SAHABATKU MENGIRIM PESAN KEPADA SUAMIKU: “AKU BUTUH KAMU MALAM INI.” AKU MEMBALAS PESANNYA DENGAN BERPURA-PURA MENJADI SUAMIKU. TUJUH MENIT KEMUDIAN, SEBUAH RAHASIA BESAR TERBONGKAR!

Pagi berikutnya, pukul 06.41 WIB, Nadia belum tidur satu menit pun.

Ia duduk di meja makan rumah ibunya di Bintaro dengan laptop terbuka, secangkir kopi yang sudah dingin, dan koper yang masih tergeletak di dekat pintu.

Ibunya belum bangun.

Rumah masih sunyi.

Namun di kepala Nadia, percakapan semalam terus berputar.

Lima bulan.

Reno dan Sisca sudah bersama selama lima bulan.

Seharusnya itu cukup untuk menghancurkan hatinya.

Ternyata belum.

Nadia membuka arsip keuangan keluarga yang selama bertahun-tahun selalu ia simpan dengan rapi. Sebelum menikah dengan Reno, Nadia bekerja sebagai auditor internal di sebuah perusahaan properti. Kebiasaan memeriksa angka tidak pernah benar-benar meninggalkannya.

Ia mulai dari rekening bersama.

Tidak ada yang aneh sampai matanya berhenti pada beberapa transfer kecil.

Rp24.750.000.

Rp19.800.000.

Rp27.500.000.

Nominalnya berbeda, tetapi semuanya dikirim ke rekening perusahaan yang sama.

PT Arunika Konsultan Mandiri.

Nadia mengerutkan kening.

Ia tidak mengenal nama itu.

Ketika menelusuri mutasi lebih jauh, napasnya mulai berat.

Transfer pertama terjadi sebelas bulan lalu.

Bukan lima bulan.

Sebelas bulan.

Totalnya mencapai hampir Rp480 juta.

Nadia langsung membuka folder dokumen pajak dan laporan usaha Reno. Suaminya memiliki perusahaan kontraktor interior bersama dua rekan bisnis. Selama ini Reno selalu mengatakan kondisi perusahaan sedang sulit sehingga mereka beberapa kali menggunakan dana keluarga untuk menutup kebutuhan sementara.

Namun nama PT Arunika tidak pernah muncul dalam laporan resmi perusahaan Reno.

Nadia mengambil ponselnya dan mencari nama perusahaan itu melalui database publik.

Hasilnya membuat tangannya membeku di atas touchpad.

Direktur PT Arunika Konsultan Mandiri bernama Larasati Wibowo.

Nama lengkap Sisca.

Sisca Larasati Wibowo.

Nadia menatap layar cukup lama.

Kemudian ia tertawa kecil.

Bukan karena lucu.

Melainkan karena ia akhirnya memahami betapa bodohnya dirinya selama ini.

Perselingkuhan itu baru berjalan lima bulan.

Tetapi uang mereka sudah mengalir ke perusahaan Sisca hampir setahun.

Nadia mengambil hard disk eksternal dan membuka salinan rekaman CCTV apartemen yang pernah ia simpan beberapa minggu sebelumnya. Awalnya ia menyimpan rekaman itu karena ada paket mahal yang sempat hilang di depan unit mereka.

Ia mempercepat rekaman.

Tanggal demi tanggal.

Kemudian ia melihat sesuatu.

Tiga bulan lalu.

Reno keluar apartemen pukul 08.12 pagi.

Nadia sendiri berangkat pukul 08.40.

Pukul 10.17, Sisca datang.

Bukan Reno yang membukakan pintu.

Sisca menggunakan kartu akses.

Nadia menghentikan video.

Tangannya mulai gemetar.

Ia memperbesar gambar.

Sisca benar-benar memiliki kartu akses apartemen mereka.

Perempuan itu masuk dan baru keluar hampir dua jam kemudian sambil membawa map besar berwarna hitam.

Nadia mengenali map itu.

Map berisi salinan sertifikat tanah milik almarhum ayahnya di Bogor.

Tanah seluas hampir empat ribu meter persegi yang baru saja ditawar pengembang dengan harga lebih dari Rp12 miliar.

Sekarang semuanya mulai terasa jauh lebih gelap.

Pukul 07.18, Nadia menelepon Dimas, sepupunya yang bekerja sebagai pengacara.

“Aku butuh bantuanmu.”

Suara Dimas terdengar mengantuk.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Nada suara Nadia membuatnya langsung terjaga.

Empat puluh menit kemudian, Dimas tiba.

Nadia menunjukkan semuanya.

Transfer.

Rekaman CCTV.

Dokumen perusahaan.

Dimas membaca dalam diam.

Kemudian ia menatap Nadia.

“Jangan hubungi Reno dulu.”

“Kenapa?”

“Karena kalau ini seperti yang aku pikirkan, perselingkuhan itu justru masalah paling kecil.”

Mereka memeriksa dokumen selama hampir tiga jam.

Di salah satu folder lama, Nadia menemukan salinan surat kuasa yang tidak pernah ia tandatangani.

Surat itu memberikan wewenang kepada Reno untuk menjadikan tanah warisan Nadia sebagai jaminan investasi perusahaan.

Tanda tangannya terlihat hampir sempurna.

Hampir.

Tetapi Nadia tahu itu bukan miliknya.

Wajah Dimas berubah.

“Ini pemalsuan.”

Nadia merasa perutnya mual.

“Reno nggak mungkin sebodoh ini.”

“Orang yang terdesak uang sering melakukan hal yang jauh lebih bodoh.”

Nadia membuka pesan-pesan lama Reno yang pernah tersinkronisasi ke laptop.

Sebagian besar sudah terhapus.

Namun satu folder cadangan belum dibersihkan.

Ada percakapan antara Reno dan Sisca dari delapan bulan sebelumnya.

Reno menulis bahwa bisnisnya sedang memiliki utang besar kepada pemasok.

Sisca menjawab bahwa ia bisa membantu mendapatkan investor.

Lalu sebuah kalimat muncul.

“Kalau tanah Nadia bisa dipakai sebagai jaminan, semuanya beres.”

Reno sempat menolak.

“Itu warisan keluarganya. Dia nggak akan setuju.”

Jawaban Sisca datang dua menit kemudian.

“Makanya jangan tanya dulu.”

Nadia menutup mata.

Dadanya terasa sesak.

Jadi semuanya memang dimulai dari uang.

Tetapi percakapan berikutnya jauh lebih mengejutkan.

Beberapa bulan kemudian, Reno menulis,

“Aku sudah melakukan semua yang kamu minta. Kapan investor cair?”

Sisca menjawab,

“Sebentar lagi. Percaya sama aku.”

Kemudian Reno bertanya,

“Dan soal kita?”

Balasan Sisca sederhana.

“Aku juga sayang kamu.”

Dimas membaca percakapan itu dari samping.

“Reno memang selingkuh,” katanya pelan. “Tapi kelihatannya dia juga sedang dimainkan.”

Nadia menatap layar.

Untuk pertama kalinya sejak semalam, rasa sakitnya bercampur dengan sesuatu yang lain.

Bukan kasihan.

Melainkan kesadaran bahwa Sisca mungkin tidak pernah mencintai Reno.

Ia hanya membutuhkan akses.

Akses kepada dokumen.

Akses kepada rekening.

Akses kepada tanah Nadia.

Pukul 10.53, ponsel Nadia berdering.

Reno.

Ia membiarkannya.

Reno menelepon lagi.

Lalu sebuah pesan masuk.

“Kita harus bicara soal perceraian dan pembagian aset.”

Nadia menunjukkan pesan itu kepada Dimas.

Dimas tersenyum tipis.

“Bagus. Balas.”

Nadia mengetik.

“Datang ke rumah Ibu jam dua. Bawa Sisca. Kita selesaikan semuanya.”

Pukul 13.57, sebuah mobil berhenti di depan rumah.

Reno turun lebih dulu.

Sisca menyusul.

Kali ini tidak ada gaun elegan.

Sisca mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Wajahnya terlihat tenang, bahkan terlalu tenang.

Mereka masuk ke ruang tamu.

Reno langsung bicara.

“Aku nggak mau masalah ini jadi panjang. Kalau memang kita cerai, kita selesaikan baik-baik.”

Nadia mengangguk.

“Setuju.”

Reno tampak sedikit lega.

Sisca duduk di sampingnya.

Nadia meletakkan beberapa lembar kertas di meja.

“Makanya aku sudah menyiapkan semuanya.”

Reno mengambil kertas pertama.

Wajahnya berubah.

Itu daftar transfer menuju PT Arunika Konsultan Mandiri.

Ia menatap Sisca.

“Kamu bilang perusahaan itu punya investor.”

Sisca tidak menjawab.

Nadia meletakkan dokumen kedua.

Surat kuasa palsu.

Reno semakin pucat.

“Dari mana kamu dapat ini?”

“Dari laptopku sendiri.”

Nadia menatapnya tanpa berkedip.

“Kamu memalsukan tanda tanganku?”

Reno langsung berdiri.

“Aku bisa jelasin.”

“Duduk.”

Suara Nadia tidak keras.

Namun Reno menurut.

Sisca tiba-tiba berkata, “Nad, aku rasa masalah rumah tangga kalian nggak ada hubungannya denganku.”

Nadia menoleh kepadanya.

“Benar. Makanya sekarang kita bicara soal perusahaanmu.”

Untuk pertama kalinya, ketenangan Sisca retak.

Nadia mengeluarkan foto rekaman CCTV.

“Kamu masuk ke apartemenku menggunakan kartu akses dan mengambil dokumen tanahku.”

Sisca terdiam.

Reno menoleh cepat.

“Kamu bilang Nadia sendiri yang kasih salinannya.”

Sisca memandangnya.

“Reno, jangan mulai.”

Kalimat itu membuat ruangan berubah.

Reno berdiri.

“Kamu bilang dia tahu soal investasi itu.”

“Dan kamu percaya begitu saja?”

“Aku percaya sama kamu!”

Sisca tertawa pendek.

“Ya. Itu masalahmu.”

Nadia melihat wajah Reno seolah baru saja ditampar.

Sisca akhirnya menyadari dirinya tidak lagi punya alasan untuk berpura-pura.

Ia mengambil tasnya.

“Aku nggak mau ikut drama ini.”

Namun ketika hendak berdiri, Dimas keluar dari ruang kerja.

“Silakan pergi. Tapi sebaiknya jangan keluar kota dulu.”

Sisca menatapnya.

“Siapa kamu?”

“Kuasa hukum Nadia.”

Wajah Sisca berubah.

Dimas meletakkan sebuah dokumen tambahan di meja.

“Kami juga sudah menemukan pengajuan pinjaman menggunakan dokumen tanah itu. Nilainya Rp6,8 miliar.”

Reno langsung menatap Sisca.

“Apa?”

Sisca tidak menjawab.

“Investor apa yang kamu maksud?” suara Reno mulai meninggi.

Sisca meraih tasnya.

Reno menahan lengannya, tetapi Nadia segera berkata, “Jangan sentuh dia.”

Reno melepaskannya.

Sisca memandang Nadia dengan mata penuh kebencian.

“Kamu selalu begini.”

Nadia mengerutkan kening.

“Begini bagaimana?”

“Selalu dapat semuanya.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Sisca tertawa pahit.

“Sejak kuliah kamu punya keluarga yang mendukungmu. Pekerjaan bagus. Rumah. Suami. Warisan. Bahkan ketika aku bercerai, kamu datang menolongku seolah-olah kamu lebih kuat daripada aku.”

Nadia menatap sahabatnya selama sebelas tahun itu.

“Jadi karena itu kamu mengambil suamiku?”

Sisca tersenyum dingin.

“Suamimu datang sendiri.”

Reno menundukkan kepala.

“Tapi tanah itu beda,” lanjut Nadia.

Sisca tidak menjawab.

Dan keheningan itu sudah cukup.

Dimas kemudian menjelaskan bahwa pengajuan kredit tersebut belum cair karena bank meminta verifikasi langsung dari pemilik aset.

Sisca rupanya berencana membuat Nadia menandatangani beberapa dokumen dengan alasan investasi bisnis Reno.

Namun rencana itu belum sempat selesai.

Pesan tujuh menit semalam justru membongkar semuanya lebih cepat.

Sore itu, Sisca pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Bukan sebagai sahabat.

Bukan pula sebagai kekasih Reno.

Melainkan sebagai seseorang yang kini harus menjelaskan serangkaian transaksi dan dokumen kepada pihak berwenang.

Reno tetap duduk di ruang tamu.

Untuk pertama kalinya, ia terlihat benar-benar hancur.

“Aku nggak tahu soal pinjaman itu.”

Nadia menatapnya.

“Aku percaya.”

Reno mengangkat wajah.

Ada sedikit harapan di matanya.

Namun Nadia melanjutkan.

“Tapi kamu tahu soal tanda tanganku.”

Harapan itu langsung hilang.

“Aku panik, Nad. Perusahaan hampir bangkrut. Sisca bilang cuma sementara.”

“Kamu memalsukan tanda tangan istrimu.”

“Aku akan memperbaiki semuanya.”

“Bukan itu masalahnya.”

Nadia berdiri.

“Masalahnya adalah ketika hidupmu sulit, kamu memilih mengkhianati orang yang tidur di sampingmu. Bukan sekali. Berkali-kali.”

Reno mulai menangis.

“Aku masih sayang kamu.”

Nadia menggeleng.

“Kalau itu caramu menyayangi seseorang, aku nggak mau disayangi seperti itu.”

Tiga bulan kemudian, Nadia resmi mengajukan gugatan cerai.

Penyelidikan terhadap transaksi PT Arunika terus berjalan. Sebagian besar uang berhasil dilacak sebelum berpindah lebih jauh. Tanah warisan Nadia tidak pernah berpindah tangan karena proses jaminan belum selesai.

Perusahaan Reno akhirnya tutup.

Ia menjual mobil dan beberapa aset pribadi untuk menyelesaikan utang usahanya.

Sisca menghilang dari lingkaran pertemanan mereka.

Beberapa teman lama sempat bertanya kepada Nadia apa yang sebenarnya terjadi.

Nadia tidak pernah menceritakan semuanya.

Ia hanya menjawab, “Kami ternyata tidak mengenal satu sama lain sebaik yang kami kira.”

Enam bulan setelah malam itu, Nadia kembali ke apartemen untuk mengambil barang terakhirnya.

Ruangan itu sudah hampir kosong.

Di dekat sofa, ia menemukan bingkai foto lama.

Foto dirinya dan Sisca ketika masih kuliah.

Mereka sedang tertawa sambil berpelukan.

Di belakang foto itu ada tulisan tangan Sisca.

“Sahabat sampai tua.”

Nadia membaca kalimat itu lama sekali.

Anehnya, ia tidak marah.

Ia hanya merasa sedih kepada dirinya yang dulu, perempuan yang percaya bahwa lamanya mengenal seseorang otomatis berarti mengenalnya dengan baik.

Nadia memasukkan foto itu ke tempat sampah.

Ketika hendak pergi, ponselnya berbunyi.

Pesan dari nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.

Reno.

“Aku cuma mau bilang satu hal. Malam itu Sisca sebenarnya sudah menungguku di kafe dekat apartemen. Itu sebabnya dia bisa sampai tujuh menit. Kami memang berencana bertemu setelah kamu tidur. Maaf.”

Nadia membaca pesan itu sekali.

Kemudian menghapusnya.

Ia menatap pintu apartemen untuk terakhir kalinya sebelum menguncinya.

Selama berbulan-bulan Nadia mengira tujuh menit itu adalah tujuh menit paling buruk dalam hidupnya.

Tujuh menit yang menghancurkan pernikahannya.

Tujuh menit yang mengakhiri persahabatan sebelas tahun.

Tujuh menit yang membuat seluruh hidupnya runtuh.

Namun kini ia memahami sesuatu.

Kalau Sisca datang tiga puluh menit lebih lambat, mungkin Nadia masih akan menerima kebohongan Reno.

Kalau pesan itu tidak muncul malam itu, mungkin dokumen tanahnya sudah terlanjur dijaminkan.

Mungkin miliaran rupiah sudah hilang.

Mungkin ia akan menghabiskan bertahun-tahun hidup bersama dua orang yang diam-diam sedang menghancurkannya.

Nadia menekan tombol lift.

Pintu apartemen tertutup di belakangnya.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang meninggalkan rumah.

Ia merasa sedang meninggalkan sebuah kebohongan.

Dan ketika pintu lift terbuka, Nadia melangkah masuk sambil tersenyum kecil.

Terkadang hidup tidak menyelamatkan seseorang dengan cara yang lembut.

Terkadang keselamatan datang sebagai sebuah pesan yang menghancurkan hati, sebuah pintu yang terbuka pada waktu yang salah, dan tujuh menit yang terasa seperti akhir dari segalanya.

Padahal sebenarnya, tujuh menit itu adalah awal dari hidup yang akhirnya kembali menjadi miliknya sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang