Jantungku seperti berhenti ketika suara Mas Hendra terdengar jelas dari ponsel Dinda.
“Gimana, Ma? Si Rani udah mau tanda tangan surat cerai belum? Bayu udah mau pisah belum sama dia?”
Aku refleks memegang perutku. Bayi di dalam sana bergerak pelan, seolah ikut merasakan tubuhku yang mendadak kaku.

Di layar, Dinda bersembunyi di balik deretan motor dekat pos ronda. Kamera ponselnya mengarah ke Bu Sri dan Mas Hendra yang berdiri sekitar dua puluh meter darinya.
Bu Sri mendecakkan lidah.
“Belum. Bayu malah belain dia terus. Kemarin gara-gara perempuan itu, Bayu ngancam mau anggap Mama bukan ibunya.”
Mas Hendra membuang puntung rokok.
“Makanya jangan cuma diteriakin tiap pagi. Sampai kapan? Kita butuh Bayu keluar dari rumah itu sebelum akhir bulan.”
Aku menahan napas.
Keluar dari rumah?
Kenapa?
Rumah subsidi tipe 36 itu memang kami cicil bersama, tetapi sertifikat dan akad kreditnya atas nama Bayu. Apa hubungannya dengan Mas Hendra?
Bu Sri merendahkan suara.
“Orangnya belum berani masuk.”
“Kenapa?”
“Rumahnya dekat pos satpam. Terlalu ramai.”
Tubuhku langsung dingin.
Orang?
Orang siapa?
Mas Hendra menatap ibunya tajam.
“Mama kan tiap pagi sudah kasih tahu dia sendirian.”
Tanganku mulai gemetar.
Jadi benar.
Teriakan itu bukan sekadar cara Bu Sri mempermalukanku.
Itu kode.
Dia sedang memberi informasi kepada seseorang.
Dinda rupanya ikut menyadarinya. Kamera ponselnya bergetar.
Lalu Mas Hendra mengatakan kalimat yang membuatku hampir menjatuhkan tablet.
“Kalau barangnya sudah ketemu, rumah itu biarin aja. Yang penting map biru punya Bayu.”
Bu Sri mengangguk.
Aku langsung mematikan video call.
Bukan karena tidak ingin mendengar lebih banyak.
Aku takut ekspresiku membuat Dinda panik.
Aku duduk di sofa cukup lama, mencoba menyusun semuanya.
Map biru.
Aku tahu persis benda itu.
Bayu menyimpan semua dokumen penting dalam sebuah map biru tua di lemari kamar. Sertifikat pendidikan, polis asuransi, surat kendaraan, dokumen kredit rumah, sampai beberapa dokumen dari kantor.
Malamnya, begitu Bayu pulang, aku tidak langsung cerita.
Aku hanya bertanya sambil melipat baju bayi.
“Mas, map biru di lemari itu isinya apa?”
Bayu yang sedang membuka kancing seragam kantornya berhenti.
“Kok tiba-tiba nanya?”
“Iseng.”
Dia duduk di tepi kasur.
“Ada dokumen rumah, sama surat warisan dari Mbah Kakung.”
Tanganku berhenti.
“Warisan?”
Bayu mengangguk.
“Mbah ninggalin tanah sekitar dua ribu meter di Pemalang. Dulu belum bisa dibalik nama karena ada masalah administrasi. Sekarang sudah selesai. Bulan depan rencananya aku jual.”
“Berapa harganya?”
“Mungkin satu koma delapan sampai dua miliar.”
Dadaku seperti dihantam sesuatu.
Sekarang semuanya masuk akal.
Aku memperlihatkan rekaman Dinda.
Wajah Bayu berubah ketika mendengar suara ibu dan kakaknya sendiri.
Dia tidak marah.
Justru terlalu diam.
Dan diamnya Bayu selalu lebih mengerikan daripada teriakannya.
“Mas?”
Bayu berdiri.
“Mereka tahu soal tanah itu.”
“Siapa?”
“Mama, Bapak, Mas Hendra.”
Dia mengusap wajahnya.
“Mbah memang ninggalin tanah itu khusus buat aku karena dari kecil aku yang tinggal sama Mbah. Mas Hendra pernah minta dibagi setengah. Aku nolak.”
“Kenapa?”
“Dia punya utang.”
Aku menatapnya.
“Utang berapa?”
“Hampir satu miliar.”
Aku merasa kepingan terakhir teka-teki jatuh tepat di tempatnya.
Mereka tidak cuma ingin memisahkan aku dan Bayu.
Mereka mengincar dokumen warisan.
Besok paginya, kami memutuskan tidak mengubah apa pun.
Bayu tetap berangkat seperti biasa.
Aku tetap di rumah.
Bu Sri kembali berdiri di depan pintu pukul delapan lewat dua puluh menit.
“RANI! IBU KE PASAR DULU! KAMU SENDIRIAN YA!”
Aku menjawab dari dapur.
“IYA, BU! SENDIRIAN!”
Kali ini aku sengaja mengatakannya keras.
Bu Sri sempat menoleh.
Mungkin heran kenapa aku tidak melawan.
Aku bahkan keluar membawa segelas air.
“Hati-hati, Bu.”
Dia memandangku curiga, lalu pergi.
Yang tidak dia tahu, Bayu tidak benar-benar berangkat kerja.
Mobilnya dititipkan di rumah temannya dua blok dari komplek. Dia masuk kembali lewat gang belakang dan bersembunyi di rumah kosong milik Pak RT yang sedang direnovasi.
Dinda juga datang.
Bu Yanti dan suaminya sudah kami beri tahu secukupnya.
Pak satpam diminta tidak menghentikan siapa pun yang datang ke rumahku, hanya mencatat.
Pukul sembilan lewat empat puluh tujuh menit, seorang laki-laki memakai jaket ojol berhenti di depan rumah.
Dia tidak membawa makanan.
Tidak membawa paket.
Dia berdiri cukup lama sambil melihat kanan kiri.
Lalu mengetuk.
“Bu, paket.”
Aku berdiri di balik pintu.
“Paket apa?”
“COD, Bu.”
“Saya nggak pesan.”
Dia diam.
Lalu mencoba gagang pintu.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Aku mundur.
Tanganku sudah memegang ponsel.
Tiba-tiba terdengar suara motor lain.
Seorang laki-laki kedua datang.
Mereka bicara pelan.
Kemudian salah satunya mengeluarkan benda tipis dari tas pinggangnya dan menyelipkannya ke celah pintu.
Aku langsung berteriak.
“MAS BAYU!”
Dalam hitungan detik, Bayu, Pak RT, dua satpam dan beberapa warga keluar dari tempat persembunyian.
Dua laki-laki itu panik.
Satu berhasil lari dengan motor.
Yang satunya ditangkap tepat di depan lapangan bulu tangkis.
Dan ketika diperiksa, isi tasnya membuat semua orang terdiam.
Obeng.
Tang.
Sarung tangan.
Lakban.
Dan foto rumahku.
Di belakang foto itu tertulis dengan pulpen hitam.
Bumil. Sendiri jam 8 sampai 12.
Aku menatap tulisan itu sampai tengkukku meremang.
Polisi datang setengah jam kemudian.
Laki-laki yang tertangkap bernama Rudi.
Awalnya dia mengaku cuma disuruh mencuri dokumen.
Tapi ketika polisi menemukan percakapan WhatsApp di ponselnya, semuanya terbongkar.
Orang yang menyuruhnya adalah Mas Hendra.
Bayarannya sepuluh juta rupiah.
Tugasnya mengambil map biru dari lemari kamar utama.
Kalau aku memergoki?
Di situlah suasana ruang tamu mendadak sunyi.
Rudi menunduk.
“Katanya… bikin pingsan aja.”
Bayu berdiri begitu cepat sampai kursinya jatuh.
“Bikin pingsan gimana?”
Polisi menahannya.
Rudi semakin pucat.
“Saya dikasih obat semprot, Pak.”
Aku otomatis memegang perut.
Bayu menatapku.
Matanya merah.
Sore itu polisi menjemput Mas Hendra.
Tapi kejutan terbesar justru datang ketika Bu Sri pulang.
Dia masuk komplek sambil membawa troli belanja, lalu berhenti ketika melihat mobil polisi.
Wajahnya langsung berubah.
“Kenapa?”
Aku berdiri di teras.
“Ibu dari pasar?”
“Iya.”
“Empat jam beli tempe?”
Dia tidak menjawab.
Polisi mendekatinya.
“Bu Sri?”
“Iya?”
“Ibu diminta ikut ke kantor untuk memberikan keterangan.”
Bu Sri langsung menunjukku.
“Ini pasti gara-gara dia! Dia dari awal memang mau fitnah keluarga saya!”
Aku menatapnya.
Aneh.
Aku sudah membayangkan akan marah.
Ternyata tidak.
Aku cuma merasa sedih.
“Ibu tahu mereka mau masuk rumah?”
Bu Sri diam.
“Ibu tahu saya hamil.”
Tetap diam.
“Ibu tiap pagi sengaja teriak supaya orang itu tahu saya sendirian?”
Bibirnya bergetar.
Lalu dia mengatakan sesuatu yang sampai hari ini masih kuingat.
“Ibu cuma mau ambil hak keluarga.”
Bayu keluar dari rumah.
“Hak keluarga?”
Bu Sri menoleh.
Wajahnya langsung runtuh.
“Bayu…”
“Itu tanah Mbah.”
“Tapi Mama ibumu!”
“Terus Rani siapa?”
Bu Sri menangis.
“Ibu kandungmu!”
Bayu menggeleng.
“Ibu kandung nggak mengirim orang ke rumah anaknya yang sedang hamil.”
Satu komplek diam.
Tidak ada yang bergosip.
Tidak ada yang merekam.
Mungkin untuk pertama kalinya semua orang sadar bahwa ini bukan drama keluarga biasa.
Bu Sri akhirnya dibawa untuk diperiksa.
Aku pikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Dua hari kemudian polisi menemukan fakta lain.
Mas Hendra memang punya utang hampir satu miliar.
Tapi bukan utang bisnis.
Dia kecanduan judi online dan meminjam uang dari banyak orang menggunakan jaminan palsu.
Yang lebih mengejutkan, Bu Sri sebenarnya sudah menyerahkan hampir seluruh tabungannya kepada Mas Hendra.
Termasuk uang lima puluh juta yang selama ini kusangka cuma karanganku saat berteriak soal tas hitam.
Ternyata angka itu nyaris tepat.
Di tas selempang yang selalu dipeluk Bu Sri memang pernah ada uang empat puluh delapan juta rupiah.
Uang itu diserahkan kepada salah satu penagih utang Mas Hendra setiap kali Bu Sri pura-pura pergi ke pasar.
Aku baru mengerti kenapa wajahnya sepucat itu ketika aku berteriak soal lima puluh juta.
Aku cuma sedang menggertak.
Tanpa sengaja, aku hampir membongkar rahasia sebenarnya.
Mas Hendra akhirnya ditahan atas dugaan percobaan pencurian dan beberapa perkara lain yang kemudian ditemukan penyidik.
Bu Sri tidak langsung ditahan karena penyidik masih mendalami sejauh mana keterlibatannya. Tapi sejak hari itu, dia tidak pernah kembali tinggal bersama kami.
Bapak mertua menjemput barang-barangnya.
Sebelum pergi, beliau berdiri lama di depan pintu.
“Rani.”
Aku menatapnya.
“Bapak minta maaf.”
Aku tidak menjawab.
Ada luka yang tidak bisa sembuh hanya karena dua kata.
Tapi ada juga luka yang tidak perlu kita bawa seumur hidup.
Tiga bulan kemudian, aku melahirkan seorang bayi perempuan.
Bayu memberinya nama Laras.
Rumah tipe 36 kami masih sama.
Cat temboknya bahkan masih ada bekas lembap dekat dapur.
Pos satpam tetap ramai.
Ibu-ibu masih senang ngobrol sore-sore.
Tapi ada satu hal yang berubah.
Bayu membatalkan rencana menjual tanah warisan Mbah.
Sebagian tanah itu dia sewakan kepada petani setempat.
Hasilnya dimasukkan ke rekening pendidikan Laras.
Suatu pagi, ketika aku sedang menyusui Laras di ruang tamu, terdengar seseorang mengetuk pintu.
Aku melihat CCTV.
Bu Sri.
Sendirian.
Tubuhnya lebih kurus.
Tidak ada tas selempang hitam.
Tidak ada troli.
Bayu kebetulan sedang bekerja.
Aku membuka pintu, tapi tidak membuka pagar.
Bu Sri berdiri di luar.
“Rani…”
“Iya, Bu?”
Dia menatap Laras dari sela pagar.
Air matanya turun.
“Ibu cuma mau lihat cucu.”
Aku diam cukup lama.
Kemudian aku mendekatkan Laras sedikit agar dia bisa melihat wajahnya.
Bu Sri tersenyum sambil menangis.
“Makasih.”
Dia berbalik hendak pergi.
Tapi sebelum melangkah, aku memanggilnya.
“Bu.”
Dia menoleh.
Aku berkata pelan.
“Sekarang kalau Ibu datang, nggak perlu teriak lagi kalau saya sendirian.”
Wajahnya membeku.
Aku melanjutkan.
“Karena sekarang saya tahu, pintu yang paling penting untuk dikunci bukan pintu rumah.”
Bu Sri menatapku.
“Tapi pintu kepercayaan. Sekali orang sengaja membukanya untuk kejahatan, belum tentu bisa masuk lagi.”
Dia menangis tanpa suara.
Lalu pergi.
Aku menutup pagar.
Bukan karena membencinya.
Aku hanya akhirnya mengerti sesuatu.
Keluarga memang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Tapi ketika seseorang menggunakan kata keluarga sebagai alasan untuk menyakiti, kita berhak memasang batas.
Bahkan kepada orang yang darahnya mengalir dalam keluarga kita sendiri.
Dan sejak pagi itu, pukul tujuh tidak pernah lagi membuat buluku merinding.
