Saat aku melangkah keluar dari kantor pengacara, udara Jakarta terasa jauh lebih segar daripada biasanya. Langkah kakiku mantap, tidak ada lagi beban tujuh tahun penantian yang menyiksa.
Baru saja pintu kaca kantor itu tertutup rapat, ponselku bergetar di dalam tas kecilku. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal, namun sangat kuharapkan.
“Nona Aurora, proses administrasi pengalihan warisan dari mendiang Kakek Anda telah selesai. Aset berupa saham mayoritas di berbagai perusahaan multinasional, tanah di pusat kota, dan dana tunai senilai 500 juta dolar AS kini telah resmi atas nama Anda. Selamat datang di keluarga besar, Nona.”

Aku tersenyum tipis. Troy dan Celine mungkin merayakan kemenangan mereka di atas tumpukan dokumen yang menurut mereka adalah “segalanya”. Mereka tidak tahu bahwa dengan menandatangani dokumen perceraian itu, aku justru sedang membuang beban yang menghalangi kebebasanku.
Tiga bulan kemudian.
Dunia bisnis Indonesia mendadak heboh. Sebuah perusahaan investasi raksasa yang berbasis di Singapura baru saja mengakuisisi perusahaan yang dulunya milikku dan Troy.
Di sebuah acara gala amal yang mewah, aku berdiri dengan gaun elegan, dikelilingi oleh para investor yang kini justru memohon kepadaku untuk melirik proyek mereka. Tiba-tiba, pandanganku tertuju pada pintu masuk.
Troy masuk dengan pakaian yang tampak sedikit berantakan. Wajahnya pucat, dan dia terlihat jauh lebih tua dari ingatanku. Di sampingnya, Celine—yang kini mengenakan gaun yang tampak mencolok dan berlebihan—terus-menerus mengeluh tentang kualitas sampanye yang disajikan.
Mereka tidak menyadari kehadiranku sampai kami berpapasan di dekat meja prasmanan.
Mata Troy membelalak. Dia menatapku dari ujung kepala sampai kaki, lalu menatap orang-orang yang berdiri di sekelilingku—tokoh-tokoh paling berpengaruh di negeri ini yang sedang mendengarkan penjelasanku dengan penuh hormat.
“Aurora?” suaranya bergetar. “Apa yang… bagaimana mungkin?”
Celine, yang tadinya angkuh, kini tampak ketakutan melihat pengawal pribadiku yang berdiri di belakangku.
“Perusahaan itu…” lanjut Troy, suaranya nyaris seperti bisikan putus asa. “Perusahaan itu hampir bangkrut. Sahamnya anjlok karena manajemen yang buruk, dan aku membutuhkan suntikan dana besar untuk menutup utang…”
Aku menatapnya dengan tatapan datar, seolah dia hanyalah orang asing yang tidak penting.
“Oh, benarkah?” kataku dengan tenang, memutar gelas wine di tanganku. “Sayang sekali. Padahal, aku baru saja mendiskusikan rencana untuk meratakan gedung kantor itu dengan tanah dan membangun pusat budaya di sana. Lokasinya strategis, tapi manajemen yang lama benar-benar tidak tahu cara mengelolanya.”
Troy menelan ludah, wajahnya yang tadinya sombong kini dipenuhi dengan penyesalan yang mendalam. Dia mencoba melangkah maju, ingin meraih tanganku seperti dulu, tetapi para pengawalku langsung melangkah di antara kami.
“Aurora, dengar… aku salah. Aku tertipu oleh Celine. Dia hanya menginginkan uangku, dan sekarang dia menghabiskan semuanya untuk foya-foya! Kumohon, bantu aku…”
Aku tertawa kecil, suara yang jernih dan bebas dari rasa sakit masa lalu.
“Troy,” kataku sambil menatapnya tepat di matanya. “Tujuh tahun lalu, kamu menyuruhku pergi karena aku dianggap tidak pantas berada di duniamu yang ‘elit’. Sekarang, setelah aku melihat duniamu dari sini, aku baru sadar satu hal.”
Aku mendekat, membisikkan sesuatu di dekat telinganya agar hanya dia yang bisa mendengar.
“Dunia yang kamu banggakan itu sangat kecil, dan aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian darinya. Aku hanya sedang menunggu waktu untuk menghancurkannya bersama dengan keserakahanmu.”
Aku berbalik pergi, membiarkan dia berdiri mematung di tengah kemewahan yang kini terasa seperti penjara baginya. Aku tidak perlu membalas dendam secara langsung. Kehancuran hidupnya yang dia bangun sendiri di atas pengkhianatan, adalah hukuman yang jauh lebih indah daripada apa pun yang bisa kubayangkan.
Aku melangkah menuju mobilku, meninggalkan masa lalu yang kelam, dan menyongsong masa depan di mana aku, Aurora, adalah satu-satunya pemilik takdirku sendiri.
