Aku menatap foto surat kuasa itu sampai huruf-huruf di layar ponsel terasa kabur.
Di kamar mandi, suara pancuran masih terdengar. Reza bersenandung pelan, seolah malam itu tidak ada yang aneh. Seolah lelaki yang sedang mandi beberapa meter dariku bukan orang yang diduga memalsukan tanda tanganku untuk mengambil rumah senilai satu miliar empat ratus lima puluh juta rupiah.
Aku menyimpan foto dokumen, riwayat percakapan dengan staf notaris, dan unggahan Nadine ke penyimpanan awan. Setelah itu aku mengirim semuanya ke email pribadiku.

Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun bersama Reza, aku tidak menangis.
Aku justru merasa sangat tenang.
Ketika pintu kamar mandi terbuka, Reza keluar sambil mengeringkan rambut.
“Besok jam sembilan jangan terlambat. Nadine ada rapat jam sebelas.”
Aku menatapnya.
“Untuk apa aku datang?”
“Minta maaf.”
“Baik.”
Reza berhenti menggosok rambut.
Mungkin ia tidak menyangka aku akan menyerah semudah itu.
“Bagus kalau kamu akhirnya mengerti.”
Aku tersenyum tipis.
“Aku mulai mengerti banyak hal malam ini.”
Ia tidak menangkap maksudku.
Setelah Reza tidur, aku keluar dari apartemen membawa laptop, dokumen pribadi, dan beberapa pakaian. Aku memesan taksi menuju hotel tempat Bapak dan Ibu menginap.
Bapak membuka pintu pukul dua lewat tujuh belas menit.
Ia tidak bertanya apa-apa ketika melihat koper kecilku.
Ia hanya membuka pintu lebih lebar.
Ibu terbangun dan langsung duduk di tempat tidur.
“Ada apa, Yu?”
Aku menunjukkan foto surat kuasa itu.
Wajah Bapak berubah.
“Ini tanda tanganmu?”
“Mirip, tapi bukan.”
Aku menceritakan semuanya. Tentang rencana pengalihan tujuh puluh persen kepemilikan rumah, nama Nadine sebagai penerima kuasa pengelolaan, gelang berlian, dan kebohongan tentang biaya pengobatan papanya Reza.
Ibu menutup mulut.
“Operasi papanya bagaimana?”
“Aku belum tahu.”
Bapak mengambil ponselnya.
“Cari tahu sekarang.”
Aku ragu.
“Jam dua pagi, Pak.”
“Bukan telepon keluarganya.”
Bapak menatapku tajam.
“Cari bukti.”
Kami memeriksa percakapan lama, bukti transfer, dan dokumen yang pernah dikirim Reza. Enam bulan lalu, ia mengirim foto tagihan rumah sakit dengan total seratus delapan puluh tujuh juta rupiah.
Aku memperbesar dokumen tersebut.
Untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu.
Nama rumah sakit tercetak tidak konsisten. Logo pada halaman pertama berbeda sedikit dengan logo pada lembar rincian.
Aku menghubungi nomor layanan resmi rumah sakit keesokan paginya.
Setelah melalui prosedur verifikasi terbatas, aku memang tidak bisa memperoleh data medis pasien. Namun petugas memastikan format kuitansi yang kukirim bukan format resmi mereka.
Aku mematikan telepon.
Ibu terduduk.
“Jadi operasi itu…”
“Entahlah, Bu. Tapi tagihannya palsu.”
Bapak berjalan ke jendela.
Untuk beberapa saat ia diam.
Lalu berkata, “Uang rumah sudah dibayar. Sekarang jangan selamatkan pernikahan. Selamatkan dirimu.”
Pukul delapan pagi, kami menemui staf notaris.
Perempuan bernama Rani itu terlihat pucat ketika aku datang bersama Bapak.
“Saya kira Ibu memang sudah memberikan kuasa.”
“Siapa yang menyerahkan dokumennya?”
“Pak Reza.”
“Sendiri?”
Rani terdiam.
“Bersama Bu Nadine.”
Aku meminta salinan semua dokumen.
Ternyata bukan hanya surat kuasa.
Ada rancangan perjanjian pascanikah yang belum pernah kulihat. Isinya memberi Reza kewenangan mengelola rumah, menyewakan, menjaminkan, bahkan melakukan tindakan hukum tertentu atas aset tersebut.
“Ini juga tanda tangan saya?”
Rani mengangguk pelan.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu.
Karena akhirnya aku memahami besarnya jebakan yang sedang disiapkan.
Seminggu lagi aku seharusnya duduk di depan penghulu dan mengatakan sah kepada lelaki yang diam-diam sedang mengubahku dari pemilik rumah menjadi orang yang harus meminta izin untuk masuk.
Aku menghubungi pengacara yang direkomendasikan seorang teman kantor.
Namanya Dimas.
Setelah memeriksa dokumen, ia hanya mengatakan satu kalimat.
“Jangan tanda tangani apa pun dan jangan beri tahu mereka bahwa kita sudah tahu.”
Siang itu aku datang ke kantor Reza.
Nadine sedang duduk di ruangannya sambil minum kopi.
Ketika melihatku, ia menyilangkan tangan.
“Mbak Ayu datang untuk minta maaf?”
Aku menutup pintu.
“Iya.”
Nadine tersenyum puas.
“Silakan.”
Aku menatap matanya.
“Maaf karena selama ini aku terlalu percaya.”
Senyumnya perlahan menghilang.
Reza keluar dari ruang kerjanya.
“Ayu, jangan mulai lagi.”
Aku menoleh kepadanya.
“Aku datang untuk membicarakan akad.”
Reza langsung melunak.
“Nah. Begitu lebih dewasa.”
“Aku ingin semuanya tetap berjalan sesuai rencana.”
Nadine menatapku seperti sedang menilai apakah aku serius.
Aku melanjutkan.
“Tapi aku ingin rumah dibereskan sebelum akad. Akses wajahku dan orang tuaku dikembalikan. Kamar mereka dikosongkan. Musala dikembalikan seperti semula.”
Nadine hendak bicara, tetapi Reza mengangkat tangan.
“Bisa.”
Aku hampir kagum melihat betapa cepatnya ia berubah ketika merasa kendalinya terancam.
“Dan satu lagi,” kataku. “Aku ingin semua dokumen rumah dibawa saat pertemuan keluarga tiga hari sebelum akad. Bapak ingin memastikan administrasinya beres.”
Reza menatapku beberapa detik.
“Untuk apa?”
“Bapak sudah tua. Dia hanya ingin tenang.”
Aku menggenggam tangannya.
Sentuhan itu membuat kulitku terasa dingin.
“Tujuh tahun, Za. Masa aku tidak percaya kamu?”
Kalimat itu berhasil.
Wajahnya rileks.
“Kamu memang terlalu banyak pikiran.”
Aku tersenyum.
“Benar.”
Tiga hari berikutnya menjadi tiga hari terpanjang dalam hidupku.
Dimas menemukan beberapa hal lain.
Uang yang disebut Reza sebagai biaya operasi ayahnya ternyata masuk ke rekening perusahaan kecil milik Nadine. Dari sana sebagian digunakan untuk membeli perhiasan, membayar renovasi rumah, dan membiayai perjalanan ke Bali.
Lebih buruk lagi, terdapat percakapan dari laptop lama Reza yang masih tersinkron dengan tablet milikku.
Aku tidak sengaja menemukannya.
Nadine menulis dua bulan sebelumnya.
Setelah nikah, rumah aman?
Reza menjawab.
Kalau surat kuasanya lolos, aman. Ayu gampang disuruh tanda tangan. Dia tidak pernah baca dokumen panjang.
Nadine membalas.
Terus orang tuanya?
Reza menjawab.
Mereka jauh. Yang penting jangan sampai terlalu sering datang.
Aku membaca kalimat itu di samping Ibu.
Ia tidak menangis.
Ia hanya melepas kacamata dan membersihkannya lama sekali.
“Bapakmu menjual kebun itu karena takut kamu nanti susah bayar cicilan.”
Aku menggenggam tangannya.
“Maaf, Bu.”
Ibu menatapku.
“Jangan minta maaf karena pernah percaya kepada orang. Yang salah adalah orang yang memakai kepercayaan itu untuk mencuri.”
Tiga hari sebelum akad, keluarga Reza datang ke rumah.
Rumah itu berubah total.
Kamar Bapak dan Ibu sudah kembali memiliki tempat tidur. Studio Nadine dibongkar. Musala dibersihkan. Bahkan ada sandal tamu baru di rak.
Akses wajahku kembali aktif.
Ketika aku berdiri di depan pintu, mesin berkata,
“Selamat datang, Ayu.”
Reza tersenyum bangga.
“Nah, sudah beres. Sekarang tidak ada drama lagi.”
Aku masuk bersama Bapak dan Ibu.
Nadine juga hadir.
Kali ini ia tidak membawa Moka.
Di ruang tamu, kedua keluarga duduk saling berhadapan.
Mama Reza mulai membicarakan katering, jumlah tamu, dan susunan acara.
Aku membiarkannya selesai.
Kemudian aku mengeluarkan sebuah map.
“Sekarang kita bicara rumah.”
Reza langsung menatapku.
“Bukannya sudah selesai?”
“Belum.”
Aku meletakkan salinan surat kuasa di atas meja.
Wajah Nadine seketika pucat.
Papa Reza mengambil dokumen tersebut.
“Apa ini?”
“Surat kuasa palsu untuk memindahkan tujuh puluh persen hak rumah kepada Reza.”
Mama Reza berdiri.
“Ayu, jangan menuduh sembarangan!”
“Ada tanda tangan saya. Tapi saya tidak pernah menandatanganinya.”
Aku meletakkan dokumen kedua.
“Ini rancangan perjanjian yang juga memakai tanda tangan palsu.”
Kemudian dokumen ketiga.
“Ini aliran dana yang katanya digunakan untuk operasi Papa.”
Ruangan mendadak sunyi.
Papa Reza mengernyit.
“Operasi saya?”
Aku menatapnya.
“Enam bulan lalu Reza mengatakan Papa menjalani bypass.”
Lelaki itu berdiri perlahan.
“Saya tidak pernah operasi jantung.”
Ibu menutup mata.
Mungkin masih ada bagian kecil dalam dirinya yang berharap setidaknya cerita sakit itu benar.
Papa Reza berbalik kepada anaknya.
“Kamu bilang apa kepada mereka?”
Reza bangkit.
“Ayu, ini bisa dijelaskan.”
“Silakan.”
“Waktu itu bisnis sedang butuh dana. Aku takut kamu tidak mau membantu.”
“Jadi kamu memalsukan penyakit ayahmu?”
“Aku berniat mengembalikannya.”
“Dengan memberikan gelang enam puluh delapan juta kepada sekretarismu?”
Nadine berdiri.
“Saya tidak tahu uangnya dari mana.”
Aku menatapnya.
“Benarkah?”
Aku menyalakan televisi.
Tangkapan layar percakapan mereka muncul.
Setelah nikah, rumah aman?
Wajah Nadine kehilangan warna.
Reza melangkah cepat ke arah televisi.
“Matikan!”
Bapak berdiri di depannya.
Untuk pertama kalinya sejak kami tiba di Bekasi, suara Bapak meninggi.
“Jangan sentuh anak saya.”
Reza berhenti.
Aku tidak pernah melihat Bapak seperti itu.
Lelaki yang kemarin rela mencuci kaki di keran pagar agar tidak mengotori karpet kini berdiri tegak di tengah rumah yang dibeli dari hasil kerja kerasnya selama puluhan tahun.
“Aku bisa jelaskan semuanya,” kata Reza.
Aku menggeleng.
“Tidak perlu.”
Aku mengeluarkan kotak cincin.
Cincin pertunanganku kulepas dan kuletakkan di meja.
“Akadnya batal.”
Mama Reza menangis.
“Kalian sudah menyebar ribuan undangan!”
“Undangan bisa dibatalkan.”
“Bagaimana dengan malu keluarga?”
Aku menatapnya.
“Kalau saya tetap menikah hanya untuk menghindari malu, saya akan membayar rasa malu itu seumur hidup.”
Reza tertawa sinis.
“Kamu pikir setelah semua ini aku masih mau menikahimu?”
Aku mengangguk.
“Bagus. Berarti untuk pertama kalinya kita sepakat.”
Wajahnya memerah.
Ia menunjuk rumah.
“Kalau begitu aku keluar dari sini. Tapi semua uang renovasi yang kukeluarkan harus dikembalikan.”
Dimas yang sejak tadi menunggu di ruang makan akhirnya masuk.
“Bisa dibicarakan melalui jalur hukum.”
Reza membeku.
“Siapa dia?”
“Pengacara saya.”
Dimas meletakkan surat di meja.
“Dan mengenai dugaan pemalsuan dokumen serta penggunaan dana dengan keterangan palsu, kami sudah menyiapkan laporan dan bukti pendukung.”
Nadine langsung duduk.
Reza tidak berkata apa-apa lagi.
Sore itu, untuk pertama kalinya, rumah tersebut benar-benar sunyi.
Keluarga Reza pergi.
Nadine pergi.
Reza menjadi orang terakhir yang berdiri di depan pintu.
Ia menatapku lama.
“Tujuh tahun, Yu.”
Aku mengangguk.
“Tujuh tahun.”
“Kamu buang begitu saja?”
Aku melihat lelaki yang pernah kuanggap sebagai masa depanku.
“Bukan aku yang membuangnya.”
Pintu kututup.
Beberapa minggu kemudian, proses hukum dan pembatalan dokumen palsu berjalan. Rumah tetap tercatat atas namaku. Aku memutuskan tidak menjualnya.
Namun aku juga tidak langsung menempatinya.
Aku meminta Bapak dan Ibu tinggal beberapa minggu di Bekasi.
Kamar mereka kembali seperti rancangan awal. Musala dipulihkan. Sofa putih pilihan Nadine dijual. Lampu neon berbentuk hati dilepas.
Suatu pagi, Bapak berdiri di depan pintu sambil membawa kopi.
Kamera mengenali wajahnya.
“Selamat datang, anggota keluarga.”
Bapak tertawa.
“Wah, sekarang Bapak sudah dianggap keluarga.”
Aku ikut tertawa, tetapi mataku panas.
Ibu keluar dari dapur membawa pisang goreng.
“Memangnya dari dulu kita apa?”
Aku memeluk mereka.
Beberapa bulan kemudian, aku menemukan satu hal terakhir ketika teknisi rumah pintar datang untuk menghapus seluruh konfigurasi lama.
“Bu,” katanya, “ada profil yang belum dihapus.”
Aku melihat layar.
Terdapat tujuh profil lama.
Bukan enam seperti yang dikatakan Reza.
Aku membaca daftar itu satu per satu.
Reza.
Papa Reza.
Mama Reza.
Nadine.
Moka.
Pet sitter.
Dan Ayu.
Namaku ternyata tidak pernah benar-benar harus dihapus karena keterbatasan kapasitas.
Profilku sengaja dinonaktifkan.
Di bawahnya terdapat catatan perubahan sistem.
Perintah terakhir dilakukan menggunakan akun administrator milik Reza.
Alasannya tertulis singkat.
Restrict owner access.
Batasi akses pemilik.
Aku terdiam cukup lama.
Selama berbulan-bulan aku mengira masalahnya adalah Nadine yang terlalu jauh memasuki kehidupan kami.
Ternyata Nadine bukan orang yang membuka pintu itu sendiri.
Reza yang membukakannya.
Reza pula yang menutup pintu untukku.
Aku meminta teknisi menghapus seluruh profil lama dan mendaftarkan ulang hanya tiga wajah.
Bapak.
Ibu.
Dan aku.
Ketika proses selesai, aku berdiri di luar, menatap kamera yang pernah empat kali mengatakan bahwa aku adalah orang asing.
Lampu hijau menyala.
“Selamat datang di rumah, Ayu.”
Aku membuka pintu.
Saat itulah aku akhirnya memahami sesuatu.
Rumah bukan sekadar bangunan yang namanya tercetak di sertifikat.
Rumah adalah tempat di mana kita tidak perlu memohon izin untuk dihormati.
Dan orang yang benar-benar mencintaimu tidak akan pernah meminta agar dirimu mengecil supaya orang lain bisa mengambil tempatmu.
Aku hampir kehilangan rumah senilai satu miliar empat ratus lima puluh juta rupiah.
Namun yang kuselamatkan ternyata jauh lebih mahal.
Namaku sendiri.
