SETELAH TIGA TAHUN DI PENJARA, AKU PULANG HANYA

Kata-kata Mang Karding seperti petir kedua yang menghantam jantungku. Angin malam yang dingin berembus kencang, menerbangkan tetesan air hujan ke wajahku, tapi rasa dingin itu tidak sebanding dengan kebas yang menjalar di sekujur tubuhku.

“Apa maksud, Mang?” tanyaku dengan suara tercekat. “Jangan bercanda dengan hal seperti ini.”

Mang Karding menarikku menjauh dari lampu taman, berlindung di bawah pohon beringin besar yang agak gelap. Tangannya yang kasar masih gemetar hebat saat memegang pundakku.

“Satu tahun lalu, saat pemakaman Don Roberto, Nyonya Helena dan putranya datang larat malam, membawa peti mati yang tertutup rapat,” bisik Mang Karding, matanya bergerak gelisah ke kanan dan kiri. “Mereka melarang siapa pun membuka peti itu, alasannya karena Don Roberto meninggal akibat penyakit menular. Mereka membayarku sangat besar agar aku segera menguburnya tanpa banyak tanya.”

Dia menelan ludah, suaranya semakin lirih. “Tapi malam itu, setelah mereka pergi, aku mendengar suara ketukan dari dalam tanah. Aku ketakutan, Gabriel! Aku berpikir Don Roberto masih hidup. Jadi, dengan sisa keberanianku, aku menggali kembali kuburan itu secara diam-diam di tengah malam.”

“Lalu… apa yang Mang temukan?!” napasku memburu, mencengkeram lengan Mang Karding.

“Peti itu kubuka…” Mang Karding menatap langsung ke mataku dengan tatapan horor. “Tidak ada jenazah Don Roberto di sana. Di dalamnya hanya ada tumpukan batu bata besar dan sebuah tape recorder kecil yang memutar rekaman suara ketukan dinding bungkusan plastik! Itu semua rekayasa, Gabriel. Ayahmu… Don Roberto belum meninggal saat peti itu dikuburkan!

Rencana Pembalasan: Menghancurkan Istana Kaca

Rahasia besar itu mengubah seluruh kesedihanku menjadi kemarahan yang membakar. Ayahku belum meninggal setahun yang lalu. Jika dia tidak ada di makam ini, berarti Helena dan Troy telah menculiknya, menyembunyikannya, dan memalsukan kematiannya demi menguasai seluruh aset perusahaan.

Aku tidak bisa langsung melapor ke polisi. Tanpa bukti fisik, Helena yang kini mengendalikan hukum dengan uangnya akan dengan mudah menjebloskanku kembali ke penjara. Aku harus bermain cantik.

Dengan bantuan Mang Karding, aku mendapatkan rekaman CCTV tersembunyi dari pos penjaga makam yang memperlihatkan Helena dan Troy datang di jam yang tidak wajar. Langkah pertamaku adalah mencari sekutu lama.

Aku menemui Aero, mantan kepala tim IT perusahaan ayahku yang dipecat oleh Helena segera setelah aku dipenjara. Aero adalah sahabat setiaku. Di sebuah apartemen sempit di pinggiran kota, kami mulai menyusun strategi.

Langkah 1: Meretas Jaringan Internal

Aero berhasil menanamkan spyware ke dalam ponsel Troy melalui phising email. Dari sana, kami bisa mendengarkan semua percakapan dan membaca pesan rahasia mereka.

Langkah 2: Menemukan Sang Singa yang Terluka

Hanya butuh waktu tiga hari bagi kami untuk mengendus lokasi Don Roberto. Melalui pelacakan GPS mobil Troy yang sering mengunjungi sebuah sanatorium (rumah sakit jiwa swasta) terbengkalai di luar kota, kami tahu di sanalah ayahku disembunyikan.

Penyerbuan Sanatorium Sunyi

Malam berikutnya, di bawah kegelapan tanpa bulan, aku dan Aero menyusup ke dalam sanatorium tersebut. Dengan menyamar sebagai petugas medis, aku berhasil masuk ke kamar paling ujung di lantai tiga yang dijaga oleh dua orang pria berbadan kekar.

Setelah Aero berhasil mematikan aliran listrik gedung selama dua menit, aku melumpuhkan para penjaga dalam kegelapan—kemampuan bertarung yang terpaksa kupelajari demi bertahan hidup di dalam penjara.

Saat pintu kamar kubuka, hatiku hancur melihat pemandangan di depanku.

