Pintu kamar VIP itu terbuka tepat ketika Jae-hwan sedang memaksa pena ke sela jariku.
Pengacara Choi berdiri di ambang pintu dengan wajah setenang orang yang baru datang menghadiri rapat biasa. Di belakangnya ada dua petugas keamanan rumah sakit dan seorang perempuan berkacamata yang kukenal sebagai sekretaris dewan direksi Mirae Group.
“Silakan lanjutkan bicara, Direktur Yoo,” katanya. “Anda justru sedang membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah.”
Wajah Jae-hwan langsung berubah.

So-min refleks merapatkan mantel yang dikenakannya. Sementara Nyonya Park hanya terdiam beberapa detik sebelum kembali memasang ekspresi angkuh.
“Ini urusan keluarga,” katanya tajam. “Keluar.”
Pengacara Choi masuk dan menutup pintu.
“Begitu ada pemaksaan penandatanganan dokumen hukum terhadap klien saya yang sedang dalam kondisi medis rentan, ini bukan lagi sekadar urusan keluarga.”
Ia mengangkat kantong barang bukti transparan di tangannya.
Di dalamnya terdapat sebuah ponsel.
Jae-hwan menoleh cepat ke arah bantalku.
Barulah ia menyadari sesuatu.
Tangannya langsung menyambar ke bawah bantal, tetapi hanya menemukan ruang kosong.
Aku tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa takut muncul di matanya.
“Sedang mencari ini?” tanya Pengacara Choi.
“Kau merekam kami?” Jae-hwan menatapku.
Aku tidak menjawab.
Tangisan Ha-yoon terdengar lagi.
Seorang perawat yang sejak tadi berdiri di luar segera masuk dan mendekati boks bayi. Namun Jae-hwan menghadangnya.
“Jangan sentuh anak saya.”
Perawat itu membeku.
Aku menatapnya.
“Bawa Ha-yoon kepadaku.”
Jae-hwan tertawa pendek.
“Kau bahkan tidak bisa mengangkat tubuhmu sendiri.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada tamparan ibunya.
Sebelas tahun pernikahan kami tiba-tiba terasa seperti kebohongan yang sangat panjang.
Aku masih ingat Jae-hwan muda yang menungguku di luar kantor sampai tengah malam ketika ayah meninggal dan Mirae Group hampir runtuh. Dia membawakanku kopi murah dari minimarket dan berkata bahwa suatu hari nanti aku tidak perlu menghadapi semuanya sendirian.
Ternyata aku memang tidak sendirian.
Aku hanya tidur setiap malam di samping musuhku sendiri.
“Pak Yoo.”
Suara dokter Han terdengar dari pintu.
Dokter yang menangani operasiku masuk bersama kepala perawat.
“Silakan menjauh dari pasien dan bayi.”
“Aku suaminya.”
“Dan pasien saya baru saja melaporkan adanya kekerasan fisik serta pemaksaan.”
Nyonya Park mendengus.
“Kekerasan? Saya hanya menampar menantu saya.”
Semua orang terdiam.
Pengacara Choi perlahan menoleh kepadanya.
“Terima kasih, Nyonya Park. Pengakuan langsung selalu sangat membantu.”
Wajah perempuan itu seketika pucat.
Dua petugas keamanan maju.
Jae-hwan akhirnya kehilangan kendali.
“Jangan sentuh ibu saya!”
Dia meraih lengan salah satu petugas.
Dalam kekacauan beberapa detik itu, perawat berhasil mengambil Ha-yoon dan meletakkannya dengan hati-hati di dekat dadaku.
Begitu pipi kecil putriku menyentuh kulitku, air mataku akhirnya jatuh.
Bukan karena Jae-hwan.
Bukan karena tamparan.
Aku menangis karena sejak operasi selesai, untuk pertama kalinya aku bisa merasakan kehangatan anakku begitu dekat.
“Aku di sini,” bisikku. “Ibu di sini.”
Ha-yoon perlahan berhenti menangis.
Jae-hwan menatap kami.
Entah mengapa, sesaat wajahnya terlihat goyah.
Namun kemudian So-min memegang lengannya.
“Kita pergi saja.”
Kalimat sederhana itu mengembalikan ekspresi dinginnya.
Dia merapikan jasnya.
“Kau pikir rekaman itu bisa menghancurkanku?”
Pengacara Choi menatapnya.
“Tidak.”
Jae-hwan tersenyum.
Lalu Choi melanjutkan.
“Rekaman ini hanya bonus.”
Senyumnya lenyap.
Sekretaris dewan direksi maju dan menyerahkan sebuah tablet.
Pengacara Choi meletakkannya di meja samping ranjangku.
“Pukul empat sore tadi, sesuai instruksi Ketua Kang sebelum operasi, komite audit melakukan pemeriksaan darurat terhadap transaksi yang disetujui kantor COO selama delapan belas bulan terakhir.”
Jae-hwan membeku.
Aku menatapnya tanpa berkedip.
Inilah bagian yang bahkan tidak kuketahui sebelum operasi.
Tiga minggu sebelumnya, kepala keuangan Mirae Group memberitahuku tentang pembayaran tidak wajar kepada tiga perusahaan konsultan.
Aku tidak langsung menuduh siapa pun.
Aku hanya meminta audit diam-diam.
Ternyata ketiga perusahaan itu terhubung pada orang yang sama.
Lee So-min.
“Tidak mungkin,” gumam So-min.
Pengacara Choi membuka sebuah dokumen.
“Sebelas transfer. Total sekitar 4,8 miliar won. Sebagian dikategorikan sebagai biaya konsultasi ekspansi, sebagian pembelian data pasar, sisanya biaya representasi.”
So-min mundur selangkah.
Jae-hwan menatapnya.
“Aku sudah bilang hapus semuanya.”
Ruangan kembali sunyi.
Aku hampir tidak percaya pada kebodohannya.
Pengacara Choi mengangkat alis.
“Sekali lagi, terima kasih.”
Jae-hwan sadar bahwa emosinya baru saja membuat keadaan semakin buruk.
Dia menutup mulut.
Namun kerusakan sudah terjadi.
Nyonya Park tiba-tiba berbalik kepada So-min.
“Kau bilang semuanya aman!”
So-min membalas dengan wajah panik.
“Kenapa menyalahkan saya? Putra Anda yang mengatur rekeningnya!”
Jae-hwan menatap mereka berdua.
“Diam!”
Aku memandangi tiga orang itu saling menyalahkan.
Beberapa menit lalu mereka masuk sebagai sebuah tim.
Sekarang keserakahan membuat mereka saling menggigit.
Namun ada satu hal yang masih menggangguku.
“Kenapa hari ini?” tanyaku.
Mereka berhenti.
“Kenapa kalian begitu yakin aku akan lumpuh?”
Tidak ada yang menjawab.
Tatapanku berpindah kepada Jae-hwan.
Dokter mengatakan hematoma yang menyebabkan kelumpuhan sementara itu merupakan komplikasi langka. Tidak ada seorang pun yang bisa merencanakannya.
Seharusnya begitu.
Aku melihat wajah So-min berubah.
Hanya sepersekian detik.
Namun cukup.
“Dokter Han,” kataku, “tolong periksa kembali seluruh catatan medis sebelum operasiku.”
Jae-hwan langsung menoleh.
Itulah jawabannya.
Pengacara Choi menangkap perubahan itu.
“Kenapa?”
Aku menatap suamiku.
“Karena seseorang terlalu siap memanfaatkan komplikasi yang seharusnya tidak bisa diprediksi.”
Dua jam kemudian, kamar VIP itu berubah menjadi tempat pemeriksaan.
Polisi datang setelah pihak rumah sakit menyerahkan rekaman CCTV dan laporan kekerasan. Jae-hwan, So-min, serta Nyonya Park dibawa untuk dimintai keterangan.
Tetapi kejutan terbesar datang keesokan paginya.
Dokter Han memasuki kamarku dengan wajah serius.
“Ada sesuatu yang harus Anda ketahui.”
Dia meletakkan hasil pemeriksaan di meja.
Sebelum operasi, aku menerima obat antikoagulan.
Masalahnya, aku tidak pernah membutuhkan obat itu.
Dosisnya cukup tinggi untuk meningkatkan risiko perdarahan di sekitar tulang belakang setelah anestesi.
Dadaku terasa sesak.
“Siapa yang memberikannya?”
“Dalam sistem tercatat atas instruksi dokter jaga. Tapi dokter tersebut menyangkal pernah membuat instruksi itu.”
Pengacara Choi yang duduk di sampingku langsung berdiri.
“Akses sistem?”
Dokter Han mengangguk.
“Sedang diperiksa.”
Tiga hari kemudian, polisi menemukan jawabannya.
Akun dokter telah diakses menggunakan komputer di ruang administrasi VIP.
Rekaman kamera menunjukkan So-min berada di koridor tersebut malam sebelum aku melahirkan.
Dia ternyata pernah bekerja sebagai koordinator administrasi di rumah sakit itu dua tahun sebelumnya.
Aku merasa mual ketika mendengarnya.
Perselingkuhan masih bisa kupahami sebagai pengkhianatan.
Mencuri perusahaan masih bisa kupahami sebagai keserakahan.
Tetapi mempertaruhkan nyawa ibu yang sedang mengandung demi mengambil hartanya?
Itu bukan lagi pengkhianatan.
Itu kejahatan.
Jae-hwan bersikeras tidak mengetahui soal obat tersebut.
So-min juga menyangkal.
Namun penyelidikan menemukan percakapan mereka yang telah dihapus dari sebuah perangkat lama.
Salah satu pesannya berbunyi bahwa setelah melahirkan, aku hanya perlu dibuat cukup lemah agar tidak bisa mengambil keputusan selama beberapa minggu.
Jae-hwan membalas dengan satu kalimat.
Pastikan tidak ada yang bisa menghubungkannya denganku.
Ketika Pengacara Choi membacakan pesan itu, aku tidak menangis.
Aneh sekali.
Sebelas tahun pernikahan berakhir dalam satu kalimat, tetapi yang kurasakan justru keheningan.
Empat minggu kemudian, sensasi pertama kembali ke kakiku.
Rasanya seperti ribuan jarum menusuk kulit.
Aku menangis bahagia ketika jari kaki kananku bergerak.
Dua bulan kemudian, aku bisa duduk tanpa bantuan.
Bulan keempat, dengan tongkat dan didampingi fisioterapis, aku kembali memasuki kantor pusat Mirae Group.
Seluruh karyawan berdiri ketika aku melewati lobi.
Aku meminta mereka duduk kembali.
Aku tidak ingin dipandang sebagai perempuan malang yang berhasil selamat.
Aku ingin kembali sebagai pemimpin mereka.
Jae-hwan dicopot dari seluruh jabatannya bahkan sebelum aku keluar dari rumah sakit. Penyelidikan keuangan kemudian membuka lebih banyak transaksi ilegal.
So-min menghadapi proses hukum atas manipulasi data medis, konspirasi, dan keterlibatannya dalam penggelapan dana perusahaan.
Nyonya Park berusaha menyangkal mengetahui rencana mereka. Namun rekaman di kamar rumah sakit membuktikan keterlibatannya dalam pemaksaan dokumen dan kekerasan.
Penthouse yang begitu mereka inginkan tidak pernah berpindah tangan.
Begitu pula satu lembar saham Mirae Group.
Namun sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi enam bulan kemudian.
Aku menerima surat dari Jae-hwan.
Dia tidak meminta maaf.
Setidaknya tidak pada awalnya.
Dia menulis bahwa So-min telah membohonginya. Katanya, ia hanya ingin mengambil kendali sementara atas perusahaan. Ia mengaku tidak pernah berniat membuatku terluka secara fisik.
Aku hampir merobek surat itu.
Sampai membaca kalimat terakhir.
Ada sesuatu tentang ayahmu yang tidak pernah kauketahui. Tanyakan kepada Choi tentang dokumen nomor 27.
Malam itu aku memanggil Pengacara Choi.
Untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, wajah perempuan itu berubah ketika aku menyebut nomor tersebut.
Dia membuka brankas kecil di kantornya.
Dari sana, ia mengeluarkan sebuah amplop tua.
Tulisan tangan ayahku masih terlihat di bagian depan.
Untuk Hae-jin, jika suatu hari orang terdekatmu mencoba mengambil semuanya.
Tanganku gemetar saat membukanya.
Di dalamnya terdapat surat dan dokumen perubahan perwalian yang dibuat ayahku beberapa bulan sebelum meninggal.
Ayah ternyata tidak pernah sepenuhnya mempercayai Jae-hwan.
Bukan karena ia tahu Jae-hwan akan mengkhianatiku.
Ia hanya memahami sesuatu yang baru kupahami bertahun-tahun kemudian.
Kekayaan bisa membuat cinta sulit dibedakan dari kepentingan.
Karena itu, ayah membuat klausul khusus.
Jika pasangan hidupku terbukti melakukan pemaksaan, penipuan, atau upaya mengambil alih aset keluarga ketika aku tidak mampu membuat keputusan, seluruh hak akses pasangan terhadap aset perwalian otomatis dibatalkan permanen.
Namun bagian terakhir surat ayah membuatku menangis.
Jangan hidup untuk mempertahankan perusahaan ini, Hae-jin. Perusahaan dibuat untuk menjaga hidupmu, bukan sebaliknya. Kalau suatu hari kau harus memilih antara Mirae dan dirimu sendiri, pilih dirimu.
Aku memandangi Ha-yoon yang sedang tertidur di sofa kantorku.
Untuk pertama kalinya sejak ayah meninggal, aku memahami maksudnya.
Setahun setelah malam di rumah sakit itu, aku berdiri tanpa tongkat di depan jendela kantor.
Di bawah sana, Seoul bergerak seperti biasa.
Mirae Group tetap berdiri.
Aku tetap memimpinnya.
Namun aku tidak lagi bekerja sampai tengah malam setiap hari.
Aku membentuk yayasan untuk membantu perempuan yang menjadi korban kekerasan finansial dan domestik. Sebagian keuntungan tahunan perusahaan dialihkan untuk menyediakan bantuan hukum dan tempat perlindungan.
Ha-yoon tumbuh menjadi bayi yang sehat dan sangat suka tertawa.
Suatu sore, ketika aku menggendongnya di depan jendela, dia meraih kalung yang kupakai.
Di ujung kalung itu bukan berlian.
Melainkan cincin pernikahanku yang sudah dipipihkan menjadi sebuah lempengan kecil.
Di belakangnya terukir tanggal kelahiran Ha-yoon.
Banyak orang bertanya mengapa aku masih menyimpannya.
Jawabannya sederhana.
Aku tidak menyimpannya untuk mengenang Jae-hwan.
Aku menyimpannya untuk mengingat perempuan yang pernah terbaring lumpuh di sebuah ranjang rumah sakit, ditampar, dikhianati, dan dipaksa menyerahkan seluruh hidupnya.
Mereka mengira malam itu adalah saat Kang Hae-jin kehilangan segalanya.
Padahal mereka salah.
Malam itu aku memang kehilangan seorang suami.
Tetapi pada malam yang sama, aku mendapatkan kembali sesuatu yang selama sebelas tahun perlahan hilang dariku.
Diriku sendiri.
