SUAMIKU BARU DIMAKAMKAN, IBU MERTUA MENAGIH “SEWA RUMAH” RP720 JUTA DAN MENYEBUTKU PEMBAWA SIAL—SAMPAI AKU MELETAKKAN SERTIFIKAT RUMAH DI ATAS MEJA, LALU SATU NAMA DI HALAMAN PERTAMA MEMBUAT WAJAHNYA PUCAT DAN LUTUTNYA LANGSUNG LEMAS

“Uang rumah yang mana, Bu?”

Suara Mira terdengar lebih tajam daripada sebelumnya.

Ibu Ratna tidak langsung menjawab. Tangannya yang tadi begitu percaya diri menghitung angka tujuh ratus dua puluh juta kini hanya mencengkeram tepi meja. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada kata yang keluar.

Aku berdiri di seberang meja sambil memegang amplop kedua.

Untuk pertama kalinya sejak Ardi meninggal, aku melihat ketakutan di mata ibu mertuaku.

Bukan kesedihan.

Bukan kemarahan.

Ketakutan.

Mira menatapku.

“Dina, sebenarnya ada apa?”

Aku meletakkan amplop itu perlahan.

“Enam tahun lalu, sebelum Ibu Ratna pindah ke rumah ini, beliau menjual rumahnya di Garut seharga sekitar delapan ratus lima puluh juta rupiah.”

Mira mengangguk.

“Aku tahu. Katanya uang itu dipakai Ardi sebagai modal usaha.”

Aku menatapnya.

“Itu juga yang Ardi bilang kepadamu?”

Mira mulai terlihat bingung.

“Iya.”

Aku membuka amplop.

Di dalamnya ada beberapa lembar fotokopi rekening koran dan bukti transfer.

“Ardi tidak pernah menerima uang itu sebagai modal usaha.”

Aku mendorong dokumen tersebut ke tengah meja.

Mira membacanya.

Wajahnya berubah.

Dana hasil penjualan rumah Ibu Ratna memang masuk ke rekening Ardi.

Namun hanya selama dua hari.

Setelah itu, sebagian besar uang dipindahkan ke sebuah rekening lain.

Rekening atas nama Bowo Santoso.

Suami Mira.

Ruangan langsung sunyi.

Bowo yang sejak tadi berdiri dengan wajah galak tiba-tiba duduk kembali.

Mira mengangkat kepalanya.

“Mas?”

Bowo menelan ludah.

“Dengar dulu.”

“Ini apa?”

“Mira, aku bisa jelaskan.”

“Kenapa uang rumah Ibu masuk ke rekeningmu?”

Ibu Ratna segera menyela.

“Sudah. Jangan dibesar-besarkan.”

Mira menoleh cepat.

“Ibu tahu?”

Pertanyaan itu membuat Ibu Ratna terdiam.

Aku sebenarnya sudah mengetahui sebagian cerita itu sejak tiga tahun lalu.

Saat itu Ardi dan aku sedang menyusun dokumen keuangan untuk pengajuan kredit kendaraan. Tanpa sengaja aku menemukan transaksi besar dari rekening lamanya.

Aku bertanya.

Ardi awalnya menghindar.

Tetapi setelah aku mendesaknya, akhirnya ia bercerita.

Enam tahun sebelumnya, Bowo terlilit utang karena bisnis distribusi bahan bangunan yang gagal.

Jumlahnya hampir tujuh ratus juta.

Beberapa pemasok mengancam akan melaporkannya ke polisi karena ada pembayaran yang menggunakan cek kosong.

Mira sedang hamil saat itu.

Ibu Ratna panik.

Ia takut anak perempuannya kehilangan suami.

Akhirnya rumah di Garut dijual.

Uangnya diberikan kepada Ardi agar diteruskan kepada Bowo.

Tetapi kepada keluarga besar, mereka mengatakan Ardi menggunakan uang itu sebagai modal usaha.

Alasannya sederhana.

Ibu Ratna tidak ingin nama Bowo tercoreng.

Aku pernah bertanya kepada Ardi mengapa ia bersedia menjadi kambing hitam.

Jawabannya masih kuingat.

“Mira kakakku. Kalau rumah tangganya hancur, Ibu juga hancur. Biar orang mengira uangnya buat aku. Aku nggak apa-apa.”

Saat itu aku marah.

Bukan karena uangnya.

Karena Ardi terlalu sering menyelesaikan masalah keluarganya dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Namun dia meminta satu hal kepadaku.

“Jangan bilang siapa-siapa. Aku cuma ingin keluargaku tetap utuh.”

Aku menepati janji itu.

Sampai pagi ketika keluarganya mencoba mengambil rumahku.

Mira masih menatap suaminya.

“Jadi selama ini utangmu dibayar pakai uang rumah Ibu?”

Bowo mengusap wajah.

“Itu sudah lama.”

“Jawab!”

“Iya.”

Mira berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.

“Dan kalian semua bohong kepadaku?”

Ibu Ratna ikut berdiri.

“Kami melakukan itu untuk menyelamatkan rumah tanggamu.”

“Dengan mengorbankan Ardi?”

Suara Mira pecah.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

“Selama bertahun-tahun aku pikir adikku mengambil uang Ibu. Aku bahkan beberapa kali menyindir dia. Aku bilang dia anak laki-laki tapi masih mengambil harta orang tua.”

Air mata mulai menggenang di matanya.

“Ardi tidak pernah membela diri.”

Aku memejamkan mata sesaat.

Memang begitu Ardi.

Dia selalu memilih diam kalau berkata jujur berarti mempermalukan orang lain.

Mira menoleh kepada ibunya.

“Ibu membiarkan aku memperlakukan Ardi seperti itu?”

Ibu Ratna mulai menangis.

“Ibu cuma ingin melindungi kamu.”

“Tidak.”

Mira menggeleng.

“Ibu melindungi Mas Bowo.”

Bowo berdiri.

“Jangan bawa-bawa aku seolah semuanya salahku. Waktu itu kita semua setuju.”

“Semua siapa?”

“Ardi juga setuju.”

Aku menatapnya.

“Ardi setuju membantu. Bukan berarti kamu boleh datang ke sini sepuluh hari setelah dia meninggal lalu menuntut rumahnya.”

Bowo membalas tatapanku.

“Kami cuma mengikuti apa yang Ibu bilang.”

“Dan sebagai laki-laki dewasa, kamu tidak pernah berpikir untuk memeriksa sertifikat rumah sebelum meminta tujuh ratus dua puluh juta?”

Dia diam.

Aku mengeluarkan dokumen lain.

“Kalau mau bicara angka, mari kita bicara lengkap.”

Aku meletakkan catatan transaksi selama enam tahun.

Biaya listrik.

Pajak bumi dan bangunan.

Renovasi.

Pengobatan Ibu Ratna.

Biaya perjalanan.

Asuransi kesehatan tambahan.

Bahkan cicilan mobil yang beberapa kali kubantu ketika Ardi kehilangan proyek.

Aku tidak menulisnya untuk menagih.

Aku menyimpannya karena pekerjaanku di bidang keuangan membuatku terbiasa mencatat pengeluaran.

“Selama enam tahun, Ibu tinggal di sini tanpa pernah membayar sewa.”

Ibu Ratna menatapku dengan mata merah.

“Aku tidak pernah meminta sepeser pun.”

Aku menarik napas.

“Karena bagi saya, Ibu adalah keluarga.”

Kata terakhir itu terasa pahit.

“Bahkan sekarang pun saya sebenarnya tidak berniat mengungkit semua ini.”

Aku menunjuk kertas tuntutan sewa.

“Tapi Ibu yang membawa kalkulator ke meja ini.”

Ibu Ratna mulai kehilangan tenaga. Ia duduk perlahan.

“Dina…”

“Belum selesai.”

Aku masuk ke ruang kerja dan kembali membawa ponsel lama milik Ardi.

Sejak pemakaman, aku belum sanggup membukanya lama-lama.

Namun dua malam sebelumnya, ketika mencari nomor kantor asuransi, aku menemukan percakapan yang membuatku tidak bisa tidur.

Percakapan antara Ardi dan ibunya.

Aku membuka layar.

Pesan itu dikirim sekitar tiga minggu sebelum kecelakaan.

Ibu Ratna menulis,

Ardi, kalau nanti rumah Dina dijual, Ibu ingin kamu ingat Mira juga. Kalian saudara. Jangan semuanya dikuasai istrimu.

Ardi membalas,

Bu, rumah itu punya Dina. Dibeli sebelum kami menikah. Ibu jangan pernah bicara seperti itu lagi.

Pesan berikutnya datang beberapa menit kemudian.

Ibu cuma takut kamu tidak punya pegangan.

Ardi menjawab,

Aku punya pekerjaan. Dina istriku, bukan jalan untuk mendapatkan harta. Kalau suatu hari aku tidak ada, Ibu tetap tidak punya hak atas rumah itu.

Tanganku gemetar ketika membacanya pertama kali.

Sekarang aku menyerahkan ponsel itu kepada Ibu Ratna.

Beliau membaca perlahan.

Bahunya mulai bergetar.

Mira menutup mulut.

Aku berkata pelan.

“Ardi sudah menjelaskan kepada Ibu.”

Tidak ada jawaban.

“Jadi ketika Ibu mengatakan rumah ini warisan Ardi, Ibu tahu itu tidak benar.”

Air mata Ibu Ratna jatuh.

“Ibu sedang berduka.”

“Saya juga.”

Kalimatku membuatnya terdiam.

Aku tidak meninggikan suara.

Justru karena suaraku tenang, ruangan terasa semakin berat.

“Saya kehilangan suami saya. Setiap pagi saya masih berharap mendengar dia membuka pintu kamar mandi. Saya masih menyimpan gelas kopinya di rak yang sama karena saya belum sanggup memindahkannya.”

Aku menarik napas panjang.

“Tapi kesedihan tidak memberi kita hak untuk menyakiti orang lain.”

Ibu Ratna menangis semakin keras.

“Ardi anak Ibu.”

“Dan dia suami saya.”

“Seorang ibu kehilangan anak…”

“Seorang istri juga kehilangan pasangan hidupnya.”

Aku menatap langsung ke matanya.

“Kita bisa berduka bersama. Tapi Ibu memilih menjadikan saya musuh.”

Tidak ada yang bicara selama beberapa saat.

Lalu sesuatu yang tidak kuduga terjadi.

Mira mengambil kertas tuntutan tujuh ratus dua puluh juta itu.

Ia merobeknya.

Sekali.

Dua kali.

Empat kali.

Kemudian meletakkan potongannya di meja.

“Ibu pulang sama aku hari ini.”

Ibu Ratna terkejut.

“Mira.”

“Untuk sementara.”

“Ini rumah anak Ibu.”

“Bukan.”

Mira menunjuk sertifikat.

“Ini rumah Dina.”

Wajah Ibu Ratna hancur.

Mungkin baru saat itu kenyataan benar-benar masuk ke kepalanya.

Ardi sudah tidak ada.

Dan rumah yang selama enam tahun dianggapnya sebagai tempat tinggal anak laki-lakinya ternyata sejak awal bukan milik Ardi.

Aku tidak merasa menang.

Tidak ada kepuasan.

Hanya lelah.

Sangat lelah.

Bowo memasukkan kertas-kertas ke tas.

Sebelum pergi, ia berhenti di dekatku.

“Maaf.”

Aku tidak menjawab.

Ada permintaan maaf yang datang terlalu cepat untuk bisa diterima.

Mira membantu ibunya masuk ke kamar dan mengemasi pakaian.

Aku duduk sendirian di ruang makan.

Di depanku masih ada sertifikat rumah.

Nama Dina Maharani tercetak jelas.

Dulu nama itu membuatku merasa aman.

Hari itu, anehnya, aku hanya merasa kesepian.

Sekitar satu jam kemudian, Mira turun membawa dua koper.

Ibu Ratna berjalan di belakangnya.

Matanya bengkak.

Saat melewatiku, beliau berhenti.

Aku kira beliau akan meminta maaf.

Ternyata tidak.

Beliau hanya berkata,

“Kalau saja kamu memberi Ardi anak, mungkin semuanya tidak seperti ini.”

Aku membeku.

Mira langsung menegur.

“Ibu!”

Namun kalimat itu sudah terlanjur keluar.

Sesuatu dalam diriku yang selama ini masih mencoba memahami rasa dukanya akhirnya putus.

Aku berdiri.

“Bu.”

Beliau menoleh.

“Ada satu hal lagi yang belum pernah saya ceritakan.”

Mira dan Bowo berhenti.

Aku masuk ke kamar lalu mengambil sebuah amplop putih dari laci meja Ardi.

Itu hasil pemeriksaan fertilitas kami dua tahun lalu.

Selama bertahun-tahun, keluarga Ardi mengira kami belum punya anak karena aku menunda kehamilan demi karier.

Ibu Ratna berkali-kali menyindir.

Aku selalu diam.

Ardi memintaku merahasiakannya.

Aku menyerahkan hasil pemeriksaan itu kepada Ibu Ratna.

Beliau membaca.

Hanya beberapa baris yang diperlukan.

Masalah kesuburan ternyata bukan berada padaku.

Ardi memiliki kondisi medis yang membuat peluang kami memiliki anak secara alami sangat rendah.

Ibu Ratna mengangkat wajahnya.

Aku melihat rasa bersalah yang berbeda kali ini.

Lebih dalam.

“Kenapa…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”

“Karena Ardi malu.”

Aku menelan sesak di tenggorokan.

“Dan saya mencintainya.”

Air mataku akhirnya jatuh.

“Setiap kali Ibu menyalahkan saya karena belum memberikan cucu, Ardi ingin menjelaskan. Saya yang melarang.”

“Kenapa?”

“Karena saya tahu bagaimana Ibu memandang anak laki-laki Ibu.”

Aku tersenyum pahit.

“Dia sudah menanggung terlalu banyak rasa bersalah.”

Ibu Ratna menutup wajah dengan kedua tangan.

Untuk pertama kalinya, tangisnya tidak terdengar seperti seseorang yang sedang marah kepada dunia.

Tangis itu terdengar seperti seseorang yang baru menyadari berapa banyak luka yang ia ciptakan atas nama cinta.

Hari itu Ibu Ratna pergi bersama Mira.

Rumah mendadak sunyi.

Beberapa minggu berikutnya aku hidup sendirian.

Aku kembali bekerja.

Belajar tidur tanpa suara napas Ardi.

Belajar memasak nasi hanya untuk satu orang.

Belajar menerima bahwa beberapa kehilangan tidak pernah benar-benar sembuh. Kita hanya belajar membawa beratnya.

Dua bulan kemudian, sebuah paket datang.

Pengirimnya Ibu Ratna.

Di dalamnya ada gelang emas yang pernah kuberikan saat ulang tahunnya.

Aku sempat mengira beliau mengembalikannya karena masih marah.

Namun di bawah gelang itu ada surat tulisan tangan.

Dina,

Ibu tidak mengembalikan gelang ini karena membencimu.

Ibu mengembalikannya karena Ibu baru sadar selama enam tahun kamu memberi terlalu banyak kepada keluarga ini, sementara Ibu hanya sibuk menghitung apa yang menurut Ibu belum kamu berikan.

Ibu menyalahkanmu atas kematian Ardi karena lebih mudah marah kepadamu daripada menerima bahwa tidak ada seorang pun yang bisa Ibu salahkan.

Ibu juga malu mengakui bahwa setelah Ardi pergi, Ibu takut kehilangan tempat tinggal. Ketakutan itu berubah menjadi keserakahan.

Maafkan Ibu.

Tidak hanya karena rumah.

Tapi karena membuatmu merasa enam tahun menjadi keluarga kami ternyata tidak berarti.

Di bagian bawah surat ada satu kalimat lagi.

Ardi memilih istri yang jauh lebih baik daripada ibunya mampu hargai.

Aku membaca surat itu tiga kali.

Lalu menangis sampai malam.

Enam bulan setelah kematian Ardi, aku mengundang Ibu Ratna datang.

Beliau berdiri lama di depan pagar sebelum berani masuk.

Rambutnya tampak lebih putih.

Tubuhnya lebih kurus.

Kami tidak langsung berpelukan.

Tidak semua luka bisa diselesaikan dengan satu permintaan maaf.

Kami hanya duduk di teras.

Aku membuat teh.

Beliau membawa pisang goreng yang dulu disukai Ardi.

Kami berbicara tentang hal-hal kecil.

Tentang cuaca.

Tentang pekerjaan.

Tentang Mira yang akhirnya meminta Bowo menjual mobilnya dan mulai mengembalikan sebagian uang kepada ibunya.

Lalu kami berbicara tentang Ardi.

Untuk pertama kalinya tanpa saling menyalahkan.

Saat matahari mulai turun, Ibu Ratna menatap halaman rumah.

“Dina.”

“Ya, Bu?”

“Rumah ini memang milikmu.”

Aku tersenyum tipis.

Beliau melanjutkan.

“Tapi kalau kamu mengizinkan, sesekali Ibu ingin datang. Bukan sebagai orang yang punya hak.”

Matanya berkaca-kaca.

“Sebagai seseorang yang juga masih merindukan Ardi.”

Aku menatap kursi kosong di sebelah kami.

Dulu aku berpikir sertifikat rumah itu adalah dokumen paling penting yang menyelamatkanku dari keluarganya.

Aku salah.

Sertifikat hanya membuktikan siapa pemilik bangunan.

Ia tidak bisa menentukan siapa keluarga.

Ia tidak bisa memaksa seseorang menghormati kita.

Dan ia tidak bisa mengembalikan orang yang sudah pergi.

Aku akhirnya mengangguk.

“Datanglah kalau Ibu mau.”

Ibu Ratna menangis.

Kali ini aku tidak menjauh ketika beliau menggenggam tanganku.

Rumah itu tetap atas namaku.

Tidak pernah dijual.

Tidak pernah dibagi.

Namun setiap Jumat sore, sekitar pukul lima, Ibu Ratna mulai datang membawa makanan.

Kami makan berdua di meja yang dulu ditempati Ardi.

Kadang kami tertawa mengingat kebiasaannya meninggalkan kaus kaki sembarangan.

Kadang kami menangis tanpa bicara.

Dan setiap kali melihat sertifikat rumah yang kini kusimpan kembali di lemari besi, aku selalu teringat satu hal.

Warisan paling berbahaya yang ditinggalkan orang meninggal bukanlah rumah, tanah, atau uang.

Melainkan luka yang tidak pernah dibicarakan.

Kalau luka itu dibiarkan, keluarga bisa saling menghancurkan hanya karena berebut sesuatu yang sejak awal bahkan bukan milik mereka.

Ardi tidak meninggalkan rumah itu kepadaku.

Rumah itu memang sudah menjadi milikku jauh sebelum aku mengenalnya.

Tetapi Ardi meninggalkan sesuatu yang jauh lebih sulit dijaga.

Kesempatan bagi dua perempuan yang sama-sama mencintainya untuk berhenti saling menyalahkan dan belajar menjadi keluarga sekali lagi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang