Keisya Prameswari.
Nama itu membuat suara di lounge Stasiun Gambir seolah menjauh.
Aku menatap layar laptop, lalu memastikan sekali lagi bahwa aku tidak salah membaca.
Pak Reza masih berada di ujung telepon.
“Berapa banyak file yang dikirim?”
“Sejauh ini kami menemukan tujuh belas dokumen.”

“Isinya?”
“Proposal, proyeksi biaya, daftar vendor, notulen negosiasi, sampai draft presentasi lama. Sebagian dikirim ke email pribadi Keisya.”
Aku menarik napas perlahan.
“Kapan?”
“Pengiriman pertama dua minggu sebelum Keisya resmi masuk perusahaan.”
Tanganku membeku.
“Dia bahkan belum bekerja di sini.”
“Itu yang membuat saya curiga.”
Jadi Keisya bukan anak magang polos yang kebetulan duduk di kursiku.
Aku menutup laptop.
“Pak Reza, bekukan akses Adrian dan Keisya ke folder Proyek Nusantara. Jangan blokir email mereka dulu. Saya ingin tahu apakah mereka masih mencoba mengirim sesuatu.”
“Baik.”
“Dan simpan seluruh log. Jangan ada yang dihapus.”
Setelah telepon berakhir, aku langsung menuju Halim.
Selama perjalanan, Adrian menelepon sebelas kali.
Tidak satu pun kuangkat.
Pesannya berubah dari marah menjadi mengancam.
Kamu keterlaluan.
Kalau kamu merusak presentasi ini karena masalah pribadi, kariermu selesai.
Lalu satu pesan yang hampir membuatku tertawa.
Aku melakukan semua ini demi masa depan kita.
Masa depan kami.
Kalimat itu selama lima tahun menjadi alasan Adrian untuk hampir semua hal.
Ketika aku membayar uang muka apartemen karena tabungannya belum cukup, katanya demi masa depan kami.
Ketika aku memperkenalkannya kepada jaringan klienku, demi masa depan kami.
Ketika aku menolak tawaran kerja di Singapura agar hubungan kami tidak menjadi jarak jauh, juga demi masa depan kami.
Entah sejak kapan masa depan kami berubah menjadi tangga yang hanya dinaiki Adrian.
Pesawatku mendarat di Surabaya menjelang siang.
Aku tidak langsung menuju hotel.
Pak Bima sudah mengatur pertemuan darurat melalui video dengan direktur utama dan tim legal.
Di ruang rapat kecil kantor cabang Surabaya, bukti-bukti dari IT ditampilkan satu per satu.
Ternyata tujuh belas dokumen hanyalah permulaan.
Adrian telah mengunduh data proyek secara sistematis selama hampir dua bulan.
Sebagian dikirim kepada Keisya.
Yang lebih buruk, Keisya meneruskannya ke sebuah alamat perusahaan.
PT Arunika Trans Solusi.
Aku mengenal nama itu.
Mereka salah satu kompetitor yang kalah dalam tahap awal tender.
“Kenapa seorang management trainee punya hubungan dengan Arunika?” tanya Pak Bima.
Kepala legal membuka dokumen lain.
“Kami baru selesai pengecekan.”
Ia menatap kamera.
“Direktur operasional Arunika bernama Haris Prameswara.”
Aku langsung memahami bahkan sebelum kalimat berikutnya keluar.
“Ayah Keisya.”
Ruangan menjadi hening.
Jadi ini bukan sekadar perselingkuhan.
Ini infiltrasi.
Keisya masuk ke perusahaan kami tiga minggu lalu, tetapi sudah menerima dokumen rahasia dua minggu sebelumnya.
Seseorang membukakan pintu untuknya.
Adrian.
“Apa motif Adrian?” tanyaku.
Pak Reza menjawab, “Kami menemukan percakapan dari backup perangkat kantor. Ada indikasi Pak Adrian dijanjikan posisi direktur di Arunika kalau kontrak ini gagal didapat perusahaan kita.”
Aku memejamkan mata sesaat.
Lima tahun aku mengenal laki-laki itu.
Setidaknya kupikir begitu.
“Apakah bukti kita cukup?”
Kepala legal mengangguk.
“Lebih dari cukup untuk pemeriksaan internal. Tapi untuk langkah hukum, kita perlu hati-hati.”
Aku membuka laptop.
“Kalau begitu jangan lakukan apa pun sampai besok pagi.”
Pak Bima mengerutkan kening.
“Kamu mau membiarkan Adrian presentasi?”
“Ya.”
“Nadira…”
“Biarkan dia percaya semuanya berjalan sesuai rencananya.”
Malam itu Adrian akhirnya tiba di hotel.
Aku tahu karena pukul delapan lewat sedikit, seseorang mengetuk pintu kamarku keras-keras.
Aku melihat melalui lubang pintu.
Adrian.
Aku membukanya, tetapi tidak mempersilahkannya masuk.
Wajahnya merah.
“Kamu gila?”
Aku bersandar pada kusen pintu.
“Selamat malam juga.”
“Kamu benar-benar membatalkan pernikahan?”
“Iya.”
“Karena kursi kereta?”
Aku menatapnya lama.
Bahkan sekarang dia masih memilih cerita yang membuatku terlihat tidak masuk akal.
“Bukan karena kursi.”
“Terus karena Keisya? Aku cuma kasih dia jaket.”
“Bukan juga.”
“Lalu apa?”
“Karena aku akhirnya melihat pola yang selama ini pura-pura tidak kulihat.”
Rahangnya mengeras.
“Kita lima tahun bersama, Nadira.”
“Aku tahu.”
“Keluarga kita sudah terlibat. Undangan hampir dicetak. Kamu mau mempermalukan semua orang?”
Aku tersenyum kecil.
“Menarik. Kamu khawatir semua orang malu. Bukan khawatir kehilangan aku.”
Adrian terdiam.
Kemudian ekspresinya berubah.
Lebih lembut.
Dulu, ekspresi itu selalu berhasil.
“Nad.”
Tangannya mencoba meraih tanganku.
Aku mundur.
“Kita capek. Kita lagi stres karena proyek. Jangan hancurkan lima tahun hanya karena satu pagi buruk.”
“Satu pagi buruk tidak menghancurkan lima tahun.”
Aku menatap matanya.
“Satu pagi buruk cuma membuatku sadar lima tahun itu sebenarnya seperti apa.”
Ponselnya berbunyi.
Sekilas aku melihat nama di layar.
Keisya.
Adrian buru-buru mematikannya.
Aku hampir merasa kasihan.
Hampir.
“Besok kamu tetap presentasi?” tanyaku.
Dia tampak terkejut.
“Pak Bima sudah bilang?”
“Katanya kamu ingin jadi lead presenter.”
Adrian mengangkat dagu.
“Aku lebih cocok menghadapi direksi klien. Kamu bagus di belakang layar, Nad. Tapi untuk closing, mereka butuh orang yang…”
“Orang yang apa?”
Dia berhenti.
Aku membantu menyelesaikannya.
“Laki-laki?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Adrian mengembuskan napas.
“Jangan jadikan semuanya soal ego.”
Aku hampir tersenyum mendengar kata itu keluar dari mulutnya.
“Baik. Presentasilah besok.”
Matanya langsung berubah.
“Serius?”
“Serius.”
“Akses folder final?”
“Tidak perlu.”
“Tapi ada simulasi harga terakhir.”
“Gunakan yang kamu punya.”
Wajahnya menegang.
“Nadira, jangan sabotase proyek perusahaan.”
Aku menatapnya.
“Bukankah kamu bilang kamu lebih cocok menjadi lead presenter?”
Aku menutup pintu.
Pagi berikutnya, ruang pertemuan di lantai dua puluh satu sebuah hotel bisnis di pusat Surabaya dipenuhi hampir tiga puluh orang.
Direksi klien duduk di satu sisi.
Tim kami di sisi lain.
Adrian mengenakan setelan navy dan blazer abu-abu yang kemarin dipakai menyelimuti Keisya.
Keisya duduk dua kursi di belakangnya.
Saat aku masuk, keduanya langsung menatapku.
Aku memilih kursi paling ujung.
Adrian tersenyum tipis.
Dia pikir aku menyerah.
Presentasi dimulai.
Dua puluh menit pertama berjalan mulus.
Tentu saja.
Materinya kubuat sendiri.
Setiap grafik yang dijelaskan Adrian berasal dari analisisku.
Setiap kalimat strategis yang diucapkannya pernah kutulis.
Kemudian direktur keuangan klien mengangkat tangan.
“Pak Adrian, kami sudah membaca proposal awal. Tetapi semalam kami meminta simulasi skenario baru berdasarkan kenaikan biaya distribusi Jawa Timur sebesar sebelas persen.”
Adrian berhenti.
“Benar.”
“Bisa ditampilkan?”
Keheningan singkat.
Adrian mengklik laptop.
Foldernya kosong.
“Sepertinya ada kendala sinkronisasi.”
Direktur itu mengerutkan kening.
“Bukankah revisi ini dikirim ke project lead?”
Semua mata beralih kepadaku.
Aku berdiri.
“Betul.”
Aku menghubungkan laptopku ke layar.
“Simulasinya sudah selesai sejak pukul 04.30 pagi.”
Slide baru muncul.
Angka yang belum pernah dilihat Adrian.
Aku menjelaskan selama sebelas menit.
Tidak lebih.
Ketika selesai, direktur utama klien mengangguk puas.
“Ini yang kami butuhkan.”
Adrian terlihat seperti baru menelan sesuatu yang pahit.
Namun masalah sebenarnya belum dimulai.
Kepala pengadaan klien membuka map.
“Ada satu hal lagi yang perlu diklarifikasi.”
Ia mengeluarkan dokumen.
“Kami menerima proposal dari PT Arunika Trans Solusi tadi malam.”
Keisya mendadak pucat.
“Yang menarik,” lanjutnya, “struktur penawarannya hampir identik dengan proposal perusahaan Anda.”
Adrian tidak bergerak.
Aku menatap Keisya.
Tangannya perlahan masuk ke bawah meja, mungkin mencari ponsel.
Pintu ruangan terbuka.
Pak Reza masuk bersama kepala legal dan dua anggota direksi perusahaan kami.
Adrian berdiri.
“Ada apa ini?”
Pak Bima akhirnya berbicara.
“Duduk, Adrian.”
“Apa maksudnya?”
“Kami menemukan transfer dokumen rahasia ke pihak eksternal.”
Wajah Adrian kehilangan warna.
Keisya langsung berdiri.
“Saya tidak tahu apa-apa.”
Pak Reza meletakkan beberapa lembar hasil audit di meja.
“Dokumen dikirim dari akun Pak Adrian ke email pribadi Anda.”
“Itu… untuk membantu pekerjaan.”
“Kemudian dari email Anda dikirim kepada PT Arunika.”
Keisya membeku.
Adrian menatapnya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan sungguhan di wajahnya.
“Kamu bilang email itu milik konsultan ayahmu.”
Keisya menoleh tajam.
“Mas, diam.”
Terlambat.
Semua orang mendengarnya.
Adrian sadar kesalahannya.
“Kalian menjebak saya.”
Aku akhirnya bicara.
“Tidak.”
Dia menatapku penuh kebencian.
“Kamu sengaja tidak memberikan akses.”
“Karena kamu tidak berhak mendapatkannya.”
“Aku tunanganmu!”
“Bukan sejak kemarin pagi.”
Ruangan hening.
Aku melanjutkan, “Dan bahkan ketika masih menjadi tunanganku, itu tidak pernah memberimu hak mencuri pekerjaanku.”
Adrian menunjukku.
“Semua orang tahu aku juga mengerjakan proyek ini.”
Pak Bima menggeleng.
“Kontribusimu tercatat. Begitu juga kontribusi Nadira.”
Ia mendorong sebuah dokumen ke tengah meja.
“Dan kepemilikan intelektual setiap materi juga tercatat.”
Keisya tiba-tiba menangis.
“Saya cuma disuruh ayah saya.”
Adrian menatapnya seolah baru pertama kali mengenalnya.
“Kamu bilang kita akan pindah ke Arunika bersama.”
Keisya tertawa getir.
“Mas benar-benar percaya?”
Kalimat itu menghancurkan sesuatu di wajah Adrian.
Ternyata bahkan dalam pengkhianatannya, dia juga sedang dikhianati.
Keisya tidak mencintainya.
Dia hanya membutuhkan akses.
Adrian hanya membutuhkan proyekku.
Dan keduanya saling memakai sambil mengira merekalah yang paling pintar.
Pertemuan dihentikan sementara.
Sore itu, Adrian dan Keisya resmi dinonaktifkan sambil menunggu proses investigasi.
Tetapi kejutan terakhir datang pukul lima.
Direktur utama klien meminta berbicara denganku secara pribadi.
“Nadira, ada sesuatu yang mungkin belum diberitahukan perusahaanmu.”
Aku duduk di hadapannya.
“Apa?”
“Kontrak Rp38 miliar ini tidak pernah direncanakan diberikan kepada Adrian.”
Aku mengernyit.
Dia tersenyum.
“Dalam tender sebesar ini, kami menilai tim, bukan hanya perusahaan. Selama sebelas bulan, nama yang muncul di setiap notulen negosiasi, revisi, dan penyelesaian masalah adalah namamu.”
Ia mendorong map ke arahku.
“Kami bahkan memasukkan klausul key-person.”
Aku membukanya.
Namaku tertulis jelas.
Nadira Prameswari, Project Lead.
Tanpa keterlibatanku sebagai pemimpin implementasi, klien memiliki hak melakukan evaluasi ulang kontrak.
Aku tertawa pelan.
Selama berminggu-minggu Adrian berusaha merebut sesuatu yang sejak awal tidak bisa dimilikinya.
Tiga minggu kemudian, perusahaan kami resmi memenangkan kontrak.
Adrian diberhentikan setelah investigasi selesai dan kasus kebocoran dokumen masuk ke proses hukum.
Keisya mengundurkan diri sebelum keputusan final, tetapi bukti yang ditinggalkannya tidak ikut menghilang.
Pernikahanku tentu tidak pernah terjadi.
Beberapa bulan kemudian, aku menerima paket kecil dari toko perhiasan.
Cincin pertunangan itu sudah dijual.
Bukan karena aku membutuhkan uangnya.
Aku hanya tidak ingin menyimpan benda yang mengingatkanku pada harga yang pernah kubayar untuk mempertahankan seseorang yang bahkan tidak menghargai kursi di sampingnya.
Sebagian uangnya kugunakan untuk membayar perjalanan liburan pertamaku sendirian.
Aku memilih Surabaya.
Kali ini dengan kereta.
Ketika petugas memeriksa tiketku di Gambir, aku masuk tanpa berlari.
Tidak terlambat.
Tidak membawa laptop kantor.
Tidak menunggu siapa pun.
Aku duduk di kursi jendela.
Kursi yang kupilih sendiri.
Ketika kereta mulai bergerak, seorang perempuan tua di seberang lorong tersenyum kepadaku.
“Sendirian, Mbak?”
Aku melihat Jakarta perlahan tertinggal di balik kaca.
“Iya.”
“Tidak kesepian?”
Pertanyaan itu membuatku tersenyum.
Dulu aku mungkin akan menjawab iya.
Sekarang tidak.
Aku menggeleng.
“Justru baru sekarang saya merasa tidak sendirian.”
Kereta melaju semakin cepat.
Aku teringat pagi ketika Adrian menyuruhku pindah ke gerbong belakang supaya perempuan lain merasa nyaman.
Dulu aku mengira aku kehilangan lima tahun hidupku di peron itu.
Ternyata tidak.
Aku hanya terlambat tiga menit untuk sebuah kereta.
Tetapi untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku tepat waktu untuk menyelamatkan diriku sendiri.
