Tatapan Rendy ke arah jendela lantai dua hanya berlangsung beberapa detik, tetapi Laras menangkap semuanya.
Ketakutan.
Kepanikan.
Dan sesuatu yang lebih buruk daripada sekadar kehilangan uang.
Laras segera menoleh kepada salah satu petugas hukum Boreal Group yang baru memasuki halaman bersama dua notaris dan tim keamanan internal.
“Pak Dimas, segel ruang kerja lantai dua. Jangan biarkan siapa pun masuk lebih dulu.”
Rendy langsung bergerak.
“Tidak perlu!”
Suara itu keluar terlalu cepat.
Semua orang menoleh kepadanya.
Rendy mencoba tersenyum, tetapi rahangnya menegang.
“Maksudku, ini masalah keluarga. Tidak usah dibuat berlebihan.”
Laras menatapnya tanpa berkedip.
“Kalau memang hanya masalah keluarga, kenapa kamu kelihatan seperti orang yang baru kehilangan separuh nyawanya?”
Wajah Rendy memerah.
Marni segera maju.
“Laras, cukup! Kamu datang ke rumah orang lalu bertingkah seperti preman!”
Laras hampir tertawa mendengarnya.
“Rumah orang?”
Ia memandang mansion besar di belakang Marni.
“Bu Marni, dua tahun lalu uang muka rumah ini dibayar dari rekening perusahaan investasi yang saya kendalikan. Cicilan bulanannya juga dibayar melalui fasilitas yang saya jamin. Kalau saya berhenti membayar malam ini, secara hukum tempat ini bahkan tidak cukup lama menjadi milik keluarga kalian untuk disebut warisan.”
Marni kehilangan kata-kata.
Amanda yang sejak tadi berdiri dekat pelaminan akhirnya mendekat.
Gaun putihnya terlihat mewah, tetapi wajahnya mulai pucat.
“Rendy,” katanya lirih. “Sebenarnya apa yang sedang terjadi?”
Rendy tidak menjawab.
Dimas dan dua anggota tim hukum masuk ke mansion.
Rendy tiba-tiba mengejar mereka.
Namun dua petugas keamanan Boreal menghalanginya.
“Pak Rendy, mohon jangan mengganggu proses inventarisasi aset.”
“Ini rumah saya!”
“Status kepemilikannya sedang diverifikasi.”
Rendy mendorong bahu salah satu petugas.
“Jangan sentuh ruang kerja saya!”
Kalimat itu membuat Laras semakin yakin.
Ia berjalan masuk ke mansion.
Ratusan tamu mulai berbisik.
Beberapa bahkan mengangkat ponsel, tetapi pihak keamanan segera meminta mereka menghentikan perekaman karena ada proses hukum yang sedang berlangsung.
Tangga menuju lantai dua terasa sangat panjang.
Di belakang Laras terdengar langkah Rendy, Amanda, Marni, dan beberapa pengacara.
Begitu pintu ruang kerja dibuka, Laras mencium aroma kayu dan kopi basi.
Ruangan itu tampak biasa.
Meja kerja besar.
Rak buku.
Lemari arsip.
Komputer.
Tidak ada yang mencurigakan.
Dimas mulai memeriksa dokumen.
Laras berdiri di tengah ruangan sambil mengamati setiap sudut.
Rendy menyilangkan tangan.
“Sudah puas? Tidak ada apa-apa.”
Laras tidak menjawab.
Tatapannya berhenti pada sebuah lukisan abstrak di dinding.
Posisinya sedikit miring.
Ia mendekat.
Rendy mendadak menegang.
Laras langsung tahu bahwa ia menemukan sesuatu.
“Turunkan lukisan itu.”
Dimas melepasnya.
Di belakangnya terdapat panel kecil dengan pemindai sidik jari.
Marni menutup mulut.
Amanda menatap Rendy.
“Apa itu?”
Rendy tidak menjawab.
Dimas memanggil teknisi keamanan.
Beberapa menit kemudian, panel berhasil dibuka secara prosedural setelah notaris mencatat seluruh proses.
Di balik dinding tersembunyi sebuah lemari besi.
Ketika pintunya terbuka, Laras merasa dadanya seperti dipukul.
Di dalamnya tersusun puluhan dokumen perusahaan.
Stempel.
Buku rekening.
Beberapa ponsel.
Dan sebuah map berwarna hitam dengan logo Boreal Group.
Laras mengambilnya.
Tangannya yang selama ini tenang mulai terasa dingin.
Di halaman pertama tertera surat keputusan pemindahan jaminan aset senilai lebih dari dua puluh delapan miliar rupiah.
Tanda tangan di bawahnya terlihat seperti miliknya.
Namun Laras tidak pernah menandatangani dokumen tersebut.
“Ini palsu.”
Suara Laras nyaris berbisik.
Dimas mengambil dokumen itu.
Wajahnya berubah serius.
“Bu Laras, ada beberapa dokumen lain menggunakan tanda tangan digital Anda.”
Rendy mundur satu langkah.
Amanda menatapnya tidak percaya.
“Rendy?”
Laras membuka dokumen berikutnya.
Semakin dibaca, semakin jelas pola yang terjadi.

Selama hampir tiga tahun, Rendy telah menggunakan identitas perusahaan milik Laras untuk memperbesar plafon kredit, memindahkan jaminan, membuka perusahaan cangkang, dan mencatat beberapa proyek fiktif.
Yang paling mengejutkan, dana dari sejumlah fasilitas kredit itu ternyata mengalir ke perusahaan bernama Arunika Capital.
Pemilik Arunika Capital adalah Amanda Prameswari.
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Amanda merebut dokumen itu.
“Apa?”
Ia membaca nama perusahaannya sendiri berulang kali.
“Aku tidak pernah menerima uang ini.”
Rendy mulai berkeringat.
“Amanda, dengar dulu.”
“Delapan miliar?”
Amanda mengangkat wajah.
“Di sini tertulis Arunika menerima delapan miliar rupiah dari proyek pengadaan material!”
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku bahkan tidak pernah menjalankan proyek itu!”
Laras memandang Amanda.
“Kamu benar-benar tidak tahu?”
Amanda menggeleng cepat.
“Aku punya perusahaan investasi kecil. Rendy bilang dia ingin menjadikanku partner untuk proyek baru. Dia meminta dokumen legal perusahaan enam bulan lalu.”
Rendy membentak.
“Jangan bicara sembarangan!”
Amanda berbalik.
“Jadi kamu memakai perusahaanku?”
“Semua ini untuk masa depan kita!”
Amanda menamparnya.
Suara tamparan menggema di ruangan.
Marni menjerit.
“Amanda!”
Namun Amanda tidak peduli.
“Apa sebenarnya yang kamu ceritakan tentang Laras kepadaku selama ini?”
Rendy terdiam.
Amanda menatap Laras.
“Dia bilang kalian sudah bercerai secara agama dan sedang mengurus administrasi.”
Laras menutup mata sebentar.
Jadi bukan hanya dirinya yang ditipu.
Amanda mungkin tetap bersalah karena bersedia menikahi pria yang status hukumnya belum jelas, tetapi kebohongan Rendy jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.
Dimas membuka salah satu ponsel yang ditemukan di lemari setelah memperoleh izin untuk mengamankan perangkat sebagai barang bukti.
Di layar terdapat percakapan antara Rendy dan seseorang yang tersimpan dengan nama “Herman Finance”.
Beberapa pesan membuat wajah Dimas mengeras.
“Bu Laras, sebaiknya Anda lihat ini.”
Laras membaca percakapan tersebut.
“Kalau Laras masih menolak menandatangani pelepasan jaminan, gunakan tanda tangan lama. Dia tidak pernah memeriksa detail selama aku bilang untuk perusahaan.”
Pesan berikutnya lebih buruk.
“Setelah menikah dengan Amanda, kita pindahkan semua aset ke Arunika. Kalau Laras menggugat, buat seolah-olah perusahaan Boreal yang menekan bisnis kecil.”
Lalu satu pesan terakhir membuat tubuh Laras membeku.
“Kalau perempuan itu mulai curiga, ungkit soal kegugurannya. Biasanya dia langsung kehilangan fokus.”
Laras tidak bergerak.
Selama beberapa detik, suara di sekelilingnya seolah menghilang.
Keguguran itu adalah salah satu bagian paling gelap dalam hidupnya.
Selama bertahun-tahun, ia merasa Rendy adalah satu-satunya orang yang memahami rasa kehilangan tersebut.
Ternyata pria itu justru mempelajarinya sebagai kelemahan.
Rendy melangkah mendekat.
“Laras, aku sedang tertekan waktu menulis itu.”
Laras mengangkat tangan.
“Jangan.”
Suaranya sangat pelan.
Namun Rendy berhenti.
“Jangan pernah lagi memakai namaku seolah kamu berhak menjelaskan rasa sakit yang kamu sendiri jadikan alat.”
Marni mulai menangis.
“Rendy cuma salah langkah. Laki-laki kalau sedang mengejar bisnis memang kadang melakukan hal bodoh.”
Laras menatapnya.
“Memalsukan tanda tangan bukan salah langkah, Bu.”
“Dia suamimu!”
“Justru karena dia suami saya, dia tahu persis tanda tangan mana yang bisa ditiru, akun mana yang bisa dipakai, dan luka mana yang paling mudah digunakan untuk membuat saya diam.”
Tak lama kemudian polisi tiba setelah tim hukum Boreal membuat laporan awal terkait dugaan pemalsuan dokumen dan penyalahgunaan fasilitas keuangan.
Para tamu mulai meninggalkan mansion.
Pesta yang seharusnya menjadi perayaan pernikahan mewah berubah menjadi lokasi pemeriksaan.
Rendy akhirnya kehilangan kendali.
Ketika petugas meminta ponselnya, ia berteriak.
“Semua ini dibangun karena aku!”
Laras berdiri di dekat tangga.
Rendy menunjuknya.
“Kamu pikir karena punya uang kamu lebih hebat? Delapan tahun aku hidup seperti orang bodoh karena ternyata istriku adalah bos besar yang diam-diam mengendalikan semuanya!”
Laras menatapnya dengan sedih.
“Tidak, Rendy.”
Ia menarik napas.
“Aku menyembunyikan posisiku karena dulu kamu bilang ingin membangun sesuatu dengan kemampuanmu sendiri. Aku menghargai itu.”
“Bohong!”
“Aku bahkan meminta direksi Boreal tidak pernah menghubungimu melalui namaku. Aku memberimu ruang untuk berdiri sendiri.”
Rendy tertawa getir.
“Ruang? Kamu memberi aku uang!”
“Tidak.”
Laras menggeleng.
“Aku memberi kamu kesempatan. Kamu yang mengubah kesempatan itu menjadi hak milik.”
Rendy terdiam.
Kalimat itu seperti menghantam sesuatu yang selama ini ia yakini.
Selama bertahun-tahun ia menganggap proyek berhasil karena kecerdasannya.
Bank memberi pinjaman karena reputasinya.
Kontraktor mau bekerja sama karena koneksinya.
Ia tidak pernah bertanya siapa yang berdiri sebagai penjamin ketika laporan keuangannya belum cukup kuat.
Tidak pernah bertanya mengapa proposalnya selalu memperoleh kesempatan kedua.
Tidak pernah bertanya mengapa saat perusahaannya hampir bangkrut tiga tahun lalu, tiba-tiba muncul investor tanpa nama yang menyelamatkan proyek pertamanya.
Semua itu Laras.
Namun Laras tidak pernah meminta pujian.
Dan justru karena itu, Rendy mengira pertolongan tersebut adalah bukti bahwa dirinya memang hebat.
Polisi membawa Rendy untuk pemeriksaan.
Marni menangis histeris sambil memegang lengan anaknya.
“Laras! Tolong dia! Kamu masih istrinya!”
Rendy menoleh.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajahnya tidak lagi menyimpan kesombongan.
Ada ketakutan yang sangat manusiawi.
“Ras…”
Laras memandang pria yang pernah ia cintai lebih dari siapa pun.
Dulu, ia mungkin akan menghentikan semuanya.
Mencari pengacara.
Membayar kerugian.
Menutupi skandal.
Seperti yang selalu ia lakukan.
Namun malam itu Laras hanya berkata, “Selama delapan tahun aku berkali-kali menyelamatkanmu dari akibat keputusanmu sendiri. Mungkin itu kesalahan terbesarku.”
Rendy dibawa pergi.
Amanda berdiri sendiri di halaman dengan gaun pengantin yang kini terasa seperti kostum dari sebuah kebohongan.
Ia melepas cincin dari jarinya lalu meletakkannya di meja dekorasi.
“Saya akan memberikan seluruh dokumen Arunika kepada tim hukum Anda,” katanya kepada Laras.
Laras mengangguk.
“Lakukan melalui pengacara.”
Amanda menatapnya beberapa detik.
“Saya minta maaf.”
Laras tidak segera menjawab.
“Permintaan maaf tidak menghapus pilihan yang kita buat. Tapi mengatakan kebenaran sekarang masih lebih baik daripada terus mempertahankan kebohongan.”
Amanda menunduk.
Menjelang tengah malam, mansion itu hampir kosong.
Bunga-bunga mahal masih memenuhi taman.
Kue pernikahan belum dipotong.
Tulisan “Bahagia Selamanya” masih berdiri di atas panggung yang lampunya sudah mati.
Laras duduk seorang diri di anak tangga depan rumah.
Dimas mendekatinya.
“Bu Laras, ada satu hal lagi.”
Laras menoleh.
“Tim audit menemukan bahwa mansion ini sebenarnya sudah lunas tiga bulan lalu.”
Laras mengernyit.
“Lunas?”
“Ya. Tapi bukan oleh Pak Rendy.”
Dimas menyerahkan dokumen elektronik melalui tablet.
Pembayaran terakhir sebesar sembilan miliar rupiah berasal dari rekening pribadi atas nama Laras sendiri.
Laras membaca tanggal transaksi.
Hari itu ia sedang berada di Singapura untuk rapat pemegang saham.
“Saya tidak melakukan transaksi ini.”
Dimas mengangguk.
“Kami sudah cek. Instruksinya dilakukan menggunakan surat kuasa lama yang dulu Anda berikan kepada Pak Rendy saat Anda merawatnya setelah kecelakaan.”
Laras terdiam.
Jadi Rendy menggunakan surat kuasa lama untuk mengambil uangnya.
Namun ada hal yang lebih aneh.
“Kenapa dia melunasi rumah ini kalau berniat memindahkan aset?”
“Karena setelah lunas, dia mencoba mengubah sertifikat menjadi atas nama ibunya.”
Laras tertawa pelan.
Bukan karena lucu.
Karena ia akhirnya memahami semuanya.
Pernikahan dengan Amanda bukan awal pengkhianatan.
Itu hanya bagian terakhir dari rencana panjang.
Rendy ingin memindahkan perusahaan melalui Amanda, rumah melalui Marni, lalu meninggalkan Laras dengan kewajiban finansial dan dokumen palsu.
Bahkan pengusiran malam itu kemungkinan dirancang agar Laras pergi tanpa sempat memeriksa ruang kerja.
“Untung saya pulang lebih cepat,” gumam Laras.
Dimas terlihat bingung.
“Lebih cepat?”
Laras menunjukkan pesan dari Rendy.
“Dia meminta saya pulang malam ini.”
Dimas terdiam.
Mereka saling berpandangan.
Sesuatu tidak masuk akal.
Jika Rendy ingin menyembunyikan semuanya, mengapa justru meminta Laras datang?
Laras membuka kembali pesan tersebut.
“Cepat pulang, Sayang. Aku punya kejutan untukmu.”
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
“Hapus pesan ini setelah membaca. Saya yang mengirim pesan itu dari ponsel Rendy ketika dia meninggalkannya di ruang rapat. Kalau Anda tidak datang malam ini, besok semua dokumen sudah dipindahkan.”
Laras membeku.
Pesan berikutnya masuk.
“Saya bekerja di bagian keuangan perusahaan Rendy. Saya baru tahu nama Anda dipakai dalam banyak dokumen. Saya takut melapor langsung.”
Kemudian sebuah nama muncul.
Herman Santoso.
Laras langsung teringat kontak “Herman Finance” di ponsel rahasia.
Namun pesan berikutnya mengubah semuanya.
“Nomor ‘Herman Finance’ bukan saya. Rendy memakai nama saya untuk menyamarkan komunikasi dengan direktur keuangannya sendiri.”
Laras berdiri.
“Pak Dimas.”
“Ya, Bu?”
“Cari siapa direktur keuangan perusahaan Rendy sekarang.”
Dimas membuka data perusahaan.
Beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
“Namanya Bagus Pratama.”
Laras mengenal nama itu.
Bagus adalah sepupu Rendy.
Pria yang malam itu berdiri paling dekat dengan panggung.
Pria yang ternyata sudah menghilang sejak listrik mansion padam.
Polisi segera menerima informasi tersebut.
Pencarian diperluas.
Dua hari kemudian, Bagus ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta ketika hendak terbang ke Kuala Lumpur membawa laptop dan perangkat penyimpanan berisi catatan transaksi.
Dari sanalah seluruh skema akhirnya terbongkar.
Rendy memang aktor utamanya.
Namun Bagus adalah orang yang merancang struktur perusahaan cangkang dan memalsukan sebagian dokumen.
Herman yang asli, seorang staf keuangan biasa, sudah mencurigai semuanya selama beberapa bulan.
Dialah yang diam-diam mengirim pesan kepada Laras agar pulang malam itu.
Ia tahu dirinya tidak cukup berani menghadapi Rendy.
Tetapi ia masih cukup berani untuk memastikan kebenaran menemukan jalan masuk.
Enam bulan kemudian, persidangan dimulai.
Pernikahan rahasia Rendy dan Amanda dinyatakan tidak memiliki kekuatan hukum karena status perkawinan Rendy dengan Laras belum pernah diputus secara sah.
Laras mengajukan perceraian.
Tidak ada tuntutan emosional.
Tidak ada perebutan harta panjang.
Tim hukumnya hanya meminta pengembalian aset dan pertanggungjawaban atas kerugian perusahaan.
Marni terpaksa meninggalkan mansion.
Rumah tersebut kemudian dijual.
Namun Laras tidak mengambil seluruh hasil penjualannya untuk dirinya sendiri.
Sebagian dana dialokasikan ke sebuah program bantuan hukum dan pendampingan keuangan bagi perempuan yang menjadi korban penyalahgunaan aset dalam rumah tangga.
Ketika Dimas bertanya mengapa Laras melakukannya, ia hanya menjawab, “Banyak orang tidak punya perusahaan besar untuk melindungi mereka ketika orang terdekat mulai mengambil sesuatu sedikit demi sedikit.”
Setahun kemudian, Laras kembali berdiri di hadapan ratusan orang.
Bukan di pesta pernikahan.
Bukan di mansion.
Melainkan di auditorium utama Boreal Group dalam acara tahunan perusahaan.
Direktur utama bank yang malam itu tanpa sengaja membongkar identitasnya kini menyerahkan penghargaan kepadanya.
“Nyonya Presiden,” katanya sambil tersenyum, “tahun lalu sapaan ini membuat satu pesta berhenti total.”
Para tamu tertawa.
Laras ikut tersenyum.
Kemudian ia menerima mikrofon.
“Dulu saya mengira mencintai seseorang berarti membuat hidupnya lebih mudah.”
Ruangan perlahan tenang.
“Ternyata cinta yang tidak memiliki batas bisa berubah menjadi tempat seseorang belajar bahwa setiap kesalahannya akan selalu dibereskan orang lain.”
Ia berhenti.
“Saya kehilangan banyak hal untuk memahami itu. Tapi saya juga menemukan sesuatu yang lebih penting.”
Laras melihat ke seluruh ruangan.
“Saya menemukan kembali nama saya sendiri.”
Tepuk tangan memenuhi auditorium.
Malam itu tidak ada lagi perempuan yang sengaja berdiri di belakang layar agar seorang pria merasa lebih besar.
Tidak ada lagi istri yang menyembunyikan keberhasilannya demi menjaga ego suaminya.
Tidak ada lagi Laras yang meminta izin untuk menjadi dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ketika orang memanggilnya Nyonya Presiden, Laras tidak merasa sebutan itu adalah rahasia yang harus disembunyikan.
Ia merasa seperti akhirnya pulang.
