“Ayah… wanita itu mengambil uang Ayah.”
Suara Grace terus terngiang di kepala Ethan sepanjang perjalanan pulang.
Hujan mulai turun ketika mobilnya memasuki kawasan perumahan mewah di pinggiran Jakarta. Ethan menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Perjalanan bisnis yang seharusnya membuatnya menginap dua malam lagi telah ia tinggalkan begitu saja.
Ketika akhirnya rumah dua lantai berwarna putih itu terlihat, jantungnya justru berdetak semakin keras.
Lampu ruang tamu masih menyala.
Pintu garasi terbuka setengah.

Dan mobil Clara tidak ada.
Clara adalah pengasuh baru Emma dan Grace. Perempuan berusia tiga puluh tahun itu baru bekerja empat bulan, direkomendasikan langsung oleh kepala yayasan pendidikan tempat kedua anaknya bersekolah.
Selama ini Clara nyaris sempurna.
Sabar, tenang, dan tidak pernah meminta sesuatu yang aneh.
Justru itulah yang sekarang membuat Ethan semakin takut.
Ia menghentikan mobil, lalu berlari masuk.
“Emma! Grace!”
Tak ada jawaban.
“Grace!”
Ethan menaiki tangga dua anak sekaligus.
Pintu kamar si kembar terbuka.
Kosong.
Selimut Grace tergeletak di lantai.
Boneka kelinci kesayangannya berada di dekat pintu.
Darah Ethan seperti berhenti mengalir.
Ia berlari menuju ruang kerjanya.
Pintu terbuka.
Brankas di balik lukisan juga terbuka.
Kosong.
Ethan menatapnya dengan napas tercekat.
Di dalam brankas itu sebelumnya tersimpan uang tunai hampir dua miliar rupiah untuk pembayaran transaksi properti, beberapa dokumen perusahaan, sertifikat, dan satu kotak kecil berisi perhiasan peninggalan mendiang istrinya.
Semuanya hilang.
“Clara…”
Tangannya mengepal.
Ia meraih ponsel untuk menghubungi polisi ketika terdengar suara kecil dari bawah meja.
“Ayah?”
Ethan membeku.
Ia berlutut.
Grace merangkak keluar sambil menangis.
Ethan langsung memeluknya.
“Ya Tuhan… Grace.”
Tubuh kecil itu gemetar hebat.
“Ayah datang…”
“Emma mana?”
Grace menunjuk ke arah lemari.
Ethan membukanya.
Emma duduk meringkuk di dalam sambil memeluk lutut. Begitu melihat ayahnya, ia langsung berlari keluar.
“Ayah!”
Ethan memeluk kedua putrinya erat-erat.
Untuk beberapa detik, uang dan dokumen yang hilang tidak lagi penting.
“Kalian tidak apa-apa?”
Emma mengangguk.
“Clara pergi.”
“Dia menyakiti kalian?”
Grace menggeleng.
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Ethan bingung.
“Lalu kenapa kalian bersembunyi?”
Emma dan Grace saling menatap.
“Karena Tante Clara menyuruh kami,” jawab Emma.
Ethan terdiam.
“Apa?”
“Katanya kalau ada orang datang, jangan keluar sampai Ayah pulang.”
Sebelum Ethan sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara mobil berhenti di halaman.
Lampu depannya menembus jendela.
Grace langsung mencengkeram lengan ayahnya.
“Itu dia.”
Ethan berdiri.
Namun yang turun bukan Clara.
Seorang pria mengenakan jaket hitam berjalan menuju pintu depan.
Kemudian pria kedua muncul dari sisi pagar.
Ethan segera mematikan lampu ruang kerja.
“Masuk lemari. Sekarang.”
Kedua anak itu menurut.
Dari lantai bawah terdengar bunyi pintu dibuka paksa.
Ethan menelepon polisi sambil berbisik memberikan alamat.
Kemudian terdengar suara laki-laki.
“Cari anak-anaknya.”
Tubuh Ethan menegang.
“Kalau perempuan itu belum membawa mereka, berarti mereka masih di sini.”
Ethan menatap lemari tempat kedua putrinya bersembunyi.
Jadi mereka bukan pencuri biasa.
Mereka mencari Emma dan Grace.
Langkah kaki terdengar menaiki tangga.
Ethan meraih tongkat golf yang tersandar di sudut ruangan.
Pintu didorong terbuka.
Seorang pria masuk.
Begitu melihat Ethan, wajahnya berubah.
“Pak Ethan?”
Ethan menghantam tangannya hingga benda yang dipegang pria itu jatuh. Perkelahian terjadi singkat tetapi brutal. Pria kedua segera datang membantu.
Ethan hampir tersungkur ketika tiba-tiba suara sirene terdengar.
Kedua penyusup itu panik.
Salah seorang berlari ke bawah, tetapi polisi sudah memasuki halaman.
Beberapa menit kemudian keduanya berhasil diamankan.
Ethan belum sempat merasa lega ketika ponselnya berdering.
Clara.
Ia langsung mengangkatnya.
“Di mana kamu?”
“Pak Ethan, dengarkan saya dulu.”
“Uang saya hilang, dua orang masuk ke rumah mencari anak-anak saya, dan kamu menghilang!”
“Saya mengambil uang itu.”
Ethan terdiam.
“Tapi bukan untuk mencurinya.”
“Lalu untuk apa?”
“Buka laci paling bawah meja kerja Anda.”
Ethan menarik laci.
Di dalamnya terdapat sebuah ponsel lama yang belum pernah ia lihat.
“Nyalakan.”
Telepon itu sudah terisi daya.
Begitu menyala, muncul puluhan rekaman suara, foto dokumen, dan tangkapan layar percakapan.
Ethan membuka salah satunya.
Tangannya langsung membeku.
Nama yang muncul di layar adalah Adrian Reynolds.
Adiknya sendiri.
Pesan itu berbunyi bahwa Ethan harus dibuat tetap berada di Dallas sampai transaksi selesai. Setelah itu, anak-anak harus dibawa ke tempat yang sudah disiapkan.
Ethan membaca pesan berikutnya.
Jangan sakiti mereka. Kita cuma membutuhkan tekanan agar Ethan menandatangani pengalihan saham.
Dadanya terasa sesak.
Adrian adalah orang yang paling ia percaya.
Sejak istrinya, Maya, meninggal tiga tahun sebelumnya karena kecelakaan mobil, Adrian selalu berada di sisinya. Ia membantu mengurus perusahaan, menemani si kembar, bahkan berkali-kali mengatakan bahwa keluarga harus tetap bersama.
“Dari mana kamu mendapatkan ini?” tanya Ethan.
Clara terdiam beberapa detik.
“Karena saya sudah mengawasi Adrian selama empat bulan.”
“Siapa sebenarnya kamu?”
“Saya akan menjelaskan semuanya. Tapi jangan bicara kepada siapa pun tentang uang itu. Termasuk polisi, sebelum saya kembali.”
Sambungan terputus.
Satu jam kemudian Clara tiba.
Ia membawa tas besar.
Begitu masuk ruang kerja, ia meletakkannya di meja dan membukanya.
Uang Ethan masih lengkap.
Dokumen dan perhiasan mendiang Maya juga ada.
“Saya sengaja mengosongkan brankas,” katanya. “Adrian menyuruh orang mengambil dokumen pengalihan kepemilikan perusahaan malam ini. Kalau mereka mendapatkannya, mereka bisa memalsukan tanda tangan Anda.”
Ethan menatapnya tajam.
“Kenapa Grace bilang kamu mengambil uangku?”
Clara tersenyum pahit.
“Karena memang itu yang dia lihat.”
Grace yang berdiri di samping ayahnya mengangguk polos.
“Aku belum selesai ngomong waktu teleponnya mati.”
Ethan menutup mata sejenak.
“Tapi kenapa kamu tahu rencana Adrian?”
Clara mengambil sebuah amplop dari tasnya.
Di dalamnya ada foto seorang perempuan.
Maya.
Istri Ethan.
Namun foto itu diambil beberapa minggu sebelum kecelakaan, dan Maya sedang berdiri bersama Clara.
Ethan menatapnya tidak percaya.
“Kamu mengenal Maya?”
“Dia kakak saya.”
Ruangan mendadak terasa terlalu sunyi.
Ethan mengangkat wajah.
“Maya tidak pernah bilang punya adik.”
“Karena keluarga kami berantakan sejak lama. Kami berbeda ayah. Setelah ibu meninggal, Maya tinggal bersama keluarga ayahnya, sementara saya dibesarkan nenek.”
Clara menarik napas.
“Beberapa minggu sebelum meninggal, Maya menghubungi saya. Dia bilang ada sesuatu yang tidak beres dengan perusahaan Anda. Dia curiga Adrian mengambil uang perusahaan.”
Ethan menggeleng.
“Polisi bilang kecelakaan Maya terjadi karena rem gagal.”
“Benar.”
Clara menatapnya.
“Tapi rem itu tidak gagal dengan sendirinya.”
Kalimat itu menghantam Ethan lebih keras daripada apa pun malam itu.
Clara menyerahkan sebuah flashdisk.
Maya rupanya telah mengumpulkan bukti penggelapan dana oleh Adrian. Nilainya bukan puluhan juta, melainkan hampir seratus miliar rupiah melalui perusahaan-perusahaan fiktif.
Maya berniat memberitahu Ethan.
Namun sehari sebelum pertemuan mereka, mobilnya mengalami kecelakaan.
“Kenapa kamu baru muncul sekarang?”
“Karena saya tidak punya bukti cukup.”
Clara menatap Emma dan Grace.
“Dan karena setelah Maya meninggal, saya takut Adrian akan melakukan sesuatu kepada mereka.”
Selama tiga tahun, Clara mengumpulkan bukti. Ketika mengetahui Adrian mulai merencanakan pengambilalihan perusahaan, ia sengaja melamar sebagai pengasuh agar bisa berada dekat dengan si kembar.
Ethan merasa dunianya runtuh.
Selama tiga tahun ia makan satu meja dengan orang yang mungkin bertanggung jawab atas kematian istrinya.
Pagi berikutnya Adrian datang.
Ia memasuki rumah dengan wajah cemas.
“Aku dengar ada orang membobol rumahmu. Anak-anak aman?”
Ethan berdiri di ruang tamu.
Clara dan kedua anaknya tidak terlihat.
“Aman.”
Adrian mengembuskan napas lega.
“Syukurlah.”
Ethan meletakkan segelas kopi di depannya.
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan setelah Maya meninggal?”
Adrian mengernyit.
“Apa?”
“Aku selalu menyalahkan diriku sendiri.”
Ethan menatap adiknya.
“Karena malam sebelum kecelakaan, kami bertengkar. Aku pergi tidur tanpa mengatakan aku mencintainya.”
Wajah Adrian berubah sedikit.
“Tapi sekarang aku tahu ada seseorang yang seharusnya lebih merasa bersalah.”
Adrian berdiri.
“Apa maksudmu?”
Pintu belakang terbuka.
Dua penyidik kepolisian masuk.
Wajah Adrian langsung pucat.
Ethan meletakkan ponsel lama itu di meja.
“Kamu mengenali ini?”
Adrian mundur.
“Itu bukan milikku.”
“Aku belum bilang itu milik siapa.”
Keheningan memenuhi ruangan.
Adrian berbalik hendak lari.
Polisi segera menangkapnya.
Namun sebelum dibawa keluar, Adrian menatap Ethan dengan kebencian.
“Kamu pikir Maya perempuan suci?”
Ethan membeku.
“Apa maksudmu?”
Adrian tertawa kecil.
“Coba tanya Clara kenapa Maya menyimpan rekening rahasia.”
Clara yang baru keluar dari lorong langsung pucat.
Ethan menoleh.
“Rekening apa?”
Clara perlahan mengeluarkan sebuah buku tabungan lama.
“Ada satu hal lagi yang belum saya ceritakan.”
Ternyata Maya memang memiliki rekening rahasia.
Namun bukan untuk dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun ia diam-diam menyisihkan sebagian penghasilannya ke sebuah yayasan untuk anak-anak yang kehilangan orang tua akibat kecelakaan lalu lintas.
Di halaman terakhir buku itu tertulis dua nama penerima manfaat utama.
Emma Reynolds.
Grace Reynolds.
Di bawahnya terdapat sebuah catatan tulisan tangan Maya.
Jika suatu hari aku tidak bisa menemani mereka tumbuh, aku ingin mereka belajar bahwa uang bukanlah ukuran kekayaan seseorang. Yang menentukan nilai hidup adalah apa yang kita lakukan ketika memiliki kesempatan menolong orang lain.
Ethan membaca tulisan itu berkali-kali.
Untuk pertama kalinya sejak Maya meninggal, ia menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.
Beberapa bulan kemudian Adrian dijatuhi hukuman setelah penyelidikan membuktikan keterlibatannya dalam penggelapan perusahaan dan sabotase kendaraan Maya. Orang-orang yang masuk ke rumah malam itu juga mengaku bekerja atas perintahnya.
Ethan kemudian melakukan sesuatu yang membuat seluruh jajaran direksi terkejut.
Ia menjual sebagian saham pribadinya.
Bukan karena perusahaan mengalami masalah.
Ia memasukkan sebagian besar hasilnya ke yayasan yang pernah dirintis Maya.
Clara tidak lagi bekerja sebagai pengasuh.
Ethan memintanya tinggal sebagai bagian dari keluarga.
Bukan sebagai pegawai, melainkan sebagai bibi Emma dan Grace.
Suatu malam, beberapa bulan setelah semuanya berakhir, Ethan sedang membacakan cerita sebelum tidur ketika Grace tiba-tiba bertanya,
“Ayah?”
“Ya?”
“Waktu itu Ayah marah karena Tante Clara mengambil uang Ayah?”
Ethan tersenyum.
“Sedikit.”
“Sekarang masih marah?”
Ethan menatap kedua putrinya.
Kemudian pandangannya jatuh pada foto Maya di meja samping tempat tidur.
“Tidak.”
Grace terlihat bingung.
“Kenapa?”
Ethan mengecup keningnya.
“Karena malam itu Ayah pikir seseorang mengambil uang Ayah.”
Ia kemudian mengecup kening Emma.
“Ternyata dia justru mengembalikan sesuatu yang jauh lebih berharga.”
“Apa?”
Ethan memandang mereka lama.
“Keluarga kita.”
Grace tersenyum dan memejamkan mata.
Beberapa menit kemudian kedua anak itu tertidur.
Ethan mematikan lampu dan berjalan keluar.
Sebelum menutup pintu, ia menoleh sekali lagi.
Dulu ia mengira kekayaan berarti angka di rekening, perusahaan besar, rumah mewah, dan kemampuan membeli hampir apa saja.
Malam ketika brankasnya kosong justru mengajarinya sesuatu yang tidak pernah bisa dibeli oleh seluruh uang yang ia miliki.
Ada kehilangan yang membuat seseorang miskin meskipun memiliki segalanya.
Dan ada kebenaran yang, meskipun datang dengan menyakitkan, dapat mengembalikan seluruh hidup seseorang.
Telepon Grace malam itu memang membuat Ethan bergegas pulang karena takut kehilangan uangnya.
Namun ketika semuanya selesai, ia akhirnya memahami bahwa uang di dalam brankas adalah hal paling tidak berharga yang hampir direnggut darinya.
