SUAMIKU MENGHILANG SELAMA TIGA TAHUN, LALU TIBA-TIBA PULANG MEMBAWA SEORANG WANITA DAN ANAK KECIL.

Arga tidak langsung duduk.

Tatapannya terpaku pada lembar mutasi rekening di atas meja. Jari-jarinya yang tadi begitu santai ketika meletakkan seratus enam puluh juta rupiah di rumahku kini perlahan mengepal.

“Apa maksudnya ini?”

Pak Hendra mendorong kacamatanya sedikit.

“Silakan duduk dulu, Mas Arga.”

“Aku tanya, apa maksudnya ini?”

Bu Ratna mengetukkan ujung tongkatnya sekali ke lantai.

“Duduk.”

Hanya satu kata.

Namun Arga langsung menarik kursi.

Aku berdiri di dekat jendela. Keisya duduk beberapa langkah darinya sambil memangku Nino. Anak kecil itu tampaknya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia sibuk memainkan tali tas ibunya.

Pak Hendra membuka lembar pertama.

“Tiga tahun lalu, dua minggu sebelum Mas Arga menghilang, ada beberapa transaksi dari rekening perusahaan.”

Arga tertawa pendek.

“Aku direktur operasional waktu itu. Wajar kalau ada transaksi.”

“Benar.”

Pak Hendra mengangguk.

“Kalau transaksi itu untuk kepentingan perusahaan.”

Ruangan langsung sunyi.

Pak Yudi mengambil beberapa lembar lain.

“Totalnya dua miliar delapan ratus juta rupiah.”

Wajah Keisya berubah.

Dia menoleh cepat kepada Arga.

“Dua miliar delapan ratus juta?”

Arga tidak memandangnya.

“Itu urusan lama.”

Pak Yudi melanjutkan dengan tenang.

“Uang tersebut dikirim ke empat rekening berbeda. Tiga rekening atas nama pihak ketiga. Satu rekening atas nama perusahaan yang ternyata hanya bertahan sebelas bulan.”

Arga berdiri mendadak.

“Cukup.”

Bu Ratna tidak bergerak.

“Belum.”

“Ibu mau mempermalukanku di depan orang lain?”

Bu Ratna tersenyum pahit.

“Orang lain?”

Tatapannya beralih kepadaku.

“Sari merawat Ibu ketika anak kandung Ibu menghilang. Pak Hendra mengurus perusahaan ketika anak Ibu membawa pergi uangnya. Pak Yudi membantu mengumpulkan bukti. Kalau ada orang asing di ruangan ini, mungkin justru kamu.”

Arga menelan ludah.

Aku melihat rahangnya mengeras.

“Ibu tidak tahu apa yang terjadi.”

“Kalau begitu jelaskan.”

Arga diam.

Bu Ratna menunggu.

Tidak ada penjelasan.

Pak Hendra membuka map kedua.

“Setelah uang itu dipindahkan, Mas Arga mengundurkan diri dari perusahaan. Beberapa hari kemudian, Mas Arga pergi dari Jakarta.”

Keisya menatap suaminya dengan wajah semakin pucat.

“Kamu bilang perusahaan ibumu bangkrut.”

Arga langsung menoleh.

“Keisya, diam dulu.”

“Kamu bilang kita memulai semuanya dari nol.”

“Aku bilang diam!”

Nino tersentak.

Anak itu langsung menangis.

Keisya berdiri sambil memeluknya.

“Jangan bentak aku.”

Suasana berubah.

Untuk pertama kalinya aku melihat sesuatu di wajah Arga yang tidak kulihat ketika dia datang ke rumah tadi.

Kepanikan.

Bukan karena aku.

Bukan karena ibunya.

Melainkan karena cerita yang selama ini dia bangun di hadapan Keisya mulai runtuh.

Bu Ratna menatap Keisya.

“Kamu tahu dia masih menikah dengan Sari ketika bertemu dengannya?”

Keisya menggeleng pelan.

Matanya mulai berkaca-kaca.

“Tidak.”

Arga memukul meja.

“Jangan percaya semuanya!”

Keisya mundur.

“Kamu bilang istrimu sudah meninggal.”

Dadaku seolah berhenti sesaat.

Aku menatap Arga.

Bahkan Bu Ratna terlihat terkejut.

Keisya menatapku dengan mata penuh air.

“Maaf. Demi Tuhan, saya tidak tahu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Keisya menggigit bibir.

“Waktu kami bertemu di Makassar, dia bilang istrinya meninggal karena kecelakaan dua tahun sebelumnya. Dia bahkan menunjukkan foto makam.”

Aku menatap Arga.

“Kreatif juga.”

“Sari…”

“Jangan panggil namaku.”

Arga mengusap wajah.

“Keisya, aku bisa jelaskan.”

“Jelaskan sekarang.”

“Aku melakukan itu karena situasinya rumit.”

Keisya tertawa kecil, tetapi air matanya jatuh.

“Situasi apa yang membuatmu harus menghidupkan orang mati dan mematikan orang hidup?”

Arga tidak menjawab.

Aku mulai memahami sesuatu.

Perempuan yang kubayangkan selama perjalanan sebagai orang yang merebut suamiku ternyata mungkin sama tertipunya denganku.

Aku tidak menyukainya.

Namun aku tidak bisa membencinya.

Terutama ketika melihat Nino memeluk lehernya sambil menangis ketakutan.

Bu Ratna menghela napas.

“Duduklah, Keisya. Masih ada yang perlu kamu dengar.”

Keisya kembali duduk.

Arga tetap berdiri.

Pak Hendra membuka map ketiga.

“Setelah Mas Arga pergi, Bu Ratna memerintahkan audit internal.”

Arga langsung menoleh.

“Tanpa persetujuanku?”

Pak Yudi tertawa kecil.

“Mas Arga sudah bukan bagian perusahaan.”

Kalimat itu membuat Arga terdiam.

Pak Hendra melanjutkan.

“Audit menemukan penggunaan tanda tangan digital Bu Ratna untuk menjaminkan salah satu aset perusahaan.”

Arga pucat.

“Tidak mungkin.”

“Kami punya rekam elektroniknya.”

“Itu bukan aku.”

“Alamat IP yang digunakan berasal dari apartemen yang Mas Arga sewa.”

Arga memandang ibunya.

“Ibu mau melaporkan aku?”

Bu Ratna menatapnya lama.

“Ibu sudah melakukannya.”

Wajah Arga benar-benar kehilangan warna.

Keisya menutup mulutnya.

“Kapan?”

“Dua tahun lalu.”

Arga terlihat bingung.

“Kalau begitu kenapa aku tidak ditangkap?”

Pak Hendra menjawab.

“Karena proses hukumnya belum sesederhana itu. Ada pihak lain yang terlibat, beberapa transaksi menggunakan perusahaan perantara, dan Anda berpindah-pindah tempat. Tapi kepulangan Anda membuat beberapa hal menjadi jauh lebih mudah.”

Arga menatapku.

Tiba-tiba semuanya masuk akal baginya.

“Kamu menjebakku.”

Aku hampir tersenyum.

“Aku tidak pernah memintamu pulang.”

“Tapi kamu tahu semua ini.”

“Ya.”

“Kenapa tidak bilang?”

Aku menatapnya tanpa berkedip.

“Supaya apa? Mengingatkanmu agar kabur lagi?”

Arga terdiam.

Aku melangkah mendekati meja.

“Tiga tahun lalu kamu pergi tanpa memberiku kesempatan bertanya. Hari ini kamu pulang tanpa memberiku kesempatan memilih. Kamu masuk ke rumah, membawa keluarga baru, lalu menyuruhku pergi.”

Aku mendorong amplop uangnya ke arahnya.

“Jadi jangan bicara tentang kejujuran kepadaku.”

Arga menatap amplop itu.

Kemudian sesuatu seperti kesombongan terakhir muncul di wajahnya.

“Baik. Aku salah. Aku akan selesaikan masalah perusahaan. Tapi rumah Jakarta tetap milik keluarga. Aku punya hak di sana.”

Bu Ratna menatapnya.

“Tidak.”

Arga menoleh.

“Apa?”

“Rumah itu bukan milikmu.”

“Aku anak Ibu.”

“Lalu?”

Arga terlihat tidak percaya.

“Itu rumah Ayah.”

“Dan setelah ayahmu meninggal, rumah itu menjadi milik Ibu.”

Bu Ratna memberi isyarat kepada Pak Hendra.

Map keempat dibuka.

“Dua tahun lalu,” kata Bu Ratna, “rumah itu sudah Ibu hibahkan secara sah.”

Arga memandang dokumen tersebut.

“Kepada siapa?”

Tidak ada yang menjawab selama beberapa detik.

Lalu matanya perlahan beralih kepadaku.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Bu Ratna yang menjawab.

“Kepada Sari.”

Arga berdiri begitu cepat hingga kursinya jatuh.

“Apa?”

Nino kembali terkejut.

Keisya langsung membawa anak itu menjauh.

“Ibu gila!”

Bu Ratna tidak berkedip.

“Jaga mulutmu.”

“Itu rumah keluarga kita!”

“Keluarga?”

Suara Bu Ratna tiba-tiba bergetar.

Bukan karena takut.

Karena marah.

“Keluarga mana yang kamu maksud?”

Arga membisu.

“Ketika Ibu tidak bisa berjalan, siapa yang mengangkat Ibu dari tempat tidur?”

Bu Ratna menunjukku.

“Dia.”

“Ketika Ibu harus terapi tiga kali seminggu, siapa yang mengantar?”

“Dia.”

“Ketika dokter mengatakan kemungkinan Ibu tidak bisa berjalan lagi, siapa yang duduk semalaman sambil meyakinkan Ibu untuk mencoba lagi?”

Air mata mulai memenuhi mata Bu Ratna.

“Dia.”

Arga menunduk.

“Sedangkan anak kandung Ibu bahkan tidak menelepon.”

Aku menggenggam tangan sendiri.

Kenangan itu kembali.

Malam-malam ketika Bu Ratna berteriak kesakitan saat latihan.

Hari ketika beliau berhasil berdiri selama lima detik dan kami berdua menangis seperti anak kecil.

Hari ketika beliau mengambil tiga langkah pertamanya.

Aku tidak pernah melakukannya demi rumah.

Aku bahkan tidak tahu rumah itu sudah dialihkan kepadaku sampai beberapa bulan setelahnya.

Bu Ratna menghapus air matanya.

“Darah membuatmu menjadi anak Ibu. Tapi tindakanmu sendiri yang menentukan apakah kamu layak disebut keluarga.”

Arga menatapku dengan kebencian.

“Kamu sengaja mendekati Ibu supaya mendapatkan hartanya.”

Aku tertawa pelan.

“Kalau aku mengincar harta, aku sudah meninggalkan ibumu tiga tahun lalu.”

Keisya tiba-tiba berdiri.

“Aku mau pergi.”

Arga menoleh cepat.

“Kita belum selesai.”

“Aku sudah selesai.”

“Keisya.”

“Aku bilang aku sudah selesai!”

Suaranya pecah.

Nino kembali memeluk kakinya.

Keisya mengambil tas.

“Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya.”

Arga mendekatinya.

“Kita bisa bicara di rumah.”

“Rumah mana?”

Pertanyaan itu membuat Arga berhenti.

Keisya tertawa getir.

“Rumah yang kamu bilang kamu beli dari hasil bisnismu? Mobil yang kamu bilang hasil kerja kerasmu? Semua uang yang selama ini kamu pakai itu dari mana?”

Arga tidak menjawab.

Keisya menggeleng.

“Aku bodoh.”

“Keisya, dengarkan aku.”

“Jangan sentuh aku.”

Arga mencoba memegang lengannya.

Aku refleks maju, tetapi Pak Yudi lebih cepat berdiri.

“Mas Arga.”

Arga menghentikan tangannya.

Keisya menatapku.

“Bu Sari.”

Aku sedikit terkejut mendengarnya memanggil namaku.

“Saya benar-benar minta maaf.”

Aku menatap Nino.

“Anak itu tidak salah apa-apa.”

Keisya menangis semakin keras.

“Aku tahu.”

“Bawa dia keluar dari semua masalah ini.”

Keisya mengangguk.

Kemudian ia pergi.

Arga hendak mengejar, tetapi suara Bu Ratna menghentikannya.

“Masih ada satu map.”

Arga membeku.

Aku juga menoleh.

Kupikir semua sudah selesai.

Ternyata Bu Ratna menyimpan sesuatu yang bahkan tidak pernah beliau ceritakan kepadaku.

Pak Hendra membuka map terakhir.

Di dalamnya hanya ada beberapa lembar dokumen.

Tidak sebanyak map sebelumnya.

Namun ekspresi Arga justru terlihat paling takut.

Bu Ratna menatapnya.

“Dua bulan sebelum kamu menghilang, kamu datang ke notaris.”

Arga tidak menjawab.

“Kamu mencoba membuat surat kuasa yang seolah-olah memberikanmu hak mengelola seluruh aset Ibu jika kondisi kesehatan Ibu memburuk.”

Tanganku terasa dingin.

Aku baru mengetahui ini.

Bu Ratna melanjutkan.

“Dan beberapa minggu setelah itu, obat Ibu mulai sering tertukar.”

Aku menatapnya.

“Ibu?”

Beliau mengangguk pelan.

“Dokter menemukan dosis obat penenang dalam tubuh Ibu jauh lebih tinggi daripada resep.”

Arga mundur.

“Itu bukan aku.”

“Tidak ada yang bilang itu kamu.”

Bu Ratna tersenyum dingin.

“Tapi kenapa kamu langsung membela diri?”

Ruangan menjadi begitu sunyi.

Arga menatap semua orang.

Kemudian dia berbalik menuju pintu.

Namun sebelum tangannya menyentuh gagang, terdengar suara kendaraan berhenti di luar.

Dua pria dan seorang perempuan turun.

Pak Hendra berdiri.

“Mereka sudah menunggu tidak jauh dari sini.”

Arga menoleh kepadanya.

“Kalian benar-benar menjebakku.”

Bu Ratna menggeleng.

“Tidak.”

Beliau berdiri perlahan dengan bantuan tongkatnya.

“Kami hanya berhenti melindungimu.”

Aku tidak tahu bagaimana proses hukum Arga akan berakhir.

Aku tidak tahu berapa lama penyelidikan akan berlangsung atau berapa banyak hal lain yang masih tersembunyi.

Namun ketika Arga dibawa keluar untuk dimintai keterangan lebih lanjut, aku tidak merasakan kemenangan.

Aku hanya merasa lelah.

Tiga tahun aku menunggu kepulangannya.

Dan ketika hari itu akhirnya datang, aku justru sadar bahwa laki-laki yang kutunggu sebenarnya sudah pergi jauh sebelum tubuhnya meninggalkan rumah.

Tiga bulan kemudian, gugatan cerai kami dikabulkan.

Keisya menghubungiku sekali.

Dia tidak meminta uang.

Tidak juga meminta pertolongan.

Dia hanya mengirim sebuah pesan pendek.

Nino bukan anak Arga.

Aku membaca kalimat itu berkali-kali.

Ternyata Keisya sudah hamil ketika bertemu Arga. Ayah biologis Nino meninggal sebelum anak itu lahir. Arga tahu sejak awal dan bersedia menjadi figur ayah bagi Nino.

Aneh sekali.

Seorang laki-laki yang tega meninggalkan ibu dan istrinya ternyata pernah memilih menerima seorang anak yang bukan darah dagingnya.

Mungkin manusia memang tidak pernah sepenuhnya jahat atau sepenuhnya baik.

Namun satu perbuatan baik tidak bisa menghapus semua pilihan buruk yang sengaja dilakukan.

Setahun setelah kepulangan Arga, aku menjual rumah Jakarta.

Bu Ratna sempat marah ketika mengetahuinya.

“Itu rumahmu.”

Aku tersenyum.

“Justru karena rumahku, aku boleh memilih.”

Dengan sebagian uangnya, aku membeli rumah kecil dengan halaman luas di Bogor, tidak jauh dari tempat tinggal Bu Ratna.

Sebagian lainnya kugunakan untuk membuka pusat fisioterapi sederhana bersama seorang teman yang bekerja sebagai fisioterapis.

Aku menamainya Langkah Kedua.

Bu Ratna tertawa ketika melihat papan namanya.

“Kenapa Langkah Kedua?”

Aku memandang perempuan yang dulu kukenal sebagai ibu mertuaku itu.

Sekarang aku tidak tahu harus menyebut hubungan kami apa.

Mungkin tidak perlu diberi nama.

“Karena langkah pertama tidak selalu membawa kita ke tempat yang benar.”

Bu Ratna menggenggam tanganku.

“Dan langkah kedua?”

Aku tersenyum.

“Kadang justru membawa kita pulang.”

Sore itu kami duduk di teras sambil minum teh.

Tongkat Bu Ratna bersandar di kursi.

Beliau sudah jarang menggunakannya.

Ponselku bergetar.

Sebuah pesan dari Pak Hendra masuk, memberi kabar tentang perkembangan perkara Arga.

Aku membaca dua baris pertama, lalu mematikan layar.

Bu Ratna memandangku.

“Tidak mau dibaca?”

“Nanti.”

Aku menatap halaman.

Beberapa pasien sedang belajar berjalan di jalur latihan kecil di depan gedung. Seorang perempuan tua menggenggam lengan anak perempuannya sambil mencoba melangkah. Satu langkah. Berhenti. Kemudian satu langkah lagi.

Aku tersenyum.

Selama bertahun-tahun aku mengira akhir pernikahanku adalah kehancuran terbesar dalam hidupku.

Ternyata aku salah.

Kehancuran terbesar adalah ketika aku terus menunggu seseorang yang sudah memilih meninggalkanku.

Dan kebebasan terbesar bukan ketika Arga akhirnya pulang.

Bukan ketika rumah itu menjadi milikku.

Bukan juga ketika pengadilan mengabulkan perceraian kami.

Kebebasan itu datang ketika aku akhirnya berhenti bertanya mengapa dia meninggalkanku dan mulai bertanya ke mana aku ingin melangkah setelahnya.

Bu Ratna tiba-tiba menyentuh tanganku.

“Sari.”

“Ya, Bu?”

“Terima kasih karena dulu kamu tidak meninggalkan Ibu.”

Aku menggeleng.

“Ibu juga tidak meninggalkan saya.”

Beliau tersenyum.

Saat itu aku akhirnya memahami sesuatu yang tiga tahun sebelumnya tidak pernah bisa kubayangkan.

Arga memang pulang.

Tapi kepulangannya bukan untuk mengambil kembali rumah, keluarga, atau kehidupan yang pernah dia tinggalkan.

Dia pulang hanya untuk membuka pintu terakhir yang selama ini menahanku di masa lalu.

Setelah pintu itu tertutup kembali, aku tidak menunggunya lagi.

Aku berjalan.

Dan kali ini, aku tahu persis ke mana aku ingin pergi.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang