Dia dihina karena pakaian yang dikenakannya tanpa mereka sadari siapa suaminya…

Sandra menyeringai sinis, melemparkan map tersebut ke ujung meja seolah itu adalah tumpukan kertas sampah. “Kami bicara tentang efisiensi, keuntungan miliaran, dan dominasi pasar, Lucia. Bukan tentang moralitas atau teori-teori akademis yang membosankan. Jika kamu ingin bekerja di sini, kamu harus terlihat seperti seseorang yang bisa menjual mimpi, bukan seseorang yang baru saja selesai mencuci piring.”

Lucia menarik napas panjang. Ia teringat suaminya, Rafael, yang selalu menasihatinya bahwa orang yang paling berbahaya bukanlah mereka yang berteriak, melainkan mereka yang merasa paling aman di atas takhta keangkuhan mereka. Rafael, CEO dari konsorsium teknologi global yang bahkan menaungi perusahaan Mendoza ini, selalu mengingatkan: ‘Jika mereka terlalu sibuk melihat pakaianmu, mereka akan melewatkan perubahan dunia yang ada di tanganmu.’

“Kalian benar,” ujar Lucia tiba-tiba, suaranya tenang namun bergema di ruangan yang luas itu. “Saya memang tidak terlihat seperti kalian. Saya tidak menghabiskan gaji saya untuk jam tangan yang harganya bisa membiayai operasional riset selama setahun.”

Rebeca tertawa terbahak-bahak, seolah itu adalah lelucon paling lucu yang pernah ia dengar. “Oh, beraninya dia. Apa lagi, Lucia? Kamu mau mengajari kami cara berbisnis?”

“Bukan mengajari,” jawab Lucia, mengeluarkan sebuah tablet dari tas kainnya yang sederhana. “Saya ingin menunjukkan kepada kalian kenapa saham Grup Mendoza turun 12% dalam tiga bulan terakhir.”

Ruangan itu mendadak sunyi. Tawa Ivan terhenti di tenggorokannya. Mereka semua tahu angka itu adalah rahasia dapur yang sangat dijaga ketat.

Lucia menyambungkan tabletnya ke layar besar di ruang rapat. Dalam sekejap, barisan kode kompleks dan analisis data muncul, bukan sekadar angka biasa, melainkan algoritma prediktif yang ia kembangkan sendiri—algoritma yang selama ini mereka coba beli dari perusahaan asing dengan harga fantastis.

“Algoritma ini adalah inti dari sistem yang kalian butuhkan,” lanjut Lucia, matanya menatap tajam satu per satu wajah para eksekutif yang kini pucat pasi. “Tapi ada satu masalah. Kode ini hanya bisa dijalankan dengan kunci akses yang sudah saya daftarkan atas nama pribadi saya sejak kemarin malam.”

Martin bangkit berdiri, wajahnya merah padam. “Siapa kamu sebenarnya?! Ini pencurian data!”

“Nama saya Lucia Ramos,” ucapnya, berdiri perlahan. “Dan jika kalian ingin perusahaan ini tidak bangkrut dalam waktu 48 jam karena sistem kalian akan terkunci secara permanen, mungkin sekarang bukan saat yang tepat untuk menghina pakaian saya.”

Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka lebar. Seorang asisten masuk dengan napas terengah-engah, memegang teleponnya. “Bapak, Ibu… ada telepon mendesak dari kantor pusat konsorsium. Pemilik utama perusahaan ini… suaminya sedang dalam perjalanan ke sini untuk melakukan audit mendadak.”

Ruangan itu berubah menjadi pemakaman. Para eksekutif itu menatap Lucia dengan ngeri—sosok yang mereka ejek sebagai ‘orang pasar’ adalah istri dari pemilik tertinggi perusahaan yang memegang kendali atas karier mereka.

Lucia merapikan mapnya kembali ke dalam tas. Ia berjalan menuju pintu, berhenti tepat di depan Rebeca yang gemetar.

“Pelajaran hari ini sederhana,” bisik Lucia. “Kalian menilai buku dari sampulnya, padahal kalian bahkan tidak mampu membaca isinya.”

Lucia keluar dari ruang rapat dengan kepala tegak. Ia meninggalkan mereka di sana, terjebak dalam keangkuhan mereka sendiri, menanti kedatangan suaminya yang akan memastikan bahwa orang-orang yang hanya peduli pada citra, tidak akan lagi memiliki tempat di masa depan yang ia bangun. Pintu kaca itu tertutup, dan untuk pertama kalinya, kemewahan ruangan itu tidak lagi terasa mengintimidasi—hanya terasa seperti panggung kosong bagi orang-orang yang kehilangan arah.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang