AKU BARU SAJA MENURUNI TANGGA KETIKA TERDENGAR SUARA “BRAK!” DARI BELAKANGKU. SAAT AKU BERBALIK, IBU MERTUAKU SUDAH BERDIRI DI SANA—DAN YANG PALING ANEH, WAJAHNYA SAMA SEKALI TIDAK MENUNJUKKAN KETERKEJUTAN.

AKU BARU SAJA MENURUNI TANGGA KETIKA TERDENGAR SUARA “BRAK!” DARI BELAKANGKU. SAAT AKU BERBALIK, IBU MERTUAKU SUDAH BERDIRI DI SANA—DAN YANG PALING ANEH, WAJAHNYA SAMA SEKALI TIDAK MENUNJUKKAN KETERKEJUTAN.

Aku baru saja menginjak anak tangga terakhir ketika suara keras itu terdengar.

Brak!

Tubuhku refleks menegang. Aku segera berbalik.

Bu Ratna berdiri di ujung tangga.

Wajahnya pucat pasi.

Namun, bukan itu yang membuat bulu kudukku berdiri.

Dia tidak berteriak.

Tidak memanggil siapa pun.

Tidak bergegas mencari tahu dari mana suara itu berasal.

Dia hanya berdiri diam sambil menatap ke arahku.

Seolah-olah dia sudah tahu sesuatu seperti ini akan terjadi.

Aku mengangkat pandangan ke lantai atas, mencoba melihat ke belakangnya.

Tidak ada siapa-siapa.

“Ma?”

Bu Ratna tetap diam.

Aku menaiki dua anak tangga.

“Ma, ada apa?”

Barulah dia membuka mulut.

“Jangan naik.”

Langkahku langsung terhenti.

“Kenapa?”

“Turun.”

Nada suaranya rendah, tetapi tegas.

Aku menatapnya dengan bingung.

“Ma, suara apa tadi?”

Jari-jari Bu Ratna mencengkeram pegangan tangga semakin erat.

“Jangan tanya.”

Dadaku mulai terasa sesak.

Ada sesuatu yang tidak beres.

Aku baru hendak bertanya lagi ketika tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas.

Seperti ada benda berat yang sedang diseret perlahan di atas lantai.

Srrrkkk…

Aku spontan mendongak.

Wajah Bu Ratna langsung berubah.

“Jangan!”

Teriakannya membuatku tersentak.

Dia buru-buru menuruni tangga dan mencoba menghentikanku.

Namun sudah terlambat.

Rasa penasaran sekaligus firasat buruk membuatku berlari naik.

“Jangan ke sana!” teriak Bu Ratna dari belakang.

Aku tidak berhenti.

Begitu tiba di lantai atas, langkahku mendadak melambat.

Pintu kamar kerja terbuka lebar.

Padahal aku yakin betul pintu itu masih tertutup beberapa menit sebelumnya.

Di depan pintu, sebuah vas bunga tergeletak pecah.

Pecahan keramik berserakan di lantai.

Aku menelan ludah.

Lalu pandanganku jatuh ke sesuatu di samping pecahan vas itu.

Dan seketika darahku seperti berhenti mengalir.

Sebuah gelang perak.

Gelang tipis dengan liontin kecil berbentuk daun.

Aku mengenal gelang itu.

Aku bahkan terlalu mengenalnya.

Tanganku gemetar ketika mengambilnya.

“Itu punya Maya.”

Suara Bu Ratna terdengar tepat di belakangku.

Aku menoleh cepat.

“Apa?”

Dia memejamkan mata sesaat, seolah menyesali kata-katanya sendiri.

“Maya siapa?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Aku menggenggam gelang itu lebih kuat.

“Ma. Maya siapa?”

Dari dalam kamar kerja terdengar bunyi benturan kecil.

Tok.

Aku dan Bu Ratna sama-sama menoleh.

Tidak ada angin.

Jendela tertutup.

Aku melangkah masuk.

“Laras, jangan.”

Aku mengabaikannya.

Kamar kerja suamiku, Arga, biasanya sangat rapi. Buku-buku tersusun berdasarkan warna, meja kayunya hampir selalu kosong, bahkan pulpen diletakkan sejajar.

Namun sekarang, sebuah lemari arsip bergeser dari tempatnya.

Di belakang lemari itu terlihat sesuatu yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Sebuah pintu kecil.

Warnanya sama dengan dinding sehingga nyaris tidak terlihat.

Napas Bu Ratna berubah berat.

“Kamu tidak seharusnya melihat itu.”

Aku menoleh.

“Kenapa ada pintu rahasia di rumah ini?”

Dia tidak menjawab.

Aku mendekatinya.

Pintunya tidak terkunci.

Ketika kubuka, aroma debu dan udara pengap langsung menyeruak.

Ruangan kecil itu hanya diterangi cahaya dari kamar kerja.

Di dalamnya ada beberapa kotak plastik, sebuah koper tua, dan tumpukan dokumen.

Di dinding tergantung foto seorang perempuan muda.

Aku membeku.

Perempuan itu berusia mungkin dua puluh lima atau dua puluh enam tahun.

Rambutnya sebahu.

Senyumnya lembut.

Dan di pergelangan tangannya ada gelang perak yang sama persis dengan yang sedang kugenggam.

“Maya,” bisikku.

Bu Ratna duduk lemas di kursi kerja.

Aku mengambil salah satu foto lain.

Di foto itu Maya berdiri di samping Arga.

Suamiku.

Mereka sedang tertawa.

Tangan Arga melingkar di pinggangnya.

Foto berikutnya memperlihatkan mereka mengenakan pakaian putih sederhana di depan sebuah rumah kecil.

Di belakang foto tertulis dengan tinta biru yang mulai memudar.

Untuk rumah pertama kita.

Tanganku dingin.

“Dia mantan pacar Arga?”

Bu Ratna tertawa pelan.

Tapi tawanya terdengar pahit.

“Mantan pacar?”

Dia menggeleng.

“Maya adalah istrinya.”

Seisi ruangan seolah berputar.

Aku menatapnya tanpa suara.

“Apa?”

“Arga pernah menikah sebelum menikah denganmu.”

Aku mundur satu langkah.

“Tidak mungkin.”

“Itu benar.”

“Arga bilang dia belum pernah menikah.”

Bu Ratna menundukkan kepala.

“Dia berbohong.”

Aku merasa mual.

Tiga tahun aku menikah dengan Arga.

Tiga tahun tidur di sampingnya.

Tiga tahun mempercayai setiap cerita tentang hidupnya.

Dan ternyata ada satu kehidupan yang sengaja dia kubur.

“Di mana Maya sekarang?”

Tidak ada jawaban.

Aku membanting foto itu ke meja.

“Di mana dia?”

Bu Ratna menatapku.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Sudah meninggal.”

Aku terdiam.

“Bagaimana?”

“Kecelakaan mobil.”

“Kapan?”

“Lima tahun lalu.”

Dua tahun sebelum aku menikah dengan Arga.

Aku mencoba menghitung cepat.

“Apa hubungannya semua ini dengan suara tadi?”

Bu Ratna terlihat ketakutan.

Bukan sedih.

Takut.

Aku membuka koper tua.

“Jangan sentuh itu!” katanya.

Di dalam koper terdapat pakaian perempuan, buku harian, beberapa amplop, dan sebuah ponsel lama.

Aku mengambil buku harian.

Bu Ratna berdiri.

“Laras, cukup.”

Aku membuka halaman terakhir.

Tulisan tangan Maya memenuhi hampir seluruh halaman.

Arga semakin sering pulang malam. Ibu bilang aku terlalu curiga, tapi aku tahu mereka menyembunyikan sesuatu. Aku menemukan dokumen perusahaan atas namaku. Ada transaksi yang tidak pernah kutandatangani. Kalau sesuatu terjadi padaku, aku ingin seseorang tahu bahwa aku tidak pernah menyetujui semua itu.

Aku berhenti membaca.

“Apa ini?”

Bu Ratna membuang muka.

Aku melanjutkan.

Hari ini aku bertengkar dengan Arga. Dia bilang aku menghancurkan semuanya karena ingin bicara kepada polisi. Ibu menangis dan meminta aku tidak menghancurkan masa depan keluarga mereka. Aku tidak tahu harus percaya siapa.

Halaman berikutnya kosong.

Aku merasa tengkukku dingin.

“Ma… kecelakaan Maya benar-benar kecelakaan?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Ponselku bergetar.

Nama Arga muncul.

Aku mengangkatnya.

“Ya?”

“Laras, kamu di rumah?”

Suara Arga terdengar terburu-buru.

“Iya.”

“Kamu jangan masuk kamar kerjaku.”

Aku menatap Bu Ratna.

“Kenapa?”

Hening.

“Laras, dengarkan aku. Keluar dari rumah sekarang.”

Nada suaranya membuat jantungku berdetak lebih cepat.

“Kenapa?”

“Pokoknya keluar.”

Aku memutus telepon.

Bu Ratna menatapku panik.

“Kita harus pergi.”

“Tidak sebelum Mama menjelaskan semuanya.”

“Laras—”

“Apa yang terjadi pada Maya?”

Bu Ratna akhirnya menangis.

“Dia menemukan penggelapan dana di perusahaan.”

Aku membeku.

Keluarga Arga memiliki perusahaan distribusi bahan bangunan di Jakarta. Arga mengambil alih bisnis itu setelah ayahnya meninggal.

“Waktu itu perusahaan hampir bangkrut,” lanjut Bu Ratna. “Ayah Arga memindahkan uang melalui beberapa rekening. Salah satunya atas nama Maya. Dia tidak tahu.”

“Lalu Maya mengetahuinya.”

Bu Ratna mengangguk.

“Dia mau melapor.”

“Dan?”

“Arga mencoba menghentikannya.”

Aku mendekat.

“Maksud Mama?”

“Mereka bertengkar malam itu.”

Suara Bu Ratna pecah.

“Arga mengejar mobil Maya.”

Darahku berdesir.

“Terus?”

“Mobil mereka berhenti di jalan menuju Puncak. Mereka bertengkar lagi. Maya pergi dengan mobilnya.”

Air mata mengalir di pipi Bu Ratna.

“Beberapa kilometer setelah itu, mobilnya masuk jurang.”

Aku menutup mulut.

“Arga membunuhnya?”

“Tidak!”

Jawabannya terlalu cepat.

“Arga tidak menyentuhnya. Tapi setelah kecelakaan itu, kami menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Rem mobil Maya bermasalah.”

Aku menatapnya tajam.

“Siapa yang merusaknya?”

Bu Ratna tidak menjawab.

Dan pada saat itu aku mengerti.

Bukan Arga.

“Papa Arga?”

Bu Ratna menangis semakin keras.

“Ayahnya menyuruh seseorang melakukannya. Dia hanya ingin membuat Maya takut. Katanya rem itu hanya akan dibuat sedikit bermasalah supaya Maya membatalkan niatnya menemui polisi.”

“Dan Maya meninggal.”

Bu Ratna menutup wajahnya.

“Arga tidak pernah memaafkan ayahnya.”

“Lalu kenapa semua bukti ini disembunyikan?”

“Karena kalau kasusnya dibuka, perusahaan akan hancur. Ratusan pegawai kehilangan pekerjaan. Ayah Arga juga sedang sakit waktu itu.”

Aku tertawa pendek.

Rasanya getir.

“Jadi kalian memilih mengubur seorang perempuan demi perusahaan?”

Bu Ratna menatapku.

Tidak membela diri.

Keheningan itu justru terasa seperti pengakuan.

Tiba-tiba terdengar suara mobil berhenti di halaman.

Bu Ratna berdiri.

“Arga.”

Beberapa detik kemudian, suara pintu depan dibuka keras.

Langkah kaki menaiki tangga.

Arga muncul di pintu kamar.

Wajahnya pucat ketika melihatku memegang buku harian Maya.

“Laras.”

Aku menatap lelaki yang selama ini kukenal sebagai suamiku.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang pernah menikah?”

Arga diam.

“Jawab.”

“Aku takut kehilangan kamu.”

“Bukan itu jawabannya.”

Dia masuk perlahan.

“Aku malu.”

“Malu pada apa? Pada Maya? Atau pada keluargamu?”

Rahangnya menegang.

“Aku gagal melindungi dia.”

“Dan kemudian kamu menghapus dia dari hidupmu.”

“Aku tidak pernah menghapusnya.”

Aku menunjuk ruangan tersembunyi.

“Lalu ini apa?”

Arga terlihat terpukul.

“Aku menyimpan semuanya.”

“Diam-diam.”

“Karena aku tidak sanggup melihatnya setiap hari.”

Aku tertawa pahit.

“Lalu kamu menikah denganku tanpa mengatakan apa pun.”

Arga mendekat.

“Aku mencintaimu.”

“Jangan pakai kata cinta untuk menutup kebohongan.”

Dia berhenti.

Matanya memerah.

“Aku memang pengecut.”

Untuk pertama kalinya, Arga tidak mencari pembenaran.

“Aku pikir kalau aku menutup semua itu, hidup bisa berjalan lagi.”

Aku menatap gelang Maya.

“Suara tadi apa?”

Arga tampak bingung.

“Suara?”

Bu Ratna dan aku saling pandang.

“Vas jatuh,” kataku. “Lemari bergeser.”

Arga berjalan ke arah lemari.

Wajahnya berubah.

“Lemari ini beratnya hampir seratus kilo.”

“Jadi?”

“Aku yang memasangnya. Harus dua orang untuk menggesernya.”

Kami bertiga terdiam.

Arga melihat pintu rahasia yang terbuka.

Kemudian pandangannya jatuh pada gelang Maya di tanganku.

“Gelang itu seharusnya ada di dalam koper.”

Bu Ratna berbisik, “Tadi ada di depan pintu.”

Aku tidak percaya hal mistis.

Setidaknya sebelumnya tidak.

Namun malam itu aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi.

Sebelum siapa pun bicara lagi, terdengar bunyi dari ponsel lama di dalam koper.

Tit.

Layarnya menyala.

Aku nyaris menjatuhkannya.

Arga mendekat perlahan.

“Baterainya sudah mati bertahun-tahun.”

Di layar muncul ikon rekaman suara.

Entah bagaimana, sebuah file terbuka.

Aku menekan tombol putar.

Suara berdesis terdengar.

Lalu suara seorang perempuan.

Suara Maya.

“Kalau kamu mendengar ini, berarti aku tidak sempat membawa bukti ini ke polisi.”

Bu Ratna menangis.

Arga berdiri seperti patung.

“Aku sudah menyimpan salinan dokumen transaksi di tempat yang tidak diketahui keluarga Arga. Tapi ada satu hal yang lebih penting.”

Suara Maya terputus beberapa detik.

Kemudian terdengar lagi.

“Aku sedang hamil.”

Arga langsung terduduk.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Rekaman berlanjut.

“Aku belum memberi tahu Arga. Aku ingin memberitahunya setelah semuanya selesai. Kalau sesuatu terjadi padaku, tolong cari dokter kandungan bernama Dr. Siska Mahendra. Dia tahu semuanya.”

Rekaman berhenti.

Tidak ada yang bergerak.

Wajah Arga kehilangan seluruh warnanya.

“Maya hamil?”

Bu Ratna terlihat sama terkejutnya.

“Kami tidak tahu.”

Aku merasakan sesuatu berubah dalam diriku.

Ini bukan lagi sekadar rahasia keluarga.

Ini adalah sesuatu yang belum selesai.

Keesokan paginya, tanpa meminta izin Arga atau Bu Ratna, aku mencari nama dokter itu.

Setelah beberapa panggilan dan penelusuran, aku menemukan bahwa Dr. Siska sudah pensiun dan tinggal di Bandung.

Kami menemuinya dua hari kemudian.

Arga ikut.

Bu Ratna juga.

Ketika nama Maya disebut, perempuan tua itu langsung diam.

“Saya kira suatu hari seseorang akan datang.”

Arga menelan ludah.

“Istri saya meninggal lima tahun lalu.”

Dr. Siska menatapnya lama.

“Tidak.”

Arga membeku.

“Apa?”

“Maya memang mengalami kecelakaan. Tapi dia tidak meninggal di lokasi.”

Dunia seolah berhenti.

“Dia sempat dibawa ke klinik kecil,” lanjut Dr. Siska. “Kondisinya parah. Kandungannya selamat, tapi Maya mengalami komplikasi.”

“Anaknya?” suara Arga bergetar.

Dr. Siska berdiri dan mengambil sebuah map.

“Maya melahirkan prematur beberapa minggu kemudian.”

Aku melihat Bu Ratna nyaris jatuh.

“Anak itu hidup?”

Dr. Siska mengangguk.

“Perempuan.”

Arga menangis.

Aku belum pernah melihatnya menangis seperti itu.

“Di mana dia?”

Dokter itu menatap Bu Ratna.

“Bukankah keluarga Anda yang mengambilnya?”

Semua mata tertuju pada Bu Ratna.

Wajah perempuan itu langsung pucat.

“Apa maksudnya?”

Dr. Siska membuka map.

“Seorang perempuan datang membawa surat persetujuan. Dia mengaku nenek bayi itu.”

Dia menunjukkan salinan dokumen.

Ada tanda tangan Bu Ratna.

Namun Bu Ratna menggeleng keras.

“Itu bukan tanda tangan saya.”

Aku mengambil dokumennya.

Kemudian aku melihat nama orang yang tercatat sebagai saksi.

Dan jantungku seperti dihantam sesuatu.

Budi Santoso.

Adik laki-laki almarhum ayah Arga.

Om Budi.

Orang yang sekarang menjabat direktur keuangan perusahaan keluarga.

Tiba-tiba semua potongan terasa masuk akal.

Ayah Arga bukan satu-satunya orang yang terlibat.

Seseorang mungkin sengaja membiarkan seluruh keluarga percaya bahwa Maya meninggal bersama bayinya.

Arga segera menghubungi pengacara.

Penyelidikan pribadi dilakukan.

Tiga minggu kemudian, kami menemukan jawabannya.

Om Budi selama bertahun-tahun menggunakan tragedi Maya untuk menutupi penggelapan dana yang jauh lebih besar. Setelah Maya selamat dari kecelakaan, dia membayar seseorang di rumah sakit untuk memalsukan informasi kematiannya kepada keluarga Arga.

Namun Maya akhirnya meninggal beberapa bulan kemudian karena komplikasi.

Bayinya diam-diam diserahkan kepada sebuah keluarga angkat di Bogor.

Semua itu dilakukan agar tidak ada penerus Maya yang kelak bisa menuntut hak atas aset atas namanya.

Anak itu sekarang berusia hampir lima tahun.

Namanya Amara.

Hari pertama kami bertemu dengannya, aku tidak tahu apa yang akan kurasakan.

Cemburu?

Takut?

Marah?

Tetapi ketika Amara keluar dari ruang tamu rumah keluarga angkatnya, semuanya hilang.

Dia memiliki mata Arga.

Cara mengernyitkan dahi yang sama.

Dan ketika dia tersenyum, Arga menutup wajahnya lalu menangis.

Aku berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Amara memandangku.

“Kakak siapa?”

Aku jongkok.

Sebelum sempat menjawab, Arga menatapku.

Ada ketakutan di matanya.

Mungkin dia takut aku akan pergi.

Dan untuk beberapa detik, aku memang ingin pergi.

Terlalu banyak kebohongan.

Terlalu banyak luka yang bukan milikku, tetapi tiba-tiba menjadi bagian hidupku.

Namun kemudian aku melihat Amara.

Seorang anak kecil yang tidak pernah meminta dilahirkan di tengah rahasia orang dewasa.

Aku tersenyum.

“Aku Laras.”

Amara mendekat.

Lalu tanpa diduga dia menggenggam jariku.

Beberapa bulan berikutnya tidak mudah.

Om Budi akhirnya ditahan setelah bukti penggelapan, pemalsuan dokumen, dan keterlibatannya dalam penyembunyian identitas Amara terbongkar.

Perusahaan hampir runtuh.

Arga mengundurkan diri sementara dari posisi direktur dan menyerahkan audit independen penuh.

Bu Ratna menjual sebagian aset keluarga untuk menanggung kerugian pegawai dan pihak-pihak yang menjadi korban transaksi lama.

Tidak ada akhir sempurna.

Tidak ada keluarga yang tiba-tiba kembali utuh.

Aku juga tidak langsung memaafkan Arga.

Kami menjalani konseling pernikahan.

Aku bahkan tinggal terpisah selama hampir dua bulan.

Suatu malam, Arga datang menemuiku.

Dia tidak membawa bunga.

Tidak membawa hadiah.

Hanya sebuah kotak kecil.

Di dalamnya ada gelang Maya.

“Aku pikir ini seharusnya untuk Amara nanti,” katanya.

Aku mengangguk.

Arga menatapku.

“Aku tidak akan minta kamu melupakan semua kebohonganku.”

Aku tetap diam.

“Aku cuma mau hidup tanpa menyembunyikan apa pun lagi. Kalau setelah itu kamu tetap memilih pergi, aku akan terima.”

Untuk pertama kalinya, aku percaya padanya.

Bukan karena kata-katanya indah.

Justru karena dia akhirnya berhenti meminta masa lalu menghilang.

Setahun kemudian, pada hari ulang tahun Amara yang keenam, Bu Ratna berdiri di depan tangga rumah.

Tangga yang sama.

Aku sedang membawa kue dari dapur ketika dia memanggilku.

“Laras.”

Aku menoleh.

Bu Ratna memandang ke lantai atas.

“Aku kadang masih memikirkan suara vas itu.”

Aku tersenyum tipis.

“Aku juga.”

Sampai hari ini, kami tidak pernah tahu bagaimana vas itu bisa jatuh.

Tidak tahu bagaimana lemari seberat itu bisa bergeser.

Tidak tahu bagaimana ponsel yang bertahun-tahun mati bisa menyala tepat pada malam itu.

Mungkin ada penjelasan logis.

Mungkin kabel baterainya masih menyimpan daya.

Mungkin lantai rumah sedikit miring.

Mungkin vas itu memang sudah tidak stabil.

Aku tidak tahu.

Tapi satu hal yang kutahu pasti.

Kalau suara “brak” itu tidak terdengar sore itu, kami mungkin tidak akan pernah menemukan ruangan rahasia.

Arga tidak akan pernah tahu bahwa dia memiliki seorang anak.

Amara mungkin tumbuh tanpa pernah mengetahui siapa ibunya.

Dan Maya akan tetap menjadi nama yang dikubur bersama kebohongan sebuah keluarga.

Aku melihat Amara berlari menuruni tangga sambil tertawa.

Di pergelangan tangannya terpasang gelang perak dengan liontin kecil berbentuk daun.

Bu Ratna menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kadang,” katanya pelan, “kebenaran memang menemukan jalannya sendiri.”

Aku mengangguk.

Karena ternyata suara paling keras dalam sebuah rumah bukanlah suara benda yang jatuh.

Melainkan suara rahasia yang terlalu lama dipaksa diam.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang