Aku datang ke Bakmi Rasa Kita hanya untuk menikmati semangkuk mi terakhir sebelum warung itu tutup.
Aku tidak pernah membayangkan, dua jam kemudian, polisi akan membongkar lantai dapur, seorang anak empat tahun akan menggigil sambil menunjuk keranjang tomat, dan seseorang yang selama ini kukenal sebagai pemilik ruko cerewet akan diborgol tepat di depan mataku.
Kalimat Raka masih menggantung di udara.
“Jangan masukkan Om Fajar ke dalam kotak tomat lagi.”

Tak seorang pun bergerak.
AKP Dimas menjadi orang pertama yang bereaksi.
Ia berjongkok agar sejajar dengan Raka, tetapi tidak langsung bertanya. Tatapannya beralih kepada Bu Lestari.
“Bu, tolong bawa anaknya sedikit menjauh dari keranjang itu.”
Bu Lestari mengangguk cepat. Tangannya gemetar saat mengangkat Raka ke pelukannya.
Pak Rudi berdiri seperti patung.
Sementara Pak Surya sudah melangkah menuju pintu.
“Pak Surya.”
Suara AKP Dimas menghentikannya.
“Saya cuma mau merokok.”
“Duduk kembali.”
“Saya ini pemilik ruko.”
“Justru karena itu saya minta Bapak tetap di sini.”
Wajah Pak Surya berubah kaku.
Aku menatap Pak Rudi.
“Siapa Om Fajar?”
Dia tidak menjawab.
Bu Lestari malah menutup mulut dan menangis.
AKP Dimas kembali bertanya.
“Pak Rudi, siapa Fajar?”
Pak Rudi menunduk lama sebelum akhirnya berkata pelan.
“Adik saya.”
“Di mana dia sekarang?”
Pak Rudi menarik napas berat.
“Tidak tahu.”
Pak Surya langsung tertawa pendek.
“Nah, kan. Orang hilang bukan berarti ada hubungannya dengan saya.”
Semua mata tertuju kepadanya.
Aku merasakan tengkukku dingin.
Tidak ada yang menuduhnya.
Mengapa dia merasa perlu membela diri?
AKP Dimas rupanya menangkap hal yang sama.
“Siapa bilang ada hubungannya dengan Bapak?”
Pak Surya terdiam.
Seorang polisi segera menutup pintu depan warung.
AKP Dimas lalu meminta Pak Rudi menjelaskan semuanya.
Fajar ternyata berusia tiga puluh dua tahun dan membantu di warung selama hampir dua tahun. Ia bertugas belanja bahan baku setiap dini hari, menerima barang dari pemasok, dan kadang menggantikan Pak Rudi memasak.
Sebelas hari sebelumnya, Fajar mendadak menghilang.
“Kenapa tidak dilaporkan?”
Pertanyaan AKP Dimas terdengar lebih keras.
Pak Rudi memejamkan mata.
“Karena saya pikir dia pergi sendiri.”
“Tanpa ponsel?”
“Ponselnya juga tidak ada.”
“Tanpa baju?”
Pak Rudi tidak menjawab.
Bu Lestari tiba-tiba menyela.
“Dia bilang mau pulang ke Garut.”
Aku menoleh kepadanya.
Bu Lestari menangis semakin keras.
“Tapi dia tidak pernah sampai.”
Pak Rudi langsung menatap istrinya.
“Lestari.”
“Aku capek bohong.”
Nada suaranya pecah.
“Aku sudah bilang dari awal, kita harus ke polisi.”
Pak Rudi mengusap wajah.
AKP Dimas meminta seorang anggota membawa Bu Lestari dan Raka ke luar agar anak itu tidak semakin panik.
Namun sebelum pergi, Raka menatap dapur.
Wajahnya kembali pucat.
“Bunda.”
“Iya, Sayang.”
“Om Fajar nangis di belakang.”
Semua orang membeku lagi.
Pak Rudi akhirnya terduduk.
Aku bisa mendengar napasnya berat.
AKP Dimas berdiri.
“Pak Rudi, saya tanya sekali lagi. Apa yang terjadi sebelas hari lalu?”
Laki-laki itu menatap lantai beberapa detik.
Kemudian kata-katanya keluar seperti sesuatu yang sudah terlalu lama dikubur.
Malam itu warung tutup lebih lambat.
Sekitar pukul sebelas, Pak Rudi membawa Lestari dan Raka pulang lebih dahulu karena Raka tertidur.
Fajar masih tinggal untuk membereskan dapur.
Pak Surya datang beberapa menit kemudian.
Menurut Pak Rudi, hubungan Fajar dan Pak Surya memang buruk sejak beberapa bulan sebelumnya. Fajar sering memprotes saluran pembuangan di belakang ruko yang tersumbat dan menimbulkan bau.
Masalah menjadi lebih besar ketika Fajar mengetahui alasan sebenarnya Pak Surya menaikkan sewa.
Bukan semata karena harga pasar.
Pak Surya berencana mengosongkan tiga ruko di deretan itu lalu menjual tanah kepada pengembang minimarket besar.
Kalau penyewa pergi dengan sukarela, dia tidak perlu membayar kompensasi apa pun.
“Fajar menemukan surat penawarannya.”
Pak Rudi menatap Pak Surya.
“Bapak meninggalkannya di meja depan waktu datang menagih sewa.”
Pak Surya mendengus.
“Terus?”
“Fajar memotretnya.”
“Apa itu kejahatan?”
“Dia bilang akan kasih tahu semua penyewa.”
Rahang Pak Surya mengeras.
Pak Rudi melanjutkan.
Sekitar pukul satu dini hari, dia mendapat telepon dari Pak Surya.
Katanya Fajar mabuk dan membuat keributan.
Ketika Pak Rudi kembali ke warung, adiknya sudah tidak ada.
Di lantai dapur ada pecahan mangkuk.
Pak Surya mengatakan Fajar pergi dengan ojek daring setelah mereka bertengkar.
“Aku percaya.”
Suara Pak Rudi bergetar.
“Sampai besok pagi Raka mulai ngomong soal kotak tomat.”
Aku menelan ludah.
Raka rupanya terbangun malam itu dan meminta minum.
Bu Lestari, yang mengira Pak Rudi lupa membawa botol minum kesayangan anaknya, membawa Raka kembali ke warung sekitar pukul setengah satu.
Mereka tidak masuk lewat pintu depan.
Mereka berhenti di gang belakang.
Dari sana, Raka melihat sesuatu melalui celah pintu dapur yang tidak tertutup sempurna.
Seorang laki-laki tergeletak.
Ada Pak Surya.
Ada dua peti plastik merah bekas tomat.
Dan ada Fajar.
Bu Lestari tidak melihat jelas karena sedang memarkir motor.
Tetapi Raka melihat.
Keesokan harinya, setiap mencium tomat, dia menjerit.
“Kenapa kalian diam?”
Aku tidak sanggup menahan diri.
Pak Rudi menatapku dengan mata merah.
“Pak Surya mengancam kami.”
Pak Surya mendadak berdiri.
“Itu bohong.”
Seorang polisi langsung menahannya.
Pak Rudi menunjuk Pak Surya.
“Dia datang ke rumah.”
Suaranya semakin keras.
“Dia bilang kalau kami bicara, dia akan bilang saya yang membunuh Fajar. Sidik jari saya ada di dapur. Pisau saya ada di sana. Warung saya. Semua bukti bisa diarahkan ke saya.”
Pak Surya tertawa.
“Kamu punya bukti?”
“Tidak.”
“Nah.”
“Tapi Raka melihat.”
Pak Surya menoleh ke arah luar warung.
Sorot matanya membuatku merinding.
Aku baru memahami mengapa Pak Rudi ingin membawa keluarganya pergi ke Jakarta.
Bukan untuk berobat.
Mereka sedang melarikan diri.
AKP Dimas memerintahkan pemeriksaan diperluas.
Gang belakang ditutup.
Gudang diperiksa lagi.
Pipa saluran air dibuka.
Namun tidak ditemukan jasad.
Saat itulah aku teringat bau yang membuatku menelepon polisi.
Aku kembali ke dapur.
“Pak Dimas.”
Dia menoleh.
“Bau ini bukan dari saluran.”
“Apa maksud Anda?”
Aku menunjuk lantai di bawah rak stainless.
“Pemutihnya paling kuat di sini.”
Seorang petugas mengarahkan senter.
Rak itu digeser.
Di bawahnya, nat lantai tampak berbeda.
Bukan hanya lebih putih.
Susunan keramiknya sedikit lebih tinggi.
AKP Dimas mengetuk permukaannya.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara bagian tengah terdengar berbeda.
Pak Surya tiba-tiba berteriak.
“Jangan rusak properti saya tanpa surat!”
Semua orang menoleh kepadanya.
Aku melihat perubahan kecil di wajah AKP Dimas.
Dia tahu.
“Amankan dia.”
Pak Surya mulai meronta.
“Saya akan telepon pengacara!”
“Silakan.”
Dua petugas membawanya ke depan.
Setelah koordinasi dengan penyidik tambahan, bagian lantai yang mencurigakan dibuka.
Di bawah keramik ternyata bukan tanah padat.
Ada ruang kosong bekas bak penampungan air lama yang sudah bertahun-tahun ditutup.
Aku tidak melihat proses berikutnya secara langsung.
Polisi meminta semua warga menjauh.
Namun sekitar empat puluh menit kemudian, seorang petugas keluar dengan wajah pucat.
Tatapan AKP Dimas berubah.
Mereka menemukan jasad.
Bukan di dalam kotak tomat.
Kotak itu hanya digunakan untuk memindahkan tubuh dari dapur menuju bak penampungan.
Fajar masih mengenakan kaus abu-abu bertuliskan nama warung.
Pak Rudi jatuh terduduk saat mendengar kabar itu.
Dia menangis tanpa suara.
Di luar, Bu Lestari memeluk Raka sambil menutup telinga anaknya.
Pak Surya tidak lagi bicara.
Pemeriksaan berikutnya berlangsung sampai malam.
Aku diminta memberikan keterangan lengkap tentang apa yang kulihat dan cium.
Dua hari kemudian, aku mengetahui rangkaian kejadian sebenarnya dari penyidik.
Malam itu Fajar memang bertengkar dengan Pak Surya.
Fajar mengancam akan menunjukkan bukti penjualan ruko kepada penyewa lain.
Pak Surya mencoba merebut ponselnya.
Mereka berkelahi.
Fajar terdorong dan kepalanya menghantam sudut meja stainless.
Benturan itu kemungkinan besar menyebabkan kematian.
Masalahnya, setelah itu Pak Surya tidak mencari bantuan.
Ia panik.
Lalu membuat keputusan yang mengubah sebuah kecelakaan menjadi kejahatan jauh lebih besar.
Dia menyembunyikan tubuh.
Menghapus rekaman CCTV.
Membersihkan dapur dengan klorin.
Kemudian memaksa Pak Rudi ikut membersihkan sisa darah dengan ancaman akan menjadikannya tersangka.
“Pak Rudi membantu?”
Aku bertanya kepada AKP Dimas saat dipanggil untuk keterangan tambahan.
“Dia ikut membersihkan lantai setelah tubuh dipindahkan.”
Aku terdiam.
“Berarti dia bisa dipidana?”
“Proses hukum tetap berjalan. Tapi konteks ancaman dan keterlibatannya akan diperiksa.”
Kenyataan itu terasa pahit.
Pak Rudi bukan sepenuhnya korban.
Dia juga membuat pilihan.
Mungkin karena takut.
Mungkin demi melindungi anak dan istrinya.
Tetapi selama sebelas hari, sebuah keluarga menunggu kabar Fajar tanpa tahu dia sudah meninggal hanya beberapa meter dari tempat orang menikmati makan siang.
Kasus itu cepat menyebar di Bandung.
Bakmi Rasa Kita tutup permanen.
Ruko disegel.
Pak Surya ditahan.
Aku pikir semuanya selesai.
Ternyata belum.
Sekitar tiga bulan kemudian, aku menerima pesan dari nomor Bu Lestari.
“Nadia, kalau sedang di Bandung hari Minggu, boleh datang ke tempat kami?”
Dia mengirim alamat.
Sebuah kios kecil di halaman rumah kontrakan daerah Ujungberung.
Aku datang.
Tidak ada papan besar.
Hanya spanduk sederhana.
Bakmi Fajar.
Pak Rudi sedang merebus mi.
Wajahnya tampak lebih tua, tetapi lebih tenang.
Bu Lestari menjaga kasir.
Raka duduk di kursi sambil menggambar.
Aku sedikit ragu ketika melihat menu.
Tidak ada satu pun masakan tomat.
Pak Rudi tertawa kecil.
“Kami belum berani.”
Aku mengangguk.
“Raka bagaimana?”
“Lebih baik.”
Bu Lestari menatap anaknya.
“Masih terapi.”
Aku memesan bakmi ayam.
Rasanya hampir sama dengan dulu.
Hanya sedikit lebih ringan.
Saat aku sedang makan, Raka mendekat.
Dia sudah jauh lebih ceria.
“Kak Nadia.”
“Iya?”
Dia membawa kertas gambar.
“Aku bikin Om Fajar.”
Di atas kertas itu ada empat orang berdiri di depan warung.
Pak Rudi.
Bu Lestari.
Raka.
Dan satu laki-laki lebih tinggi di sebelah mereka.
Aku tersenyum.
“Bagus.”
Raka menunjuk gambar lain di pojok.
Sebuah kotak merah.
Aku menahan napas.
Namun kali ini dia tidak menangis.
Dia justru berkata pelan,
“Dokter bilang kotak tomat tidak jahat.”
Aku memandangnya.
“Yang jahat orang yang berbohong.”
Aku kehilangan kata-kata.
Pak Rudi yang mendengar dari belakang langsung menunduk.
Matanya basah.
Beberapa detik kemudian, dia mendekat kepadaku.
“Ada satu hal yang belum pernah saya bilang.”
“Apa?”
Pak Rudi menarik kursi.
“Fajar tahu saya ingin menjual resep warung.”
Aku mengernyit.
“Menjual resep?”
“Pak Surya pernah menawarkan uang supaya setelah kami pergi, tempat itu tetap memakai nama Bakmi Rasa Kita dengan pemilik baru.”
Aku menatapnya.
“Dan Bapak setuju?”
“Hampir.”
Pak Rudi tersenyum getir.
“Fajar marah besar. Dia bilang nama warung itu dibangun dari kerja keluarga, bukan sesuatu yang bisa dijual diam-diam.”
Ternyata pertengkaran antara Fajar dan Pak Surya bukan hanya soal ruko.
Fajar juga mengetahui transaksi tersembunyi itu.
Ia berniat memberitahu Lestari.
Pak Rudi selama ini menyimpan rasa bersalah karena kalau ia tidak pernah menyetujui rencana tersebut, mungkin Fajar tidak akan terlibat sedalam itu.
“Aku kehilangan adik karena terlalu takut kehilangan usaha.”
Pak Rudi mengusap wajah.
“Lucu, akhirnya usaha itu hilang juga.”
Aku menatap mangkuk di depanku.
“Tidak hilang.”
Pak Rudi menoleh.
Aku menunjuk spanduk kecil Bakmi Fajar.
“Cuma ganti nama.”
Dia tersenyum tipis.
Sore itu sebelum pulang, aku membeli tiga porsi untuk dibawa.
Di meja kasir ada sebuah mangkuk kecil.
Di dalamnya terdapat beberapa tomat merah.
Aku menatap Bu Lestari.
Dia tersenyum.
“Permintaan Raka.”
Raka sedang berdiri beberapa langkah dari sana.
Wajahnya tegang, tetapi dia tidak menangis.
Perlahan dia mendekat.
Mengambil satu tomat.
Tangannya masih gemetar.
Dia mengangkatnya ke hidung sebentar, lalu langsung menjauh.
Semua orang diam.
Pak Rudi hampir menghampirinya, tetapi Bu Lestari menahan lengan suaminya.
Raka menarik napas.
Kemudian meletakkan tomat itu kembali.
“Aromanya masih bikin takut.”
Dia tersenyum kecil.
“Tapi Om Fajar pasti tidak mau aku takut selamanya.”
Pak Rudi menundukkan kepala.
Bu Lestari menangis.
Aku sendiri tidak tahu sejak kapan mataku ikut panas.
Hari itu aku memahami sesuatu yang selama bertahun-tahun tidak pernah diajarkan oleh pekerjaanku sebagai auditor mutu.
Bau busuk bisa ditutup pemutih.
Lantai berdarah bisa disikat.
Kamera bisa dicopot.
Bukti bisa disembunyikan di bawah keramik.
Tetapi ingatan manusia bekerja dengan cara yang aneh.
Kadang sebuah rahasia besar tidak muncul lewat dokumen, sidik jari, atau rekaman CCTV.
Kadang ia bertahan dalam ingatan seorang anak kecil.
Menempel pada warna merah sebuah tomat.
Pada aroma sederhana yang biasa kita temui setiap hari.
Dan pada satu kalimat polos yang akhirnya membuat orang dewasa berhenti berbohong.
