SALAH MENEKAN NOMOR, AKU MALAH MENELEPON SUAMI DALAM PERNIKAHAN PERJANJIANKU SAAT IA SEDANG BERTARUH DENGAN TEMAN-TEMANNYA. DIA MEMANGGILKU “SAYANG”, PULANG SEBELUM PINTU KUKUNCI, LALU SATU TANDA TANGANKU DI RUMAH SAKIT MEMBUAT PERNIKAHAN TIGA TAHUN KAMI BERUBAH MENJADI PERANG KELUARGA

Aku tidak langsung memahami apa yang sedang kulihat.

Nama Reza Mahendra tercetak jelas di bagian bawah dokumen itu.

Di sebelahnya ada nama Salma Wiratama.

Bukan tanda tangan.

Hanya dua kolom kosong yang sudah disiapkan seolah seseorang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk mengisinya.

Aku mengangkat wajah.

“Apa ini?”

Salma menyandarkan punggung dengan tenang.

“Rancangan kesepakatan keluarga.”

“Kesepakatan apa?”

Tante Ratih menjawab sebelum Salma sempat membuka mulut.

“Kesepakatan yang seharusnya dibuat sejak awal.”

Reza akhirnya bergerak.

Ia mengambil dokumen itu dari meja, membacanya sekilas, lalu wajahnya berubah dingin.

“Siapa yang membuat ini?”

Tante Ratih menghela napas.

“Jangan bersikap seolah kamu tidak tahu situasinya, Reza.”

“Aku tanya siapa yang membuatnya.”

Nada suaranya tidak keras.

Justru karena terlalu tenang, seluruh meja langsung sunyi.

Tante Ratih menatapnya tanpa gentar.

“Pengacara keluarga.”

“Tanpa persetujuanku?”

“Kamu sudah terlalu lama menghindari tanggung jawab.”

Reza tertawa pendek.

Tidak ada sedikit pun humor di sana.

“Jadi sekarang tanggung jawab berarti menceraikan istriku lalu menikahi anak rekan bisnis keluarga?”

Salma terlihat menegang.

Oma Reza akhirnya bersuara.

“Cukup.”

Semua orang diam.

Perempuan tua itu menatap dokumen pernikahan kami, lalu menatapku.

“Nadira, apakah isi perjanjian itu benar?”

Pertanyaan itu terasa seperti pukulan.

Aku bisa berbohong.

Aku bisa mengatakan semuanya sudah berubah.

Aku bisa meminta Reza membelaku.

Namun tidak satu pun terasa pantas.

Aku menarik napas.

“Benar, Oma.”

Beberapa orang langsung berbisik.

Aku melanjutkan.

“Pernikahan kami dimulai karena kesepakatan. Kami sama-sama punya alasan masing-masing.”

Tante Ratih tersenyum tipis.

“Nah.”

“Tapi itu bukan berarti aku dibayar.”

Senyumnya hilang.

Aku menatapnya.

“Tidak pernah ada uang untuk memainkan peran sebagai istri. Tidak ada gaji, tidak ada kompensasi, tidak ada transaksi.”

Salma menyilangkan tangan.

“Tetap saja kamu menikah tanpa cinta.”

Aku menoleh kepadanya.

“Dan kamu mau menikah dengan laki-laki yang bahkan belum pernah menyatakan ingin menikahimu. Bedanya di mana?”

Ruangan mendadak senyap.

Wajah Salma berubah.

Reza menunduk sedikit, seperti sedang menahan sesuatu.

Mungkin tawa.

Mungkin kemarahan.

Tante Ratih langsung menyela.

“Kamu jangan kurang ajar.”

“Aku cuma menjawab.”

“Cukup, Nadira.”

Kali ini suara Reza.

Aku menatapnya.

Entah kenapa, rasa panas langsung naik ke dada.

Jadi akhirnya dia akan menyuruhku diam juga.

Namun Reza justru berdiri.

Ia meletakkan telapak tangan di meja.

“Bukan dia yang harus cukup.”

Tatapannya berpindah ke Tante Ratih.

“Tante yang cukup.”

Tante Ratih membeku.

Reza mengangkat dokumen perjanjian kami.

“Dokumen ini bersifat pribadi.”

Kemudian ia mengangkat rancangan pernikahannya dengan Salma.

“Dan dokumen ini dibuat tanpa persetujuanku.”

“Apa kamu tahu berapa banyak yang dipertaruhkan dalam kerja sama dengan keluarga Wiratama?” Tante Ratih membalas.

“Aku tahu.”

“Kalau tahu, kamu seharusnya paham.”

“Aku paham bisnis.”

Reza menatap Salma.

“Dan bisnis tidak membutuhkan aku menikahi putri pemilik gudang.”

Wajah Salma memucat.

“Ayahku tidak pernah memaksamu.”

“Bagus. Berarti kita sepakat.”

Salma bangkit.

“Aku datang ke sini karena keluargamu mengatakan pernikahan kalian hanya formalitas.”

Tatapannya beralih kepadaku.

“Katanya kalian akan berpisah.”

Aku tidak bisa membalas.

Karena bagian itu memang benar.

Atau setidaknya pernah benar.

Reza menatapku.

Untuk beberapa detik, aku merasa hanya ada kami berdua di ruangan itu.

Lalu ia berkata,

“Rencana tiga tahun itu tidak lagi berlaku.”

Jantungku berhenti satu ketukan.

Aku menatapnya.

“Apa?”

Reza tidak menjawabku.

Ia tetap memandang keluarganya.

“Aku tidak akan menceraikan Nadira.”

Tante Ratih tertawa tidak percaya.

“Karena apa? Karena beberapa minggu dia menjagamu di rumah sakit?”

Rahang Reza mengeras.

“Karena dia istriku.”

“Berdasarkan kontrak.”

“Aku tidak peduli bagaimana pernikahan itu dimulai.”

Kalimat itu membuat dadaku sesak.

Namun aku tidak tahu apakah harus merasa lega atau takut.

Makan malam berakhir tanpa makanan penutup.

Aku bahkan tidak ingat bagaimana kami pamit.

Sepanjang perjalanan pulang, Jakarta terasa terlalu sunyi.

Hujan sudah berhenti.

Lampu jalan memantul di kaca mobil.

Reza menyetir tanpa bicara.

Aku menatap keluar jendela.

Akhirnya aku tidak tahan.

“Kamu tidak perlu mengatakan itu.”

“Apa?”

“Bahwa rencana tiga tahun tidak berlaku.”

Tangannya tetap di kemudi.

“Aku tidak mengatakannya karena terpaksa.”

“Keluargamu sedang menyerangku.”

“Justru karena itu aku harus mengatakan yang sebenarnya.”

Aku tertawa kecil.

Pahit.

“Kebenaran yang mana, Reza?”

Dia menoleh sebentar.

“Apa maksudmu?”

Aku memandangnya.

“Kita menikah karena kesepakatan. Setahun lebih kita hidup seperti dua orang asing. Lalu aku salah meneleponmu, kamu sakit, aku menjagamu beberapa hari, dan sekarang tiba-tiba kamu bilang tidak mau bercerai.”

Aku menelan ludah.

“Aku butuh tahu apakah kamu benar-benar menginginkan pernikahan ini, atau hanya tidak suka keluargamu mengatur hidupmu.”

Mobil mendadak melambat.

Reza menepi.

Aku terkejut.

Ia mematikan mesin.

Kemudian ia menatapku.

“Aku mulai berubah pikiran jauh sebelum operasi itu.”

Aku membeku.

“Kapan?”

“Tidak tahu.”

“Reza.”

“Mungkin ketika aku sadar kamu selalu meninggalkan lampu dapur menyala kalau aku belum pulang.”

Aku tidak bergerak.

“Mungkin ketika kamu demam tapi tetap mengirim pesan untuk mengingatkan aku makan.”

Aku menatapnya.

“Aku cuma sopan.”

“Aku tahu.”

Ia menarik napas.

“Atau mungkin malam kamu salah menelepon dan mengancam mengunci pintu.”

Aku hampir tertawa.

“Itu tidak romantis.”

“Aku juga tidak bilang romantis.”

Untuk pertama kalinya, wajah Reza terlihat gugup.

Benar-benar gugup.

“Aku cuma tahu setelah malam itu aku mulai ingin pulang lebih cepat.”

Dadaku bergetar.

Reza melanjutkan.

“Dan ketika aku bangun setelah operasi lalu melihatmu masih duduk di sana, aku sadar satu hal.”

“Apa?”

“Aku sudah terbiasa menganggap kamu akan selalu ada.”

Nada suaranya menurun.

“Dan ternyata pikiran bahwa suatu hari kamu benar-benar pergi membuatku takut.”

Aku tidak bisa mengatakan apa pun.

Sepanjang sisa perjalanan, kami kembali diam.

Namun kali ini diamnya berbeda.

Ada sesuatu yang sudah terbuka di antara kami.

Sesuatu yang tidak bisa dimasukkan kembali ke dalam kotak.

Dua hari kemudian, masalah yang sebenarnya dimulai.

Pagi itu Fikri menelepon Reza.

Aku sedang membuat kopi ketika mendengar suara Reza dari ruang kerja.

“Apa maksudmu dibekukan?”

Aku berhenti.

Beberapa detik kemudian ia keluar.

Wajahnya tegang.

“Ada apa?”

“Dewan komisaris mengadakan rapat darurat.”

“Kenapa?”

“Karena seseorang menyebarkan perjanjian pernikahan kita.”

Aku merasa darahku dingin.

“Ke siapa?”

“Investor.”

Aku menjatuhkan sendok.

Dalam waktu beberapa jam, dokumen itu tersebar di kalangan internal perusahaan.

Narasinya dibuat seolah Reza memalsukan citra keluarga demi mendapatkan investasi.

Lebih buruk lagi, ada tuduhan bahwa pernikahan kami dilakukan untuk memanipulasi kepercayaan investor.

Padahal tidak pernah ada klausul investasi yang mensyaratkan Reza menikah.

Namun rumor tidak membutuhkan fakta untuk berkembang.

Saham perusahaan keluarga yang diperdagangkan melalui perusahaan induk turun.

Dua calon investor meminta penjelasan resmi.

Dan untuk pertama kalinya aku memahami mengapa Tante Ratih begitu agresif.

Bukan hanya soal Salma.

Ini soal kekuasaan.

Jika Reza dianggap merusak reputasi perusahaan, dewan bisa mencopotnya.

Malam itu ia pulang hampir tengah malam.

Aku masih menunggu di ruang makan.

“Kamu sudah makan?”

“Belum.”

Aku menghangatkan sup.

Reza duduk sambil memijat pelipis.

“Tante Ratih?”

Aku bertanya pelan.

“Dia menyangkal.”

“Kamu percaya?”

“Tidak.”

Aku meletakkan mangkuk di depannya.

“Kalau ini karena aku, mungkin kita harus…”

“Jangan.”

Aku terdiam.

Reza menatapku tajam.

“Jangan pernah menyelesaikan kalimat itu.”

“Tapi kalau perceraian bisa menghentikan masalah…”

“Tidak akan.”

“Bagaimana kamu tahu?”

“Karena masalahnya bukan kamu.”

Ia menatapku.

“Masalahnya mereka ingin aku tunduk.”

Aku duduk di seberangnya.

“Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?”

Reza tidak langsung menjawab.

Kemudian ia membuka ponsel.

“Aku akan mencari siapa yang membocorkan dokumen.”

Ternyata kami tidak perlu menunggu lama.

Dua hari kemudian, pengacara kami menelepon.

File digital perjanjian hanya tersimpan di tiga tempat.

Komputer pengacara.

Laptop Reza.

Dan salinan cetak yang kusimpan di laci kamar.

Komputer pengacara tidak pernah diretas.

Laptop Reza juga bersih.

Artinya seseorang memotret salinan fisikku.

Aku pulang lebih cepat hari itu.

Begitu membuka laci, aku langsung tahu.

Map biru tempat menyimpan dokumen sedikit bergeser.

Aku memang bukan orang yang sangat rapi.

Namun aku ingat posisi benda-benda penting.

Hanya tiga orang selain aku yang pernah masuk apartemen dalam beberapa bulan terakhir.

Petugas kebersihan.

Fikri.

Dan seorang perempuan yang datang dua bulan lalu membawa makanan dari Oma.

Namanya Siska.

Asisten pribadi Tante Ratih.

Reza langsung menghubungi bagian keamanan gedung.

Rekaman CCTV menunjukkan Siska pernah masuk saat aku sedang tidak di rumah.

Petugas kebersihan membukakan pintu karena ia mengaku membawa obat untuk Reza.

Masalahnya, saat itu Reza belum sakit.

Reza menatap layar rekaman lama sekali.

Kemudian berkata,

“Ini sudah direncanakan sebelum operasi.”

Aku merasa merinding.

Semua mulai masuk akal.

Salma.

Rancangan pernikahan.

Perjanjian yang bocor.

Tekanan dewan.

Mereka sudah menyiapkan jalan untuk menyingkirkanku jauh sebelum hubungan kami berubah.

Reza tidak langsung menuduh Tante Ratih.

Sebaliknya, dia melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Dia mengumpulkan bukti.

Fikri menemukan transfer uang dari perusahaan konsultan milik kerabat Tante Ratih kepada Siska.

Tim hukum menemukan bahwa rancangan kesepakatan Reza dan Salma sudah dibuat empat bulan sebelumnya.

Dan kemudian kami menemukan sesuatu yang tidak pernah kami duga.

Salma datang sendiri ke apartemen kami.

Malam itu wajahnya tidak lagi anggun seperti saat makan malam.

Ia terlihat lelah.

“Aku perlu bicara.”

Reza berdiri di depan pintu.

“Soal apa?”

Salma menatapku.

“Boleh aku masuk?”

Kami bertiga duduk di ruang tamu.

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Kemudian Salma mengeluarkan ponselnya.

“Aku tidak tahu Tante Ratih mencuri dokumen kalian.”

Reza tidak bereaksi.

“Tapi kamu tahu soal rencana pernikahan.”

Salma menunduk.

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena ayahku terancam kehilangan kerja sama dengan Mahendra Logistics.”

Aku mengernyit.

Salma melanjutkan.

“Tante Ratih mengatakan kalau aku menikah dengan Reza, kontrak kerja sama akan diperpanjang sepuluh tahun.”

Wajah Reza berubah.

“Itu bukan kewenangannya.”

“Aku tahu sekarang.”

Salma tertawa pahit.

“Aku bodoh. Aku pikir semua orang menyetujui.”

Kemudian ia menunjukkan rekaman percakapan.

Suara Tante Ratih terdengar jelas.

Singkirkan Nadira dulu. Setelah reputasi Reza jatuh, dewan akan mendesaknya memilih. Dia akan menikahi Salma kalau itu satu-satunya cara mempertahankan posisi.

Aku menahan napas.

Reza tidak bergerak.

Salma menatapku.

“Aku minta maaf.”

Aku tidak langsung menjawab.

Akhirnya aku berkata,

“Kamu juga dipakai.”

Matanya memerah.

Keesokan harinya adalah rapat dewan terbesar dalam sejarah perusahaan Mahendra.

Aku tidak ikut.

Setidaknya awalnya.

Namun satu jam setelah rapat dimulai, Reza mengirim pesan.

Datang.

Hanya satu kata.

Aku pergi.

Ketika masuk ke ruang rapat, Tante Ratih sedang berdiri.

“Ini urusan perusahaan.”

Reza menjawab,

“Justru karena perusahaan diseret ke dalam urusan pernikahanku, istriku berhak berada di sini.”

Ia memutar rekaman.

Tidak ada yang bicara setelah itu.

Bukti transfer ditampilkan.

Rekaman CCTV ditampilkan.

Dokumen rancangan pernikahan ditampilkan.

Dan terakhir, Salma masuk.

Wajah Tante Ratih berubah.

“Salma?”

Salma meletakkan ponselnya di meja.

“Saya tidak akan menikahi Reza.”

Kemudian ia menatap seluruh dewan.

“Dan keluarga saya akan memberikan pernyataan tertulis bahwa tidak pernah ada tuntutan pernikahan dalam kerja sama bisnis kami.”

Tante Ratih kehilangan seluruh dukungan dalam waktu kurang dari satu jam.

Ia dicopot dari komite strategis perusahaan dan kemudian diperiksa internal terkait penyalahgunaan kewenangan.

Namun kejutan terakhir justru datang dari Reza.

Setelah rapat selesai, ia mengeluarkan map tipis.

Aku mengenalinya.

Perjanjian kami.

Dia merobeknya menjadi dua.

Aku terkejut.

“Reza.”

Dia merobeknya lagi.

“Tidak perlu lagi.”

Aku menatap sobekan kertas di tangannya.

“Kita masih belum bicara soal setelah tiga tahun.”

“Baik.”

Ia berdiri di depanku.

“Kalau tiga tahun nanti kamu masih ingin pergi, aku tidak akan menahan.”

Dadaku terasa sesak.

“Tapi?”

“Tapi sampai hari itu tiba, aku ingin mencoba menjadi suamimu sungguhan.”

Aku menahan senyum.

“Baru mencoba?”

“Ya.”

“Lambat sekali.”

“Aku direktur logistik. Bukan ahli hubungan.”

Aku tertawa.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku diam.

“Dan kali ini aku tidak ingin kamu tinggal karena perjanjian.”

Tangannya perlahan menggenggam tanganku.

“Aku ingin kamu tinggal karena memilihku.”

Tiga tahun setelah hari pernikahan kami, tanggal yang seharusnya menjadi akhir kesepakatan akhirnya tiba.

Pagi itu Reza meletakkan sebuah amplop di meja makan.

Aku menatapnya.

“Apa ini?”

“Surat.”

“Surat apa?”

“Buka.”

Tanganku gemetar ketika mengeluarkan isinya.

Bukan surat cerai.

Bukan perjanjian baru.

Itu tiket pesawat ke Bandung dan reservasi makan malam untuk dua keluarga.

Aku mengangkat wajah.

Reza berdiri di depan dapur sambil memegang kotak kecil.

“Aku pikir dulu kita menikah karena sama-sama ingin menghentikan keluarga bertanya kapan menikah.”

Dia membuka kotak itu.

Sebuah cincin sederhana ada di dalamnya.

“Kali ini aku mau memberi mereka alasan baru untuk bertanya.”

Aku menahan napas.

Reza tersenyum.

“Kapan kalian akan mengadakan pernikahan sungguhan?”

Air mataku langsung jatuh.

Aku tertawa sambil memukul lengannya.

“Kita sudah menikah.”

“Aku tahu.”

“Jadi kenapa melamar lagi?”

“Karena yang pertama adalah kesepakatan.”

Ia mengambil tanganku.

“Yang ini pilihan.”

Dan untuk pertama kalinya sejak aku salah menekan nomor tiga tahun lalu, aku sadar sesuatu.

Tidak semua kesalahan harus diperbaiki.

Ada kesalahan yang justru membawa kita ke tempat yang selama ini terlalu takut kita pilih sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang