Begitu Maya mengucapkan, “Saya bersedia,” ruangan itu seolah kehilangan udara.
Beberapa tamu yang semula berbisik langsung terdiam. Fotografer menurunkan kamera sesaat, seakan mereka pun tidak yakin sedang menyaksikan pernikahan, skandal, atau keputusan paling nekat yang pernah dibuat seorang pengusaha terkenal.
Maya sendiri masih berdiri kaku di samping kursi roda Aris.
Ia mengenakan blus krem sederhana dan rok hitam selutut, pakaian kerja yang jelas sangat kontras dengan dekorasi mewah di sekelilingnya. Rambutnya hanya diikat rapi ke belakang. Tidak ada riasan pengantin, tidak ada perhiasan, bahkan sepatu yang dipakainya adalah sepatu datar yang biasa ia gunakan untuk bekerja.
Bambang segera mendekat.
“Aris, kamu tahu apa yang kamu lakukan?”
Aris memandang ayahnya tanpa gentar.
“Sangat tahu.”
“Ini bukan permainan.”
“Justru karena bukan permainan, aku nggak mau pulang dari sini sebagai orang yang dikasihani semua orang.”
Maya menatap Aris, lalu berkata pelan, “Pak, kita nggak harus meneruskan acara seperti pernikahan sungguhan.”
Aris mengangguk.
“Tidak ada akad. Tidak ada tanda tangan dokumen apa pun. Kita hanya hadapi tamu bersama.”
Akhirnya mereka sepakat mengubah acara menjadi jamuan keluarga. Tidak ada prosesi pernikahan resmi. Namun Aris tetap meminta Maya duduk di sebelahnya selama acara berlangsung.
Keputusan itu langsung menjadi bahan pembicaraan.
Beberapa tamu memandang Maya dengan curiga.
Ada yang mengira perempuan itu telah lama memiliki hubungan rahasia dengan Aris.
Ada pula yang berbisik bahwa mungkin semuanya sudah direncanakan.
Maya mendengar sebagian komentar itu ketika berjalan mengambil air minum.
“Pintar juga pembantunya.”
“Kesempatan sekali seumur hidup.”
“Majikan miliarder, siapa yang nggak mau?”
Maya berhenti sebentar.
Tangannya gemetar.
Ia hampir memilih pulang saat itu juga.
Namun ketika menoleh, ia melihat Aris sendirian di ujung ruangan. Pria itu sedang tersenyum kepada beberapa tamu, tetapi Maya tahu senyum itu dipaksakan.
Ia kembali.
Malamnya, setelah tamu terakhir meninggalkan vila, Aris duduk di teras dengan pemandangan lampu-lampu Lembang di kejauhan.
Maya datang membawa secangkir teh.
“Teh hangat, Pak.”
Aris tertawa kecil.
“Setelah semua yang terjadi, kamu masih panggil saya Pak?”
Maya meletakkan cangkir.
“Saya tetap pegawai Bapak.”
“Sayangnya mulai besok seluruh Indonesia mungkin mengira kamu calon istri saya.”
Maya menunduk.
“Saya takut, Pak.”
Aris tidak bercanda lagi.
“Karena berita?”
“Karena hidup saya biasa saja. Saya cuma datang ke Jakarta supaya bisa mengirim uang untuk Ibu. Saya nggak terbiasa difoto orang. Saya juga nggak mau keluarga saya jadi sasaran.”
Aris menghela napas.
“Saya minta maaf sudah menyeret kamu.”
Maya menggeleng.
“Saya yang bilang bersedia.”
Mereka terdiam.
Kemudian Aris bertanya sesuatu yang tidak pernah ia tanyakan sebelumnya.
“Ibu kamu sakit apa?”
Maya sedikit terkejut.
“Gagal ginjal. Seminggu dua kali harus cuci darah di Bandung. Biayanya memang banyak ditanggung BPJS, tapi perjalanan, obat tambahan, dan kebutuhan lain tetap berat.”
Aris menatap wajah Maya.
“Kamu nggak pernah cerita.”
“Karena itu bukan urusan Bapak.”
Jawaban sederhana itu membuat Aris tersenyum tipis.
Selama bertahun-tahun ia dikelilingi orang yang menjadikan setiap masalah pribadi mereka sebagai jalan untuk mendekati uangnya.
Maya justru melakukan sebaliknya.
Keesokan paginya, kabar tentang pernikahan Aris yang gagal sudah beredar di berbagai portal berita dan media sosial.
Foto paling banyak dibagikan bukan foto Aris yang ditinggalkan.
Melainkan foto Maya berlutut di samping kursi rodanya sambil menggenggam tangannya.
Judul-judul sensasional bermunculan.
Asisten Rumah Tangga Menggantikan Pengantin Miliarder.
Calon Istri Kabur, Pengusaha Hotel Gandeng Pembantu.
Siapa Maya Sari, Perempuan Misterius di Samping Aris Pratama?
Bambang semakin gelisah.
Dua hari kemudian, penyelidik swasta yang disewanya datang membawa laporan.
“Pak Bambang, saya sudah memeriksa Maya.”
“Dan?”
“Tidak ada catatan kriminal. Tidak punya utang mencurigakan. Keluarganya memang sederhana. Ayahnya meninggal enam tahun lalu. Ibunya sakit. Ia punya adik laki-laki yang masih kuliah di Bandung.”
Bambang menyilangkan tangan.
“Hubungannya dengan Aris sebelum ini?”
“Tidak ada bukti hubungan pribadi.”
“Pasti?”
Penyelidik itu membuka satu map lain.
“Tapi selama penyelidikan, kami menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik.”
Ia mengeluarkan beberapa foto.
Bambang memperhatikan.
Wajahnya berubah.
Foto tersebut memperlihatkan Aurelia sedang bertemu seorang pria di sebuah restoran di kawasan Senopati.
Pria itu adalah Reno Wicaksana, mantan direktur pengembangan bisnis di perusahaan Aris.
Reno pernah dipecat enam bulan sebelum kecelakaan karena diduga membocorkan informasi internal kepada pesaing.
“Ini kapan?”
“Dua bulan sebelum kecelakaan Pak Aris.”
Bambang berdiri.
“Kenapa Aurelia bertemu Reno?”
“Kami belum tahu. Tapi mereka bertemu setidaknya tujuh kali.”
Temuan itu segera disampaikan kepada Aris.
Awalnya Aris tidak percaya.

“Aurelia kenal banyak orang dari perusahaan.”
Bambang melemparkan foto-foto itu ke meja.
“Jam sebelas malam? Di apartemen Reno?”
Aris terdiam.
Maya yang sedang meletakkan obat Aris tanpa sengaja melihat salah satu foto.
Ia membeku.
“Pak…”
Aris menoleh.
“Kamu kenal dia?”
Maya menunjuk Reno.
“Saya pernah lihat pria ini.”
“Kapan?”
Maya berusaha mengingat.
“Malam sebelum kecelakaan Bapak.”
Ruangan mendadak senyap.
Maya menjelaskan bahwa malam itu ia sedang membawa pakaian yang selesai disetrika ke lantai dua ketika melihat seorang pria keluar dari pintu samping rumah.
Ia hanya melihat wajahnya beberapa detik.
“Aurelia ada di rumah waktu itu?” tanya Bambang.
“Ada. Bu Aurelia datang sekitar jam sembilan malam.”
Aris merasa tengkuknya dingin.
Kecelakaan yang dialaminya selama ini dianggap murni karena kegagalan rem.
Mobilnya kehilangan kendali ketika melaju di jalan tol, menabrak pembatas, lalu terguling.
Polisi tidak menemukan indikasi kriminal karena mobil sudah rusak parah.
Namun setelah informasi baru muncul, Bambang meminta pemeriksaan ulang terhadap kendaraan yang selama ini tersimpan di gudang perusahaan asuransi.
Seorang ahli otomotif independen menemukan sesuatu yang dulu terlewat.
Selang minyak rem menunjukkan bekas sayatan.
Bukan kerusakan akibat benturan.
Sayatan itu sudah ada sebelum kecelakaan terjadi.
Aris membaca laporan itu berulang kali.
Tangannya gemetar.
“Jadi seseorang memang mencoba membunuh saya?”
Bambang tidak menjawab.
Karena mereka berdua tahu siapa yang harus dicurigai.
Polisi mulai melakukan penyelidikan diam-diam.
Rekaman kamera keamanan rumah Aris dari tujuh bulan sebelumnya sebagian besar sudah terhapus otomatis. Namun sistem cadangan cloud perusahaan keamanan ternyata masih menyimpan potongan rekaman.
Dalam rekaman tersebut terlihat Reno memasuki garasi pada malam sebelum kecelakaan.
Ia berada di sana hampir sebelas menit.
Aurelia terlihat berdiri di dekat pintu.
Aris hampir tidak sanggup menonton sampai selesai.
Perempuan yang pernah memegang tangannya di rumah sakit sambil menangis dan berkata akan mencintainya selamanya ternyata mungkin tahu siapa yang menyebabkan ia kehilangan kemampuan berjalan.
Namun motifnya masih belum jelas.
Jawabannya muncul dari dokumen perusahaan.
Beberapa bulan sebelum kecelakaan, Aris berencana membatalkan kerja sama pembangunan resort besar di Bali karena menemukan indikasi penggelembungan anggaran.
Proyek itu diam-diam melibatkan perusahaan milik keluarga Aurelia.
Jika pembatalan terjadi, kerugian mereka bisa mencapai ratusan miliar rupiah.
Reno ternyata menerima aliran dana dari perusahaan tersebut.
Lebih mengejutkan lagi, polisi menemukan percakapan lama antara Reno dan Aurelia.
Awalnya rencana mereka bukan membunuh Aris.
Mereka ingin menciptakan kecelakaan ringan yang membuat Aris tidak dapat menghadiri rapat penting sehingga penandatanganan pembatalan proyek tertunda.
Namun sabotase rem menghasilkan kecelakaan jauh lebih parah dari yang direncanakan.
Setelah Aris selamat, Aurelia panik.
Ia tetap mendampinginya demi menjaga citra dan memastikan Aris tidak mencurigai apa pun.
Semakin lama, kondisi Aris tidak membaik.
Dan semakin besar pula rasa takut Aurelia bahwa suatu hari penyelidikan akan terbuka.
Karena itu ia memilih pergi tepat sebelum pernikahan.
Polisi menangkap Reno lebih dulu.
Aurelia ditangkap tiga hari kemudian di sebuah apartemen sewaan di Surabaya ketika hendak terbang ke Singapura.
Berita itu meledak lebih besar daripada skandal pernikahannya.
Aris tidak pernah memberikan wawancara.
Ia menutup diri selama berminggu-minggu.
Namun orang yang paling sering berada di dekatnya justru Maya.
Bukan karena diminta.
Maya tetap melakukan pekerjaan seperti biasanya.
Menyiapkan sarapan.
Mengatur obat.
Membuka tirai ruang kerja.
Dan yang paling penting, ia tidak pernah bertanya tentang Aurelia kecuali Aris sendiri yang membicarakannya.
Suatu malam, Aris berkata, “Saya merasa bodoh.”
Maya yang sedang merapikan buku berhenti.
“Kenapa?”
“Saya hidup dengan Aurelia empat tahun. Saya pikir saya mengenalnya.”
Maya duduk di kursi seberang.
“Kita nggak selalu salah karena mempercayai orang.”
Aris menatapnya.
“Lalu siapa yang salah?”
“Orang yang menyalahgunakan kepercayaan itu.”
Kalimat tersebut terus teringat oleh Aris.
Beberapa bulan berlalu.
Kasus Aurelia memasuki persidangan.
Pada saat yang sama, kondisi Aris menunjukkan perkembangan yang tak pernah diperkirakan dokter sebelumnya.
Ia mulai mendapatkan sedikit respons saraf di kaki kirinya.
Fisioterapis menyebutnya kemajuan kecil.
Bagi Aris, itu seperti pintu yang kembali terbuka.
Ia menjalani rehabilitasi lebih keras.
Maya sering menemaninya, tetapi tidak pernah memperlakukannya seperti pasien.
Jika Aris mengeluh, Maya akan berkata, “Istirahat lima menit, habis itu lanjut.”
Jika Aris mencoba menyerah, Maya hanya mengangkat alis.
“Bapak sendiri yang bilang nggak suka dikasihani.”
Enam bulan setelah pernikahan yang gagal itu, Aris akhirnya mampu berdiri selama beberapa detik dengan bantuan alat.
Orang pertama yang dilihatnya ketika berhasil berdiri adalah Maya.
Perempuan itu menutup mulut sambil menahan air mata.
Aris tertawa.
“Katanya nggak suka dramatis.”
“Saya kemasukan debu.”
“Di ruang fisioterapi?”
“Debunya banyak.”
Hubungan mereka berubah perlahan tanpa mereka sadari.
Aris mulai makan bersama Maya di dapur.
Maya mulai berani memanggilnya “Mas Aris” ketika tidak ada orang lain.
Aris mengetahui bahwa Maya sebenarnya pernah kuliah dua semester jurusan perhotelan sebelum berhenti karena kondisi ekonomi keluarganya.
“Kenapa kamu nggak bilang?” tanyanya.
“Karena saya diterima kerja sebagai ART, bukan manajer hotel.”
Beberapa minggu kemudian, Aris memberikan tawaran.
“Sekolah lagi.”
Maya langsung menolak.
“Saya nggak mau dikasihani.”
“Ini bukan amal. Perusahaan punya program pendidikan karyawan. Kamu masuk lewat jalur resmi.”
Maya menatapnya curiga.
“Jangan karena saya pernah pura-pura jadi tunangan Bapak.”
Aris tersenyum.
“Justru sekarang saya mulai menyesal bagian pura-puranya.”
Maya langsung memalingkan wajah.
Dua tahun kemudian, Maya menyelesaikan pendidikan manajemen perhotelan sambil bekerja di salah satu hotel milik Aris.
Ia memulai dari staf operasional.
Bukan jabatan khusus.
Tidak ada perlakuan istimewa.
Justru Maya meminta ditempatkan sejauh mungkin dari kantor pusat agar semua orang tahu bahwa ia mendapatkan posisinya karena kemampuan.
Sementara itu Aris berhasil berjalan menggunakan tongkat untuk jarak pendek.
Para dokter tetap mengatakan pemulihannya luar biasa, meski tidak sempurna.
Namun Aris sudah tidak mengejar kesempurnaan.
Ia pernah memiliki tubuh yang sehat, kekayaan, reputasi, dan tunangan yang dianggap ideal.
Semuanya hampir menghancurkannya.
Kini ia jauh lebih memahami apa yang benar-benar bernilai.
Suatu sore, Aris meminta Maya datang ke vila yang sama di Lembang.
Tempat mereka pertama kali berdiri bersama di depan dua ratus tamu.
Maya turun dari mobil dan melihat aula itu kosong.
Tidak ada dekorasi besar.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada fotografer.
Hanya Aris yang berdiri dengan tongkat di dekat jendela.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Maya.
Aris tersenyum.
“Dua tahun lalu saya minta sesuatu yang sangat nggak masuk akal.”
Maya tertawa kecil.
“Pura-pura jadi tunangan Bapak.”
“Dan kamu tetap bilang iya.”
Aris mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Maya langsung terdiam.
Kali ini Aris tidak berlutut. Kondisi kakinya belum memungkinkan.
Ia hanya berdiri di hadapan Maya.
“Saya pernah meminta kamu berdiri di samping saya supaya saya nggak dipermalukan orang lain.”
Aris membuka kotak itu.
Sebuah cincin sederhana terlihat di dalamnya.
“Kali ini saya meminta kamu berdiri di samping saya karena saya nggak bisa membayangkan hidup saya tanpa kamu.”
Mata Maya mulai berkaca-kaca.
“Mas Aris…”
“Saya nggak butuh jawaban karena kasihan. Nggak perlu karena utang budi. Kalau kamu menolak, pekerjaanmu tetap aman, pendidikanmu tetap hasil kerja kerasmu, dan saya akan tetap menghormati kamu.”
Maya menatap pria itu cukup lama.
Lalu ia tertawa di tengah air mata.
“Mas masih ingat waktu itu bilang cuma untuk satu hari?”
“Ingat.”
“Bohong.”
Aris tertawa.
“Berarti kamu marah?”
Maya menggeleng.
Kemudian ia mengulurkan tangan.
“Saya bersedia.”
Kali ini tidak ada dua ratus tamu yang menyaksikan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada wartawan.
Hanya mereka berdua.
Namun justru pada hari itulah Aris merasa benar-benar menikah dengan masa depannya.
Setahun kemudian, mereka mengadakan pernikahan kecil di Garut.
Hanya keluarga, sahabat dekat, dan beberapa pegawai lama yang mengenal perjalanan mereka.
Bambang berdiri paling depan.
Ketika Maya berjalan menuju Aris, pria tua itu menangis tanpa malu-malu.
Ia teringat bagaimana dahulu dirinya pernah memerintahkan seseorang menyelidiki Maya karena takut perempuan itu mengejar kekayaan anaknya.
Kini Bambang justru mengetahui bahwa pada hari ketika hampir semua orang melihat putranya sebagai lelaki cacat yang dipermalukan, Maya adalah satu-satunya orang yang melihat Aris sebagai manusia biasa yang sedang terluka.
Dan mungkin itulah alasan hidup mempertemukan mereka dengan cara yang begitu kejam.
Karena kadang-kadang, orang yang meninggalkan kita memang mengambil sesuatu dari hidup kita.
Tetapi kepergiannya juga membuka tempat bagi seseorang yang seharusnya berada di sana sejak awal.
Di meja kecil dekat pintu masuk ruang pernikahan, Aris sengaja meletakkan satu foto lama.
Foto dari hari ketika Aurelia meninggalkannya.
Dalam foto itu, Maya masih mengenakan pakaian kerja sederhana, berlutut di samping kursi rodanya sambil menggenggam tangannya.
Di bagian bawah bingkai, hanya ada satu kalimat.
Hari terburuk dalam hidupku ternyata adalah hari ketika hidupku diselamatkan.
