Rendra menatap dokumen di tangan komisaris itu seolah tulisan di atas kertas tersebut menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti.
“Tujuh puluh dua jam?” suaranya terdengar lebih pelan. “Apa maksud kalian?”
Komisaris senior bernama Surya Adiprana tidak langsung menjawab. Ia hanya menyerahkan salinan surat keputusan dewan kepada Rendra.
“Seluruh kewenangan Bapak atas rekening operasional, kontrak bisnis, transaksi aset, dan akses internal Cendana Group telah dihentikan. Keputusan ini sah berdasarkan rapat pemegang saham luar biasa.”
Rendra membaca halaman pertama dengan terburu-buru.
Tangannya mulai gemetar.
“Ini tidak mungkin.”
Maya menarik kursi di hadapannya lalu duduk dengan tenang.
“Kenapa tidak mungkin?”
“Kamu tidak pernah ikut rapat.”
“Saya ikut.”
“Aku tidak pernah melihatmu.”
“Karena rapat itu tidak membutuhkan kehadiranmu.”
Wajah Rendra berubah.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa percaya dirinya retak.
Ia membalik beberapa halaman sampai menemukan daftar pemegang saham.
Nama Maya Cendana tercantum sebagai pemegang seratus persen saham pengendali setelah seluruh aset peninggalan Handoko Cendana dialihkan melalui mekanisme waris empat bulan sebelumnya.
Rendra mengangkat kepala.
“Seratus persen?”
Maya menatapnya tanpa berkedip.
“Ayah tidak pernah menyerahkan kepemilikan perusahaan kepadamu, Mas.”
“Tapi selama tujuh tahun aku yang menjalankan bisnis ini.”
“Menjalankan bukan berarti memiliki.”
Kalimat itu jatuh seperti pukulan.
Gisella yang sejak tadi berdiri kaku perlahan menarik tangannya dari sisi kursi Rendra.
“Mas, kamu bilang hotel ini punya kamu.”
Rendra langsung menoleh.
“Gisel, jangan ikut campur.”
“Kamu bilang setengah properti keluarga Cendana sudah dialihkan atas nama kamu.”
“Diam dulu.”
“Kamu juga bilang setelah cerai kamu akan memberikan apartemen Kemang itu ke aku.”
Maya memandang Gisella.
“Menarik.”
Gisella langsung menutup mulut.
Rendra berdiri.
“Cukup.”
Beberapa pengunjung restoran mulai memperhatikan, tetapi staf hotel tetap berada pada posisi masing-masing. Tidak seorang pun mendekat untuk mengusir Maya.
Justru seorang manajer restoran menghampiri Maya dan membungkukkan kepala.
“Apakah Ibu ingin ruang privat disiapkan?”
Rendra terlihat semakin panik.
Maya menggeleng.
“Tidak perlu. Kami sebentar saja.”
Rendra mendekat ke Maya.
“Kita bicara di rumah.”
Maya tersenyum kecil.
“Rumah yang mana?”
Rendra terdiam.
“Rumah Pondok Indah?”
Maya melanjutkan.
“Atau vila Puncak yang kamu jadikan jaminan tanpa izin?”
Rendra menarik napas pendek.
“Atau apartemen Kuningan yang sudah kamu janjikan kepada Gisella?”
Gisella menoleh tajam.
“Apartemen Kuningan?”
Rendra memejamkan mata sebentar.
Maya membuka folder hitam yang tadi diletakkan Rebeca di meja.
Ia mengambil satu dokumen.
“Ini salinan perjanjian kredit perusahaan bernama PT Aruna Sentosa Investama.”
Rendra tidak bergerak.
“Direktur perusahaan itu atas nama seorang pria bernama Yogi Santoso. Alamat kantornya sebuah ruko kosong di Bekasi.”
Maya mengeluarkan dokumen lain.
“Perusahaan itu menerima pinjaman delapan puluh enam miliar rupiah dengan menjaminkan dua properti milik Cendana Group.”
Rebeca menambahkan dengan suara datar.
“Tanda tangan pemberi kuasa diduga dipalsukan.”
Rendra menatap Maya.
“Aku bisa menjelaskan.”
“Saya sudah menunggu sebelas bulan untuk mendengar penjelasan.”
“Maya…”
“Sebelas bulan, Mas.”
Nada suara Maya tetap tenang.
“Itu dimulai ketika saya menemukan transfer tiga ratus juta ke rekening pribadi yang tidak pernah tercatat di pembukuan perusahaan.”
Rendra membuka mulut.
Maya tidak memberinya kesempatan.
“Lalu saya menemukan transfer kedua.”
Ia mengambil kertas lain.
“Lalu ketiga.”
“Semua itu biaya operasional.”
“Biaya operasional untuk siapa?”
Rendra diam.
Maya menatap Gisella.
Gisella menunduk.
Rebeca meletakkan beberapa foto hasil tangkapan layar transfer di meja.
Nama penerima tercantum jelas.
Gisella Sitorus.
Dua ratus juta.
Seratus lima puluh juta.
Tujuh puluh lima juta.
Beberapa pembayaran hotel.
Perhiasan.
Sewa apartemen.
Rendra langsung meraih dokumen itu, tetapi Rebeca menahannya.
“Ini salinan. Dokumen asli sudah diamankan.”
Gisella menatap satu per satu angka tersebut.
“Maya, saya…”
Maya mengangkat tangan.
“Saya tidak datang untuk mendengar permintaan maaf.”
“Saya benar-benar tidak tahu semuanya.”
Rendra tertawa pendek.
“Jangan pura-pura suci, Gisel.”
Gisella menoleh.
“Apa?”
“Kamu menikmati semuanya.”
“Karena kamu bilang uang itu punya kamu!”
“Dan kamu percaya begitu saja?”
Gisella berdiri.
“Kamu bilang istrimu cuma numpang nama!”
Suasana restoran menjadi semakin tegang.
Rendra kehilangan kesabarannya.
“Ya memang selama ini dia cuma diam di rumah!”
Maya menatapnya cukup lama.
Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Rendra berhenti bicara.
“Jadi itu yang kamu pikirkan?”
Rendra menyadari kesalahannya tetapi terlambat.
Maya berdiri.
“Ketika Ayah sakit, saya meninggalkan posisi saya di kantor untuk merawatnya.”
Suara Maya terdengar lebih berat sekarang.
“Setelah Ayah meninggal, saya membutuhkan waktu untuk menyelesaikan urusan keluarga dan warisan. Kamu meminta kepercayaan saya untuk menjalankan operasional perusahaan sementara.”
Rendra tidak menjawab.
“Saya memberikannya.”
Maya tersenyum pahit.
“Dan kamu menganggap kepercayaan itu sebagai kelemahan.”
Untuk pertama kalinya, emosinya terlihat.
Bukan kemarahan.
Lebih seperti kekecewaan yang sudah terlalu lama dibiarkan dingin.
“Saya diam bukan karena tidak tahu, Mas.”
Ia menatap mata Rendra.
“Saya diam karena ingin tahu seberapa jauh kamu akan pergi ketika kamu merasa tidak ada yang menghentikanmu.”
Wajah Rendra pucat.
Rebeca menyerahkan dokumen berikutnya.
“Ini gugatan perceraian.”
Lalu dokumen kedua.
“Ini pencabutan seluruh fasilitas perusahaan atas nama Saudara.”

Dokumen ketiga.
“Dan ini pemberitahuan bahwa seluruh transaksi Saudara selama dua tahun terakhir sedang diaudit.”
Rendra tidak menyentuh satu pun kertas itu.
“Aku suamimu.”
Maya mengangguk perlahan.
“Untuk sementara.”
“Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti penjahat.”
“Saya tidak menentukan apakah kamu penjahat.”
Maya melirik dokumen pemalsuan.
“Itu tugas penyidik dan pengadilan.”
Rendra akhirnya kehilangan kendali.
Ia membanting telapak tangannya ke meja.
“Kamu pikir semua bisnis ini akan berjalan tanpa aku?”
Beberapa gelas bergetar.
Surya tetap berdiri tenang.
Maya justru tersenyum.
“Gran Mahakam Utama mencatat pertumbuhan pendapatan dua belas persen dalam empat bulan terakhir.”
Rendra tertegun.
“Mustahil.”
“Saya mulai mengambil alih empat bulan lalu.”
“Kamu?”
“Saya.”
Maya menatapnya.
“Diam-diam.”
Surya melanjutkan.
“Restrukturisasi manajemen sudah dimulai sejak Mei. Sebagian besar keputusan strategis yang Bapak kira berasal dari direktur operasional sebenarnya merupakan instruksi langsung Ibu Maya.”
Rendra memandang Surya lalu Rebeca, seperti baru menyadari bahwa dunia yang selama ini ia anggap berada dalam genggamannya telah bergerak tanpa sepengetahuannya.
“Jadi kalian semua membohongiku?”
Rebeca mengangkat alis.
“Kami hanya tidak memberitahukan sesuatu yang memang bukan hak Anda untuk ketahui.”
Rendra terdiam.
Teleponnya tiba-tiba bergetar.
Ia mengambilnya.
Satu pesan muncul dari bagian keuangan.
Kartu korporat dinonaktifkan.
Pesan kedua.
Akses internet banking ditutup.
Pesan ketiga datang dari asistennya.
Pak, seluruh jadwal rapat minggu depan dibatalkan. Nama Bapak sudah tidak muncul di sistem direksi.
Rendra menatap layar tanpa berkedip.
Kemudian ponselnya berdering.
Nama “Pak Darman Bank Sentosa” muncul.
Rendra menjawab cepat.
“Halo?”
Suara di seberang terdengar cukup keras sehingga Gisella yang berdiri di dekatnya dapat mendengar sebagian percakapan.
“Pak Rendra, kami harus menunda seluruh fasilitas kredit personal Bapak sampai ada klarifikasi mengenai jaminan aset.”
“Apa maksudnya menunda?”
“Kami menerima pemberitahuan resmi dari pemilik aset bahwa beberapa dokumen penjaminan sedang disengketakan.”
Rendra memutus sambungan.
Keringat muncul di dahinya.
Gisella mundur satu langkah.
“Mas…”
Rendra menoleh kepadanya.
Tatapan Gisella kini berbeda.
Bukan lagi kagum.
Bukan lagi penuh cinta.
Melainkan takut.
“Kamu bilang kamu punya uang sendiri.”
“Aku punya.”
“Berapa?”
“Jangan sekarang.”
“Berapa, Mas?”
Rendra mengepalkan rahang.
Maya memperhatikan mereka tanpa komentar.
Gisella kembali bertanya.
“Rumah di Senopati yang kamu bilang mau kamu beli itu?”
Rendra diam.
“Mobil yang kamu kasih aku?”
Tidak ada jawaban.
“Semua dari perusahaan?”
Rendra akhirnya membentak.
“Sudah kubilang jangan bahas sekarang!”
Gisella terlihat seperti baru ditampar.
Ia mengambil tasnya.
“Saya pulang.”
Rendra langsung memegang pergelangan tangannya.
“Gisel.”
“Lepas.”
“Kita selesaikan ini bersama.”
Gisella menarik tangannya.
“Tidak ada ‘kita’.”
Rendra menatap tidak percaya.
Gisella tertawa pahit.
“Delapan bulan kamu bilang saya calon istri kamu. Ternyata saya cuma perempuan yang kamu pakai untuk merasa hebat dengan uang istri kamu.”
Ia kemudian menatap Maya.
“Saya tahu hubungan ini salah.”
Maya tetap diam.
“Saya tidak minta Ibu memaafkan saya.”
Gisella menelan ludah.
“Tapi saya akan memberikan semua percakapan dan dokumen yang pernah dia kirim ke saya.”
Wajah Rendra berubah drastis.
“Gisella.”
Perempuan itu tidak menoleh.
“Ada file di laptop kantor saya.”
Rendra bergerak mendekatinya.
“Jangan bodoh.”
Rebeca segera berdiri di antara mereka.
“Jangan menyentuh klien potensial kami.”
Gisella mengerutkan kening.
“Klien?”
Rebeca menatapnya.
“Kalau Anda mau bekerja sama memberikan keterangan, saya sarankan mulai malam ini jangan menghapus apa pun.”
Rendra memaki pelan.
Gisella pergi meninggalkan restoran.
Untuk beberapa detik, Rendra hanya berdiri di sana.
Sendirian.
Semua kemewahan yang tadi membuatnya merasa seperti penguasa kini tampak seperti dekorasi di tempat yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Ia memandang Maya.
“Jadi ini rencanamu?”
“Bukan.”
“Jangan bohong.”
“Saya tidak merencanakan kamu membawa selingkuhan ke hotel milik saya.”
Maya tersenyum tipis.
“Itu bagian yang kamu buat sendiri.”
Rendra menarik kursi lalu duduk perlahan.
Wajahnya terlihat lebih tua dalam hitungan menit.
“Berapa yang kamu mau?”
Maya mengernyit.
“Untuk apa?”
“Supaya masalah ini selesai.”
Maya hampir tertawa.
“Kamu masih berpikir semuanya bisa dibeli?”
“Aku akan mengembalikan uangnya.”
“Dengan uang siapa?”
Rendra terdiam lagi.
Pertanyaan sederhana itu menghancurkan sisa harga dirinya.
Maya menutup folder.
“Imperial Suite sudah dibayar sampai besok siang.”
Rendra memandangnya.
“Kamu masih boleh menginap malam ini.”
“Kenapa?”
“Karena setelah pukul dua belas besok, seluruh fasilitas yang selama ini kamu gunakan atas nama perusahaan dihentikan.”
Maya berdiri.
“Mobil dinas akan ditarik. Sopir perusahaan tidak lagi bekerja untukmu. Apartemen yang selama ini kamu gunakan untuk bertemu Gisella juga akan dikosongkan karena tercatat sebagai aset Cendana Hospitality.”
Rendra memucat.
“Rumah kita?”
Maya berhenti.
“Itu bukan rumah kita.”
Rendra menatapnya.
Maya mengeluarkan satu dokumen terakhir.
Sertifikat rumah Pondok Indah.
Nama pemiliknya tertulis jelas.
Maya Cendana.
“Ayah membeli rumah itu setahun sebelum pernikahan kita.”
Rendra tampak kehilangan suara.
“Kamu boleh mengambil barang pribadi kamu dengan pendampingan pengacara.”
“Maya…”
Ia berdiri.
Kali ini tidak ada lagi kesombongan.
“Dua belas tahun.”
Suara Rendra terdengar serak.
“Kita menikah dua belas tahun.”
Maya memandangnya.
“Aku memang salah.”
Rendra mendekat.
“Tapi masa dua belas tahun dibuang begitu saja?”
Maya menelan ludah.
Untuk beberapa detik, pertahanan di wajahnya hampir runtuh.
Dua belas tahun bukan waktu singkat.
Ada perjalanan pertama mereka ke Bali.
Ada makan malam sederhana ketika Rendra belum memiliki jabatan apa pun.
Ada malam ketika Maya kehilangan ibunya dan Rendra duduk di samping ranjang tanpa tidur.
Ada masa ketika cinta itu nyata.
Justru karena pernah nyata, pengkhianatan terasa lebih menyakitkan.
Maya menarik napas.
“Saya tidak membuang dua belas tahun.”
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tidak menangis.
“Kamu yang menukarnya.”
Rendra diam.
“Sedikit demi sedikit.”
Maya melanjutkan.
“Dengan kebohongan. Dengan uang. Dengan kesombongan. Dengan perempuan lain.”
Tidak ada yang berbicara.
Maya kemudian berbalik.
Ia berjalan menuju pintu restoran bersama Rebeca dan Surya.
Namun sebelum keluar, Rendra memanggilnya.
“Maya.”
Ia berhenti tanpa menoleh.
“Ayahmu tidak pernah menyukaiku.”
Maya akhirnya berbalik.
Rendra tersenyum pahit.
“Mungkin dia benar sejak awal.”
Maya memandangnya beberapa detik.
“Ayah justru orang yang meminta saya memberimu kesempatan.”
Rendra terdiam.
Maya melanjutkan.
“Dia pernah bilang kamu punya ambisi besar, tapi kalau ambisi itu dijaga dengan karakter yang benar, kamu bisa jadi pemimpin hebat.”
Rendra menunduk.
“Yang Ayah salah hanya satu.”
“Apa?”
“Dia terlalu percaya bahwa kamu akan menjaga karakter itu.”
Maya pergi.
Tiga minggu kemudian, masalah Rendra menjadi jauh lebih besar daripada perselingkuhan.
Audit menemukan sejumlah transaksi lain yang tidak pernah diketahui Maya.
Beberapa vendor fiktif terhubung dengan rekening milik kerabat Rendra.
Nilainya mencapai puluhan miliar rupiah.
Gisella menyerahkan laptop kantor dan seluruh percakapannya kepada tim hukum.
Dalam salah satu rekaman suara, Rendra terdengar mengatakan bahwa setelah mendapatkan kontrol penuh atas dua aset utama Cendana Group, ia akan mengajukan pinjaman tambahan dan memindahkan dana ke perusahaan baru.
Bukti itu menjadi salah satu bagian penting dalam penyelidikan.
Gisella kemudian mengundurkan diri.
Ia mengembalikan mobil yang dibelikan Rendra dan menjual beberapa barang mewah untuk mengembalikan sebagian uang yang pernah diterimanya.
Maya tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Enam bulan berlalu.
Suatu pagi, Maya berdiri di lantai delapan belas Hotel Gran Mahakam Utama.
Jakarta tampak sibuk di bawah sana.
Rebeca masuk membawa sebuah amplop.
“Putusan cerainya sudah keluar.”
Maya menerima amplop itu.
Tidak ada kemenangan di wajahnya.
Hanya kelegaan.
“Dan kasus pidananya?”
“Masih berjalan.”
Maya mengangguk.
Rebeca hendak pergi ketika melihat sebuah bingkai foto baru di meja Maya.
Foto Handoko Cendana.
Di bawahnya ada sebuah surat tulisan tangan.
Rebeca mengenali tulisan tersebut.
“Itu surat terakhir Pak Handoko?”
Maya tersenyum.
“Iya.”
Ia baru menemukan surat itu beberapa minggu sebelumnya di kotak dokumen lama milik ayahnya.
Di dalamnya terdapat satu kalimat yang terus teringat olehnya.
Jangan pernah takut kehilangan orang yang hanya mencintaimu ketika mereka bisa menggunakan apa yang kamu miliki.
Rebeca keluar.
Maya berdiri sendirian di depan jendela.
Di lantai bawah, hotel tetap berjalan seperti biasa.
Tamu datang dan pergi.
Karyawan menyambut mereka.
Lampu lobi memantulkan lambang emas kecil dengan dua huruf yang dulu tidak pernah diperhatikan Rendra.
M.C.
Maya Cendana.
Namun setelah semua yang terjadi, Maya akhirnya memahami sesuatu.
Warisan terbesar ayahnya ternyata bukan hotel, saham, rumah, atau rekening bernilai miliaran rupiah.
Warisan terbesar itu adalah kemampuan untuk mengetahui kapan harus mempertahankan sesuatu dan kapan harus berani melepaskannya.
Karena terkadang seseorang tidak kehilangan keluarga ketika sebuah pernikahan berakhir.
Terkadang, justru pada saat itulah ia berhasil menyelamatkan dirinya sendiri.
