Benda itu ternyata sebuah amplop plastik bening yang dilipat dua.
Di dalamnya ada sebuah ponsel kecil berwarna hitam, beberapa lembar kertas, dan sebuah amplop cokelat dengan tulisan tanganku sendiri di bagian depan.
Bukan benar-benar tulisan tanganku.
Melainkan namaku.
Untuk Mas Raka.
Tanganku langsung dingin.
Aku melirik Andini.
Dia masih terlelap, napasnya terdengar berat di balik selang oksigen.
Perlahan aku duduk di kursi sambil meletakkan benda-benda itu di pangkuanku.
Aku membuka amplop cokelat lebih dulu.
Di dalamnya ada beberapa hasil pemeriksaan laboratorium.
Aku bukan dokter. Sebagian besar istilah di atas kertas itu tidak kupahami. Namun aku mengenali nama Andini, tanggal pemeriksaan, nama rumah sakit, dan satu kalimat yang dicoret dengan stabilo kuning.
Hasil pemeriksaan lanjutan tidak mendukung diagnosis keganasan stadium akhir.
Aku membacanya sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Jantungku seperti berhenti.
Apa maksudnya?
Aku mengambil lembar berikutnya.
Ada hasil pemeriksaan dari rumah sakit lain di Jakarta, bertanggal sebelas hari lalu.
Di bagian kesimpulan tertulis bahwa sampel jaringan perlu diperiksa ulang karena terdapat ketidaksesuaian identitas pada pemeriksaan sebelumnya.
Aku berdiri begitu cepat sampai kursi di belakangku hampir jatuh.
Tidak.
Aku pasti salah membaca.
Aku mengambil ponsel kecil itu.
Tidak ada sandi.
Layar menyala dan langsung menampilkan satu rekaman suara yang belum pernah diputar.
Namanya hanya satu kata.
Raka.
Tanganku gemetar ketika menekan tombol putar.
Beberapa detik hanya terdengar suara napas.
Lalu suara Andini.
“Mas, kalau kamu mendengar ini, berarti Mbak Yuli akhirnya melakukan apa yang kuminta.”
Aku spontan menatap ranjang.
Andini masih memejamkan mata.
Suara di ponsel berlanjut.
“Aku tahu kamu mungkin akan marah. Dan kamu berhak marah.”
Dadaku sesak.
“Aku sebenarnya sudah tahu sebelas hari lalu kalau ada kemungkinan diagnosis pertamaku salah.”
Aku membeku.
Sebelas hari?
Itu berarti jauh sebelum pernikahan ini.
“Aku pergi diam-diam untuk pemeriksaan ulang karena seorang dokter muda bilang hasil patologiku aneh. Aku nggak bilang ke siapa pun. Bahkan ke Papa dan Mama.”
Aku menahan napas.
“Awalnya aku takut berharap. Setelah berbulan-bulan sakit, setelah dokter bilang penyakitku sudah menyebar, aku takut kalau ternyata pemeriksaan kedua juga mengatakan hal yang sama.”
Suara Andini bergetar.
“Tapi kemudian hasilnya keluar. Ada ketidaksesuaian sampel.”
Aku merasa darah naik ke kepalaku.
“Kenapa?” bisikku sendiri.
Seolah rekaman itu mendengar pertanyaanku, suara Andini kembali terdengar.
“Dan di sinilah aku melakukan kesalahan paling besar dalam hidupku.”
Aku mencengkeram ponsel itu.
“Aku tidak langsung memberitahumu.”
Aku menutup mata.
Rasanya seperti seseorang baru saja menendang dadaku.
Pernikahan tadi.
Tangisan keluargaku.
Ibuku terbang dari Makassar karena mengira menantunya akan meninggal.
Aku mengucapkan ijab kabul sambil merasa sedang berlomba dengan kematian.
Sementara Andini sudah tahu mungkin semua itu tidak benar?
Aku berdiri.
“Andini.”
Tidak ada respons.
Aku mendekat.
“Andini.”
Kelopak matanya bergerak.
Beberapa detik kemudian dia membuka mata.
Tatapannya jatuh ke ponsel di tanganku.
Wajahnya seketika berubah.
Dia tahu.
“Kamu sudah lihat?” suaranya hampir tak terdengar.
Aku meletakkan hasil pemeriksaan di atas ranjang.
“Ini apa?”
Andini menatap kertas-kertas itu lama.
“Aku bisa jelasin.”
“Sebelas hari?”
Dia terdiam.
“Kamu tahu sebelas hari lalu?”
Air matanya mulai menggenang.
“Mas…”
“Kamu tahu ada kemungkinan kamu tidak sekarat, tapi kamu tetap minta aku menikahimu hari ini?”
Nada suaraku meninggi tanpa bisa kutahan.
Monitor di sampingnya berbunyi sedikit lebih cepat.
Aku langsung menurunkan suara.
“Aku mengira aku menikahi perempuan yang mungkin tinggal tiga bulan lagi.”
“Aku memang sakit.”
“Aku tahu kamu sakit.”
Aku menunjuk kertas itu.
“Tapi ini berbeda, Din.”
Dia mulai menangis.
“Aku takut.”
“Aku juga takut.”
“Bukan itu.”
Andini menggeleng lemah.

“Aku takut kalau ternyata aku sembuh, kamu tidak jadi menikahiku.”
Kalimat itu membuatku terdiam.
Aku bahkan tidak langsung memahami maksudnya.
“Apa?”
Andini memalingkan wajah.
“Delapan tahun, Mas.”
Aku tidak menjawab.
“Kita pacaran delapan tahun.”
Aku merasakan sesuatu yang lain mulai tumbuh di balik kemarahanku.
Rasa bersalah.
“Setiap kali aku tanya kapan kita menikah, kamu selalu bilang nanti.”
Andini menelan ludah.
“Nanti setelah kamu naik jabatan. Nanti setelah tabungan cukup. Nanti setelah adikmu selesai kuliah. Nanti setelah rumah selesai direnovasi.”
Dia menatapku lagi.
“Selalu nanti.”
Aku membisu.
“Aku nggak pernah meragukan kamu sayang sama aku,” lanjutnya. “Tapi aku mulai bertanya-tanya apakah kamu benar-benar mau hidup sama aku atau cuma nyaman karena tahu aku akan selalu menunggu.”
Aku menunduk.
Semua alasan itu memang pernah keluar dari mulutku.
Dan saat itu semuanya terasa masuk akal.
Sampai dokter mengatakan Andini mungkin hanya punya beberapa bulan.
Tiba-tiba semua alasan yang selama delapan tahun kuanggap penting menjadi tidak berarti.
“Aku salah,” katanya. “Aku tahu.”
“Kamu seharusnya bilang.”
“Iya.”
“Bahkan kalau hasilnya belum pasti.”
“Iya.”
“Bukan membuatku menikahimu karena aku pikir kamu akan mati.”
Air mata mengalir di pipinya.
“Aku nggak pernah memaksamu.”
Aku menatapnya tajam.
“Kamu bilang kamu nggak mau mati sebagai pacarku.”
Andini terdiam.
“Itu bukan paksaan menurutmu?”
Bibirnya bergetar.
Aku tidak sanggup berada di kamar itu.
Aku berbalik dan keluar.
Mbak Yuli sedang berdiri di ujung lorong.
Begitu melihatku, dia langsung tahu.
“Kapan Mbak tahu?”
“Sore tadi.”
Aku mendekatinya.
“Andini yang minta Mbak simpan itu?”
Mbak Yuli mengangguk.
“Dia memberikan amplop itu dua hari lalu. Katanya kalau setelah menikah dia tidak berani cerita sendiri, saya harus memastikan Mas menemukannya.”
“Kenapa Mbak nggak bilang langsung?”
“Karena bukan hak saya membuka informasi medis pasien tanpa izin.”
Dia menarik napas.
“Tapi setelah akad tadi, saya nggak tahan melihat Mas dan keluarga menangis seolah Mbak Andini pasti akan meninggal.”
Aku menyandarkan tubuh ke dinding.
“Jadi sebenarnya dia nggak sakit?”
“Dia tetap sakit.”
Aku menoleh.
Mbak Yuli melanjutkan dengan hati-hati.
“Hasil pemeriksaan awal memang menunjukkan penyakit serius. Tapi ada dugaan kuat terjadi kesalahan identifikasi sampel jaringan di laboratorium rumah sakit sebelumnya.”
“Artinya?”
“Besok pagi dokter spesialis akan menjelaskan. Saya tidak berhak menyimpulkan.”
Dia berhenti sebentar.
“Tapi ada kemungkinan kondisinya tidak seperti yang selama ini diperkirakan.”
Aku seharusnya merasa lega.
Namun anehnya, yang kurasakan justru campuran emosi yang tidak bisa dijelaskan.
Marah.
Bahagia.
Dikhianati.
Bersyukur.
Semua datang bersamaan.
Malam itu aku tidak tidur.
Aku duduk di lorong sampai hampir subuh.
Sekitar pukul lima pagi, pintu kamar terbuka.
Andini berdiri di sana.
Bukan benar-benar berdiri sendiri.
Satu tangannya memegang tiang infus, tangan lainnya mencengkeram kusen pintu.
Aku langsung bangkit.
“Kamu ngapain keluar?”
“Aku mau bicara.”
“Kembali ke ranjang.”
“Mas.”
“Andini, kembali.”
Dia justru menangis.
“Kalau kamu mau membatalkan pernikahan ini, aku akan terima.”
Aku berhenti.
“Apa?”
“Aku akan bilang ke keluarga bahwa semuanya salahku.”
Dia menarik napas pendek.
“Kalau nanti dokter memastikan aku bisa sembuh dan kamu merasa aku sudah menjebakmu, aku akan setuju apa pun keputusanmu.”
Aku menatap perempuan di depanku.
Pucat.
Kurus.
Rapuh.
Namun untuk pertama kalinya malam itu, aku melihat sesuatu yang selama ini tidak kulihat.
Bukan perempuan sekarat.
Melainkan perempuan yang selama bertahun-tahun menunggu seseorang mengambil keputusan.
Dan seseorang itu adalah aku.
“Aku marah sama kamu,” kataku.
Dia mengangguk sambil menangis.
“Aku tahu.”
“Marah sekali.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga marah sama diriku sendiri.”
Andini mengangkat wajah.
Aku berjalan mendekat lalu mengambil tiang infus dari tangannya.
“Delapan tahun kamu menunggu aku.”
Dia tidak bicara.
“Dan lucunya, aku baru berani menikahimu ketika kupikir aku akan kehilanganmu.”
Aku tertawa kecil, tapi rasanya pahit.
“Mungkin kita berdua sama-sama pengecut.”
Andini menangis semakin keras.
Aku membawanya kembali ke ranjang.
Pagi itu dokter datang bersama kepala laboratorium.
Orang tua kami sudah berada di kamar.
Tidak ada seorang pun yang tahu soal hasil kedua selain aku, Andini, dan Mbak Yuli.
Dokter duduk di depan kami.
Wajahnya serius.
“Kami sudah menyelesaikan pemeriksaan ulang sampel.”
Aku menggenggam tangan Andini.
“Dan kami juga sudah membandingkan nomor registrasi dengan laboratorium rumah sakit tempat pemeriksaan pertama dilakukan.”
Ruangan itu sangat sunyi.
“Kami menemukan bahwa satu sampel milik pasien lain tertukar dengan sampel Ibu Andini.”
Ibunya langsung menutup mulut.
Ayahnya berdiri.
“Maksud Dokter, anak saya tidak kena kanker?”
Dokter mengangkat tangan.
“Bu Andini tetap memiliki penyakit pada sistem imun yang menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan ekstrem, dan beberapa kelainan organ. Kondisinya serius, tetapi penyakit itu dapat ditangani.”
Aku merasa genggaman Andini menguat.
“Jadi…” suaraku pecah. “Tiga bulan itu?”
Dokter menggeleng.
“Kami tidak memiliki dasar untuk mengatakan usia Bu Andini tinggal tiga bulan.”
Ibunya langsung jatuh terduduk sambil menangis.
Ayahnya memeluknya.
Ibuku berdiri membeku beberapa detik sebelum akhirnya ikut menangis.
Aneh.
Tangisku justru tidak keluar.
Aku hanya menatap Andini.
Dia menatapku kembali.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku melihat ketakutan di matanya bercampur dengan sesuatu yang nyaris sudah hilang.
Harapan.
Tiga minggu kemudian, kondisi Andini mulai membaik setelah terapi yang tepat diberikan.
Dua bulan kemudian, berat badannya naik enam kilogram.
Empat bulan kemudian, dia sudah bisa berjalan sendiri mengelilingi taman rumah sakit saat kontrol.
Namun pernikahan kami tidak otomatis menjadi bahagia hanya karena dia tidak jadi mati.
Kami bertengkar.
Banyak.
Aku masih sulit menerima bahwa dia menyembunyikan hasil pemeriksaan kedua.
Andini juga akhirnya mengatakan semua rasa kecewanya selama delapan tahun.
Tentang rencana pernikahan yang terus kutunda.
Tentang setiap undangan pernikahan teman yang dia datangi sambil tersenyum, lalu menangis sendirian di kamar.
Tentang bagaimana dia pernah hampir menyerah menungguku setahun sebelum sakit.
Kami menemui konselor pernikahan.
Bukan karena pernikahan kami gagal.
Justru karena kami akhirnya sadar cinta saja ternyata tidak cukup jika dua orang terus menyimpan ketakutan masing-masing.
Setahun setelah pernikahan di rumah sakit itu, aku membawa Andini kembali ke kamar yang sama.
Bukan sebagai pasien.
Kami datang membawa dua kotak makanan untuk Mbak Yuli dan para perawat.
Andini sekarang sudah jauh lebih sehat.
Rambutnya mulai panjang lagi.
Pipinya kembali berisi.
Mbak Yuli sampai menutup mulut ketika melihatnya.
“Ya Allah,” katanya sambil memeluk Andini. “Saya hampir nggak kenal.”
Kami tertawa.
Sebelum pulang, aku berhenti di depan ranjang tempat kami menikah.
Andini berdiri di sampingku.
“Kamu nyesel?” tanyanya tiba-tiba.
“Soal apa?”
“Menikah sama aku.”
Aku menatapnya.
“Kadang.”
Dia langsung memukul lenganku.
Aku tertawa.
“Kalau kamu lagi marah, aku sering nyesel sekitar lima menit.”
Andini mendengus.
Kemudian aku menggenggam tangannya.
“Tapi kalau kamu tanya apakah aku akan tetap menikahimu kalau malam itu aku sudah tahu kamu tidak akan mati…”
Aku berhenti.
Wajahnya berubah serius.
Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku.
Di dalamnya ada cincin sederhana.
Cincin yang dulu tidak sempat kubeli karena pernikahan kami dilakukan mendadak.
Aku berlutut di lantai rumah sakit yang sama.
Andini langsung menutup mulut.
“Aku seharusnya melakukan ini jauh sebelum dokter bilang waktumu tinggal tiga bulan.”
Air matanya mulai jatuh.
“Aku seharusnya memilihmu ketika kita masih mengira kita punya puluhan tahun, bukan ketika aku takut hanya punya tiga bulan.”
Aku memasangkan cincin itu ke jarinya.
“Jadi jawabannya iya.”
Andini menangis sambil tertawa.
Aku berdiri dan memeluknya.
Di belakang kami, Mbak Yuli diam-diam mengusap matanya.
Aku dulu mengira malam ketika dia menyuruhku mengangkat kasur adalah malam ketika pernikahanku hancur.
Ternyata aku salah.
Di bawah kasur itu aku memang menemukan kebohongan perempuan yang baru saja menjadi istriku.
Tetapi aku juga menemukan sesuatu yang jauh lebih sulit untuk kuakui.
Selama delapan tahun, aku pun telah membohonginya.
Aku terus berkata bahwa kami masih punya waktu.
Bahwa pernikahan bisa menunggu.
Bahwa hidup harus sempurna dulu sebelum kami memulainya bersama.
Padahal tidak seorang pun pernah benar-benar tahu berapa banyak waktu yang tersisa.
Andini tidak meninggal tiga bulan setelah pernikahan kami.
Bahkan sekarang, lima tahun kemudian, dia masih tidur di sebelahku setiap malam dan masih marah kalau aku lupa mematikan lampu kamar mandi.
Kadang-kadang kami membicarakan malam di rumah sakit itu.
Tentang amplop di bawah kasur.
Tentang Mbak Yuli.
Tentang diagnosis yang tertukar.
Dan tentang bagaimana kami hampir kehilangan bertahun-tahun kehidupan hanya karena aku terus berkata nanti.
Karena ternyata kalimat paling berbahaya dalam sebuah hubungan bukan selalu “aku tidak mencintaimu lagi.”
Kadang-kadang kalimat itu jauh lebih sederhana.
“Nanti saja.”
Sebab tidak semua orang mendapat kesempatan untuk mengetahui bahwa tiga bulan yang mereka takutkan ternyata masih bisa berubah menjadi puluhan tahun.
