Tetangga Tampan 802 Mengirim Rp1,8 Juta Agar Aku Menahan Pintu, Lalu Aku Menemukan Rahasia di Dalam Apartemennya

Aku masih berdiri di depan unit 802 ketika suara dari dalam membuat seluruh prasangkaku berantakan dalam hitungan detik.

“Dokter, akhirnya Anda pulang juga!”

Itu suara perempuan.

Aku langsung menoleh ke arah pria berkacamata yang baru saja masuk. Dia bahkan belum sempat melepas mantel hitamnya ketika seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan muncul dari arah kamar sambil membawa baskom kecil dan handuk.

Di belakangnya, seorang laki-laki tua berjalan tertatih sambil memegang pinggang.

Aku membeku.

Tidak ada perempuan muda dengan rambut berantakan.

Tidak ada laki-laki setengah berpakaian.

Tidak ada adegan perselingkuhan seperti yang sejak tadi memenuhi kepalaku.

Yang ada justru seorang perempuan paruh baya, seorang kakek yang tampak kesakitan, dan sebuah kursi roda di dekat sofa.

Aku menatap mereka, lalu menatap langit-langit.

Ranjang berderit.

Suara perempuan.

Suara laki-laki.

“Obatmu mana?”

Potongan-potongan suara tadi malam berputar kembali di kepalaku.

Wajahku mulai panas.

Bukan karena demam.

Pria berkacamata itu menoleh kepadaku.

“Kamu masih mau berdiri di sana?”

Aku ingin menghilang ke dalam dinding.

“Saya cuma memastikan semuanya aman.”

Dia menatap gantungan pakaian yang masih kupegang.

“Aman dari siapa?”

Aku terdiam.

Perempuan paruh baya itu malah tersenyum ramah. “Masuk saja, Mbak. Daripada berdiri di luar. Kelihatannya juga sedang sakit.”

Aku hendak menolak, tetapi tiba-tiba terdengar suara keras dari kamar.

Bruk.

Disusul erangan seorang perempuan.

Aku refleks mencengkeram gagang pintu.

Nah.

Itu suara yang kudengar tadi.

Pria berkacamata langsung berjalan cepat ke kamar.

Aku mengikuti beberapa langkah karena rasa penasaran mengalahkan rasa malu.

Di dalam kamar, seorang perempuan muda sedang berusaha duduk di tepi ranjang. Wajahnya pucat dan salah satu kakinya dibalut penyangga medis. Sebuah tongkat jatuh di lantai.

“Raka,” katanya lega.

Pria di depanku ternyata bernama Raka.

Dia segera membantu perempuan itu kembali berbaring.

“Kenapa bangun sendiri?”

“Aku mau ke kamar mandi.”

“Bu Sari ada di sini.”

“Kasihan Bu Sari dari tadi membantu Ayah.”

Aku berdiri di ambang pintu seperti orang bodoh.

Jadi suara ranjang yang bergeser berasal dari perempuan cedera ini.

Suara langkah kaki mungkin Bu Sari.

Benda jatuh mungkin tongkat.

Dan suara-suara aneh yang membuat imajinasiku bekerja terlalu jauh ternyata berasal dari orang kesakitan.

Aku menutup mata.

Dinda, sepertinya demam benar-benar telah merusak otakmu.

Raka menoleh.

“Sekarang sudah paham?”

Aku mengangguk pelan.

“Sedikit.”

Perempuan di ranjang memandangku penasaran.

“Siapa?”

Raka menjawab datar, “Tetangga lantai bawah yang kukira pria berotot.”

Aku berharap bumi menelan tubuhku.

Perempuan itu tertawa.

“Apa?”

Aku buru-buru menjelaskan, “Foto profil saya memang agak menyesatkan.”

Raka menambahkan, “Sangat menyesatkan.”

Aku melotot kepadanya.

Setidaknya jangan mempermalukanku di depan orang lain.

Perempuan di ranjang masih tertawa sampai akhirnya meringis karena kakinya sakit.

“Namaku Naya,” katanya. “Adiknya Raka.”

Aku terdiam.

“Adik?”

“Iya.”

“Bukan istrinya?”

Ruangan langsung sunyi.

Bu Sari yang berdiri di belakangku menutup mulut, menahan tawa.

Raka menatapku cukup lama.

“Siapa yang bilang aku sudah menikah?”

Aku ingin turun ke lantai tujuh, mengetuk pintu ibu yang tadi pagi memberiku informasi, lalu meminta pertanggungjawaban atas kehancuran harga diriku.

“Katanya pasangan muda tinggal di sini.”

Naya tertawa lagi.

“Mungkin orang mengira aku pacarnya. Aku memang tinggal di sini beberapa bulan terakhir.”

Aku mengangguk dengan wajah kaku.

Ternyata seluruh drama perselingkuhan yang kubangun dalam kepala tidak pernah ada.

Namun satu hal masih belum masuk akal.

Aku menatap Raka.

“Kalau begitu kenapa Anda mengirim saya Rp1,8 juta dan meminta saya menahan pintu?”

Senyum Naya menghilang.

Raka juga mendadak serius.

Dia menutup pintu kamar perlahan.

“Itu bagian yang belum kamu tahu.”

Aku merasakan tengkukku menegang.

Raka mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah rekaman CCTV.

Di layar terlihat koridor lantai delapan sekitar pukul sepuluh malam.

Seorang laki-laki memakai topi dan masker berdiri di depan unit 802.

Dia tidak mengetuk.

Dia mencoba memasukkan sesuatu ke lubang kunci.

Beberapa detik kemudian Bu Sari membuka pintu dari dalam.

Laki-laki itu langsung pergi.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Kami belum tahu.”

Raka menggeser rekaman ke bagian lain.

Orang yang sama muncul tiga malam sebelumnya.

Lalu seminggu sebelumnya.

Selalu sekitar malam hari.

Selalu ketika Raka sedang tidak di rumah.

Tubuhku merinding.

“Kenapa tidak lapor keamanan?”

“Sudah. Mereka bilang akan memeriksa. Tapi orang itu selalu tahu posisi kamera dan memakai masker.”

“Polisi?”

“Belum cukup bukti bahwa dia melakukan tindak pidana. Sejauh ini dia hanya mondar-mandir dan pernah mencoba kunci.”

Aku mulai memahami.

“Jadi waktu saya bilang ada laki-laki di dalam unit Anda…”

“Aku mengira orang itu berhasil masuk.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Raka mengatakan dia sedang dalam perjalanan pulang dari rumah sakit ketika menerima pesanku. Dia seorang dokter anestesi di rumah sakit swasta tidak jauh dari apartemen. Malam itu seharusnya dia tidak pulang karena ada operasi darurat.

Itulah sebabnya dia langsung mengirim uang.

“Aku tidak tahu siapa kamu,” katanya. “Dari foto profilmu, kukira kamu laki-laki yang cukup kuat untuk menahan seseorang beberapa menit.”

Aku menatapnya.

“Jadi Anda menyewa saya berdasarkan foto pria berotot dari internet?”

“Aku sedang panik.”

“Kalau ternyata saya benar-benar laki-laki berotot tetapi penjahatnya membawa pisau?”

Dia terdiam.

“Berarti satu koma delapan juta terlalu sedikit.”

Aku tidak berhasil menahan tawa.

Naya tertawa dari ranjang.

Bahkan Raka akhirnya tersenyum.

Itulah pertama kalinya aku melihat wajah dinginnya benar-benar berubah.

Dan sayangnya, senyum itu jauh lebih berbahaya daripada wajah datarnya.

Aku buru-buru mengalihkan pandangan.

“Kalau begitu uangnya saya kembalikan.”

“Tidak perlu.”

“Saya tidak melakukan apa-apa.”

“Kamu mengikat pintuku dengan gantungan pakaian.”

“Itu tidak layak dibayar satu koma delapan juta.”

“Anggap biaya konsultasi keamanan.”

Aku mendengus.

Aku baru hendak pergi ketika tiba-tiba tubuhku terasa ringan.

Pandangan di depanku berputar.

Aku sempat mendengar seseorang memanggil namaku sebelum lututku kehilangan tenaga.

Ketika membuka mata, aku sudah berbaring di sofa unit 802.

Raka sedang mengukur suhu tubuhku.

“39,2.”

Aku mengerjap.

“Jangan bilang siapa-siapa.”

Dia mengangkat alis.

“Kenapa?”

“Memalukan. Datang menahan penjahat sambil demam 39 derajat.”

“Kamu bukan menahan penjahat. Kamu menahan pintu.”

“Itu lebih memalukan.”

Naya menyodorkan air hangat sambil tertawa kecil.

Malam itu, bukannya menangkap pasangan selingkuh seperti dalam imajinasiku, aku justru dirawat tetangga yang baru kukenal.

Raka memberiku obat penurun panas setelah memastikan obat apa yang sebelumnya sudah kuminum. Bu Sari membuatkan bubur. Naya bahkan meminjamkan selimut.

Sekitar pukul dua pagi, demamku mulai turun.

Aku bersiap kembali ke unitku ketika ponsel Raka berbunyi.

Wajahnya berubah begitu membaca layar.

“Ada apa?” tanya Naya.

Raka tidak menjawab.

Dia berjalan ke monitor CCTV dekat ruang kerja.

Aku ikut melihat.

Seseorang berdiri di koridor lantai tujuh.

Tepat di depan pintu unitku.

Darahku seperti berhenti mengalir.

Laki-laki bertopi dan bermasker itu.

Orang yang selama ini mondar-mandir di depan 802 sekarang berdiri di depan 702.

Unitku.

Dia menunduk dan mencoba gagang pintu.

Aku spontan berdiri.

“Itu rumah saya.”

Raka menahan lenganku.

“Jangan turun.”

“Tapi barang-barang saya.”

“Barang bisa diganti.”

Dia langsung menelepon keamanan gedung.

Kami menatap monitor tanpa berkedip.

Beberapa detik kemudian laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.

Bukan alat pembuka kunci.

Sebuah amplop cokelat.

Dia menyelipkannya di bawah pintuku lalu berjalan menuju tangga darurat.

Petugas keamanan terlambat beberapa detik. Ketika mereka tiba, orang itu sudah menghilang.

Aku baru berani turun bersama Raka dan dua petugas.

Amplop itu masih tergeletak di lantai.

Namaku tertulis di bagian depan.

DINDA PRAMESTI.

Tanganku langsung dingin.

Aku baru pindah hari ini.

Tidak banyak orang tahu alamat baruku.

Raka memakai sarung tangan medis sebelum mengambil amplop tersebut.

Di dalamnya hanya ada satu lembar foto.

Foto seorang laki-laki.

Aku mengenalinya.

Pak Arman.

Mantan pemilik unit yang kubeli.

Di belakang foto tertulis satu kalimat.

Jangan percaya penghuni 802.

Aku menatap Raka.

Dia juga menatapku.

Malam yang tadinya terasa konyol mendadak berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda.

Keesokan paginya kami mendatangi pengelola apartemen dan meminta rekaman CCTV lebih lengkap.

Dari situlah rahasia sebenarnya mulai terbuka.

Pak Arman ternyata bukan sekadar mantan pemilik unitku.

Dia pernah menjadi ketua pengurus penghuni apartemen dan sedang berselisih dengan perusahaan pengelola mengenai dugaan manipulasi dana renovasi gedung.

Tiga bulan sebelumnya, dia menghilang dari apartemen secara mendadak.

Unitnya dijual melalui agen dengan harga di bawah pasar.

Aku membelinya tanpa mengetahui sejarah itu.

Yang lebih mengejutkan, ayah Raka adalah auditor independen yang diminta Pak Arman memeriksa dokumen keuangan sebelum dia menghilang.

Itulah sebabnya keluarga Raka diteror.

“Ayah mengalami kecelakaan dua minggu lalu,” kata Naya ketika kami kembali ke unit 802. “Mobil yang menabraknya kabur.”

Aku teringat laki-laki tua yang kulihat malam pertama.

Bulu kudukku berdiri.

“Dan kakimu?”

Naya menatap penyangga di kakinya.

“Jatuh dari tangga darurat setelah seseorang mendorong pintunya dari belakang.”

Ruangan mendadak terasa jauh lebih dingin.

Aku akhirnya mengerti mengapa Raka begitu waspada.

Dia bukan pria dingin.

Dia hanya kelelahan melindungi keluarganya.

Selama beberapa hari berikutnya polisi mulai menyelidiki berdasarkan laporan gabungan kami dan rekaman CCTV.

Aku berniat menjauh.

Masalah ini terlalu besar untuk seorang perempuan yang bahkan masih memiliki kardus pindahan belum dibuka.

Namun pada malam ketiga, ketika sedang merapikan lemari dapur, aku menemukan sesuatu.

Salah satu papan bagian belakang lemari terdengar kosong ketika diketuk.

Aku membongkarnya.

Di balik papan itu terdapat sebuah flashdisk kecil dibungkus plastik.

Tanganku gemetar.

Aku langsung menelepon Raka.

Dia datang kurang dari dua menit.

Kami tidak membuka flashdisk itu sendiri. Kami menyerahkannya kepada polisi.

Isinya menjadi bukti yang selama ini dicari Pak Arman.

Salinan laporan transaksi, rekaman percakapan, dan dokumen pembayaran palsu yang melibatkan dua pejabat perusahaan pengelola serta seorang kontraktor.

Laki-laki bermasker akhirnya tertangkap seminggu kemudian.

Dia bukan Pak Arman.

Dia pegawai kontraktor yang diperintahkan mencari flashdisk tersebut.

Amplop yang ditinggalkannya di depan pintuku ternyata sengaja dibuat untuk mengalihkan kecurigaan kepada Raka.

Pak Arman sendiri ditemukan hidup di Yogyakarta. Dia bersembunyi setelah menerima ancaman terhadap keluarganya dan akhirnya bersedia memberikan kesaksian setelah polisi menjamin perlindungan.

Dua bulan kemudian, kehidupan apartemen kembali normal.

Naya sudah bisa berjalan tanpa tongkat.

Ayah Raka mulai pulih.

Dan aku akhirnya bisa tidur tanpa mendengar suara ranjang berderit setiap malam.

Suatu sore, ketika pulang kerja, aku bertemu Raka di lift.

Hanya kami berdua.

Aku menekan tombol tujuh.

Dia menekan delapan.

Kami berdiri diam beberapa detik.

Kemudian dia bertanya, “Uang satu koma delapan juta itu masih ada?”

Aku menoleh.

“Masih.”

“Kenapa tidak dikembalikan?”

“Anda sendiri bilang tidak perlu.”

Dia mengangguk.

“Bagus.”

Pintu lift terbuka di lantai tujuh.

Aku hendak keluar ketika dia berkata, “Besok malam kosong?”

Aku berhenti.

“Kenapa?”

“Aku mau menagih hasil investasi satu koma delapan juta.”

Aku menatapnya curiga.

“Investasi apa?”

“Makan malam.”

Aku berkedip.

Raka membetulkan kacamatanya dengan ekspresi setenang biasanya.

“Dengan tetangga pria berotot.”

Aku langsung tertawa.

“Maaf. Pria berotot itu sibuk.”

“Kalau pemilik akun aslinya?”

Aku menatap wajahnya.

Untuk pertama kalinya sejak pindah ke apartemen itu, jantungku berdebar bukan karena demam, ketakutan, atau suara misterius dari lantai atas.

Aku tersenyum.

“Boleh. Tapi satu syarat.”

“Apa?”

“Kalau suatu hari kita tinggal satu lantai, beli ranjang yang tidak berisik.”

Raka terdiam dua detik.

Kemudian wajahnya berubah merah.

Aku baru sadar arti kalimatku sendiri.

Pintu lift mulai menutup.

Aku buru-buru keluar sambil menutupi wajah.

“Bukan begitu maksud saya!”

Dari dalam lift terdengar tawanya.

Malam itu aku menyadari sesuatu.

Kadang-kadang kita terlalu cepat menyusun cerita dari suara yang hanya kita dengar setengah, dari wajah yang baru kita lihat sekali, dan dari ucapan orang lain yang belum tentu benar.

Aku mengira tetangga 802 adalah suami seseorang.

Aku mengira ada perselingkuhan.

Aku mengira suara dari atas adalah sesuatu yang memalukan.

Aku bahkan mengikat pintu orang dengan gantungan pakaian karena terlalu percaya pada imajinasiku sendiri.

Ternyata di balik pintu itu ada seorang kakak yang sedang menjaga adiknya, seorang anak yang melindungi ayahnya, dan seorang pria yang diam-diam menanggung ketakutan sendirian.

Dan yang paling tidak pernah kubayangkan, apartemen yang kubeli dengan hampir seluruh tabunganku bukan hanya memberiku rumah baru.

Ia memberiku sebuah rahasia yang hampir merenggut nyawaku, uang Rp1,8 juta untuk pekerjaan paling konyol yang pernah kulakukan, dan seorang tetangga di unit 802 yang beberapa bulan kemudian mengganti foto profil WhatsApp-nya.

Bukan lagi semangkuk mi goreng.

Melainkan foto dua cangkir kopi di atas meja.

Di sudut foto itu terlihat tanganku.

Dan sebuah gantungan pakaian logam yang sengaja diletakkan Raka di samping cangkir sebagai lelucon yang, menurutnya, tidak akan pernah dia biarkan kulupakan.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang