Aku menoleh ke arah pintu dengan napas tertahan.
Ardi berdiri di sana.
Masih mengenakan kemeja putih kusut, celana bahan hitam, dan jaket tipis yang biasa dipakainya saat perjalanan. Wajahnya pucat karena kurang tidur. Di samping kakinya ada sebuah koper kabin kecil yang bahkan belum sempat dibawa masuk.
Bu Ratna menurunkan wajan itu perlahan.
“Ardi?”
Suaminya anak kesayangannya itu tidak menjawab.

Tatapannya bukan tertuju pada ibunya.
Melainkan pada tanganku yang masih terangkat melindungi kepala, lalu turun ke perban yang samar terlihat di balik blus.
Aku baru sadar telapak tanganku gemetar.
Ardi melangkah masuk.
“Turunkan wajannya, Bu.”
“Ini bukan seperti yang kamu pikirkan.”
“Turunkan.”
Nada suaranya begitu datar sampai justru terdengar lebih menakutkan.
Bu Ratna meletakkan wajan di meja dengan bunyi keras.
Melisa buru-buru berdiri.
“Kak, Naya yang mulai duluan. Dia pulang terus marah-marah. Dia bilang mau pergi dari rumah.”
Ardi menoleh kepadanya.
“Kamu diam.”
Melisa langsung membeku.
Selama mengenal Ardi, aku hampir tidak pernah mendengar dia bicara seperti itu kepada adiknya.
Aku sendiri masih tidak mengerti bagaimana dia bisa berada di Bekasi.
“Bukannya kamu masih di Osaka?” tanyaku.
Ardi menatapku.
Ada rasa bersalah yang begitu jelas di wajahnya.
“Aku ambil penerbangan pertama setelah telepon kita terputus.”
Mataku panas.
Entah kenapa kalimat itu tidak membuatku lega.
Mungkin karena ia datang terlambat.
Atau mungkin karena aku sudah terlalu lama menunggu seseorang memilih percaya kepadaku sebelum semuanya menjadi separah ini.
Ardi melangkah mendekat, tapi aku refleks mundur.
Gerakanku membuat wajahnya berubah.
Dia berhenti.
Tidak mencoba menyentuhku.
“Kamu jangan naik ke atas,” katanya pelan. “Aku yang ambil barangmu.”
Bu Ratna mendengus.
“Ardi, kamu jangan langsung percaya sama istrimu. Ibu ini ibumu. Ibu yang membesarkan kamu.”
Ardi mengeluarkan ponsel dari saku jaket.
“Aku percaya rekaman.”
Ruangan mendadak sunyi.
Melisa berkedip.
“Rekaman apa?”
Ardi menekan layar ponselnya.
Lalu suara Bu Ratna terdengar jelas dari speaker.
“Kamu kenapa lagi?”
Kemudian suaraku.
“Perut… sakit…”
“Kalau sakit, minum obat.”
“Aku… nggak bisa berdiri.”
Jantungku serasa berhenti.
Itu rekaman dari dua hari lalu.
Suara kursi bergeser.
Suara gelas diletakkan.
Lalu suara Melisa.
“Ada apa?”
“Istrinya kakakmu drama lagi.”
Aku menatap Ardi.
“Dari mana kamu dapat itu?”
Ardi tidak langsung menjawab.
Rekaman berlanjut.
Terdengar suara pintu pagar dibuka.
Lalu suara Bu Sari yang panik memanggil namaku.
“Naya!”
Beberapa detik kemudian, suaranya meninggi.
“Ini darah! Bu Ratna, kita harus bawa dia ke rumah sakit!”
Kemudian suara ibu mertuaku terdengar sangat jelas.
“Sari, jangan dibesar-besarkan. Nanti juga sembuh.”
Bu Ratna mendadak maju.
“Matikan!”
Ardi mengangkat ponselnya menjauh.
“Kenapa harus dimatikan?”
“Karena Ibu tidak tahu direkam!”
“Itu bukan jawaban.”
Bu Ratna menatap ke sekeliling seolah mencari siapa yang harus disalahkan.
“Apa Sari yang merekam? Dasar perempuan suka ikut campur.”
Dari belakang Ardi, terdengar suara lain.
“Bukan saya.”
Bu Sari muncul di ambang pintu.
Di belakangnya berdiri Pak Darto, satpam kompleks.
Aku baru mengerti.
Mobil yang tadi terparkir di belakang mobil Bu Sari rupanya mobil yang membawa Ardi dari bandara.
Bu Sari mengangkat sebuah benda kecil.
Kamera pengawas.
“Ini rekaman CCTV dapur kalian.”
Bu Ratna terlihat seperti kehilangan suara.
Melisa menatap ke sudut plafon.
“Sejak kapan ada CCTV di dapur?”
Ardi menjawab, “Sejak enam bulan lalu.”
Aku ikut terkejut.
“Apa?”
Ardi menarik napas panjang.
“Waktu aku pulang dari proyek Surabaya enam bulan lalu, aku pernah lihat lebam di lenganmu.”
Aku teringat.
Saat itu aku bilang terbentur pintu lemari.
Padahal Bu Ratna mencengkeram lenganku karena aku menolak mengantarnya ke arisan ketika aku sedang bekerja.
“Aku tanya kamu,” lanjut Ardi. “Kamu bilang jatuh. Tapi setelah itu aku mulai curiga.”
“Kenapa kamu tidak bilang?”
“Karena aku ingin memastikan.”
Suara Ardi pecah untuk pertama kalinya.
“Aku bodoh. Aku pikir kalau memang ada masalah, paling cuma soal Ibu menyuruh kamu terlalu banyak. Aku tidak pernah membayangkan sampai begini.”
Bu Ratna tertawa pendek.
“Jadi kamu memata-matai ibu sendiri?”
“Aku memasang CCTV karena barang di rumah sering hilang.”
Aku menatapnya.
Ardi mengangguk kecil.
“Uang di laci kita. Jam tangan. Beberapa dokumen. Kamu ingat?”
Tentu aku ingat.
Bu Ratna pernah menuduh asisten rumah tangga harian yang datang seminggu dua kali mencuri sampai perempuan itu menangis dan berhenti bekerja.
“Aku pasang kamera tanpa bilang siapa-siapa,” ujar Ardi. “Ternyata pencurinya bukan orang luar.”
Melisa langsung pucat.
“Kak…”
Ardi membuka video lain.
Di layar terlihat Melisa masuk ke kamar kami ketika aku sedang membeli kebutuhan rumah. Dia membuka laci, mengambil beberapa lembar uang, lalu memasukkannya ke tas.
Video berikutnya menunjukkan Bu Ratna mengambil amplop dari lemari dokumen.
“Apa itu?” tanyaku.
Ardi menatap ibunya.
“Sertifikat deposito Naya.”
Aku menoleh tajam.
Bu Ratna segera berkata, “Ibu cuma lihat.”
“Lihat kenapa dibawa ke kamar?”
“Dikembalikan lagi, kan?”
“Setelah difoto.”
Ruangan itu terasa semakin sempit.
Ardi lalu membuka tangkapan layar dari ponselnya.
“Aku cek histori cloud CCTV tadi malam di pesawat. Ada puluhan rekaman.”
Melisa duduk kembali perlahan.
Aku tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Mengetahui bahwa semua perlakuan mereka terekam atau menyadari bahwa selama ini aku begitu terbiasa diperlakukan buruk sampai aku sendiri tidak pernah menganggapnya cukup serius untuk diceritakan.
Ardi memutar klip lain.
Aku terlihat sedang bekerja di meja makan.
Bu Ratna melempar setumpuk pakaian di depanku.
“Kamu kerja begitu dapat berapa sih? Daripada sok sibuk, mending setrika ini.”
Klip berikutnya.
Melisa meninggalkan piring di meja.
“Kak Naya, beresin ya. Aku mau ketemu teman.”
Klip lain.
Bu Ratna membuka belanjaan yang kubeli dengan uangku sendiri.
“Kenapa beli buah semahal ini? Kamu pikir uang Ardi tumbuh di pohon?”
Aku menunduk.
Ada rasa malu aneh menyelinap di dadaku.
Seolah aku sedang melihat hidup orang lain.
Seorang perempuan yang setiap hari dikecilkan sedikit demi sedikit sampai lupa bahwa ia berhak marah.
Ardi mematikan video.
Matanya merah.
“Kenapa kamu tidak pernah bilang?”
Aku tertawa pelan.
Pertanyaan itu justru membuat sesuatu dalam diriku meledak.
“Aku bilang.”
Dia terdiam.
“Aku pernah bilang ibumu terlalu banyak menyuruhku.”
Ardi menunduk.
“Kamu jawab apa?”
Dia tidak menjawab.
Aku menjawab untuknya.
“Kamu bilang, sabar, namanya juga orang tua.”
Aku menatapnya lurus.
“Aku pernah bilang Melisa masuk kamar tanpa izin.”
Napasnya berat.
“Kamu bilang dia masih muda.”
“Aku pernah bilang aku capek tinggal di sini.”
Air mataku akhirnya jatuh.
“Kamu bilang cuma sementara sampai renovasi rumah Ibu selesai.”
Bu Ratna menyela.
“Jadi sekarang semua salah Ibu?”
Aku menoleh kepadanya.
Untuk pertama kalinya, aku tidak takut.
“Tidak.”
Bu Ratna tampak terkejut.
“Sebagian salah saya.”
Semua orang diam.
“Karena saya terus membiarkan.”
Aku mengusap air mata.
“Saya pikir kalau saya cukup baik, Ibu akan menganggap saya keluarga. Kalau saya masak lebih enak, kalau saya lebih rajin, kalau saya tidak membantah, kalau saya terus mengalah, suatu hari Ibu akan melihat saya sebagai manusia.”
Bu Ratna membuka mulut.
Tapi aku belum selesai.
“Ternyata saya salah. Orang yang mendapat keuntungan dari diam kita tidak akan pernah meminta kita bicara.”
Ardi memejamkan mata.
Aku menatapnya.
“Dan kamu juga salah.”
Dia mengangguk.
Tidak membela diri.
“Iya.”
Satu kata itu justru membuat amarahku melemah.
Bukan hilang.
Tapi berubah menjadi kesedihan.
Ardi berbalik kepada ibunya.
“Bu, kenapa bilang Naya menginap di rumah teman?”
Bu Ratna mendengus.
“Karena kamu sedang kerja. Ibu tidak mau ganggu.”
“Dia hampir meninggal.”
“Ibu tidak tahu separah itu.”
“Dia bilang operasi darurat.”
Bu Ratna diam.
Ardi menunjukkan pesan yang kukirim.
“Aku cek ponsel Ibu tadi di bandara setelah aku telepon berkali-kali. Pesan Naya dibaca jam dua belas lewat empat puluh tiga.”
Wajah Bu Ratna kaku.
“Lalu jam satu lewat sepuluh Ibu pesan makanan.”
Melisa menatap ibunya.
Untuk pertama kalinya, dia juga terlihat tidak nyaman.
Ardi melanjutkan.
“Jam tiga Naya masuk ruang operasi. Jam empat Ibu kirim foto tanaman ke grup keluarga.”
“Ardi…”
“Jam tujuh malam, Melisa unggah story nonton bioskop.”
“Kak, aku nggak tahu dia operasi!”
“Kamu ada di dapur saat dia jatuh.”
Melisa menunduk.
Ardi mengembuskan napas panjang.
“Mulai hari ini kalian keluar dari rumah ini.”
Bu Ratna tersentak.
“Apa?”
Aku ikut menatap Ardi.
Bu Ratna tertawa seolah kalimat itu tidak masuk akal.
“Ini rumah Ibu.”
Ardi menggeleng.
“Bukan.”
Sunyi.
“Rumah ini atas nama Naya.”
Aku membeku.
“Apa?”
Ardi mengambil sebuah map dari kopernya.
“Aku sebenarnya mau memberi tahu kamu setelah pulang dari Osaka.”
Dia mengeluarkan salinan dokumen.
“Rumah ini aku beli tiga tahun lalu, sebelum kita menikah. Setelah kita menikah, aku balik nama menjadi milikmu.”
Tanganku gemetar saat menerima dokumen itu.
Namaku benar-benar tercetak sebagai pemilik.
“Naya Prameswari.”
Aku menatap Ardi.
“Kenapa?”
“Karena uang muka rumah ini berasal dari uang hasil penjualan tanah ayahmu yang kamu pinjamkan kepadaku waktu perusahaan hampir bangkrut.”
Aku hampir lupa.
Saat kami baru bertunangan, Ardi memang pernah mengalami kesulitan. Aku memberinya uang tanpa perjanjian karena percaya dia akan mengembalikannya.
“Uang itu sebenarnya cukup untuk hampir separuh harga rumah,” katanya. “Aku tidak pernah merasa rumah ini sepenuhnya milikku.”
Bu Ratna terlihat pucat.
Selama tiga tahun, dia berkali-kali berkata aku numpang di rumah anaknya.
Ternyata secara hukum, justru dia yang tinggal di rumahku.
Tapi kemenangan itu tidak terasa menyenangkan.
Aku terlalu lelah untuk menikmatinya.
Aku menyerahkan dokumen itu kembali.
“Ardi.”
“Iya?”
“Aku tetap pergi.”
Wajahnya runtuh.
Bu Ratna langsung berkata, “Nah, kan! Setelah dapat rumah, dia mau tinggalkan kamu!”
Aku menatap ibu mertuaku.
“Rumah ini boleh Ardi urus. Saya tidak butuh menang seperti itu.”
Lalu aku menatap suamiku.
“Aku butuh tempat untuk sembuh.”
Ardi menunduk lama.
Kemudian mengangguk.
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
“Boleh aku menunggu?”
Aku menarik napas.
“Kalau kamu mau.”
Dia tidak meminta maaf berulang kali.
Tidak memegang tanganku.
Tidak menjanjikan semuanya langsung berubah.
Mungkin untuk pertama kalinya dalam pernikahan kami, dia benar-benar menghormati jawabanku.
Bu Sari mengantarku ke apartemen kecil milik adiknya yang sedang kosong.
Dua minggu pertama, Ardi tidak datang.
Dia hanya mengirim pesan setiap pagi.
Sudah makan?
Obat jangan lupa.
Kalau butuh apa pun, bilang.
Aku jarang membalas.
Sebulan kemudian, aku mendapat kabar Bu Ratna dan Melisa pindah ke rumah saudara di Depok.
Ardi menyewa apartemen studio.
Dia tidak tinggal di rumah kami.
Ketika kutanya kenapa, jawabannya sederhana.
“Rumah itu milikmu. Aku tidak mau mengambil ruangmu sebelum kamu memutuskan.”
Tiga bulan kemudian, kami bertemu di sebuah kedai kopi.
Ardi tampak lebih kurus.
Dia meletakkan dua lembar kertas di meja.
Satu adalah surat konsultasi pernikahan.
Satu lagi adalah surat kesepakatan pemisahan aset.
“Aku tidak tahu kamu akan memilih tetap menikah atau tidak,” katanya. “Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak akan menggunakan rumah, uang, atau keluarga untuk menahanmu.”
Aku membaca kedua kertas itu lama.
“Kenapa baru sekarang kamu bisa melihat semuanya?”
Dia tersenyum pahit.
“Karena selama ini aku pikir menjadi suami yang baik itu cukup dengan bekerja, memberi uang, dan tidak selingkuh.”
Dia menatapku.
“Ternyata aku bisa tidak memukulmu dan tetap gagal melindungimu.”
Kalimat itu membuatku diam.
Setahun kemudian, kami masih menikah.
Bukan karena aku melupakan.
Justru karena kami tidak pernah berpura-pura lupa.
Ardi menjalani konseling bersamaku.
Bu Ratna tidak pernah kembali tinggal bersama kami.
Hubunganku dengannya tidak pernah benar-benar pulih, dan aku berhenti merasa bersalah tentang itu.
Melisa akhirnya meminta maaf setelah Ardi menyerahkan bukti pencurian kepada ayah mereka. Aku menerima permintaan maafnya, tapi tidak mengembalikan kedekatan yang sebenarnya tidak pernah ada.
Rumah itu kami jual.
Aku tidak ingin menyimpan dapur tempat aku pernah terbaring berdarah sementara seseorang mengaduk teh di dekatku.
Dengan uangnya, kami membeli rumah yang lebih kecil di pinggir Jakarta.
Hanya ada aku dan Ardi.
Tidak ada orang yang mengetuk pintu kamar tanpa izin.
Tidak ada yang memeriksa isi belanjaanku.
Tidak ada yang menyuruhku memasak ketika aku sakit.
Suatu sore, hampir dua tahun setelah operasi itu, aku berdiri di dapur rumah baru sambil memotong buah.
Ardi sedang mencuci piring.
Ponselku berbunyi.
Pesan dari rumah sakit.
Tanganku langsung dingin.
Ardi melihat wajahku.
“Ada apa?”
Aku menyerahkan layar kepadanya.
Hasil pemeriksaan laboratorium.
Positif.
Aku hamil.
Ardi tidak langsung bersorak.
Dia justru mendekat perlahan.
“Boleh aku peluk?”
Aku mengangguk.
Dia memelukku sangat hati-hati.
Aku menangis di dadanya.
Bukan hanya karena bayi itu.
Tapi karena untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengerti sesuatu.
Rumah bukan tempat kita paling banyak berkorban.
Rumah adalah tempat kita tidak perlu terluka untuk dianggap berguna.
Dan keluarga bukan orang yang menuntut kita tetap tinggal karena hubungan darah atau pernikahan.
Keluarga adalah orang yang, ketika kita berkata sakit, tidak bertanya siapa yang akan memasak makan malam.
Mereka bertanya satu hal yang jauh lebih sederhana.
Apa yang bisa kulakukan agar kamu merasa aman?
