Suamiku Menghancurkan Foto Pernikahan dan Mengusirku demi Selingkuhannya, Sampai Kertas Tersembunyi Itu Membuka Rahasia Keluarga

Kalimat yang tertulis di atas kertas tua itu membuat seluruh suara di sekelilingku seperti menghilang.

Kepada Laras Wulandari, pemegang hak sah atas empat puluh persen kepemilikan PT Gunawan Sentosa Abadi.

Aku membacanya dua kali.

Lalu tiga kali.

Tanganku gemetar hebat.

“Apa ini?”

Bu Ratna menerjang ke arahku.

“Berikan!”

Aku mundur cepat sambil menggenggam kertas itu di dada.

Aditya sudah sampai di anak tangga terakhir. Wajahnya pucat, tetapi berbeda dengan ibunya, dia tampak lebih bingung daripada takut.

“Ma, itu surat apa?”

“Tidak ada apa-apa.”

“Namaku tertulis di sini,” kataku. “Dan ada nama perusahaan kalian.”

Aku membuka seluruh lipatan kertas.

Di bagian bawah terdapat tanda tangan Pak Surya Gunawan, dua nama saksi, cap notaris, serta beberapa kalimat yang menjelaskan bahwa dokumen tersebut merupakan salinan pernyataan pengalihan kepemilikan saham.

Aku mengangkat kepala.

“Empat puluh persen?”

Aditya menatap ibunya.

“Ma?”

Bu Ratna kehilangan kata-kata.

Aku terus membaca.

Enam tahun lalu, beberapa bulan sebelum Pak Surya meninggal, dia mengalihkan empat puluh persen saham miliknya kepadaku. Pengalihan itu dilakukan sebagai bentuk pemenuhan amanat kepada keluarga Wulandari.

Ada satu kalimat yang membuat napasku tercekat.

Saham tersebut bukan hadiah, melainkan pengembalian hak keluarga almarhum Bima Wulandari yang selama puluhan tahun tercatat atas nama Surya Gunawan berdasarkan kesepakatan pendirian usaha.

Bima Wulandari.

Nama ayahku.

Aku menatap Bu Ratna.

“Ayahku?”

Wajahnya benar-benar kehilangan warna.

Aditya merebut dokumen itu dari tanganku.

Dia membacanya dengan cepat.

“Ini tidak mungkin.”

“Aditya, robek!” teriak Bu Ratna.

Aku membeku.

Aditya juga berhenti.

Bu Ratna tampaknya baru menyadari kesalahannya.

“Ma,” suara Aditya berubah pelan, “kenapa Mama menyuruh aku merobeknya?”

Tidak ada jawaban.

Aku merebut kembali kertas tersebut.

“Kalian tahu?”

“Aku tidak tahu apa-apa,” kata Aditya cepat.

Aku percaya pada satu hal dari wajahnya saat itu. Dia memang tidak mengetahui isi dokumen tersebut.

Tetapi ibunya tahu.

Aku memasukkan kertas itu ke dalam tas.

Bu Ratna langsung mencengkeram pergelangan tanganku.

“Kamu tidak boleh membawa itu keluar.”

Aku menatap tangannya.

“Lepaskan.”

“Dokumen itu milik keluarga kami.”

“Nama saya ada di atasnya.”

“Laras!”

Aku menarik tanganku.

Untuk pertama kalinya selama delapan tahun, aku tidak merasa sedang berbicara dengan ibu mertuaku.

Aku merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang takut rahasianya terbongkar.

Malam itu aku tidak membawa perhiasan, mobil, atau barang mahal apa pun.

Aku hanya memasukkan beberapa pakaian, laptop, dokumen pribadiku, serta foto lama ayah dan ibu ke dalam dua koper.

Ketika melewati ruang tamu, aku melihat foto pernikahanku masih tergeletak di lantai.

Aku mengambil bagian foto yang tidak terkena pecahan kaca.

Lalu aku merobeknya tepat di tengah.

Bagian wajah Aditya kutinggalkan di lantai.

Bagian diriku sendiri kumasukkan ke dalam tas.

Aditya berdiri di dekat pintu.

“Besok tetap datang. Kita selesaikan perceraian dengan baik.”

Aku berhenti.

“Jangan khawatir. Aku akan datang.”

Dia mungkin mengira aku akan menerima Rp450 juta dan pergi.

Aku sendiri belum tahu apa yang akan terjadi.

Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku ingin mencari tahu siapa sebenarnya keluarga yang sudah kunikahi selama delapan tahun.

Aku menginap di apartemen kecil milik sahabatku, Rina.

Pukul tujuh pagi, aku sudah duduk di depan laptop.

Nama notaris yang tercantum di dokumen itu adalah Hartono Wijaya.

Setelah beberapa pencarian dan telepon, aku menemukan kantornya di Jakarta Selatan.

Aku menghubunginya.

Begitu kusebut nama Pak Surya Gunawan dan ayahku, sekretarisnya terdiam.

“Tunggu sebentar, Bu.”

Beberapa detik kemudian, seorang laki-laki tua mengambil alih telepon.

“Laras Wulandari?”

“Iya.”

Hening cukup lama.

Kemudian dia berkata sesuatu yang membuat tengkukku merinding.

“Akhirnya Anda menemukan surat itu.”

Dua jam kemudian aku sudah berada di kantornya.

Pak Hartono berusia hampir tujuh puluh tahun. Dia menatapku lama sebelum membuka sebuah lemari besi.

Dari dalamnya dia mengeluarkan map biru.

“Ayah Anda dan Pak Surya mendirikan usaha bersama pada akhir tahun sembilan puluhan.”

Aku tidak mengatakan apa pun.

Seumur hidup aku mengenal ayah sebagai pemilik bengkel kecil yang meninggal ketika aku berusia sebelas tahun.

Pak Hartono mendorong beberapa dokumen kepadaku.

Ternyata bengkel kecil itulah cikal bakal Gunawan Sentosa.

Ayahku ahli mesin dan memegang beberapa kontrak pemasok. Pak Surya mengurus modal dan pemasaran.

Mereka membangun usaha bersama.

Kemudian ayahku sakit.

“Ketika kondisi ayah Anda memburuk, sahamnya untuk sementara dicatat atas nama Pak Surya agar pengelolaan perusahaan lebih mudah. Ada perjanjian bahwa hak itu dikembalikan kepada ahli waris ketika Anda dewasa.”

Aku menahan napas.

“Kenapa tidak pernah dikembalikan?”

Pak Hartono terdiam.

“Pak Surya ingin melakukannya. Keluarganya menolak.”

“Bu Ratna?”

Dia tidak menjawab langsung.

Itu sudah cukup.

Beberapa bulan sebelum meninggal, Pak Surya akhirnya menandatangani pengalihan empat puluh persen kepadaku.

Namun ada masalah administratif yang belum selesai. Dokumen utama disimpan oleh notaris, sementara salinan pernyataan sengaja diselipkan Pak Surya ke bingkai pernikahan kami.

“Kenapa di sana?”

Pak Hartono tersenyum pahit.

“Beliau pernah berkata kepada saya, selama pernikahan kalian dijaga, surat itu juga akan terjaga. Kalau suatu hari bingkai itu dihancurkan, mungkin saat itulah Anda perlu mengetahui siapa keluarga Gunawan sebenarnya.”

Aku merinding.

Seolah-olah lelaki tua itu sudah meramalkan semuanya.

Pukul sepuluh pagi aku datang ke rumah keluarga Gunawan.

Pengacara Aditya sudah menunggu.

Tiara duduk di samping Aditya.

Bu Ratna tidak terlihat.

Di atas meja terdapat dokumen perceraian.

Pengacara itu menjelaskan beberapa hal sebelum menunjuk bagian yang harus kutandatangani.

Aku membaca semuanya.

Ada satu klausul yang menarik.

Dengan menerima Rp450 juta, aku menyatakan tidak memiliki tuntutan atas seluruh aset keluarga Gunawan maupun PT Gunawan Sentosa Abadi.

Aku hampir tertawa.

Jadi mereka bukan sekadar ingin bercerai.

Mereka ingin aku melepaskan kemungkinan tuntutan.

Aku mengangkat pena.

Aditya terlihat lega.

“Setelah tanda tangan, uang langsung masuk.”

Aku menatapnya.

“Empat ratus lima puluh juta?”

“Iya.”

“Untuk delapan tahun?”

Dia mengembuskan napas.

“Jangan mulai lagi.”

Aku meletakkan pena.

“Aku tidak akan tanda tangan.”

Tiara langsung menatap Aditya.

“Aku sudah bilang dia pasti akan mempersulit.”

Aku mengeluarkan ponsel.

“Pengacaraku sebentar lagi datang.”

Aditya tertawa kecil.

“Kamu punya pengacara?”

Pintu ruang tamu terbuka.

Pak Hartono masuk bersama seorang pengacara perusahaan dan dua orang lainnya.

Wajah Aditya berubah.

Bu Ratna muncul dari koridor dan langsung berhenti ketika melihat Pak Hartono.

“Bapak?”

Pak Hartono meletakkan map biru di atas meja.

“Saya datang untuk menyelesaikan amanat almarhum Pak Surya.”

Tidak ada lagi yang tertawa.

Dalam satu jam berikutnya, dunia keluarga Gunawan seperti dibalik.

Dokumen pendirian perusahaan, perjanjian lama ayahku, akta pengalihan, dan catatan kepemilikan dibuka satu demi satu.

Pengacara Aditya membaca semuanya dengan wajah tegang.

Empat puluh persen saham yang selama ini dikira berada di bawah kendali keluarga Gunawan ternyata memiliki dasar hukum kuat untuk dialihkan kepadaku.

Tetapi kejutan sebenarnya belum selesai.

Pak Hartono mengeluarkan dokumen terakhir.

“Selain saham, ada kewajiban pengembalian dana.”

Aditya mengerutkan kening.

“Dana apa?”

Pak Hartono menatap Bu Ratna.

“Dana hasil penjualan dua bidang tanah milik almarhum Bima Wulandari yang digunakan sebagai tambahan modal perusahaan.”

Aku menatap Bu Ratna.

Jumlahnya, setelah diperhitungkan berdasarkan kesepakatan lama dan pembagian keuntungan, mencapai lebih dari sebelas miliar rupiah.

Ruangan menjadi sunyi.

Tiara perlahan melepaskan tangannya dari lengan Aditya.

“Maksudnya… Laras punya empat puluh persen perusahaan?”

Tidak seorang pun menjawab.

Dia menatap Aditya lagi.

“Bukannya Mas bilang perusahaan ini sepenuhnya milik keluarga Mas?”

“Diam dulu.”

“Dan sebelas miliar?”

“Tiara!”

Perempuan itu langsung berdiri.

“Aku cuma mau tahu.”

Aku melihat sesuatu berubah di wajah Aditya.

Mungkin untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa perempuan yang akan dinikahinya bulan depan jauh lebih tertarik pada angka daripada pada dirinya.

Namun aku tidak merasa puas.

Yang kurasakan justru kosong.

Aku menatap Bu Ratna.

“Ibu tahu sejak kapan?”

Dia tetap diam.

“Sejak aku menikah dengan Aditya?”

Tidak ada jawaban.

Pak Hartono menjawab untuknya.

“Lebih lama.”

Dadaku terasa sesak.

Bu Ratna akhirnya duduk.

“Ayahmu sudah meninggal. Perusahaan dibesarkan keluarga kami. Kalau saham itu diberikan kepadamu, semua kerja keras Aditya dan ayahnya akan sia-sia.”

Aku hampir tidak percaya.

“Jadi selama ini Ibu membiarkan aku menjual apartemen peninggalan Mama untuk membantu perusahaan yang empat puluh persennya sebenarnya milikku?”

Bu Ratna menunduk.

Itulah jawaban paling menyakitkan.

Aku tertawa kecil sambil mengusap air mata.

Ternyata aku bukan perempuan miskin yang ditolong keluarga Gunawan.

Selama ini justru aku membantu membangun sesuatu yang sebagian haknya berasal dari ayahku sendiri.

Aku berdiri.

“Proses perceraian tetap lanjut.”

Aditya langsung menatapku.

“Laras, tunggu.”

“Apa lagi?”

“Kita bisa bicara berdua.”

Tiara menoleh tajam.

“Mas?”

Aditya mengabaikannya.

Dia mendekat kepadaku.

“Aku memang salah soal Tiara. Aku akui. Tapi kita tidak perlu menghancurkan semuanya karena emosi.”

Aku memandang laki-laki itu.

Beberapa jam lalu dia menghancurkan foto pernikahan kami.

Sekarang dia bicara tentang tidak menghancurkan semuanya.

“Kalau kertas itu tidak jatuh tadi malam, apakah kamu tetap akan menikahi Tiara?”

Dia terdiam.

“Apakah kamu tetap akan mengusirku?”

Tidak ada jawaban.

“Apakah Rp450 juta masih dianggap cukup untuk hidup baruku?”

Wajahnya memerah.

Aku tersenyum.

“Itu jawabanmu.”

Tiba-tiba Tiara meraih tasnya.

“Aku pulang.”

Aditya menahan lengannya.

“Kita belum selesai.”

“Aku perlu berpikir.”

“Kamu sedang mengandung anakku.”

Tiara membeku.

Wajahnya berubah.

Ada sesuatu yang aneh.

Aku langsung menyadarinya.

Aditya juga.

“Kenapa?”

Tiara tidak menjawab.

Bu Ratna berdiri.

“Tiara?”

Perempuan itu mulai menangis.

Kemudian kalimat yang keluar dari mulutnya menjadi pukulan terakhir bagi keluarga Gunawan.

“Aku tidak hamil.”

Aditya menatapnya seolah tidak mengerti bahasa yang baru didengarnya.

“Apa?”

“Aku terlambat datang bulan dua minggu. Tes pertama samar. Aku pikir aku hamil.”

“Lalu?”

Tiara menangis semakin keras.

“Tes darah tiga hari lalu negatif.”

Bu Ratna memegang sandaran kursi.

“Kamu sudah tahu tiga hari?”

Tiara mengangguk.

“Kenapa tidak bilang?”

Tiara menatap Aditya.

“Karena Mas sudah bilang akan menceraikan Laras dan menikahiku. Aku takut kalau bilang sebenarnya, semuanya batal.”

Aditya melepaskan tangannya.

Wajahnya kosong.

Aku tidak tertawa.

Tidak juga merasa menang.

Aku hanya memandang mereka dan akhirnya memahami satu hal.

Orang-orang yang membangun hubungan di atas kebohongan akan selalu hidup ketakutan ketika kebenaran datang.

Perceraian kami selesai empat bulan kemudian.

Aku tidak mengambil rumah keluarga Gunawan, mobil, ataupun perhiasan mereka.

Aku hanya mengambil apa yang secara hukum memang menjadi hakku.

Empat puluh persen saham perusahaan akhirnya tercatat atas namaku setelah proses panjang. Sebagian kewajiban finansial keluarga Gunawan diselesaikan melalui kesepakatan hukum.

Aku tidak menjual saham itu.

Sebaliknya, aku masuk ke jajaran komisaris dan meminta audit independen.

Bukan untuk membalas dendam.

Aku ingin mengetahui apa yang sebenarnya dibangun ayahku sebelum meninggal.

Di ruang arsip perusahaan, aku menemukan sebuah foto lama.

Ayahku dan Pak Surya berdiri di depan bengkel kecil dengan papan bertuliskan Gunawan Wulandari Teknik.

Di belakang foto terdapat tulisan tangan ayahku.

Kalau suatu hari Laras membaca ini, katakan padanya bahwa kekayaan terbesar bukan perusahaan ini. Kekayaan terbesar adalah keberanian untuk pergi dari tempat yang tidak lagi menghargainya.

Aku duduk lama sambil memegang foto itu.

Untuk pertama kalinya sejak perceraian, aku menangis.

Setahun kemudian, foto tersebut kugantung di ruang kerjaku.

Bukan foto pernikahan.

Bukan gambar tentang laki-laki yang pernah berjanji mencintaiku selamanya.

Melainkan foto dua orang sahabat yang pernah membangun perusahaan dari sebuah bengkel kecil.

Di bawahnya kusimpan potongan foto pernikahanku yang malam itu kubawa pergi.

Hanya bagian diriku.

Aku tersenyum ketika melihatnya.

Dulu aku mengira Aditya menghancurkan hidupku ketika dia membanting bingkai itu ke lantai.

Ternyata dia hanya menghancurkan kaca yang selama bertahun-tahun menutupi kebenaran.

Dan dari semua hal yang kuraih setelah malam itu, warisan terbesar ayahku ternyata bukan saham, bukan tanah, dan bukan uang miliaran rupiah.

Warisan itu adalah keberanian untuk akhirnya memilih diriku sendiri.

Để lại một bình luận

Email của bạn sẽ không được hiển thị công khai. Các trường bắt buộc được đánh dấu *

Lên đầu trang