Ayahku, Don Roberto yang dulunya gagah dan berwibawa, kini terbaring lemah di ranjang dengan tangan dirantai. Wajahnya pucat dan tubuhnya kurus kering akibat pengaruh obat bius dosis tinggi yang terus-menerus dicekokkan kepadanya.

“Papa…” bisikku, air mata menetes tanpa bisa ditahan.

Mendengar suaraku, pria tua itu membuka matanya yang sayu. Ketika dia mengenali wajahku, air mata mengalir di pipinya yang cekung.

“Gabriel… anakku…” suaranya serak dan sangat lemah. “Maafkan Papa… Papa tahu kamu tidak bersalah. Helena… mereka yang merampok perusahaan…”

“Aku tahu, Pa. Aku tahu semuanya. Sekarang, kita pulang untuk mengambil kembali apa yang menjadi milik kita.”

Kami berhasil memotong rantai dan melarikan ayahku ke rumah sakit yang aman dan terpercaya di bawah perlindungan ketat medis yang kubayar dengan sisa tabungan rahasia yang tidak diketahui Helena.

Kejatuhan Kerajaan Helena

Dua minggu kemudian, bertepatan dengan Grand Anniversary ke-25 perusahaan milik ayahku. Helena mengadakan pesta dansa topeng yang sangat megah di aula utama hotel bintang lima. Dia ingin mengumumkan secara resmi pengalihan seluruh saham Don Roberto ke atas namanya dan Troy.

Helena berdiri di atas panggung dengan gaun berliannya yang berkilau, memegang mikrofon dengan penuh keangkuhan.

“Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Suami tercinta saya, Don Roberto, mungkin sudah tiada. Namun, warisannya akan tetap hidup di tangan saya dan putra saya, Troy. Malam ini, kami resmi mengambil alih—”

BUM!

Pintu aula besar itu terbuka lebar. Lampu utama aula tiba-tiba padam, dan layar proyektor raksasa di belakang Helena yang tadinya menampilkan foto mendiang ayahku, langsung berubah.

Layar itu menampilkan video live streaming dari kamar rumah sakit: Don Roberto, duduk di kursi roda dengan pakaian rapi, didampingi oleh pengacara keluarga yang asli dan pihak kepolisian.

“Selamat malam para pemegang saham dan rekan bisnisku,” suara Don Roberto menggema mantap di seluruh penjuru ruangan. “Seperti yang kalian lihat, saya belum mati. Wanita yang berdiri di atas panggung itu, bersama putranya, telah memalsukan kematian saya, menyuntik saya dengan obat-obatan terlarang, dan memalsukan surat kuasa tanda tangan saya untuk merampok perusahaan!”

Wajah Helena seketika memucat bagai mayat. Troy mencoba berlari menuju pintu keluar, namun barisan polisi sudah berdiri di sana, memblokir seluruh akses.

Aku melangkah masuk ke tengah-tengah aula pesta, melepaskan topengku. Semua mata tertuju padaku—mantan narapidana yang mereka hina, kini kembali sebagai pemenang.

“Permainan selesai, Ibu Tiri,” ujarku sambil tersenyum dingin di hadapan Helena yang gemetar ketakutan.

Akhir dari Sebuah Kebohongan

Helena dan Troy ditangkap malam itu juga atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana, penculikan, pemalsuan dokumen negara, dan penggelapan dana korporasi skala besar. Semua aset yang mereka curi dikembalikan seketika ke tangan ayahku.

Nama baikku dibersihkan sepenuhnya oleh pengadilan. Kasus corporate embezzlement tiga tahun lalu terbukti merupakan rekayasa Troy yang menjebakku.

Satu bulan setelah badai berlalu, aku berdiri kembali di Private Memorial Park bersama ayahku yang kini berada di kursi roda, ditemani oleh Mang Karding. Kami melihat makam kosong yang dulu bertuliskan nama ayahku kini telah dihancurkan.

Ayah memegang tanganku erat. “Terima kasih, Gabriel. Kamu telah menghancurkan jeruji kebohongan mereka.”

Aku tersenyum, menatap langit yang kini cerah tanpa hujan. Tiga tahun di dalam penjara memang merenggut masa mudaku, tetapi kebenaran yang terungkap hari ini telah mengembalikan seluruh hidup dan keluargaku. Kerajaan palsu Helena telah runtuh, dan dari puing-puingnya, aku dan ayahku membangun kembali kejayaan yang sesungguhnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang