Dokumen lama itu hanya terdiri dari sebelas halaman.
Namun halaman ketujuh memiliki satu klausul yang selama bertahun-tahun tidak pernah dibicarakan lagi oleh Arga.
Aku masih ingat hari ketika kami menandatanganinya.
Saat itu perusahaan kami bahkan belum memiliki kantor sendiri. Aku dan Arga duduk bersebelahan di sebuah ruangan kecil milik notaris di Jakarta Selatan. Arga mengenakan kemeja putih murah yang lengannya digulung sampai siku. Aku masih bekerja sebagai konsultan pemasaran dan seluruh tabunganku, ditambah uang hasil penjualan tanah peninggalan Ayah, menjadi modal pertama perusahaan.
Arga menggenggam tanganku setelah dokumen selesai ditandatangani.
“Suatu hari nanti kita bakal punya kantor sendiri,” katanya sambil tersenyum.
Aku percaya kepadanya.
Aku percaya ketika dia mengatakan perusahaan itu milik kami.
Aku percaya ketika dia berjanji apa pun yang terjadi, tidak akan ada keputusan besar yang dibuat tanpa persetujuanku.
Ternyata janji yang paling berguna bukanlah yang dia ucapkan hari itu.
Melainkan yang tertulis dalam akta.
Dimas meletakkan salinan dokumen itu di depanku dua hari setelah aku meninggalkan rumah.
“Baca bagian ini.”
Aku menunduk.
Setiap pengalihan saham pendiri kepada pihak di luar pemegang saham awal harus mendapatkan persetujuan tertulis seluruh pemegang saham pendiri. Pelanggaran terhadap ketentuan tersebut membuat transaksi dapat digugat dan dibatalkan sesuai mekanisme yang tercantum dalam perjanjian.
Aku membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
“Jadi saham yang mau dipindahkan ke Selin…”
“Belum tentu sah,” jawab Dimas. “Apalagi kalau persetujuanmu dipalsukan.”
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya sejak malam aku membaca percakapan Arga, ada sesuatu selain ketakutan di dalam dadaku.
Bukan lega.
Belum.
Lebih mirip perasaan bahwa aku akhirnya menemukan pintu keluar dari ruangan yang selama ini kukira terkunci.
“Apa yang harus kita lakukan?”
“Jangan lakukan apa yang dia harapkan.”
“Maksudmu?”
“Dia mengharapkan kamu marah, menghubungi Selin, membuat keributan, atau menulis sesuatu di media sosial. Kalau kamu melakukannya, dia bisa memakai itu untuk mendukung narasi bahwa kondisi emosimu tidak stabil.”
Aku langsung teringat pesan Arga kepada Selin.
Mama sudah tahu harus ngomong apa.
Naya sering nangis, kurang tidur, gampang panik.
Aku menatap Raka yang tidur di stroller di sudut ruangan.
“Jadi aku harus diam?”
“Bukan diam.”
Dimas menutup berkas.
“Kita bergerak lewat jalur yang bisa dibuktikan.”
Hari itu kami mulai melakukan sesuatu yang tidak pernah diperkirakan Arga.
Kami mengirim pemberitahuan resmi kepada bank bahwa tanda tanganku dalam pengajuan kredit Rp3,8 miliar dipermasalahkan dan bahwa aku tidak pernah memberikan persetujuan untuk menjaminkan rumah Cipete.
Kami juga mengirimkan keberatan resmi terkait rencana pengalihan saham.
Dimas meminta audit terhadap transaksi tertentu di perusahaan.
Dan aku mengganti seluruh akses digital yang berhubungan dengan dokumen pribadiku.
Aku tidak menghubungi Arga.
Justru Arga yang terus menghubungiku.
Hari pertama ada dua puluh tiga panggilan.
Hari kedua sebelas.
Hari ketiga hanya tiga.
Kemudian pesan-pesannya berubah.
Awalnya marah.
“Kamu nggak berhak bawa anakku pergi begitu saja.”
Lalu mengancam.
“Kalau sampai besok kamu nggak pulang, aku akan ambil tindakan.”
Kemudian membujuk.
“Kita bisa bicara baik-baik. Raka butuh ayahnya.”
Sampai akhirnya, pada malam keempat, dia menulis sesuatu yang membuatku tertawa kecil untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu.
“Aku masih sayang kamu.”
Aku memandangi layar cukup lama.
Lalu mematikannya.
Dulu empat kata itu mungkin cukup untuk membuatku memaafkan banyak hal.
Sekarang aku tahu cinta tidak mengirim contoh tanda tangan istrinya kepada perantara kredit.
Cinta tidak menyusun cerita agar seorang ibu kehilangan anaknya.
Dan cinta tidak mengambil uang dari perusahaan untuk membayar apartemen perempuan lain.
Seminggu setelah aku pergi, Arga akhirnya datang ke rumah kakakku.
Aku sedang menyusui Raka ketika suara bel terdengar.
Kakakku, Aditya, melihat layar kamera di dekat pintu.
“Naya.”
Aku langsung tahu.
“Arga?”
Adi mengangguk.
“Dia sendiri.”
Aku menyerahkan Raka kepada pengasuh yang sedang membantu kami hari itu, lalu berjalan ke ruang tamu.
Aku tidak membuka pintu.
“Pulang, Ga,” kataku dari balik pintu.
“Naya, buka.”
“Kita bicara lewat pengacara.”
“Aku cuma mau lihat anakku.”
Nada suaranya terdengar lelah.
Sesaat, bagian kecil dalam diriku hampir merasa kasihan.
Kemudian dia berkata,
“Kamu nggak bisa terus sembunyi kayak orang gila begini.”
Dan rasa kasihan itu lenyap.
Aku membuka pintu, tetapi tetap berdiri di balik pagar pengaman.
Arga tampak berbeda.
Rambutnya berantakan. Matanya merah. Kemejanya kusut.
Dia menatapku seperti sedang melihat orang asing.
“Mau sampai kapan?”
“Sampai semuanya selesai.”
“Apa yang selesai?”
“Kamu tahu.”
Wajahnya mengeras.
“Kalau soal Selin, aku bisa jelasin.”
“Aku nggak datang ke sini karena Selin.”
Dia terdiam.
“Aku pergi karena kamu memalsukan tanda tanganku.”
Untuk pertama kalinya, matanya bergerak menjauh.
Hanya sepersekian detik.
Tapi aku melihatnya.
“Nggak ada yang dipalsukan.”
“Kalau begitu, biarkan bank yang memeriksa.”
Rahangnya mengeras.
“Naya, kamu nggak ngerti urusan perusahaan.”
Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada yang kuduga.
Bertahun-tahun aku membiarkannya mengatakan hal serupa.
Ketika investor datang, aku duduk di belakang.
Ketika media mewawancarainya, aku membiarkan Arga menceritakan bagaimana dia membangun perusahaan dari nol.
Ketika keluarga besarnya memuji keberhasilannya, aku tidak pernah mengatakan bahwa uang pertama yang membayar sewa kantor, gaji karyawan, bahkan komputer pertama perusahaan berasal dari peninggalan ayahku.
Aku tidak keberatan karena kupikir keberhasilan Arga adalah keberhasilan kami.
Ternyata baginya, diamku dianggap ketidaktahuan.
“Aku cukup ngerti untuk tahu uang perusahaan dipakai bayar renovasi apartemen Selin.”
Wajahnya langsung pucat.
Aku melanjutkan.
“Aku juga ngerti apa artinya memindahkan saham ke orang luar tanpa persetujuan pemegang saham pendiri.”
Sekarang dia benar-benar diam.
“Naya…”
“Pulang.”
“Aku melakukan semua itu karena perusahaan lagi butuh dana.”
“Dengan menjaminkan rumah ayahku?”
“Aku berniat ngomong sama kamu.”
“Kapan? Setelah pinjamannya cair?”
Dia mengusap wajahnya.
“Kamu baru melahirkan. Kamu capek. Aku nggak mau bikin kamu stres.”
Aku hampir tidak percaya dia masih mencoba memakai kondisiku setelah melahirkan sebagai alasan.
“Dan Selin?”
Arga tidak menjawab.
“Dia juga bagian dari strategi supaya aku nggak stres?”
“Nggak sesederhana itu.”
“Memang tidak. Karena ternyata kalian juga menyiapkan cerita untuk mengambil Raka kalau aku melawan.”
Tatapan Arga berubah.
Ada sesuatu yang menyerupai ketakutan.
Saat itulah aku tahu dia akhirnya memahami seberapa banyak yang sudah kuketahui.
“Kamu baca chat pribadi aku?”
Aku tersenyum tipis.
Dari seluruh hal yang bisa dia katakan, itu yang dipilihnya.
“Pengacara kita akan bicara.”
Aku menutup pintu.
Arga berteriak memanggil namaku sekali.
Aku tidak kembali.

Dua hari kemudian, audit awal menemukan transaksi yang jauh lebih besar daripada pembayaran apartemen Selin.
Selama hampir satu tahun, beberapa pembayaran perusahaan dialihkan ke tiga vendor yang namanya tidak kukenal.
Jumlah totalnya lebih dari Rp1,2 miliar.
Ketika diperiksa, salah satu vendor terdaftar menggunakan alamat rumah kosong.
Vendor kedua memakai alamat kantor virtual.
Vendor ketiga ternyata memiliki hubungan dengan Bimo, perantara kredit yang menerima salinan dokumen pribadiku.
Dimas menelepon sore itu.
“Kita punya masalah yang lebih besar.”
“Apa lagi?”
“Selin tanda tangan di beberapa dokumen pembayaran.”
Aku duduk diam.
“Berarti dia terlibat?”
“Kemungkinan besar. Tapi ada sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Beberapa transaksi dilakukan sebelum hubungan mereka dimulai.”
Aku mengerutkan kening.
“Berarti Arga sudah melakukan ini sebelumnya?”
“Itu yang harus kita cari tahu.”
Jawabannya datang dari orang yang sama sekali tidak kuduga.
Malam berikutnya, sebuah nomor tak dikenal menghubungiku.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
“Halo?”
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Kemudian terdengar suara perempuan.
“Mbak Naya?”
“Siapa?”
“Saya Selin.”
Seluruh tubuhku menegang.
Aku berdiri dari sofa dan berjalan menjauh dari kamar tempat Raka tidur.
“Dari mana kamu dapat nomor ini?”
“Saya perlu bicara.”
“Nggak ada yang perlu kita bicarakan.”
“Ada.”
Aku hendak menutup telepon ketika dia berkata cepat,
“Arga bohong ke saya juga.”
Aku berhenti.
Aku tidak merasa simpati.
Namun aku ingin tahu.
“Lanjut.”
Selin menarik napas.
“Dia bilang Mbak sudah setuju menjual sebagian saham.”
“Bohong.”
“Saya tahu sekarang.”
“Dan soal rumah Cipete?”
Dia diam.
“Selin.”
“Saya tahu dia mau pakai rumah itu sebagai jaminan.”
“Jadi kamu tahu.”
“Tapi dia bilang Mbak sudah tanda tangan.”
Aku memejamkan mata.
“Kenapa kamu telepon aku?”
Suara Selin mulai bergetar.
“Karena dua hari lalu Arga minta saya tanda tangan dokumen.”
“Dokumen apa?”
“Pernyataan bahwa semua transaksi ke vendor dilakukan atas instruksi saya.”
Aku langsung memahami.
Arga sedang mencari orang berikutnya untuk dikorbankan.
“Jangan tanda tangan apa pun,” kataku.
Selin tertawa pendek, pahit.
“Sekarang saya ngerti kenapa Mbak pergi.”
Untuk beberapa detik kami sama-sama diam.
Perempuan yang selama tujuh bulan tidur dengan suamiku kini terdengar seperti seseorang yang baru menyadari dirinya juga sedang berdiri di atas jebakan.
Namun aku tidak melupakan apa yang dia lakukan.
“Aku tidak akan bilang kamu korban, Selin.”
“Saya tahu.”
“Kamu tahu dia sudah menikah.”
“Iya.”
“Kamu tahu aku hamil.”
“Iya.”
“Jadi jangan berharap aku memaafkanmu.”
“Saya nggak minta itu.”
“Lalu apa?”
“Saya punya sesuatu.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
“Apa?”
“Rekaman.”
Ternyata beberapa bulan sebelumnya Selin mulai mencurigai transaksi yang diperintahkan Arga. Sebagai manajer keuangan, namanya muncul dalam terlalu banyak dokumen. Dia takut suatu hari seluruh kesalahan dilemparkan kepadanya.
Maka dia menyimpan percakapan dan merekam dua pertemuan.
Salah satunya dengan Bimo.
Dalam rekaman itu, suara Arga terdengar jelas.
“Kalau Naya tahu, bilang saja prosesnya belum final. Yang penting dana masuk dulu.”
Kemudian Bimo bertanya,
“Tanda tangan istrinya aman?”
Arga tertawa kecil.
“Aku sudah sebelas tahun sama dia. Tanda tangan Naya aku hafal.”
Ketika Dimas mendengarkan rekaman itu keesokan harinya, dia tidak langsung berbicara.
Dia hanya melepas kacamatanya.
“Dia baru saja menghancurkan pembelaannya sendiri.”
Masalah itu kemudian berkembang jauh melampaui perceraian.
Bank menghentikan proses kredit.
Rencana pengalihan saham dibekukan.
Audit internal diperluas.
Beberapa investor meminta rapat luar biasa setelah mengetahui ada dugaan penggunaan dana perusahaan tanpa otorisasi yang semestinya.
Arga mulai kehilangan kendali.
Dan ketika orang seperti Arga kehilangan kendali, dia melakukan kesalahan.
Dia mengirim pesan kepada Selin.
“Kalau kamu buka mulut, kita berdua habis.”
Selin menyimpannya.
Lalu menyerahkannya kepada pengacaranya.
Tiga minggu setelah aku meninggalkan rumah, aku akhirnya kembali ke kantor perusahaan.
Bukan sebagai istri Arga.
Aku datang sebagai pemegang saham pendiri.
Ruang rapat di lantai dua belas terasa dingin.
Arga duduk di ujung meja.
Dua investor utama hadir bersama penasihat hukum mereka.
Dimas duduk di sampingku.
Selin tidak hadir.
Dia sudah dinonaktifkan sementara selama audit.
Arga menatapku ketika aku masuk.
Tatapannya bukan lagi tatapan suami kepada istri.
Dia melihatku seperti lawan.
Rapat berlangsung hampir dua jam.
Bukti transaksi ditampilkan.
Dokumen pengajuan kredit dibahas.
Rencana pemindahan saham dibuka.
Kemudian Dimas menyerahkan akta lama perusahaan.
Klausul halaman tujuh dibacakan.
Salah satu investor menatap Arga.
“Jadi pengalihan saham ini dilakukan tanpa persetujuan Ibu Naya?”
Arga menjawab cepat.
“Naya sudah memberikan persetujuan secara lisan.”
Aku menatapnya.
“Tidak pernah.”
“Kita pernah bicara.”
“Kapan?”
Arga terdiam.
“Berikan tanggalnya.”
Tidak ada jawaban.
“Pesannya?”
Diam.
“Email?”
Tetap diam.
Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun mengenalnya, aku melihat Arga tidak memiliki cerita yang cukup cepat untuk menyelamatkan dirinya.
Namun kejutan terbesar datang menjelang akhir rapat.
Auditor menyerahkan satu dokumen tambahan.
Dokumen itu berasal dari tujuh tahun sebelumnya.
Tahun kedua perusahaan berdiri.
Ada transfer besar dari rekening perusahaan ke rekening pribadi.
Aku melihat nominalnya.
Rp480 juta.
Penerimanya bukan Selin.
Bukan Bimo.
Nama penerima membuatku membeku.
Ratih Wibisono.
Ibu Arga.
Aku menoleh perlahan.
“Apa ini?”
Arga tidak menjawab.
Auditor menjelaskan bahwa uang tersebut kemudian digunakan sebagai bagian dari pembayaran sebuah rumah di Depok yang selama ini kukira dibeli oleh ibu mertuaku dari hasil penjualan tanah keluarga.
Ternyata sebagian uangnya berasal dari perusahaan.
Dan transaksi serupa terjadi beberapa kali setelahnya.
Selama bertahun-tahun.
Perselingkuhan dengan Selin ternyata bukan awal pengkhianatan Arga.
Itu hanya bagian yang membuatku akhirnya membuka mata.
Dua bulan kemudian, aku mengajukan gugatan perceraian.
Prosesnya tidak sederhana.
Arga mencoba mempertahankan haknya atas perusahaan.
Keluarganya sempat menyebarkan cerita bahwa aku sengaja menghancurkan rumah tangga karena ingin menguasai bisnis.
Namun mereka tidak pernah bisa menjelaskan dokumen-dokumen yang ada.
Aku tidak melarang Arga bertemu Raka.
Aku hanya meminta semua proses terkait pengasuhan dilakukan dengan aturan yang jelas dan berorientasi pada kepentingan anak.
Aku tidak ingin Raka tumbuh menjadi senjata dalam pertengkaran kami.
Selin akhirnya bekerja sama dalam pemeriksaan internal dan menyerahkan seluruh bukti yang dimilikinya.
Aku tidak menjadi temannya.
Aku juga tidak memaafkannya.
Beberapa luka tidak harus berakhir dengan pelukan agar bisa ditutup.
Kadang cukup dengan berhenti membiarkannya mengendalikan hidup kita.
Enam bulan setelah malam aku meninggalkan rumah, aku kembali ke Cipete.
Rumah Ayah masih berdiri seperti dulu.
Pohon mangga di halaman belakang sudah semakin tinggi.
Aku membawa Raka masuk ke kamar yang dahulu menjadi kamarku.
Dia sudah sembilan bulan sekarang.
Dia merangkak di lantai sambil tertawa mengejar bayangan cahaya matahari.
Aku duduk di sampingnya.
Di tanganku ada sebuah amplop.
Bukan surat perceraian.
Bukan dokumen perusahaan.
Melainkan salinan surat lama yang ditemukan kakakku ketika membersihkan lemari Ayah.
Surat itu ditulis beberapa bulan sebelum Ayah meninggal.
Di bagian terakhir, ada satu kalimat.
“Naya, kalau suatu hari kamu harus memilih antara mempertahankan sesuatu karena takut kehilangan dan meninggalkannya karena ingin menyelamatkan dirimu, jangan takut memulai lagi.”
Aku membaca kalimat itu berulang kali.
Lalu aku menatap Raka.
Enam bulan sebelumnya aku meninggalkan rumah dengan satu koper kecil, bayi berusia tiga bulan, dan ketakutan bahwa seluruh hidupku akan direbut.
Aku mengira aku sedang kehilangan pernikahan.
Ternyata aku sedang mendapatkan kembali hidupku.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari Dimas.
“Keputusan rapat sudah final.”
Aku membukanya.
Arga resmi diberhentikan dari jabatan direktur utama setelah hasil audit dan keputusan para pemegang saham.
Aku membaca pesan itu tanpa tersenyum.
Aneh.
Aku pernah membayangkan hari ketika Arga menerima akibat dari semua yang dia lakukan akan terasa seperti kemenangan.
Ternyata tidak.
Yang kurasakan hanya tenang.
Aku meletakkan ponsel.
Raka merangkak mendekat lalu menarik ujung bajuku.
Aku mengangkatnya ke pangkuan.
Di luar jendela, sore mulai turun di atas halaman rumah Ayah.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Dokumen paling penting yang kutinggalkan di bawah cincin pernikahanku bukanlah formulir pinjaman Rp3,8 miliar itu.
Dokumen itu memang membuat Arga sadar bahwa aku mengetahui kebohongannya.
Namun dokumen yang benar-benar menghancurkan rencananya adalah dokumen yang kubawa bersamaku.
Akta lama perusahaan.
Bukti bahwa sejak hari pertama, aku tidak pernah menjadi sekadar istri dari lelaki yang membangun sebuah perusahaan.
Aku adalah salah satu orang yang membangunnya.
Dan kesalahan terbesar Arga bukanlah berselingkuh dengan Selin.
Bukan pula karena dia mengira bisa memalsukan tanda tanganku.
Kesalahan terbesarnya adalah menghabiskan sebelas tahun membuatku merasa kecil sampai dia sendiri lupa bahwa perempuan yang dianggapnya terlalu lelah, terlalu emosional, dan terlalu lemah untuk melawan adalah perempuan yang dahulu memberikan modal pertama agar dia bisa berdiri.
Aku memeluk Raka lebih erat.
Cincin pernikahanku mungkin masih tersimpan di suatu tempat sebagai barang yang pernah kutinggalkan.
Aku tidak pernah meminta kembali.
Karena pada akhirnya aku sadar, malam itu aku tidak meninggalkan rumah dengan tangan kosong.
Aku membawa satu-satunya hal yang benar-benar harus kuselamatkan.
Anakku.
Namaku.
Dan diriku sendiri.
