AKU PULANG TANPA MEMBERI KABAR PADA MALAM TAHUN BARU, DAN REKAMAN KAMERA MEMBONGKAR ALASAN ISTRI SERTA BAYIKU SENGAJA DITINGGALKAN SENDIRIAN DI APARTEMEN TANPA MAKANAN

Aku menatap layar ponsel cukup lama sampai tulisan pada rekaman itu terasa kabur di depan mataku.

Selama ini aku mengira masalah terbesar malam itu adalah Nadia dan Rafi yang ditinggalkan tanpa makanan. Ternyata itu hanya bagian paling terlihat dari sesuatu yang jauh lebih busuk.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka.

Dokter keluar sambil melepas sarung tangan.

“Pak Raka?”

Aku langsung berdiri.

“Istri saya bagaimana, Dok?”

“Demamnya cukup tinggi. Ada tanda dehidrasi dan kondisi luka operasinya perlu kami awasi karena dia terlalu banyak beraktivitas dalam beberapa hari terakhir. Untung Bapak membawanya malam ini.”

“Rafi?”

“Untuk sementara stabil. Tapi bayi prematur tidak boleh mengalami pola pemberian susu yang sembarangan seperti ini.”

Kata untung terasa seperti tamparan.

Bagaimana kalau proyekku selesai sesuai jadwal?

Bagaimana kalau aku benar-benar pulang tanggal tiga?

Aku tidak berani membayangkannya.

Ketika akhirnya diperbolehkan masuk, Nadia berbaring dengan infus terpasang di tangan. Wajahnya masih pucat. Di samping ranjang, Rafi tertidur dalam boks rumah sakit.

Untuk pertama kalinya aku mendekati anakku tanpa layar ponsel di antara kami.

Tanganku gemetar ketika menyentuh jemarinya yang kecil.

“Aku minta maaf,” bisikku.

Nadia menatapku.

“Kamu tidak tahu.”

“Itu justru masalahnya. Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumahku sendiri.”

Aku menarik kursi mendekati ranjang.

“Nad, aku lihat rekaman kamera.”

Wajahnya berubah.

“Kamu lihat semuanya?”

“Hampir semuanya.”

Dia memejamkan mata.

“Kenapa kamu tidak cerita?”

“Aku sudah mencoba.”

Aku terdiam.

“Kapan?”

“Dua hari setelah operasi.”

Nadia meminta ponselnya. Setelah mencari beberapa saat, dia menunjukkan tangkapan layar pesan yang dikirim kepadaku.

Mas, kalau sempat telepon aku. Ada masalah dengan Fajar dan perusahaan. Aku takut.

Aku tidak pernah menerima pesan itu.

Di bawahnya terdapat tanda gagal terkirim.

“Setelah itu Wi-Fi sering mati,” katanya. “Ponselku juga beberapa kali diambil Ibu. Katanya aku harus istirahat dan tidak boleh memikirkan masalah.”

“Kenapa tidak pinjam telepon orang lain?”

“Aku mencoba dari ponsel perawat.”

Dia menatapku dengan mata berkaca-kaca.

“Dina yang menjawab.”

Dadaku mengencang.

“Apa katanya?”

“Katanya kamu sudah tahu soal masalah perusahaan. Katanya kamu marah karena aku menolak membantu keluarga.”

Aku berdiri begitu cepat hingga kursi bergeser.

“Itu bohong.”

“Aku tahu sekarang.”

“Nadia, aku bahkan tidak tahu ada kekurangan Rp1,8 miliar.”

Air matanya akhirnya jatuh.

“Aku sempat berpikir kamu memang membiarkan mereka melakukan itu.”

Aku tidak punya pembelaan.

Aku hanya menggenggam tangannya.

“Mulai sekarang jangan tanda tangani apa pun. Apa pun yang mereka katakan.”

“Aku tidak pernah tanda tangan.”

Aku menatapnya.

“Tidak pernah?”

Dia menggeleng.

“Makanya mereka marah.”

Kalimat itu justru membuatku semakin takut.

Jika Nadia tidak pernah menandatangani surat itu, mengapa Fajar mengambil contoh tanda tanganku dan stempel perusahaan?

Aku keluar dari kamar dan menelepon seseorang yang sudah hampir setahun tidak pernah kuhubungi di luar urusan kerja.

Namanya Arman, kepala bagian keuangan perusahaan.

Dia mengangkat setelah dering ketiga.

“Pak Raka? Selamat tahun baru, Pak.”

“Man, saya perlu jawaban jujur. Ada kekurangan uang Rp1,8 miliar?”

Di seberang telepon mendadak sunyi.

“Bapak sudah tahu?”

“Jawab.”

“Auditor menemukan transfer tidak wajar dari rekening operasional sejak Oktober. Total sementara sekitar Rp1,83 miliar.”

“Ke mana?”

“Beberapa vendor.”

“Vendor mana?”

Arman menyebut tiga nama perusahaan.

Dua tidak kukenal.

Nama ketiga membuatku membeku.

PT Dinar Karya Nusantara.

Dina.

Aku menutup mata.

“Siapa yang mengotorisasi?”

“Secara sistem, Pak Raka.”

“Mustahil. Saya di Balikpapan.”

“Itulah masalahnya, Pak. Dokumen persetujuannya memakai tanda tangan dan stempel Bapak.”

Aku teringat map hitam di tangan Fajar.

“Jangan hubungi siapa pun dari keluarga saya,” kataku. “Besok pagi salin semua data transaksi, email, CCTV kantor, dan log akses. Jangan ubah satu file pun.”

“Pak, sebenarnya kemarin Pak Fajar datang ke kantor.”

“Untuk apa?”

“Katanya atas perintah Bapak. Dia minta beberapa dokumen audit dimusnahkan karena salah cetak.”

Aku mengepalkan tangan.

“Dokumennya masih ada?”

“Saya curiga, jadi saya simpan salinannya.”

Untuk pertama kalinya malam itu aku merasa masih memiliki satu sekutu.

“Bagus. Jangan beri tahu siapa pun.”

Setelah telepon ditutup, pesan dari Ibu masuk.

Raka, kenapa kartu Ibu kamu blokir? Kami dipermalukan di restoran.

Aku membaca pesan itu beberapa kali.

Bukan bagaimana keadaan Nadia.

Bukan bagaimana keadaan Rafi.

Yang ditanyakan hanya kartu.

Aku membalas singkat.

Besok pulang ke Jakarta. Kita bicara soal Rp1,8 miliar.

Tiga titik muncul di layar.

Hilang.

Muncul lagi.

Kemudian Ibu menelepon.

Kali ini aku mengangkatnya.

“Kamu dapat cerita apa dari istrimu?” katanya tanpa salam.

“Aku belum bilang Nadia cerita.”

Ibu terdiam.

Kesalahan kecil.

Namun cukup.

“Ibu,” kataku pelan, “pulang besok.”

“Raka, dengarkan dulu. Ini masalah keluarga.”

“Benar. Karena itu kita selesaikan sebagai keluarga.”

Aku menutup telepon sebelum dia sempat menjawab.

Pagi tanggal 1 Januari, Fajar mengirim pesan bahwa mereka mendapat penerbangan sore. Namun pukul sepuluh, Arman meneleponku.

“Ada sesuatu yang lebih besar, Pak.”

Aku pergi ke kantor sementara Nadia tetap dirawat.

Jakarta pagi itu masih sepi. Sampah kembang api berserakan di jalan, sementara kepalaku penuh pertanyaan.

Arman menungguku di ruang rapat bersama dua kotak dokumen.

Dia membuka laptop.

“Transfer pertama hanya Rp75 juta. Setelah berhasil, nominalnya meningkat.”

Di layar terlihat transaksi demi transaksi.

Semua menuju vendor yang berbeda.

Namun ketika rekening tujuan ditelusuri, sebagian besar dana akhirnya masuk ke dua rekening yang sama.

Satu milik Fajar.

Satu lagi milik sebuah perusahaan yang direktur resminya adalah Dina.

“Kalau begini, kenapa mereka butuh Nadia?”

Arman mengeluarkan satu dokumen.

Aku membaca judulnya.

Perjanjian Pengakuan Utang dan Penjaminan Aset.

Nama debitur tercantum sebagai Nadia Prameswari.

Jaminannya adalah apartemen di Tebet.

Nilai aset hampir Rp2,4 miliar.

“Apartemen itu bukan aset perusahaan.”

“Benar.”

“Dan Nadia tidak pernah terlibat di perusahaan.”

“Karena itu auditor pasti curiga.”

Aku membalik halaman terakhir.

Ada tanda tangan Nadia.

Aku langsung tahu itu palsu.

Namun bukan itu yang membuatku tercekat.

Di sebelah tanda tangan Nadia terdapat tanda tanganku sebagai saksi dan direktur perusahaan.

Tanda tanganku terlihat nyaris sempurna.

“Dokumen ini dari mana?”

“Pak Fajar menyerahkannya tiga hari lalu.”

Potongan-potongan itu akhirnya menyatu.

Mereka mencuri uang perusahaan.

Ketika audit mulai mendekat, mereka membutuhkan penjelasan untuk dana yang hilang. Nadia akan dibuat seolah-olah menerima pinjaman perusahaan sebesar Rp1,8 miliar, lalu apartemennya dijadikan jaminan.

Jika semuanya terbongkar, Nadia akan terlihat sebagai pihak yang mengambil uang.

Sedangkan tanda tanganku membuat transaksi itu seolah mendapat persetujuanku.

Mereka tidak hanya hendak mengambil apartemen Nadia.

Mereka hendak mengorbankan kami berdua.

Aku meminta pengacara perusahaan datang. Semua bukti diamankan dan laporan awal dibuat.

Sore harinya, aku kembali ke rumah sakit.

Nadia sedang menyusui Rafi ketika aku masuk.

“Aku sudah tahu semuanya.”

Dia menatapku.

“Fajar?”

“Fajar dan Dina.”

Aku berhenti sebentar.

“Mungkin Ibu juga.”

Nadia tidak terlihat terkejut.

Justru itu yang menyakitkan.

“Ada sesuatu yang belum pernah kuceritakan,” katanya.

Dia mengambil ponselnya dan membuka sebuah rekaman suara.

Suara Ibu terdengar jelas.

Kalau Raka tahu adiknya bisa masuk penjara, dia pasti pilih keluarga kandungnya. Kamu cuma istri. Jangan merasa terlalu penting.

Aku mematikan rekaman sebelum selesai.

“Kenapa kamu simpan ini?”

“Karena setelah mendengar itu, aku sadar aku mungkin membutuhkan bukti.”

Malam berikutnya mereka akhirnya kembali ke Jakarta.

Aku meminta mereka langsung datang ke apartemen.

Ketika pintu terbuka, Ibu masuk paling depan. Dina dan Fajar mengikuti di belakang.

“Akhirnya kamu pulang juga,” kata Ibu. “Sekarang kita bisa bicara baik-baik.”

Aku duduk di meja makan.

Di atasnya sudah tersusun foto kulkas kosong, catatan tulisan tangan Ibu, dokumen audit, salinan transfer, dan cetakan beberapa tangkapan layar kamera.

Wajah Fajar langsung berubah.

“Ini apa?”

Aku menyalakan televisi.

Rekaman kamera tanggal 30 Desember mulai diputar.

Dina terlihat mengeluarkan makanan dari kulkas.

Fajar membawa susu Rafi.

Ibu mematikan modem.

Tidak ada seorang pun bicara.

Kemudian muncul adegan mereka memaksa Nadia menandatangani surat.

Wajah Ibu memucat.

“Raka, itu tidak seperti yang kamu pikirkan.”

“Lalu seperti apa?”

“Kami panik.”

“Jadi kalian mengambil makanan seorang perempuan yang baru operasi karena panik?”

“Jangan bicara kepada Ibu seperti itu.”

Aku tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, kalimat itu tidak lagi membuatku merasa bersalah.

Fajar mencoba berdiri.

“Ka, gue bisa jelasin.”

“Duduk.”

Dia berhenti.

Aku meletakkan salinan transfer di depannya.

“Rp1,83 miliar.”

Wajahnya langsung kehilangan warna.

“Gue akan balikin.”

“Dengan apa? Apartemen Nadia?”

Dina mulai menangis.

“Mas, kami tidak berniat menyakiti Nadia.”

Aku menatapnya.

“Kalian mengambil susu bayi prematur.”

Dina menunduk.

“Kenapa?”

Tidak ada jawaban.

Aku menoleh kepada Ibu.

“Kenapa Ibu ikut?”

Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya runtuh.

“Karena Fajar bilang dia bisa dipenjara.”

“Jadi Nadia boleh dikorbankan?”

“Dia punya apartemen. Setelah masalah selesai, semuanya bisa dikembalikan.”

Aku menatap perempuan yang membesarkanku dan tiba-tiba merasa seperti sedang berbicara dengan orang asing.

“Kalau Nadia tanda tangan, dia yang akan terlihat mencuri uang perusahaan.”

Ibu tidak menjawab.

Dan diamnya adalah jawaban paling menyakitkan.

Fajar tiba-tiba mengambil dokumen dari meja dan mencoba merobeknya.

Namun sebelum tangannya menyentuh kertas, terdengar ketukan di pintu.

Aku berdiri dan membukanya.

Dua penyidik kepolisian berdiri di luar bersama pengacara perusahaan.

Fajar membeku.

“Ka…”

Aku menatapnya.

“Aku sudah memberimu kesempatan bertahun-tahun. Pekerjaan. Modal. Kepercayaan.”

“Gue adik lo.”

“Dan Rafi anakku.”

Kalimat itu membuat ruangan benar-benar sunyi.

Proses hukum berlangsung berbulan-bulan.

Penyelidikan akhirnya menemukan sesuatu yang bahkan tidak diketahui Ibu.

Fajar bukan mulai mengambil uang pada Oktober.

Dia sudah melakukannya hampir setahun.

Rp1,8 miliar hanyalah transaksi yang belum berhasil disamarkan.

Total kerugian perusahaan lebih dari Rp3,4 miliar.

Dina membantu membuat invoice fiktif melalui perusahaan atas namanya. Sementara Fajar memanfaatkan akses yang kuberikan karena aku terlalu percaya kepadanya.

Ibu memang tidak menerima uang secara langsung.

Namun dia mengetahui masalah itu beberapa minggu sebelum Rafi lahir dan memilih membantu menutupinya.

Dia membatalkan perawat Nadia bukan sekadar agar Nadia menyerah.

Dia juga menggunakan sebagian uang yang kukirim untuk membayar tiket, vila, dan biaya perjalanan mereka ke Bali.

Hal yang paling sulit bukan laporan polisi.

Bukan audit.

Bukan kerugian perusahaan.

Yang paling sulit adalah menerima kenyataan bahwa orang-orang yang selama ini kusebut keluarga mampu melihat istri dan anakku sebagai alat tukar.

Enam bulan kemudian, Nadia berdiri di balkon apartemen sambil menggendong Rafi.

Anak kami sudah jauh lebih sehat. Pipinya mulai berisi dan setiap kali melihatku, tangannya bergerak seolah meminta digendong.

Aku menghampiri mereka.

“Ayah pulang,” kata Nadia kepada Rafi.

Aku mengambil putraku dari pelukannya.

Di meja ruang tamu ada sebuah amplop.

Surat dari Ibu.

Sudah tiga hari berada di sana dan belum kubuka.

“Kamu tidak mau baca?” tanya Nadia.

Aku menggeleng.

“Mungkin nanti.”

Nadia tersenyum tipis.

Aku memandang wajah Rafi.

Ada satu hal yang akhirnya kupahami.

Selama bertahun-tahun aku mengira menjadi anak yang baik berarti selalu menyelamatkan keluarga, menutup kesalahan mereka, memberi uang ketika diminta, dan percaya tanpa bertanya.

Ternyata aku salah.

Kadang-kadang cara paling benar mencintai keluarga adalah berhenti melindungi mereka dari akibat perbuatan mereka sendiri.

Aku mencium dahi Rafi.

Dari kejauhan, suara azan magrib terdengar di antara gedung-gedung Jakarta.

Nadia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Ada satu hal yang belum pernah aku bilang,” katanya.

“Apa?”

“Malam tahun baru itu, sebelum kamu datang, aku sudah memutuskan sesuatu.”

Aku menatapnya.

“Apa?”

“Kalau sampai pagi kamu tidak pulang, aku akan meminta petugas keamanan membawa aku dan Rafi keluar. Setelah sembuh, aku akan mengajukan cerai.”

Dadaku terasa kosong.

Nadia menatapku lurus.

“Bukan karena apa yang keluargamu lakukan.”

“Lalu?”

“Karena aku pikir kamu memilih diam.”

Aku tidak mampu menjawab.

Dia menggenggam tanganku.

“Kamu pulang tiga hari lebih cepat, Raka. Hanya tiga hari. Tapi tiga hari itu mengubah hidup kita.”

Aku memandang lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala.

Selama ini aku mengira kepulanganku malam itu adalah kejutan tahun baru untuk istriku.

Baru sekarang aku mengerti.

Akulah yang sebenarnya menerima kejutan.

Aku pulang untuk menemui keluargaku.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku akhirnya mengetahui siapa keluargaku yang sebenarnya.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang