“Cara lain seperti apa?”
Saya menatap Fajar tanpa berkedip.
Suami saya mundur sedikit. Mungkin ia tidak menyangka saya akan menjawab dengan suara setenang itu setelah ayahnya menampar saya.
Pak Suryo mengambil pulpen dari meja, lalu mengetukkannya dua kali di atas surat kuasa.
“Kamu tidak perlu tahu. Tanda tangan saja, semuanya selesai.”
Saya menahan napas.
Pipi kiri saya masih panas. Bibir saya masih terasa perih. Pecahan vas pengantin berserakan di dekat kaki kami, bercampur dengan kelopak melati yang sejak tiga hari lalu menjadi simbol pernikahan saya.

Lucu sekali.
Tiga hari lalu orang-orang mendoakan rumah tangga kami langgeng.
Pagi itu saya justru berdiri di tengah keluarga suami sambil melihat bukti bahwa rumah tangga tersebut mungkin sejak awal dibangun untuk menipu saya.
“Baik,” kata saya.
Semua orang mendadak diam.
Fajar menatap saya.
“Kamu mau tanda tangan?”
“Saya bilang baik. Saya akan ke bank besok.”
Wajah Pak Suryo mengendur.
“Nah. Begitu lebih baik.”
“Tapi sertifikat apartemen tetap saya pegang malam ini.”
Dimas langsung menarik map biru mendekati dadanya.
“Tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Takut kamu kabur.”
Saya tersenyum tipis.
“Kalau saya memang berniat kabur, kalian pikir selembar sertifikat bisa menahan saya?”
Pak Suryo menunjuk kamar di lantai atas.
“Istirahatlah. Besok kita berangkat bersama.”
Saya tidak membantah.
Saya naik ke lantai tiga dengan langkah pelan.
Fajar menyusul beberapa menit kemudian.
Begitu pintu kamar tertutup, ia langsung berkata, “Kamu tadi bikin semuanya makin rumit.”
Saya berbalik.
“Ayahmu menampar saya.”
“Aku tahu.”
“Kakakmu memalsukan tanda tangan saya.”
“Itu bukan Mas Dimas.”
Saya membeku.
Fajar tampak baru sadar telah mengatakan sesuatu yang seharusnya ia sembunyikan.
“Kalau bukan Dimas, siapa?”
Ia memalingkan muka.
Saya mendekatinya.
“Siapa yang memalsukan tanda tangan saya, Jar?”
“Jangan memperbesar masalah.”
“Siapa?”
Ia mengembuskan napas kasar.
“Aku.”
Satu kata itu jauh lebih menyakitkan daripada tamparan Pak Suryo.
Saya mengenal Fajar empat tahun.
Saya pernah menemaninya ketika ia kehilangan pekerjaan. Saya membayar beberapa kebutuhan kami ketika ia belum mendapatkan proyek baru. Saya memperkenalkannya kepada teman-teman profesional saya. Bahkan ketika ibu saya sempat meragukan pernikahan kami karena penghasilan Fajar tidak stabil, saya yang membelanya.
Dan lelaki itu berdiri di depan saya, mengaku memalsukan tanda tangan saya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
“Kapan?”
“Beberapa minggu sebelum menikah.”
“Kenapa?”
“Karena Ayah butuh kepastian.”
“Kepastian bahwa kamu menikahi perempuan yang punya apartemen?”
Wajahnya menegang.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Lalu saya harus bicara seperti apa?”
Ia meraih pergelangan tangan saya.
“Dengar. Usaha keluarga sedang kesulitan. Mas Dimas salah ambil keputusan. Ada utang ke pemasok, cicilan mesin, dan pesanan besar yang gagal dibayar. Kalau kita tidak mendapatkan modal sebelum akhir bulan, bengkel bisa tutup.”
“Saya tidak pernah diberi tahu.”
“Karena kamu pasti menolak.”
Saya tertawa pendek.
“Jadi solusinya adalah mencuri sertifikat saya dan memalsukan tanda tangan?”
“Apartemen itu bahkan sudah lunas. Kamu masih punya tabungan. Buat apa terlalu takut?”
Saya menatap wajah lelaki yang tiga hari lalu mengucapkan janji pernikahan di depan penghulu.
Tiba-tiba saya merasa seperti sedang melihat orang asing.
“Kalau saya kehilangan apartemen?”
“Kita bisa beli lagi.”
“Kita?”
Ia terdiam.
Saya menarik tangan saya dari genggamannya.
“Keluar.”
“Nadira.”
“Keluar dari kamar.”
“Itu kamar kita.”
“Kalau begitu saya yang keluar.”
Saya mengambil tas laptop dan masuk ke kamar mandi.
Saya mengunci pintu.
Fajar mengetuk beberapa kali, tetapi saya tidak menjawab.
Saya membuka aplikasi ponsel yang terhubung dengan jam pintar.
Rekaman sejak percakapan di ruang tamu masih tersimpan.
Tamparan Pak Suryo terdengar jelas.
Begitu juga kalimat mengenai sertifikat, surat kuasa, dan pengakuan Fajar beberapa menit sebelumnya.
Saya mengirim semuanya ke email pribadi, penyimpanan awan, lalu kepada sahabat saya, Rani, seorang pengacara di Jakarta.
Saya menuliskan satu pesan pendek.
Kalau dalam satu jam saya tidak menghubungimu, telepon polisi.
Rani membalas kurang dari semenit.
Keluar dari rumah itu sekarang.
Saya menatap pintu kamar mandi.
Tidak mungkin.
Tangga menuju bawah melewati ruang keluarga. Pak Suryo, Dimas, dan Fajar pasti mengawasi.
Saya lalu menghubungi petugas keamanan apartemen saya di Tebet.
“Pak Arman, apakah beberapa minggu terakhir ada orang yang masuk ke unit saya?”
Ia terdiam beberapa saat.
“Suami Ibu pernah datang dua kali.”
“Kapan?”
Setelah memeriksa catatan, ia menyebutkan tanggal.
Kunjungan kedua terjadi dua puluh satu hari sebelum pernikahan.
Sehari sebelum surat kuasa palsu dibuat.
“Apakah dia membawa sesuatu saat keluar?”
“Saya kurang ingat, Bu. Tapi ada rekaman CCTV.”
“Tolong jangan hapus.”
Saya kemudian menghubungi bank yang namanya tercantum di dokumen.
Setelah melewati beberapa petugas, saya berhasil berbicara dengan seseorang dari bagian kredit.
Saya menyebutkan nomor pengajuan.
Beberapa detik kemudian, suara perempuan di seberang berubah hati-hati.
“Ibu Nadira, untuk keamanan kami perlu melakukan verifikasi identitas lebih lanjut.”
“Saya pemilik aset yang dicantumkan sebagai jaminan. Saya tidak pernah memberi persetujuan.”
Hening.
“Apakah Ibu bisa datang besok pagi?”
“Saya akan datang. Tetapi tolong catat bahwa tanda tangan pada surat kuasa itu bukan milik saya.”
“Baik. Dana juga belum dicairkan.”
Saya memejamkan mata.
Setidaknya apartemen saya belum hilang.
Tetapi kalimat berikutnya membuat jantung saya kembali berdegup keras.
“Pengajuan ini sebenarnya sempat tertahan karena ada ketidaksesuaian dokumen.”
“Ketidaksesuaian apa?”
“Nilai pinjaman dan tujuan penggunaannya.”
“Apa maksudnya?”
“Di formulir utama, pinjaman diajukan untuk ekspansi distribusi batik. Tetapi pada dokumen pendukung terdapat rencana pembayaran beberapa kewajiban pribadi.”
“Kewajiban siapa?”
Petugas itu tidak bisa menjelaskan melalui telepon.
Saya harus datang langsung.
Malam itu saya pura-pura menurut.
Saya turun untuk makan malam.
Pak Suryo bersikap seolah tamparan pagi tadi tidak pernah terjadi.
Bu Ratih menaruh sup di depan saya tanpa berani melihat mata saya.
Mira bahkan tersenyum.
“Nah, begini lebih enak. Keluarga tidak perlu ribut gara-gara hal kecil.”
Saya hampir tertawa.
Tamparan, pemalsuan tanda tangan, dan pencurian sertifikat rupanya dianggap hal kecil.
Saat semua orang mulai makan, saya berkata, “Besok saya akan tanda tangan di bank.”
Pak Suryo mengangguk puas.
“Tentu.”
“Tapi saya ingin membaca semuanya di depan petugas.”
Sendok Dimas berhenti di udara.
“Tidak perlu.”
“Kenapa?”
“Dokumennya sudah dibaca Fajar.”
“Saya pemilik apartemen.”
Pak Suryo memandang saya tajam.
“Kamu masih belum mengerti cara menjadi istri?”
“Saya sedang belajar, Pak.”
Saya menatap Fajar.
“Dan hari ini saya belajar banyak sekali.”
Ia langsung menunduk.
Keesokan paginya kami berangkat pukul tujuh.
Pak Suryo, Dimas, Fajar, dan saya berada dalam satu mobil.
Sepanjang perjalanan menuju Semarang, tidak ada yang berbicara.
Map biru berada di pangkuan Dimas.
Sekitar pukul delapan lewat sepuluh kami memasuki ruang pertemuan kecil di kantor bank.
Seorang petugas bernama Ibu Lestari sudah menunggu.
Bersamanya ada manajer cabang dan seorang staf bagian kepatuhan.
Ekspresi Dimas langsung berubah.
“Kok banyak sekali?”
Ibu Lestari tersenyum profesional.
“Karena pemilik aset meminta klarifikasi.”
Pak Suryo menatap saya.
Saya duduk tanpa berkata apa-apa.
Dokumen diletakkan di atas meja.
Ibu Lestari meminta KTP saya, lalu membandingkan tanda tangan asli dengan surat kuasa.
“Bu Nadira, apakah benar ini bukan tanda tangan Ibu?”
“Benar.”
“Dan apakah Ibu pernah menyerahkan sertifikat apartemen kepada Pak Fajar?”
“Tidak.”
Fajar mulai gelisah.
Pak Suryo menyela.
“Ini urusan suami istri. Anak saya punya izin secara lisan.”
“Saya tidak pernah memberi izin.”
“Jangan bohong!”
Suara Pak Suryo meninggi.
Manajer cabang langsung berkata, “Pak, mohon tenang.”
Saya mengeluarkan ponsel.
“Saya punya rekaman pengakuan Fajar bahwa ia mengambil sertifikat tanpa izin dan memalsukan tanda tangan.”
Wajah Fajar pucat.
“Nadira.”
Saya menekan tombol putar.
Suaranya memenuhi ruangan.
Aku.
Beberapa minggu sebelum menikah.
Karena Ayah butuh kepastian.
Dimas berdiri mendadak.
“Ini jebakan!”
“Duduk, Pak,” kata staf kepatuhan.
Namun kejutan sebenarnya baru muncul ketika Ibu Lestari membuka dokumen lain.
“Selain persoalan tanda tangan, ada satu hal yang perlu dijelaskan.”
Ia mendorong lembar rincian penggunaan dana ke tengah meja.
Dari pinjaman satu miliar enam ratus juta rupiah, hanya sekitar enam ratus juta yang akan masuk ke rekening perusahaan batik.
Sisanya dialokasikan untuk melunasi tiga pinjaman pribadi.
Salah satunya atas nama Dimas.
Dua lainnya atas nama Fajar.
Saya menatap suami saya.
“Apa ini?”
Ia tidak menjawab.
Ibu Lestari melanjutkan.
“Total kewajiban Pak Fajar sekitar tujuh ratus delapan puluh juta rupiah.”
Dunia seolah berhenti.
Saya tahu Fajar pernah memiliki cicilan kendaraan dan kartu kredit.
Tapi bukan utang hampir delapan ratus juta.
“Utang apa?”
Fajar mengusap wajah.
Pak Suryo berkata cepat, “Tidak ada gunanya membahas itu sekarang.”
“Saya bertanya kepada suami saya.”
Fajar akhirnya menatap saya.
“Investasi.”
“Investasi apa?”
“Kripto. Saham. Beberapa pinjaman untuk menutup kerugian.”
Saya menahan napas.
“Kapan?”
“Dua tahun terakhir.”
Dua tahun.
Artinya selama hampir separuh hubungan kami, ia menyembunyikan utang itu.
Tiba-tiba saya memahami semuanya.
Mengapa ia mendesak pernikahan dipercepat.
Mengapa ia bersikeras kami tinggal bersama keluarganya.
Mengapa ia menawarkan diri membereskan barang di apartemen saya.
Bengkel batik hanya alasan yang cukup masuk akal untuk membuat saya merasa sedang menolong keluarga.
Tujuan sesungguhnya adalah membersihkan utang mereka menggunakan aset saya.
Namun staf kepatuhan belum selesai.
“Masih ada satu dokumen lain.”
Ia membuka salinan percakapan email antara Dimas dan seorang perantara kredit.
Saya membaca salah satu kalimat.
Setelah akad, status keluarga akan lebih mudah dipakai untuk meyakinkan pemilik aset. Kalau perlu tekan melalui keluarga. Dia tidak mungkin membatalkan pernikahan hanya gara-gara apartemen.
Tanggalnya enam minggu sebelum saya menikah.
Saya mengangkat kepala.
“Fajar tahu?”
Tidak seorang pun menjawab.
“Fajar tahu tentang email ini?”
Dimas mengatupkan rahang.
Pak Suryo berkata, “Apa pun yang kami lakukan demi menyelamatkan keluarga.”
Saya berbalik kepada Fajar.
“Kamu menikahi saya karena apartemen?”
“Tidak.”
Jawabannya terlalu cepat.
“Nadira, aku memang cinta kamu.”
“Lalu kenapa enam minggu sebelum menikah kalian sudah merencanakan cara menekan saya?”
“Aku pikir semuanya akan kembali normal setelah utang selesai.”
“Normal?”
Suara saya bergetar untuk pertama kalinya.
“Kamu merencanakan kejahatan terhadap saya sebelum mengucapkan akad, lalu berharap hidup kita normal?”
Fajar mendekat.
Saya mundur.
“Jangan sentuh saya.”
Pintu ruangan terbuka.
Dua polisi masuk bersama Rani.
Wajah Pak Suryo langsung berubah.
Ternyata semalam Rani tidak hanya menunggu kabar saya.
Setelah mendengar rekaman, ia menyarankan saya membuat laporan awal dan mengirim bukti elektronik. Pihak bank juga telah melaporkan dugaan pemalsuan dokumen setelah saya menghubungi mereka.
Pak Suryo berdiri.
“Ini masalah keluarga!”
Rani menatapnya datar.
“Begitu ada pemalsuan tanda tangan, pengambilan dokumen tanpa izin, dan upaya menjaminkan aset orang lain, masalahnya tidak berhenti menjadi masalah keluarga hanya karena pelakunya punya hubungan darah.”
Dimas mencoba menyalahkan Fajar.
Fajar mengatakan semua dilakukan atas perintah ayahnya.
Pak Suryo berteriak bahwa ia hanya ingin menyelamatkan usaha.
Dalam waktu kurang dari lima menit, keluarga yang kemarin begitu kompak memerintah saya mulai saling menyalahkan.
Saya duduk diam.
Anehnya, saya tidak merasa puas.
Saya hanya lelah.
Sebelum polisi membawa mereka untuk pemeriksaan lebih lanjut, Bu Ratih datang tergesa-gesa ke bank.
Ia menangis begitu melihat suami dan kedua putranya.
Lalu ia mendekati saya.
Saya mengira ia akan meminta saya mencabut laporan.
Ternyata ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas.
“Simpan ini.”
Di dalamnya terdapat beberapa fotokopi dokumen.
Saya membaca halaman pertama dan langsung terdiam.
Itu perjanjian utang lama milik Pak Suryo.
Jumlahnya hampir dua miliar rupiah.
Jaminannya adalah rumah keluarga Wibowo.
“Ternyata bengkel itu sudah hampir bangkrut sejak tahun lalu,” bisik Bu Ratih. “Rumah juga akan disita kalau mereka gagal bayar.”
“Kenapa Ibu tidak bilang?”
Air matanya jatuh.
“Saya takut.”
Ia menatap saya lama.
“Dulu saya juga masuk rumah itu sebagai menantu. Awalnya cuma diminta memasak. Lalu menyerahkan perhiasan. Lalu tabungan. Lama-lama saya tidak punya apa pun atas nama sendiri.”
Saya teringat caranya meremas ujung kerudung ketika Pak Suryo menampar saya.
Untuk pertama kalinya saya memahami bahwa diamnya bukan berarti ia setuju.
Ia sudah terlalu lama hidup dalam ketakutan.
“Tiga bulan lalu,” lanjutnya, “saya mendengar mereka bicara soal apartemenmu. Saya menyuruh Fajar membatalkan rencana itu. Dia bilang setelah menikah kamu akan menurut.”
Ia mengambil napas gemetar.
“Maaf karena saya tidak berani memperingatkanmu.”
Saya tidak tahu apakah saya bisa langsung memaafkannya.
Tetapi hari itu saya mengerti sesuatu.
Kekerasan dalam sebuah keluarga jarang dimulai dengan tamparan besar.
Kadang dimulai dari pekerjaan rumah yang dianggap kewajiban sepihak.
Dari uang yang diminta sedikit demi sedikit.
Dari kalimat, istri harus menurut.
Dari rahasia yang dibiarkan karena semua orang takut membuat keributan.
Tiga minggu kemudian saya kembali ke Jakarta.
Sertifikat apartemen sudah kembali ke tangan saya.
Pengajuan kredit dibatalkan. Kasus pemalsuan dokumen tetap berjalan.
Saya mengajukan pembatalan perkawinan dengan bantuan Rani karena terdapat bukti kuat bahwa sejak sebelum pernikahan telah ada penipuan dan penyembunyian fakta keuangan yang serius.
Fajar menelepon saya puluhan kali.
Saya tidak pernah menjawab.
Pesan terakhirnya hanya satu kalimat.
Kalau kamu benar-benar mencintaiku, seharusnya kamu membantu menyelamatkan keluargaku.
Saya membaca pesan itu beberapa kali.
Kemudian saya menghapusnya.
Sebab akhirnya saya mengerti.
Cinta tidak pernah meminta seseorang menyerahkan rumahnya untuk membuktikan kesetiaan.
Cinta tidak memalsukan tanda tangan.
Cinta tidak mencuri dokumen.
Dan cinta tidak berdiri diam ketika seseorang menampar orang yang katanya paling ia sayangi.
Beberapa bulan kemudian, Bu Ratih datang ke apartemen saya.
Ia tidak datang bersama Pak Suryo.
Ia membawa satu koper kecil.
Untuk pertama kalinya setelah lebih dari tiga puluh tahun menikah, ia memutuskan tinggal terpisah dan mengurus keuangannya sendiri.
Sebelum pulang ke Yogyakarta untuk tinggal sementara bersama adiknya, ia memberikan sesuatu kepada saya.
Satu tangkai melati kering.
“Ini saya ambil dari pecahan vas hari itu,” katanya.
Saya memegangnya dengan hati-hati.
“Kenapa disimpan?”
Bu Ratih tersenyum tipis.
“Karena saya kira hari itu pernikahanmu hancur.”
Ia berhenti sebentar.
“Ternyata hari itu justru ada dua perempuan yang mulai menyelamatkan hidupnya.”
Saya tidak menjawab.
Saya hanya memandang bunga kecil yang sudah kehilangan warna itu.
Vas pengantin memang pecah pada hari ketiga pernikahan saya.
Tetapi bertahun-tahun kemudian, saya tetap bersyukur saya yang memecahkannya.
Sebab suara kaca yang jatuh di ambang pintu itulah yang akhirnya membuat sebuah rumah penuh rahasia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
