Pria itu, yang kemudian diketahui bernama Mateo, mematung. Matanya menyipit, menatap jas sutra yang kini berdebu dan jam tangan mewah Enrique yang masih berhenti di angka 2:57. Mateo tidak melihat seorang jutawan; ia melihat seseorang yang sedang berada di luar tempatnya.
“Enrique… dari perusahaan konstruksi Artha Utama?” tanya Mateo dengan suara berat, seolah nama itu adalah beban yang baru saja ia letakkan di bahu.
Enrique mengangguk heran. “Ya. Bagaimana Anda tahu?”

Mateo melepaskan pegangan pada setang sepedanya. Ia menarik napas dalam, lalu duduk di bangku kayu reyot di samping Enrique. “Tiga tahun lalu, perusahaan Anda mengambil alih proyek perumahan di distrik ini. Janji manis tentang ganti rugi dan relokasi yang layak hanya berakhir dengan penggusuran paksa. Saya salah satu mandor yang kehilangan pekerjaan, dan rumah saya… hancur rata dengan tanah karena perintah ‘efisiensi’ yang Anda tandatangani di kantor Makati itu.”
Suasana berubah mencekam. Angin yang tadinya membawa hawa panas, kini terasa dingin dan menekan. Lidia terdiam, memeluk Gael yang baru saja berhenti bermain. Enrique merasakan tenggorokannya tercekat. Selama bertahun-tahun, ia menganggap semua angka di laporan kinerjanya hanyalah statistik, bukan kehidupan manusia.
“Jadi, ini karmanya?” tanya Enrique, suaranya parau. “Kalian akan membiarkan saya membusuk di sini karena dendam?”
Mateo menatap tajam, namun bukan kebencian yang terpancar, melainkan sebuah kejujuran yang menyakitkan. “Jika saya ingin membalas, saya bisa saja membiarkan Anda mati terpanggang di pinggir jalan sana, Pak. Tapi saya tidak akan menurunkan martabat keluarga saya demi orang yang tidak pernah melihat kami ada.”
Mateo berdiri, mengambil kotak peralatan tua dari boncengan sepedanya. “Lidia, ambilkan kunci pas besar itu.”
Enrique terbelalak. “Apa yang Anda lakukan?”
“Saya akan memperbaiki SUV Anda,” jawab Mateo singkat. “Bukan karena saya peduli pada Anda, tapi karena saya ingin Anda segera pergi dari sini. Saya ingin kembali ke kehidupan saya yang tenang tanpa harus melihat wajah orang yang menghancurkan masa lalu saya.”
Selama satu jam, di bawah terik matahari, terjadi pemandangan yang ganjil. Seorang taipan properti yang terbiasa memerintah ribuan orang, kini hanya bisa berdiri mematung menyaksikan pria yang hidupnya ia hancurkan, berjuang memperbaiki mobilnya. Setiap dentuman kunci pas pada mesin adalah pengingat bagi Enrique tentang biaya nyata dari setiap keputusannya.
Ketika mesin mobil akhirnya menderu hidup, Enrique tidak langsung masuk. Ia mengeluarkan buku cek dari saku jasnya—tindakan refleks yang biasa ia lakukan untuk “membeli” masalah agar hilang.
“Berapa?” tanya Enrique. “Berapa yang harus saya bayar untuk perbaikan ini dan… untuk masa lalu itu?”
Mateo menatap cek itu, lalu menggeleng pelan. Ia menyeka keringat di dahinya dengan tangan yang penuh noda oli. “Harga diri saya tidak ada di buku cek Anda, Pak. Pergilah ke rapat Anda. Menangkan kontrak Anda. Tapi saat Anda menandatangani dokumen nanti, ingatlah bahwa di balik setiap angka di kertas itu, ada orang-orang seperti Gael yang kehilangan tempat bermainnya.”
Enrique masuk ke dalam mobil. Saat ia memutar kemudi, ia menatap spion. Ia melihat Lidia, Mateo, dan Gael berdiri di depan teras kecil mereka. Mereka tidak terlihat seperti korban. Mereka terlihat seperti orang yang merdeka, sementara ia—dengan setelan mahalnya—merasa seperti tawanan.
Saat ia tiba di lobi gedung rapat di Makati pukul 4:15 sore, ia terlambat. Rekan-rekannya menunggu dengan wajah kesal. Namun, saat Enrique duduk di kursi utama, ia tidak mengeluarkan kontrak penjualan perusahaannya.
Sebaliknya, ia mengeluarkan berkas rancangan baru—proyek pembangunan perumahan sosial di Barangay Puting Bato yang dibiayai penuh oleh dana pribadinya.
“Rapat ini tidak akan membahas penjualan,” ucap Enrique mantap. “Rapat ini akan membahas bagaimana kita memperbaiki apa yang telah kita rusak.”
Ia tidak tahu apakah ia akan dipecat oleh para pemegang saham hari itu, tapi untuk pertama kalinya sejak jam tangannya berhenti di pukul 2:57, Enrique merasa waktu akhirnya kembali berjalan.
