Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Puluhan pasang mata menatap saya dengan campuran rasa iba, benci, dan cemoohan. Rekan-rekan saya, yang selama ini saya anggap teman, mulai berbisik-bisik, membenarkan tuduhan Ms. Brenda. Bagi mereka, saya hanyalah “si gadis miskin” yang mudah dikambinghitamkan.
Saya menundukkan kepala. Bukan karena takut atau bersalah, melainkan karena saya tidak ingin mereka melihat kilatan amarah yang mulai membakar mata saya. Saya bisa merasakan ponsel di saku saya bergetar pelan—sebuah pesan singkat dari Alexander: “Aku melihat semuanya. Tetaplah tenang. Jangan melawan, biarkan aku yang mengambil alih.”

“Maafkan saya, Ms. Brenda,” ucap saya lirih, sengaja membiarkan suara saya bergetar seperti orang yang terpojok. “Tapi saya tidak melakukannya.”
“Bawa dia keluar dari gedung ini!” perintah Ms. Brenda kepada petugas keamanan. “Dan pastikan polisi menangkapnya di lobi. Dia tidak akan pernah bisa bekerja di perusahaan mana pun lagi setelah ini!”
Samantha tersenyum puas, sebuah seringai yang sangat tidak pantas untuk situasi genting perusahaan. Dia bahkan berani berbisik tepat di telinga saya saat petugas keamanan memegang lengan saya, “Pencuri rendahan memang seharusnya berakhir di penjara.”
Saya pasrah. Saya membiarkan diri saya digiring melewati lorong kantor. Namun, tepat saat kami mencapai lift utama, suara langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di seluruh lantai. Langkah kaki itu tidak sendiri—ada sekelompok pria berjas hitam di belakangnya, langkah mereka seirama, penuh aura otoritas yang membuat semua orang di kantor berhenti bernapas.
Itu Alexander. Dia mengenakan setelan jas bespoke dengan wajah sedingin es. Aura kepemimpinannya menekan ruangan, membuat siapa pun yang melihatnya menunduk secara naluriah.
Ms. Brenda yang tadi garang tiba-tiba menjadi pucat pasi. Dia memaksakan senyum lebar, “Pak Alexander! Sungguh kehormatan besar Anda turun langsung ke lantai departemen kami. Kami sedang mengamankan seorang pencuri yang—”
“Siapa yang kamu sebut pencuri, Brenda?” suara Alexander rendah, tenang, namun mematikan.
“I-itu, Maya Pak. Dia mencuri lima puluh juta peso. Saya sedang menegakkan keadilan bagi perusahaan,” jawab Brenda terbata-bata, mencoba menutupi kegugupannya.
Alexander berjalan mendekat. Dia berhenti tepat di depan saya. Tanpa menoleh ke arah Brenda, dia mengambil sapu tangan dari sakunya dan perlahan, dengan sangat lembut, mengusap bekas tamparan di pipi saya. Seluruh kantor terperangah. Petugas keamanan yang memegang lengan saya langsung melepaskan cengkeramannya dengan panik.
“Sejak kapan,” tanya Alexander dingin, matanya menatap tajam ke arah Brenda, “Perusahaan memberikan wewenang kepada seorang manajer untuk menampar karyawan saya?”
“A-apa? Tuan, dia hanyalah analis rendah—”
“Dia adalah istriku,” potong Alexander. Suaranya bergema, membuat suasana di lantai itu seperti di dalam ruang hampa udara. “Dan dia adalah pemegang saham yang juga memantau sistem keamanan perusahaan ini.”
Samantha jatuh terduduk di lantai. Wajahnya kehilangan semua warna.
Alexander memberi isyarat kepada tim hukumnya. “Brenda, kamu dan keponakanmu dituduh melakukan penggelapan dana sebesar lima puluh juta peso. CCTV menunjukkan dengan sangat jelas bagaimana Samantha menggunakan ID Maya untuk mengakses sistem sementara kamu berdiri di belakangnya mengawasi kondisi sekitar.”
“T-tapi bagaimana Anda tahu?” isak Brenda.
“Kalian lupa satu hal,” Alexander menarik pinggang saya mendekat ke sisinya. “Aku tidak hanya memantau CCTV untuk melindungi istriku. Aku memantau karena aku ingin melihat seberapa busuk orang-orang yang berani menyentuh apa yang menjadi milikku.”
Alexander menatap tajam ke arah seluruh ruangan. “Mulai detik ini, Brenda dan Samantha dilarang menginjakkan kaki di gedung ini. Polisi sudah menunggu di lobi. Dan untuk kalian semua,” dia menatap para rekan kerja yang tadi mencemooh saya, “kalian akan menjalani audit menyeluruh. Siapa pun yang terbukti terlibat atau menjadi saksi bisu atas penindasan ini, kalian akan segera menyusul mereka.”
Saya menatap Brenda yang diseret pergi oleh polisi, matanya melotot tidak percaya. Saya tidak merasa menang, saya hanya merasa lelah.
Alexander membisikkan sesuatu di telinga saya saat dia merangkul saya keluar dari kantor, “Sudah cukup bermain-main sebagai analis hari ini, Sayang. Ayo pulang. Kamu sudah tidak perlu lagi berpura-pura menjadi seseorang yang tidak berdaya.”
Hari itu adalah akhir dari kehidupan Maya si analis pendiam, dan awal dari era baru di Aura Global Enterprises, di mana tidak ada satu pun orang yang berani memandang rendah istri seorang miliarder.
