AYAH MELARANGKU MEMBAWA ANAKKU KE ACARA NATAL, TAPI SAAT AKU DATANG, SEMUA ANAK SEPUPUKU ADA DI SANA. BEGITU AKU MENGHENTIKAN UANG BULANAN, SURAT PALSU ITU TERBONGKAR!

“Siapa yang memalsukan tanda tanganku?”

Pertanyaan Maya menggantung di ruang makan seperti pisau yang baru saja dilemparkan ke tengah meja.

Tidak ada yang bergerak.

Musik Natal dari ruang keluarga masih terdengar pelan, tetapi tawa anak-anak yang tadi memenuhi rumah seolah lenyap ditelan ketegangan.

Surya berdiri dengan rahang mengeras. Rina memegang ujung taplak meja dengan jemari gemetar. Siska menunduk, sementara wajah Dion semakin dingin.

Maya kembali menatap dokumen di tangannya.

Perjanjian itu menyebut sebuah ruko tiga lantai di kawasan Kelapa Gading yang dijadikan jaminan untuk pinjaman usaha senilai Rp1,8 miliar. Nama peminjam utamanya adalah Surya Wijaya. Namun pada halaman berikutnya, Maya tercantum sebagai penjamin dengan kepemilikan aset berupa rumah yang diwariskan Aris kepadanya di Bintaro.

Rumah tempat Maya dan Bagas tinggal.

Darah Maya terasa turun dari wajahnya.

“Ayah menjaminkan rumahku?”

Surya langsung menjawab, “Bukan seperti itu.”

“Lalu seperti apa?”

“Itu cuma administrasi.”

Maya tertawa pendek.

Bukan karena lucu.

Karena ia tidak percaya kalimat seperti itu bisa keluar dari mulut ayahnya sendiri.

“Memalsukan tanda tangan anak sendiri untuk menjadikan rumahnya sebagai jaminan disebut administrasi?”

Siska akhirnya angkat kepala.

“Maya, tolong jangan bicara keras-keras. Ada tamu.”

Maya menatapnya tajam.

“Bagus. Biar semua orang dengar.”

Beberapa anggota keluarga yang sebelumnya berada di ruang keluarga mulai mendekat.

Paman Hendra berdiri di ambang pintu. Tante Lilis memeluk putrinya sambil memperhatikan dari jauh.

Surya berjalan mendekati Maya.

“Ayah bisa jelaskan kalau kamu berhenti bersikap emosional.”

Maya menggenggam dokumen itu semakin erat.

“Aku datang ke sini setelah Ayah sengaja melarang anakku hadir di acara keluarga. Lalu aku menemukan namaku dipakai untuk pinjaman hampir dua miliar. Bagian mana yang seharusnya kutanggapi dengan tenang?”

Surya tidak menjawab.

Dion mengambil beberapa dokumen lain yang berserakan di lantai.

“Ini ada surat pengajuan kredit.”

Ia membacanya cepat.

“Pengajuan dilakukan sebelas bulan lalu.”

Maya menoleh.

Sebelas bulan lalu.

Artinya, dokumen itu dibuat dua bulan sebelum Aris meninggal.

Dion melanjutkan membaca.

“Tujuan pinjaman, ekspansi usaha distribusi alat elektronik.”

Maya mengernyit.

“Ayah sudah menutup usaha distribusi sejak tiga tahun lalu.”

Surya menegang.

Siska buru-buru mendekati Dion.

“Sudah, jangan bongkar semuanya di sini.”

Namun gerakannya justru membuat Dion semakin curiga.

Ia menarik map itu menjauh.

“Kamu tahu soal ini?”

Siska diam.

“Siska.”

“Aku cuma tahu sebagian.”

“Sebagian yang mana?”

Tidak ada jawaban.

Dion mengeluarkan ponselnya.

“Kalau begitu kita telepon pihak bank sekarang.”

Surya langsung meninggikan suara.

“Tidak perlu!”

Semua orang terdiam.

Reaksi itu terlalu cepat.

Terlalu panik.

Maya menatap ayahnya.

“Ada apa sebenarnya?”

Surya mengusap wajahnya kasar.

“Ayah sedang punya masalah usaha.”

“Usaha apa?”

“Investasi.”

“Investasi apa?”

Surya tidak menjawab lagi.

Justru Rina yang tiba-tiba berkata pelan,

“Trading.”

Siska langsung menoleh kepada ibunya.

“Ibu!”

Rina mulai menangis.

“Sudah cukup, Siska.”

Surya membentak, “Rina, diam!”

Namun perempuan itu justru berdiri.

Selama ini Rina selalu menjadi sosok yang paling banyak diam di keluarga mereka. Setiap Surya marah, ia mundur. Setiap Siska mengambil keputusan, ia mengikuti.

Tapi malam itu suaranya terdengar berbeda.

“Bapak kehilangan banyak uang.”

Surya mengepalkan tangan.

“Bukan kehilangan. Uangnya masih bisa kembali.”

Rina menatap suaminya dengan mata merah.

“Tiga tahun kamu bilang begitu.”

Maya tidak bergerak.

Rina melanjutkan.

Awalnya Surya hanya menaruh Rp200 juta pada sebuah platform investasi yang dikenalkan seorang teman lamanya. Ketika nilai investasinya turun, Surya menambah modal.

Lalu menambah lagi.

Ia menjual dua mobil.

Menggadaikan sertifikat ruko.

Meminjam uang dari kerabat.

Ketika semua sumber dana hampir habis, ia mulai mencari aset yang masih bisa dipakai sebagai jaminan.

Rumah Maya adalah salah satunya.

“Kenapa rumahku?”

Suara Maya hampir berbisik.

Surya memandangnya dengan tatapan yang sulit dibaca.

“Karena rumah itu nilainya tinggi dan sertifikatnya bersih.”

Maya merasa mual.

“Rumah itu milik Aris.”

“Sekarang milikmu.”

“Untuk Bagas.”

“Itu tetap keluarga.”

Kalimat itu langsung menghantam Maya.

“Jadi karena aku keluarga, Ayah merasa boleh mengambilnya?”

Surya mendesah frustrasi.

“Ayah tidak mengambil. Ayah hanya meminjam nilainya.”

“Tanpa izin?”

“Ayah berniat mengembalikan semuanya.”

Dion tiba-tiba tertawa hambar.

“Pak, bank tidak menerima niat. Bank menerima jaminan.”

Siska menatap suaminya.

“Dion, jangan ikut campur.”

Dion berbalik kepadanya.

“Aku justru mulai berpikir aku sudah terlalu lama tidak ikut campur.”

Ia mengangkat beberapa lembar dokumen.

“Sekarang jelaskan uang sepuluh juta setiap bulan yang katanya kamu kirim untuk biaya pengobatan Ibu.”

Siska membeku.

Maya menatap kakaknya.

Ia teringat perubahan wajah Siska ketika Maya menghentikan transfer otomatisnya.

“Uang itu ke mana?”

Siska menggeleng.

“Bukan sekarang.”

“Kapan? Setelah rumahku disita?”

“Maya!”

“Jawab!”

Untuk pertama kalinya, Rina yang menjawab.

“Siska tidak pernah mengirim sepuluh juta untuk pengobatan Ibu.”

Dion perlahan menurunkan tangannya.

Wajahnya seketika kosong.

“Apa?”

Rina menangis semakin keras.

“Biaya pengobatan Ibu tidak sampai tiga puluh juta sebulan.”

Maya merasa tubuhnya dingin.

“Berapa?”

“Sekitar enam sampai delapan juta, tergantung kontrol.”

Maya menatap Surya.

Selama hampir dua tahun, ia mengirim Rp20 juta setiap bulan.

Bukan sekali atau dua kali.

Dua puluh juta.

Setiap bulan.

“Ke mana sisanya?”

Surya menutup mata sebentar.

Maya sudah tahu jawabannya sebelum ia berbicara.

“Untuk menutup cicilan.”

Ruang makan itu kembali sunyi.

Maya menghitung cepat dalam kepala.

Dua puluh juta selama dua puluh tiga bulan.

Hampir setengah miliar rupiah.

Uang yang ia kira digunakan untuk ibunya ternyata ikut menutup lubang dari investasi ayahnya.

Siska mulai menangis.

“Ayah janji akan mengembalikan.”

Maya menoleh.

“Kakak tahu?”

“Aku baru tahu setelah beberapa bulan.”

“Lalu kamu diam?”

Siska mengusap air matanya.

“Aku takut.”

“Takut apa?”

“Kalau investasi Ayah gagal, rumah ini bisa hilang. Semua bisa hilang.”

Maya memandang sekeliling.

Rumah besar di Menteng itu.

Lampu gantung mahal.

Meja makan marmer.

Pohon Natal setinggi hampir tiga meter.

Hadiah bertumpuk.

Semua kemewahan itu tiba-tiba tampak seperti dekorasi yang dipasang di atas bangunan retak.

Dion berkata pelan, “Dan uang sepuluh juta yang kamu bilang dikirim ke Ibu?”

Siska tidak menjawab.

Dion menatapnya lama.

Kemudian ia membuka aplikasi mobile banking miliknya.

Beberapa detik kemudian, wajahnya berubah.

“Aku transfer sepuluh juta ke rekeningmu setiap bulan.”

Siska menangis tanpa suara.

“Ke mana uangnya?”

“Aku kasih Ayah.”

Dion menatap Surya.

Jadi selama ini dua keluarga membayar kebocoran yang sama.

Maya mengirim Rp20 juta.

Dion memberikan Rp10 juta melalui Siska.

Tiga puluh juta rupiah setiap bulan.

Dengan alasan pengobatan Rina.

Maya tiba-tiba teringat sesuatu.

“Bagas.”

Semua orang menoleh kepadanya.

Ia memandang Surya.

“Ini ada hubungannya dengan Bagas, kan?”

Surya mengerutkan kening.

“Jangan mengada-ada.”

“Tadi Bagas bilang Ayah marah sejak dia bertanya soal jam tangan.”

Wajah Surya berubah sedikit.

Sangat sedikit.

Namun cukup.

Maya melihatnya.

“Ada apa dengan jam tangan itu?”

Tidak ada jawaban.

Rina tampak semakin gelisah.

Maya mendekatinya.

“Ibu?”

Rina menutup mulut.

Siska berkata cepat, “Tidak ada hubungannya.”

Namun Paman Hendra tiba-tiba menyela.

“Jam tangan Aris?”

Maya menoleh.

Paman Hendra tampak ragu.

“Maksud Paman?”

“Beberapa bulan lalu aku lihat Surya pakai jam tangan yang mirip punya Aris. Yang hadiah dari perusahaan itu.”

Maya merasa jantungnya berdegup lebih keras.

Aris memang memiliki jam tangan mekanik berwarna hitam dengan ukiran kecil di bagian belakang. Hadiah sepuluh tahun masa kerja dari perusahaan tempatnya bekerja.

Setelah Aris meninggal, jam tangan itu hilang.

Maya sempat mencarinya, tetapi mengira mungkin tertinggal di lokasi kecelakaan.

Maya memandang ayahnya.

“Ayah punya jam tangan Aris?”

Surya langsung berkata, “Tidak.”

Rina menangis.

“Bapak menjualnya.”

Maya tidak langsung bereaksi.

Seolah otaknya membutuhkan waktu untuk memahami kalimat itu.

“Menjual?”

“Untuk menambah modal.”

Maya mundur satu langkah.

Aris baru meninggal tiga minggu ketika Surya datang ke rumah Maya dengan alasan membantu membereskan barang-barang.

Saat itu Maya masih seperti orang kehilangan arah.

Ia bahkan lupa makan.

Dan ayahnya mengambil jam tangan mendiang suaminya.

Lalu menjualnya.

Bagas pernah melihat Surya memakai jam tangan itu beberapa hari sebelum hilang.

Itulah pertanyaan yang membuat Surya marah.

“Kakek, itu jam Ayah, ya?”

Maya akhirnya memahami semuanya.

Bagas bukan dilarang datang karena berisik.

Bagas dilarang karena Surya tidak tahan berada dekat anak yang bisa mengingatkan keluarga pada barang yang ia ambil.

Atau mungkin pada kebohongan lain.

Maya memejamkan mata.

Ketika kembali membukanya, ia merasa sesuatu di dalam dirinya berubah.

Bukan lagi kemarahan yang meledak-ledak.

Melainkan ketenangan yang jauh lebih berbahaya.

Ia mengambil seluruh dokumen dari tangan Dion.

“Aku bawa ini.”

Surya maju.

“Jangan.”

Maya menatapnya.

“Besok pagi aku akan ke bank.”

“Maya, kalau kamu melapor, semuanya selesai.”

“Memang seharusnya selesai.”

“Kita keluarga.”

Maya tersenyum getir.

“Tadi Ayah bilang anakku tidak pantas berada di rumah ini.”

Surya terdiam.

“Jangan gunakan kata keluarga hanya ketika Ayah butuh uangku.”

Maya memasukkan dokumen ke dalam tas.

Kemudian ia mengambil kunci mobil.

Siska mengejarnya sampai pintu depan.

“Maya, tunggu.”

Maya berhenti.

Siska berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Kalau semua ini terbongkar, Ayah bisa dipidana.”

Maya menatap kakaknya.

“Dan kalau tidak terbongkar, aku bisa kehilangan rumah Bagas.”

Siska menangis.

“Dia ayah kita.”

Maya mengangguk.

“Dan Bagas anakku.”

Malam itu Maya meninggalkan rumah tanpa menyentuh makanan apa pun.

Ia langsung kembali ke Bintaro.

Ketika pintu rumah orang tua Aris terbuka, Bagas berlari menyambutnya.

“Ibu!”

Maya berjongkok dan memeluk anak itu erat.

Terlalu erat sampai Bagas tertawa kecil.

“Ibu kenapa?”

Maya mencium rambutnya.

“Tidak apa-apa.”

Bagas memandangnya.

“Kakek masih marah?”

Maya terdiam sebentar.

Kemudian menggeleng.

“Bukan kamu yang salah, Nak.”

Keesokan paginya, Maya datang ke bank bersama seorang pengacara yang direkomendasikan keluarga Aris.

Pemeriksaan awal menunjukkan sesuatu yang lebih mengejutkan.

Dokumen jaminan atas nama Maya belum sampai pada tahap pencairan penuh.

Bank ternyata sudah mencurigai ketidaksesuaian tanda tangan dan meminta verifikasi tambahan.

Surya belum berhasil menggunakan rumah Maya sebagai jaminan.

Namun ada masalah lain.

Nomor telepon yang tercantum sebagai kontak Maya ternyata bukan nomor Maya.

Melainkan nomor Siska.

Semua panggilan verifikasi dari bank selama ini diarahkan kepadanya.

Ketika pihak bank menelepon, Siska berpura-pura menjadi Maya.

Maya menatap kakaknya yang kemudian dipanggil untuk memberikan keterangan.

Siska akhirnya mengaku.

“Ayah bilang cuma sekali.”

Mereka bertemu di ruang konsultasi sebuah kantor hukum dua hari kemudian.

Wajah Siska tampak jauh lebih tua.

“Ayah bilang cuma perlu konfirmasi supaya proses tidak tertahan. Aku tidak tahu rumahmu benar-benar akan dijadikan jaminan.”

Maya menatapnya tanpa ekspresi.

“Kakak menjawab pertanyaan bank dengan namaku.”

“Aku takut Ayah kehilangan rumah.”

“Jadi Kakak menyelamatkan rumah Ayah dengan mempertaruhkan rumah anakku.”

Siska menunduk.

Tidak ada pembelaan yang cukup untuk kalimat itu.

Kasus tersebut akhirnya masuk ke proses hukum.

Maya memilih tidak mencabut laporan pemalsuan dokumen, meskipun beberapa anggota keluarga memintanya menyelesaikan secara kekeluargaan.

Namun ia tidak menuntut lebih dari yang diperlukan.

Ia hanya memastikan rumahnya aman, namanya dibersihkan dari seluruh pengajuan kredit, dan transfer bulanannya dihentikan permanen.

Rumah besar di Menteng akhirnya dijual oleh Surya sendiri beberapa bulan kemudian untuk menutup sebagian besar utangnya.

Bukan karena Maya merebutnya.

Bukan karena bank menyitanya.

Melainkan karena akhirnya tidak ada lagi anak-anaknya yang bersedia membiayai kebohongannya.

Rina pindah ke rumah kecil miliknya sendiri di Depok.

Biaya pengobatannya kemudian dibagi secara transparan antara Maya dan Siska berdasarkan tagihan rumah sakit yang sebenarnya.

Dion tetap bersama Siska, tetapi meminta seluruh keuangan rumah tangga mereka dikelola bersama tanpa rekening tersembunyi.

Sementara Surya tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana.

Hubungan mereka tidak langsung pulih.

Bahkan mungkin tidak akan pernah kembali seperti dulu.

Malam Natal setahun kemudian, Maya mengadakan makan malam kecil di rumahnya di Bintaro.

Tidak ada lampu kristal.

Tidak ada meja panjang.

Tidak ada hadiah mahal.

Hanya makanan sederhana, beberapa kerabat dekat, orang tua Aris, Rina, dan beberapa anak yang berlarian di ruang keluarga.

Bagas sedang duduk di lantai merakit miniatur crane dari balok plastik ketika bel rumah berbunyi.

Maya membuka pintu.

Surya berdiri di sana.

Rambutnya terlihat lebih putih.

Tangannya membawa sebuah kotak kecil.

“Ayah tidak lama,” katanya.

Maya tidak menjawab.

Surya melihat ke arah ruang keluarga.

Bagas memperhatikannya dari kejauhan.

Kemudian Surya membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat jam tangan hitam milik Aris.

Maya membeku.

“Ayah mencarinya selama delapan bulan.”

Surya menelan ludah.

“Orang yang membelinya masih menyimpannya. Ayah beli kembali.”

Ia menyerahkan kotak itu kepada Maya.

Tidak ada pidato panjang.

Tidak ada permintaan agar semuanya dilupakan.

Hanya satu kalimat.

“Ayah salah.”

Maya menerima kotak itu.

Bagas berjalan mendekat.

“Ini jam Ayah?”

Maya berjongkok.

“Iya.”

Bagas menyentuh kaca jam itu pelan.

Lalu ia menatap Surya.

“Kakek boleh masuk kalau mau.”

Surya menatap cucunya dengan mata berkaca-kaca.

Maya tidak mengatakan bahwa semuanya sudah dimaafkan.

Karena beberapa luka tidak sembuh hanya dengan satu permintaan maaf.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia membuka pintu sedikit lebih lebar.

Bukan demi Surya.

Melainkan karena Maya akhirnya memahami sesuatu yang dulu sulit ia terima.

Keluarga bukan orang yang berhak mengambil apa pun darimu hanya karena memiliki hubungan darah.

Keluarga adalah orang yang tetap menghormati batasmu ketika kamu mengatakan tidak.

Dan terkadang, satu-satunya cara menyelamatkan sebuah keluarga adalah berhenti membayar harga dari kebohongan mereka.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang