Malam itu, di atas lantai maring yang dingin, rasa cintaku pada Mateo mati seiring dengan keringnya darah di sudut bibirku. Aku tidak menangis. Aku bangkit berdiri, membersihkan luka di pipiku, dan mengambil ponselku. Selama tiga tahun ini, Mateo mengira aku hanyalah gadis yatim piatu miskin yang beruntung dinikahinya. Dia tidak pernah tahu siapa aku sebenarnya, karena aku sengaja menyembunyikannya demi menguji ketulusannya.

Aku menghubungi sebuah nomor yang sudah tiga tahun ini tidak pernah kuhubungi.
“Halo, Ayah,” ucapku lirih begitu panggilan tersambung. “Kalian bisa menjemputku sekarang. Dan tolong… siapkan pesta itu untuk besok.”
Di seberang telepon, suara pria paruh baya yang biasanya tegas langsung bergetar penuh amarah dan kerinduan. “Clara… putriku. Akhirnya kamu pulang. Serahkan sisanya pada Ayah.”
KEESOKAN HARINYA: KEJUTAN YANG MEGAH
Pagi hari jam 6 subuh, aku sudah pergi dari rumah tanpa pamit, meninggalkan Mateo yang masih tertidur lelap. Namun, aku meninggalkan sebuah catatan kecil di meja makan beserta sebuah undangan VIP berwarna emas murni.
“Mateo, datanglah ke Grand Ballroom Hotel Regent jam 10 pagi ini. Ini adalah pesta perayaan pencapaian terbesarmu. Jangan terlambat.”
Ketika Mateo terbangun, dia tidak menemukan sarapan di meja. Dia sempat mengamuk, namun kemarahannya langsung menguap begitu melihat undangan emas tersebut. Kebetulan, perusahaan tempat Mateo bekerja—Antares Group—memang sedang mencari CEO baru untuk menggantikan pemilik lama yang akan pensiun. Mateo yakin, undangan ini adalah kode bahwa dialah yang terpilih!
Dengan setelan jas termahalnya dan senyum yang merekah lebar, Mateo melangkah masuk ke Grand Ballroom Hotel Regent.
Matanya berbinar melihat kemegahan pesta itu. Lampu kristal gantung yang mewah, dekorasi bunga-bunga segar kelas atas, dan karpet merah yang membentang luas. “Clara ternyata berguna juga menyiapkan semua ini,” pikirnya sombong. Dia merasa berada di puncak dunia.
Namun, saat dia melangkah lebih jauh ke tengah ruangan, senyum di wajahnya mendadak membeku.
LUTUT YANG GEMETAR
Mateo mengenali orang-orang yang berdiri di barisan depan. Tubuhnya mendadak kaku, dan dia hampir pingsan saat menyadari siapa saja tamu undangan yang sedang menunggunya dengan tatapan dingin.
Di sebelah kanan, berdiri Tuan Wijaya, Pemilik Utama sekaligus Pendiri Antares Group—bos tertinggi Mateo yang selama ini hanya bisa dia lihat dari jauh di rapat pemegang saham. Di sebelah kiri, ada jajaran direksi, investor utama, dan para pengacara paling ditakuti di negara ini.
Namun, yang paling membuat jantung Mateo seolah berhenti berdetak adalah sosok yang berdiri di atas panggung utama, di samping Tuan Wijaya.
Seorang wanita dengan gaun malam merah marun yang anggun, rambutnya disanggul rapi, menyembunyikan plester kecil di pipi kirinya. Wajahnya memancarkan otoritas dan kemewahan yang belum pernah Mateo lihat sebelumnya.
“Clara…?” bisik Mateo, suaranya tercekat di tenggorokan.
Tuan Wijaya maju satu langkah, suaranya menggelegar di dalam ballroom yang sunyi. “Mateo. Perkenalkan, ini adalah Clara Antares Wijaya, putri tunggal sekaligus pewaris tunggal dari seluruh Antares Group. Wanita yang selama tiga tahun ini kamu perlakukan seperti pelayan di rumahmu sendiri.”
Wajah Mateo langsung pucat pasi seperti mayat. Seluruh darahnya terasa surut ke kaki. “Ti-tidak mungkin… Clara hanya anak yatim piatu…”
“Aku menyembunyikan identitasku karena aku ingin dicintai sebagai diriku sendiri, Mateo,” aku melangkah maju ke depan panggung, menatapnya dengan tatapan kosong tanpa emosi. “Tapi yang kudapatkan justru monster yang tega memukul istrinya hanya karena secangkir kopi.”
PEMBALASAN YANG SEMPURNA
Mateo mencoba mendekat, lututnya gemetar hebat hingga dia nyaris bersujud di atas karpet. “Clara! Sayang! Ini salah paham! Aku bersumpah aku khilaf semalam! Aku sangat mencintaimu!”
“Cinta?” Aku tersenyum sinis, menyentuh plester di pipiku. “Tamparan pertamamu menghancurkan sisa rasa hormatku padamu. Tamparan keduamu dengan cincin itu memutus ikatan pernikahan kita. Dan tamparan ketigamu… memastikan bahwa aku tidak akan pernah melepaskanmu dengan mudah.”
Pengacara keluarga kami maju ke depan, menyerahkan dua buah dokumen ke hadapan Mateo yang sudah berlutut lemas.
- Surat Pemecatan Tidak Hormat: Mateo dipecat dari Antares Group hari itu juga, seluruh sahamnya disita, dan namanya dimasukkan ke dalam daftar hitam industri manapun.
- Gugatan Cerai dan Laporan Pidana: Bukti visum dari rumah sakit semalam telah diajukan ke kepolisian atas tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
“Kamu datang ke pesta ini mengira akan menjadi CEO, Mateo,” ucapku dingin, berbalik badan memunggunginya. “Tapi kamu pulang dari sini sebagai pria pengangguran, miskin, dan seorang narapidana.”
Dua petugas kepolisian yang sudah menunggu di sudut ruangan langsung melangkah maju, memborgol kedua tangan Mateo yang menangis histeris, memohon ampunan yang tidak akan pernah datang lagi.
Saat Mateo diseret keluar dari ballroom yang megah itu, aku menarik napas dalam-dalam. Udara terasa begitu segar. Luka di pipiku memang masih terasa perih, tetapi untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, aku akhirnya bisa tersenyum dengan bebas.
