Sepanjang perjalanan pulang, Rizky tidak mengatakan sepatah kata pun.
Kotak bolu pandan masih berada di pangkuannya. Tutupnya sedikit miring karena sejak tadi dipeluk terlalu erat. Termos kopi diletakkan di sampingnya, dan kertas kecil bergambar jangkar yang menempel di tutup termos terus bergoyang setiap kali mobil melewati jalan yang tidak rata.
Siti berkali-kali melirik putranya melalui kaca spion.
Biasanya Rizky akan bercerita tanpa henti. Tentang teman sekolahnya, tentang pertandingan sepak bola, atau tentang betapa gagah ayahnya mengenakan seragam putih.
Pagi itu, semua kebanggaan tersebut seperti ikut tertinggal di depan jendela lantai dua pangkalan.
“Bu.”
Suara Rizky akhirnya terdengar ketika mobil berhenti di lampu merah.
Siti menggenggam setir lebih erat.
“Ya?”
“Perempuan tadi siapa?”
Pertanyaan itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun yang baru saja ia lihat.
Siti tidak ingin berbohong. Namun ia juga tidak ingin menjadikan anak delapan tahun sebagai penonton dari kehancuran rumah tangga orang tuanya.
“Teman kerja Ayah.”
“Teman kerja boleh dicium begitu?”
Siti terdiam.
Lampu berubah hijau, tetapi mobil di belakang sudah membunyikan klakson sebelum ia sadar harus kembali berjalan.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Tidak seharusnya.”
Rizky menunduk.
“Ayah bohong sama kita?”
Siti menarik napas panjang.
“Kamu tidak perlu memikirkan masalah orang dewasa sekarang.”
“Tapi aku yang bikin tulisan itu.”
Ia menunjuk termos.
Siti merasa dadanya sesak.
“Aku bilang Ayah komandan terbaik.”
Suara Rizky pecah di kalimat terakhir.
Siti menepikan mobil ke pinggir jalan.
Ia membuka sabuk pengamannya, lalu memeluk putranya dari kursi depan.
Rizky tidak menangis keras. Justru itu yang membuat hati Siti semakin hancur. Bocah itu hanya menempelkan wajah di bahu ibunya sambil berusaha menahan isak.
“Dengar Ibu,” bisik Siti. “Kesalahan Ayah bukan kesalahan kamu. Dan rasa sayang kamu kepada Ayah juga bukan sesuatu yang salah.”
Rizky tidak menjawab.
Beberapa menit kemudian, ponsel Siti bergetar.
Nama Dimas muncul di layar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Siti tidak mengangkatnya.
Setibanya di rumah, ia meminta Mbak Yuni, pengasuh yang sudah bekerja bersama mereka sejak Rizky kecil, untuk menemani Rizky bersiap ke sekolah.
“Bu, Rizky tidak apa-apa?” tanya Yuni pelan.
“Dia sedang tidak enak hati. Tolong jangan banyak ditanya.”
Siti baru saja masuk ke ruang kerja ketika ponselnya kembali berdering.
Kali ini Hendra.
“Aku sudah bicara dengan tim keuangan yayasan.”
Siti duduk.
“Apa yang mereka temukan?”
“Belum audit lengkap, tapi ada sesuatu yang aneh.”
Nada kakaknya membuat Siti langsung menegakkan tubuh.
“Apa?”
“PT Nusa Bahari menerima kenaikan nilai kontrak hampir tiga kali lipat dalam dua tahun terakhir. Anehnya, sebagian besar rekomendasi teknis selalu datang dari unit tempat Dimas bekerja.”
Siti memejamkan mata.
“Dimas yang menandatangani?”
“Tidak semuanya. Tapi namanya muncul sebagai pemberi rekomendasi atau anggota tim verifikasi di beberapa berkas.”
“Lanjutkan.”
“Ada hal lain. Beberapa pembayaran jasa konsultasi dari PT Nusa Bahari masuk ke sebuah perusahaan kecil bernama PT Samudra Prima Konsultan.”
“Pemiliknya?”
“Di atas kertas, seorang pria bernama Arif Setyawan.”
Siti mengernyit.
Nama itu terdengar asing.
Hendra melanjutkan, “Tapi alamat kantor perusahaan itu adalah rumah milik Ratri Prabowo.”
Siti langsung terdiam.
Ratri adalah adik kandung Dimas.
Perempuan yang selama ini mengaku tidak bekerja dan sering meminta bantuan keuangan kepada mereka.
“Berapa nilainya?”
“Kalau sementara, sekitar satu koma delapan miliar rupiah selama tiga tahun.”
Siti menutup mulut dengan tangannya.
Perselingkuhan itu tiba-tiba terasa seperti bagian terkecil dari masalah yang sedang terbuka.
“Jangan hubungi siapa pun dulu,” katanya.
“Aku juga berpikir begitu. Tim audit sedang salin semua dokumen sebelum ada yang sempat mengubah atau menghapus.”
Pada saat yang sama, suara mobil terdengar berhenti di depan rumah.
Siti berdiri dan menatap melalui jendela.
Dimas keluar dengan tergesa-gesa.
Ia masih memakai seragam dinas.
Beberapa detik kemudian, pintu ruang kerja terbuka.
“Siti!”
Dimas masuk dengan napas memburu.
“Kamu kenapa pergi begitu saja?”
Siti memandangnya tanpa ekspresi.
“Kamu mau aku menunggu sampai kalian selesai?”
Wajah Dimas berubah.
“Siti, dengar dulu.”
“Silakan.”
Dimas menutup pintu.
“Apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu pikirkan.”
Untuk pertama kalinya pagi itu, Siti hampir tertawa.
“Jadi aku salah melihat suamiku mencium perempuan lain?”
Dimas mengusap wajahnya.
“Aku akui aku salah. Tapi hubungan itu baru terjadi.”
“Berapa lama?”
Dimas tidak menjawab.
“Berapa lama?”
“Beberapa bulan.”
Siti mengangguk pelan.
“Menarik.”
“Aku bisa jelaskan.”
“Aku tidak butuh penjelasan tentang kalian.”
Kalimat itu membuat Dimas terkejut.
“Aku cuma ingin bertanya satu hal.”
Siti menatapnya tajam.
“PT Samudra Prima Konsultan itu apa?”
Wajah Dimas mendadak pucat.
Perubahan itu sangat kecil, tetapi cukup bagi Siti untuk mendapatkan jawaban.
“Kamu tahu perusahaan itu.”
“Entahlah. Nama perusahaan di bidang kelautan banyak.”
“Alamatnya rumah Ratri.”

Dimas tidak bergerak.
Siti melanjutkan, “Dan selama tiga tahun perusahaan itu menerima hampir dua miliar rupiah dari perusahaan Maya.”
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
Dimas mendekat.
“Siti, jangan ikut campur urusan proyek. Kamu tidak mengerti mekanismenya.”
“Lucu.”
Siti berdiri.
“Ketika keluarga saya mendanai proyek, saya dianggap mengerti. Ketika saya mulai memeriksa ke mana uangnya pergi, tiba-tiba saya dianggap tidak mengerti.”
Dimas menarik napas.
“Tidak ada uang ilegal.”
“Kalau begitu, kamu tidak perlu takut diaudit.”
Mata Dimas membesar.
“Audit?”
Siti tidak menjawab.
“Jangan bilang kamu meminta Hendra membekukan pendanaan.”
Siti tetap diam.
“Siti!”
Dimas menghantam meja dengan telapak tangan.
“Puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan gara-gara tindakan emosionalmu!”
“Jangan gunakan mereka untuk menutupi ketakutanmu.”
“Aku punya karier yang dipertaruhkan!”
“Itu juga bukan tanggung jawabku.”
Dimas berjalan mondar-mandir.
Untuk pertama kalinya, sosok perwira yang selama bertahun-tahun dikenal tenang itu terlihat benar-benar panik.
“Dengar. Hentikan auditnya. Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Maya.”
Siti menatap suaminya seolah sedang melihat orang asing.
“Kamu masih mengira masalahnya adalah siapa yang kamu tiduri.”
Dimas terdiam.
“Kalau memang tidak ada yang kamu sembunyikan, biarkan semua dokumen dibuka.”
Ponsel Dimas tiba-tiba berdering.
Ia melihat layar lalu buru-buru menolak panggilan.
Namun Siti sudah sempat melihat namanya.
Maya.
“Angkat.”
“Tidak perlu.”
“Angkat.”
“Siti.”
“Bukankah dia konsultan proyek?”
Dimas tidak menjawab.
Telepon kembali berdering.
Kali ini Dimas akhirnya mengangkatnya dan langsung berjalan menjauh.
“Apa?”
Suara Maya terdengar cukup keras dari sambungan.
“Rekening proyek dibekukan. Tim keuangan yayasan minta semua invoice tiga tahun terakhir. Kamu bilang keluarganya tidak pernah ikut campur!”
Dimas menoleh ke arah Siti.
“Tenang dulu.”
“Aku tidak bisa tenang! Ada berkas yang tidak boleh mereka lihat.”
Ruangan mendadak hening.
Siti menatap suaminya.
Dimas segera mematikan sambungan.
Sayangnya, sudah terlambat.
“Ada berkas yang tidak boleh aku lihat?”
“Siti, dia panik. Jangan salah artikan.”
“Keluar.”
“Apa?”
“Keluar dari rumah ini.”
Dimas menatapnya tak percaya.
“Ini rumah kita.”
“Rumah ini dibeli dari warisan orang tuaku sebelum kita menikah. Sertifikatnya atas namaku.”
“Siti, jangan keterlaluan.”
“Keluar sebelum aku memanggil petugas keamanan kompleks.”
Dimas menatapnya selama beberapa detik, kemudian menunjuk wajah istrinya.
“Kamu akan menyesal.”
Siti tidak berkedip.
“Kalimat itu seharusnya kamu katakan kepada dirimu sendiri sebelum pagi ini.”
Dimas pergi dengan membanting pintu.
Dua hari berikutnya menjadi hari-hari terpanjang dalam hidup Siti.
Hendra memindahkan tim audit ke kantor independen. Setiap transaksi dikumpulkan, setiap rekening diperiksa, dan setiap vendor yang berhubungan dengan PT Nusa Bahari ditelusuri.
Hasilnya jauh lebih buruk daripada dugaan awal.
PT Samudra Prima Konsultan ternyata hanya perusahaan cangkang.
Tidak memiliki pegawai tetap.
Tidak memiliki kantor.
Tidak pernah memberikan jasa konsultasi nyata.
Namun perusahaan tersebut menerima pembayaran rutin setiap kali PT Nusa Bahari mendapatkan proyek besar.
Sebagian uang kemudian berpindah ke tiga rekening berbeda.
Salah satunya milik Ratri.
Satu rekening atas nama seseorang yang selama bertahun-tahun menjadi sopir pribadi Dimas.
Dan satu lagi ditemukan terhubung dengan pembelian apartemen di kawasan Pakuwon.
Apartemen itu atas nama Maya Kartika.
Yang paling mengejutkan adalah sumber uang muka pembeliannya.
Dana tersebut berasal dari transfer PT Samudra Prima.
Hendra meletakkan dokumen itu di depan Siti.
“Artinya?”
“Secara sederhana, perusahaan Maya membayar perusahaan perantara. Perusahaan perantara mengalirkan uang kembali kepada orang-orang yang berhubungan dengan Dimas.”
Siti membaca dokumen itu perlahan.
“Ada bukti Dimas menerima uang langsung?”
“Belum.”
“Berarti jangan menuduh dulu.”
Hendra mengangguk.
Namun malam itu bukti yang mereka cari justru datang dari orang yang tidak pernah mereka duga.
Sertu Bambang.
Prajurit muda itu menghubungi Siti menggunakan nomor pribadi.
“Maaf mengganggu, Bu.”
Siti berdiri dari sofa.
“Ada apa?”
“Saya tidak tahu harus bicara kepada siapa.”
Nada suaranya terdengar ketakutan.
“Saya pernah diminta Mayor Dimas mengantarkan beberapa dokumen keluar pangkalan.”
“Dokumen apa?”
“Saya tidak pernah membuka. Tapi alamatnya selalu kantor PT Nusa Bahari.”
Siti menggenggam ponsel erat.
“Kenapa kamu baru bicara sekarang?”
“Karena tadi sore Mayor memanggil saya.”
“Untuk apa?”
“Beliau minta saya menghapus rekaman CCTV pos penjagaan tiga bulan terakhir.”
Siti membeku.
“Sudah kamu hapus?”
“Belum.”
“Kenapa?”
Bambang terdiam beberapa detik.
“Karena saya teringat wajah anak Ibu pagi itu.”
Siti menutup mata.
Bambang melanjutkan dengan suara pelan.
“Saya tentara, Bu. Saya harus patuh pada atasan. Tapi saya juga tahu ada perintah yang tidak seharusnya ditaati.”
“Jangan lakukan apa pun sendiri.”
“Lalu saya harus bagaimana?”
“Amankan salinannya. Setelah itu laporkan melalui jalur resmi.”
Keesokan harinya, masalah tersebut tidak lagi menjadi urusan keluarga.
Dokumen audit Yayasan Aranda bersama bukti transaksi mencurigakan diserahkan kepada penyidik militer dan aparat berwenang.
Pemeriksaan internal dimulai.
Dimas dibebastugaskan sementara dari sejumlah tanggung jawab administratif selama proses berjalan.
PT Nusa Bahari kehilangan akses ke beberapa kontrak sampai audit selesai.
Maya dipanggil untuk memberikan keterangan.
Ratri juga diperiksa.
Berita itu menyebar cepat.
Nama Dimas yang selama ini selalu disebut dengan kebanggaan di berbagai acara keluarga kini menjadi bahan bisik-bisik.
Namun bagian paling berat bagi Siti bukan menghadapi keluarga besar.
Melainkan berbicara dengan Rizky.
Suatu malam, Rizky duduk di lantai kamar sambil memandangi foto dirinya bersama Dimas.
“Ayah akan masuk penjara?”
Siti duduk di sampingnya.
“Ibu belum tahu.”
“Kalau Ayah salah?”
“Kalau seseorang melakukan kesalahan, dia harus bertanggung jawab.”
“Walaupun Ayah tentara?”
Siti mengangguk.
“Justru kalau seseorang punya jabatan, tanggung jawabnya lebih besar.”
Rizky memeluk lutut.
“Aku masih boleh sayang Ayah?”
Pertanyaan itu membuat mata Siti panas.
“Tentu.”
“Tapi Ayah sudah menyakiti Ibu.”
“Kamu boleh kecewa kepada seseorang dan tetap menyayanginya. Dua perasaan itu bisa ada bersamaan.”
Beberapa minggu kemudian, hasil pemeriksaan awal keluar.
Dimas memang tidak terbukti menerima semua uang yang dicurigai. Namun penyidik menemukan bahwa ia memanfaatkan pengaruhnya dalam proses rekomendasi vendor, membantu PT Nusa Bahari mendapatkan keuntungan tidak wajar, dan mengetahui penggunaan perusahaan perantara untuk menyamarkan sejumlah pembayaran.
Lebih buruk lagi, ditemukan pesan elektronik yang menunjukkan bahwa ia berkali-kali meminta Maya memberikan “kompensasi” kepada pihak tertentu agar proyek tetap berjalan mulus.
Karier yang dibangunnya selama hampir dua dekade runtuh dalam hitungan minggu.
Dimas dicopot dari jabatan strategis dan menghadapi proses hukum serta disiplin lebih lanjut.
Maya mundur dari perusahaan setelah jajaran direksi PT Nusa Bahari melakukan investigasi internal.
Beberapa kontrak dibatalkan.
Ratri akhirnya mengaku bahwa perusahaan cangkang tersebut memang dibuat atas permintaan Dimas.
Namun satu hal masih mengganjal pikiran Siti.
Mengapa Dimas mengambil risiko sebesar itu?
Jawabannya datang ketika Hendra menemukan satu rekening lama yang hampir luput dari pemeriksaan.
Rekening itu tidak berisi uang hasil proyek.
Justru sebaliknya.
Ada pembayaran utang besar yang dilakukan bertahun-tahun sebelumnya.
Siti meminta bertemu dengan Dimas.
Mereka bertemu di ruang konsultasi hukum yang netral.
Dimas tampak jauh berbeda.
Tidak ada seragam.
Tidak ada tanda pangkat.
Tidak ada sikap percaya diri yang biasa membuat orang lain segan.
“Aku menemukan pembayaran utangmu,” kata Siti.
Dimas menunduk.
“Tiga koma dua miliar. Lima tahun lalu.”
Dimas tidak menjawab.
“Utang apa?”
Setelah lama terdiam, akhirnya ia berkata, “Investasi.”
Siti mengerutkan kening.
“Aku ikut investasi kapal wisata dengan beberapa orang. Proyeknya gagal. Aku kehilangan semuanya.”
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
“Karena aku malu.”
Dimas tertawa kecil tanpa humor.
“Keluargamu kaya. Kakakmu pengusaha. Kamu punya yayasan. Sementara aku selalu ingin membuktikan bahwa aku bisa berdiri dengan namaku sendiri.”
Siti menatapnya tajam.
“Jadi kamu menutup utang dengan uang proyek?”
“Awalnya aku cuma memperkenalkan Maya kepada beberapa orang.”
“Lalu?”
“Dia membantu menyelesaikan sebagian utangku. Sebagai gantinya aku membantu perusahaannya.”
“Dan hubungan kalian?”
Dimas memejamkan mata.
“Itu terjadi belakangan.”
Siti mengangguk perlahan.
Akhirnya semuanya masuk akal.
Bukan karena cinta.
Bukan karena satu kesalahan mendadak.
Melainkan karena kebohongan kecil yang terus dipelihara sampai berubah menjadi jaringan yang menelan kehidupan mereka.
“Aku bisa memaafkan orang yang jatuh,” kata Siti pelan. “Tapi sulit memaafkan orang yang memilih menyeret semua orang bersamanya hanya agar tidak terlihat gagal.”
Dimas menunduk.
“Aku kehilangan semuanya.”
Siti berdiri.
“Tidak.”
Dimas menatapnya.
“Kamu masih punya satu hal.”
“Apa?”
“Kesempatan untuk berhenti berbohong kepada anakmu.”
Beberapa hari kemudian, Dimas meminta bertemu Rizky.
Siti mengizinkan, dengan satu syarat.
Tidak ada kebohongan.
Mereka bertemu di sebuah taman kecil dekat rumah.
Rizky datang membawa sesuatu di dalam tasnya.
Dimas berlutut di depan anaknya.
“Ayah minta maaf.”
Rizky memandangnya lama.
“Ayah memang salah?”
“Iya.”
“Kenapa?”
“Karena Ayah takut dianggap gagal. Jadi Ayah membuat pilihan yang lebih buruk.”
Rizky terdiam.
Kemudian ia membuka tasnya dan mengeluarkan termos lama yang dibawanya pagi itu.
Kertas bergambar jangkar masih menempel.
Tulisan “Untuk Komandan terbaik dan Ayah terbaik” sudah sedikit kusut.
Dimas langsung menunduk.
Bahunya bergetar.
“Aku mau buang ini,” kata Rizky.
Dimas mengusap matanya.
“Kamu boleh.”
“Tapi Ibu bilang orang bisa berubah kalau mau bertanggung jawab.”
Rizky melepas kertas itu dari termos.
Ia membaliknya.
Di sisi belakang, ia menulis sesuatu dengan pensil.
Dimas membacanya.
“Untuk Ayah. Semoga suatu hari bisa jadi orang baik lagi.”
Dimas menutup wajahnya.
Untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu dimulai, Siti melihat suaminya menangis tanpa mencari alasan.
Enam bulan kemudian, proses perceraian mereka selesai.
Siti tidak pernah menarik laporan ataupun mencoba menggunakan pengaruh keluarga untuk memperberat hukuman Dimas.
Ia hanya membiarkan proses berjalan sebagaimana mestinya.
Yayasan Aranda memperbaiki sistem pengawasan dana dan menetapkan aturan baru agar tidak ada satu orang pun yang bisa mengendalikan rekomendasi vendor tanpa pemeriksaan independen.
Sertu Bambang mendapat perlindungan sebagai pelapor dan dipindahkan dari unit yang berpotensi menimbulkan konflik.
Rizky perlahan kembali menjadi anak yang ceria.
Namun ia tidak lagi bercerita kepada teman-temannya bahwa ayahnya adalah komandan terbaik.
Suatu sore, ketika Siti menjemputnya dari sekolah, Rizky menunjukkan tugas karangan berjudul “Orang yang Saya Kagumi.”
Siti membacanya di dalam mobil.
Bukan tentang Dimas.
Bukan pula tentang seorang jenderal atau pahlawan terkenal.
Rizky menulis tentang seorang prajurit muda di pos penjagaan yang berani mengatakan kebenaran meskipun takut.
Di bagian terakhir, ia menulis satu kalimat yang membuat Siti lama terdiam.
“Menurut saya, orang hebat bukan orang yang tidak pernah salah. Orang hebat adalah orang yang tetap memilih benar ketika melakukan yang benar bisa membuatnya kehilangan sesuatu.”
Siti memandang putranya.
“Siapa yang mengajarkan kalimat ini?”
Rizky mengangkat bahu.
“Aku pikir sendiri.”
Siti tersenyum kecil.
Di luar jendela, matahari sore menyentuh gedung-gedung Surabaya dengan cahaya keemasan.
Pagi ketika semuanya terbongkar, Siti mengira satu telepon dingin telah menghancurkan karier Dimas.
Baru berbulan-bulan kemudian ia menyadari bahwa telepon itu tidak menghancurkan apa pun.
Telepon itu hanya membuka pintu.
Yang meruntuhkan karier, keluarga, dan kehormatan Dimas adalah keputusan-keputusan yang sudah ia buat jauh sebelum Siti berdiri di depan jendela pangkalan militer pagi itu.
Dan kadang-kadang, kebenaran memang datang terlambat.
Tetapi ketika akhirnya datang, ia tidak pernah mengetuk dengan pelan.
