendiri, kamu tetap punya tempat untuk berdiri.”

Nabila menahan air mata.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa kalimat ayahnya sepuluh tahun lalu bukan sekadar nasihat.

Itu adalah cara seorang pria yang buruk dalam menunjukkan kasih sayang mencoba menjaga putrinya.

Tetapi Pak Arman kemudian mengatakan sesuatu yang lebih mengejutkan.

“Ayah sebenarnya tahu tentang utang Dimas sebelum pernikahan.”

Nabila langsung menoleh.

“Ayah tahu?”

“Dua minggu sebelum acara, seorang teman lama Ayah meminta pendapat tentang perusahaan Dimas karena mereka sedang mengajukan pinjaman.”

Wajah Nabila berubah.

“Kenapa Ayah tidak bilang?”

Pak Arman menunduk.

“Ayah hampir menghubungimu.”

“Hampir?”

“Ayah takut kamu akan mengira Ayah datang hanya untuk mengatur hidupmu setelah bertahun-tahun menghilang.”

Nabila berdiri.

Kemarahan muncul di wajahnya.

“Kalau Ayah menelepon waktu itu, mungkin semua ini tidak terjadi.”

“Ayah tahu.”

“Kenapa semua orang selalu mengambil keputusan untukku dengan alasan melindungiku?”

Pak Arman tidak membela diri.

Nabila berjalan menuju pintu.

Sebelum keluar, ia berhenti.

“Aku butuh waktu.”

Pak Arman mengangguk.

“Kali ini Ayah tidak akan pergi.”

Nabila menatapnya beberapa detik.

Lalu ia meninggalkan rumah itu.

Butuh hampir enam bulan sampai perkara pidana keluarga Dimas masuk ke tahap persidangan.

Bu Maya akhirnya tidak lagi menyangkal bahwa ia memerintahkan Nabila menandatangani dokumen tersebut.

Dimas juga harus mempertanggungjawabkan perannya karena membiarkan kekerasan terjadi dan terlibat dalam persiapan dokumen.

Bisnis keluarganya runtuh.

Rumah yang selama ini mereka banggakan dijual untuk membayar sebagian utang.

Banyak orang menyebut semua itu sebagai karma.

Nabila tidak.

Baginya, itu hanya konsekuensi.

Setahun setelah malam pernikahan tersebut, Nabila masih tinggal di apartemen yang sama.

Ia mengganti hampir seluruh perabot.

Mengganti warna dinding.

Mengganti kunci pintu.

Bukan karena takut seseorang akan datang.

Ia hanya ingin tempat itu kembali terasa seperti miliknya.

Pada suatu Minggu pagi, bel apartemen berbunyi.

Pak Arman berdiri di depan pintu sambil membawa dua kantong makanan.

“Ayah bawa bubur ayam.”

Nabila melihat jam.

“Ayah tahu ini jam berapa?”

“Jam sembilan.”

“Aku biasanya bangun jam sepuluh kalau Minggu.”

Pak Arman mengangguk serius.

“Informasi baru. Akan Ayah catat.”

Nabila tertawa kecil.

Hubungan mereka belum sepenuhnya pulih.

Mungkin tidak akan pernah kembali seperti hubungan ayah dan anak yang tumbuh tanpa luka.

Tetapi Pak Arman menepati janjinya.

Ia tidak menghilang lagi.

Sebelum masuk, Pak Arman melihat pintu apartemen yang kini memiliki dua kunci tambahan.

“Keamanan baru?”

Nabila mengangguk.

“Biar tidak ada orang sembarangan masuk.”

Pak Arman tersenyum.

“Bagus.”

Nabila membuka pintu lebih lebar.

“Ayah.”

“Ya?”

Ia memandang pria beruban di depannya.

“Apartemen ini memang pemberian Ayah.”

Pak Arman mengangguk.

“Tapi sekarang aku akhirnya paham sesuatu.”

“Apa?”

Nabila tersenyum tipis.

“Rumah bukan cuma tempat yang atas namanya tertulis di sertifikat.”

Ia mundur memberi jalan agar ayahnya masuk.

“Rumah adalah tempat kita tahu bahwa ketika pintu ditutup dari dunia luar, orang di dalamnya tidak akan menyakiti kita.”

Pak Arman terdiam.

Kemudian ia masuk.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Nabila menutup pintu apartemen itu tanpa merasa sendirian.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang